Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Julid


__ADS_3

"Apaaaaaa????!! " pekik Izam dengan melonjak kaget dan langsung terduduk di lantai.


Ia langsung bergegas berdiri dan membuntuti Mama nya yang masuk ke kamar ia dan istrinya.


"Ma, masa aku tidur di luar sih Ma? Aku kan gak bisa tidur kalau gak meluk istri aku, Ma! " ucap Izam merengek dengan Mama nya.


"Alah, alasan aja kamu itu! Buktinya selama 30 tahun sebelum menikah kamu baik-baik aja tuh tidur sendiri! Malah dulu kamu paling gak suka kalau tidur ada temannya! Kan kamu bilang sendiri kalau sempit dan tidak leluasa kalau tidur berdua di tempat tidur! " jawab Mama Lia membuat Izam mati kutu.


"Ya elah Mama... Itu kan dulu, beda dengan yang sekarang! Masa pengantin baru tidur nya terpisah gini! Please, Ma? Mama tidur nya sama Papa aja lah di kamar yang satunya! Ayo dong Ma!! " jawab Izam mencoba membujuk Mama nya.


"Gak! Sekali gak tetap nggak! Dah, pergi sana! Mama sama Amay mau tidur! " jawab Mama Lia tetap dengan pendirian nya.


"Ma, ayo dong Ma?? Emangnya Mama gak mau cepet-cepet punya cucu dari aku sama Amay! Ayo dong Ma biarin aku tidur dengan Amay! " pinta Izam lagi dengan jurus rayuan mengatasnamakan cucu.


"Gaaaaaakkkkkk... " pekik Mama Lia kencang dan langsung menutup pintu kamar Izam dan Amay.


Izam berbalik ke ruang tengah dengan wajah manyun dan kusut. Di dalam kamar Amay terkikik geli mendengar suaminya mencoba merayu Mama mertua agar membatalkan niatnya untuk tidur bersama Amay.


"Suami kamu itu ya, bikin Mama gemes banget liatnya! Kayak anak kecil aja merengek kayak gitu! Emangnya Mama bisa di bohongin pakai bilang gak bisa tidur segala, palingan itu modus doang! " omel Mama Lia sambil membersihkan wajahnya di depan meja rias Amay.


Amay hanya tersenyum mendengar omelan Mama mertuanya terhadap suaminya. Emang suaminya paling pintar kalau soal mengakali orang, buktinya Amay sering kejebak dengan omongan nya sendiri karena ulah suaminya yang Raja modus.


Di luar kamar, Papa Idris mencoba mengajak Izam berdamai dan mengalah untuk sementara pada Mama nya.


"Sudah lah, Son! Mengalah lah dulu dengan Mama mu untuk dua hari ini! Kau tahu sendiri kalau Mama mu sudah punya keinginan, siapapun tidak bisa mencegah nya kecuali almarhumah eyang Putri mu! " ucap Papa Idris mencoba membuat Izam mengalah.


"Huh, emang dasar Mama! Mau melawan takut dosa, ya Allah... Kuatkan lah aku malam ini tidur sendiri! " sahut Izam dengan lebay nya.


"Kamu gak tidur di kamar sama Papa? " tanya Papa Idris ketika ingin pergi ke kamar.


"Ogah !!! Emangnya aku anak kecil pakai tidur sama Papa segala! " tolak Izam dengan bibir merenggut.


"Ya sudah kalau gak mau! " jawab Papa Idris dengan mengangkat bahunya.


Ia pun pergi ke kamar yang sudah Amay siapkan dan meninggalkan Izam tiduran di sofa dengan bantal yang tadi di berikan Mama Lia dengan mempertahankan wajah yang gak enak di lihat.


🌾🌾🌾


Keesokan harinya Izam bangun kesiangan karena sehabis subuh ia ketiduran karena semalaman ia tidak bisa tidur dan baru tertidur setelah jam 2 pagi dan pas sehabis subuh ia ketiduran di atas sajadah masih dengan menggunakan koko dan sarungnya.


Amay sudah berulang kali membangunkan suaminya agar tidur di kamar saja, namun tidak berpengaruh dan Izam tetap tidur di atas sajadah.

__ADS_1


"Sayang, kok gak bangunin Abang sih! Abang sampai kesiangan gini nih! " rajuk Izam ketika mendekati istrinya yang sedang menjemur pakaian.


"Ya Allah Abang?? Udah berulang kali Amay bangunin Abang, agar Abang pindah ke kamar tapi Abang tetap gak merespon. Papa juga udah bantu tadi goyang-goyang bahu Abang, tapi seperti batu Abang gak bergerak sama sekali! " jawab Amay membela diri.


"Masa sih sayang?? " ucap Izam dengan rasa tidak percaya.


"Nih lihat kalau gak percaya! Sengaja Mama rekam tadi kalau kamu ngelak! " sahut Mama Lia datang dengan menunjukkan rekaman di ponselnya.


"Astaga Mama, sempat-sempatnya Mama merekam begituan! Ya Allah, Ma! Hapus Ma! Malu tau di rekam segala, mana ngorok lagi aku tidur nya! Perut aku kan gak buncit, kenapa tidur ku ngorok kayak gitu ya? " jawab Izam dengan mengurut dadanya dengan ulah Mama nya.


"Ya sempat lah! Untuk bukti kalau kamu marahin menantu Mama! " ucap Mama Lia sewot.


"Ya Allah ya Rabbi... Mama ku sayang??? Kapan aku memarahi menantu Mama itu?? Aku cuma bertanya saja, lagian heran aku sama Mama! Yang anak Mama itu aku bukan sih, atau dulu aku ketukar di rumah sakit! " jawab Izam dengan wajah nelangsa menuduh Mama nya.


"Plak.... Plak... Sembarangan kalau ngomong! Mama kutuk jadi kerikil mau?? " sahut Mama Lia sambil memukuli bahu Izam.


"Aduh Mama.... Gak elit banget kutukan nya! Masa jadi kerikil sih , jadi berlian kek, emas kek atau jadi uang yang banyak kek! Pokoknya yang berharga lah! " jawab Izam dengan bibir manyun.


Amay hanya geleng-geleng kepala melihat suami dan Mama mertua nya yang selalu bagaikan Tom dan Jerry ketika berdekatan.


"Mau sampai kapan kalian berdebat di situ?? Udah jam sembilan ini, Papa udah lapar banget ini! Kalian malah enak-enakan berdebat di luar gini! Emangnya gak ada yang lapar apa?? " tegur Papa Idris dari depan pintu.


"Sayang??? Tungguin Abang?? Gara-gara Mama sih! " teriak Izam sambil melototin Mama nya dan mengejar istrinya.


"Dih, Mama yang di salahin! Kamu tuh yang salah! " jawab Mama Lia sewot tidak mau di salah kan.


Ia juga masuk kedalam rumah menyusul anak menantu dan suaminya.


🌾🌾🌾


Di Ponpes Al-Mutmainnah...


Ponpes kedatangan pengacara yang mengurus kepemilikan pesantren atas nama Amay sesuai surat wasiat dan surat hibah almarhum Kyai Sulaeman Al-Hadid.


"Alhamdulillah ya Bah, akhirnya kita gak cemas lagi kalau ada yang ngaku-ngaku pesantren ini miliknya karena sudah ada surat legal dari pengadilan yang mengatakan jika Amay yang berhak atas Ponpes ini! " ucap Bulek Saroh dengan tersenyum lega.


"Benar Mi, Abah juga senang akhirnya gak ada lagi yang bisa menggugat Ponpes ini dan Abah juga lega gak ada lagi yang bisa mengusik Amay! Apa lagi sekarang ia sudah berumah tangga! " jawab Pak lek Rohim ikutan bahagia.


"Abah bener! Ngomong-ngomong gimana ya Bah kabar Amay sekarang? Minggu kemaren Amay masih menelpon Umi, rasanya Umi pengen ke kota ketemu Amay! Rindu rasanya Umi Bah dengan Amay! " sahut Bulek Saroh dengan wajah sendu.


"Baru juga dua hari Amay gak telpon Umi, mungkin Amay sibuk Mi bantuin suaminya jualan! Umi kan tahu sendiri gimana senang nya Amay ketika di izinkan nak Izam ikutnya berjualan. Atau kalau gak gimana jika Umi aja yang nelpon Amay duluan? " ucap Pak lek Rohim menghibur istrinya.

__ADS_1


"Iya juga ya Bah ! Ya udah deh, nanti biar Umi saja yang menelpon ke sana! " jawab Bulek Saroh tersenyum senang.


"Oh ya Bah, Umi pamit pergi dulu ya ke rumah Nyai Karsih! Gak enak kalau Umi datang belakangan! " pamit Bulek Saroh sambil mencium tangan suaminya.


"Assalamualaikum... " ucap Bulek Saroh sambil berlalu pergi keluar dari rumah.


"Waalaikumsalam... " jawab Pak lek Rohim yang juga ikut keluar rumah menuju kantor para ustadz dan ustadzah.


Bulek Saroh pergi ke rumah salah satu tetua kampung tersebut yang mengadakan acara pengajian rutin untuk Ibu-ibu para lansia yang di adakan satu bulan sekali.


Dari kejauhan Bulek Saroh melihat Bude Maryam yang sedang duduk dan berbicara sambil tertawa dengan Ibu-ibu yang lainnya di teras rumah Nyai Karsih.


"Heran banget aku Gusti, Gusti! Kenapa sih manusia satu itu selalu ada di sekitar kami! Mudah-mudahan ia gak cari gara-gara lagi! " gumam Bulek Saroh dengan lirih.


Kebetulan sekali tuan rumah keluar menampakkan diri dan tanpa banyak bicara Bulek Saroh mempercepat jalannya dan menyapa tuan rumah dengan sopan.


"Assalamualaikum, Nyai ! " ucap Bulek Saroh dengan ramah dan sopan.


"Waalaikumsalam, Umi Saroh! Mari silahkan masuk! Ayo Ibu-ibu yang lain kita masuk! Sebentar lagi acaranya akan di mulai! " jawab Nyai Karsih dengan tidak kalah ramah dan mengajak Ibu-ibu yang lainnya juga.


Bulek Saroh dan beberapa Ibu-ibu lainnya masuk mengikuti yang punya rumah. Bude Maryam dan Ibu-ibu yang duduk di teras tadi juga ikut masuk ke dalam rumah.


Pengajian berjalan lancar dan Bulek Saroh tampak lega karena Bude Maryam bersikap cuek dan tidak memancing keributan.


Hingga ketika acara ramah tamah, Bulek Saroh mengambil makanan yang ada di hadapan nya bersama Ibu-ibu yang lain, Bude Maryam berbicara keras memanggil Bulek Saroh.


"Eh Saroh! Gimana keponakan kesayangan kamu itu di kota? Pasti sedang nangis kejer ya punya suami kismin kayak gitu? Makanya gak usah belagu dan sok pilih-pilih jadi orang! Rasain sendiri tuh nikah sama orang kere kayak gitu! " teriak Bude Maryam dengan suara keras.


"Emang benar ya Umi, Ning Amay nikah dengan laki-laki kere kayak yang di bilang si Maryam? " tanya Ibu-ibu yang di depan Bulek Saroh kepo.


"Ya pasti benarlah! Mana mau si Saroh ngaku! Lagian itu ya, laki-laki itu pernah mau sama keponakan aku Si Anita, anaknya Marlena yang di kota. Tapi gak di setujui sama Marlena dan suaminya! Mana mungkin Marlena mau melepaskan anak perempuan satu-satunya dengan laki-laki kismin kayak gitu, mau di kasih makan apa nanti Anita sama laki-laki itu! Makan batu! " jawab Bude Maryam lagi menjelek-jelekkan Izam.


Bulek Saroh menarik nafasnya dalam-dalam agar tidak terpancing emosi dengan hinaan Bude Maryam terhadap suami keponakan nya.


"Tahu apa kamu dengan kehidupan keponakan saya Amay! Emangnya kamu tahu rumah nya dimana? Pekerjaan suaminya apa? Ia bahagia apa sengsara? Orang kamu aja selalu di kampung ini gak kemana-mana, tapi sok tau banget dengan kehidupan keponakan saya! Lagian saya yang justru sangat sedih dan kasihan jika Nak Izam berjodoh dengan keponakan kamu itu yang sombong nya selangit tapi tidak ada apa-apa nya! Diluar nya aja kaya tapi hutangnya bertumpuk dan ada di mana-mana! " jawab Bulek Saroh dengan tersenyum sinis menatap Bude Maryam yang seketika mati kutu dengan ucapan menohok dari Bulek Saroh.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2