
Semua orang seperti melihat seseorang bangkit dari kuburnya dan sekarang berdiri di hadapan mereka sebagai pemilik perusahaan yang sebenarnya.
"Sepertinya tidak ada yang menjawab sapaan ku! Apakah kalian tidak suka aku berdiri di hadapan kalian sekarang ini? " sindir Rahman dengan nada dingin.
"Tu-tuan Atmanegara! A-anda beneran Tu-tuan Atmanegara?? " tanya seorang pria paruh baya yang berkepala plontos itu.
"Ya Tuhan, anda ternyata masih hidup, Tuan! " ucap seseorang lagi dengan wajah tidak percaya.
"Saya kira anda beneran meninggal bersama anak istri anda, Tuan! Seperti rumor yang beredar selama ini! " ucap seorang wanita yang berkaca mata tebal.
"Karena aku sudah berdiri di hadapan kalian sekarang ini, berarti rumor yang beredar tersebut adalah omong kosong yang sengaja di sebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab! Mari kita mulai meeting nya! " jawab Rahman dengan wajah dingin dan datar.
Semua orang menelan ludah mendengar sang Bos mulai dengan sikap dingin dan datarnya. Satu persatu mereka memperkenalkan diri di hadapan Rahman sebagai pemilik perusahaan yang karakter yang berbeda-beda.
Rahman menandai bawahannya yang benar-benar mau bekerja keras membangun perusahaan ini dan mana yang hanya sekedar menumpang lewat saja sebagai batu lonjatan untuk dirinya sendiri.
Setelah mereka selesai memperkenalkan diri, meeting pun di mulai oleh Hardi yang sebagai pembicara mewakilkan Tuan Besar Atmanegara yang hanya melihat dan mengamati jalannya meeting.
πΎπΎπΎ
Papa Idris yang sedang berbincang dengan Pak lek Rohim di taman belakang di kejutkan dengan panggilan telepon dari sekretaris nya Clara.
"Tunggu sebentar Pak Kyai, ada panggilan telepon! " pamit Papa Idris dengan sopan kepada Pak lek Rohim.
"Monggo, Pak Besan! Santai saja! " jawab Pak lek mempersilahkan Papa Idris pergi.
"Ya Clara, ada apa? " tanya Papa Idris begitu sampai ruang kerjanya.
"Oh, baiklah kalau begitu, kau beritahukan kepada pihak mereka agar bertemu di Cafe dekat kantor jam makan siang! " ucap Papa Idris ketika mengakhiri pembicaraan dengan sekretarisnya Clara.
Setelah mematikan sambungan telepon nya, Papa Idris keluar dari ruang kerjanya dan mencari keberadaan istrinya untuk mengabarkan jadwal pertemuan mereka dengan pihak S.C.A group.
"Papa cariin dari tadi ternyata Mama disini! Oh ya Ma, besok pas waktu makan siang kita bertemu mereka di Cafe dekat kantor! " ucap Papa Idris pada Mama Lia yang sedang menyiapkan makan siang.
"Oke Pa! Oh ya Pa, tolong panggilkan Pak Kyai dan kakak nya untuk makan siang! Mbok, juga panggilkan Amay dan keluarga nya untuk makan siang juga ya? " jawab Mama Lia kepada Papa Idris dan Si Mbok.
__ADS_1
"Baik Nyah! " jawab Si Mbok sambil mencuci tangan nya.
"Oh ya Mbok, jangan lupa pegangin Amay jika mau turun tangga! " teriak Mama Lia pada si Mbok yang mulai menjauh dari dapur.
"Iya Nyah! " jawab Si Mbok juga sambil berteriak.
Papa Idris hanya geleng-geleng kepala lihat kelakuan majikan dan pekerja nya yang sama-sama somplak.
Mereka semuanya sudah berkumpul di meja makan dan menikmati makan siang dengan penuh canda tawa, siapa lagi pelakunya kalau bukan Haikal dan Haura.
Amay menerima panggilan telepon dari Izam yang merajuk karena tidak bisa makan siang bersama istri tercinta karena pekerjaan nya banyak dan menumpuk sehingga membuatnya bosan dan jenuh.
Amay terkekeh pelan mendengar suara suaminya yang begitu tidak bersemangat dari seberang sana. Ia mencoba menghibur suaminya dengan kata-kata yang mesra sambil mengeluarkan rayuan gombal yang biasanya keluar dari mulut Izam tapi saat ini malah keluar dari mulut Amay.
Ketika sedang asyiknya mengobrol di telepon tiba-tiba Amay di datangi duo kurcil yang baru pulang dari ikut Mami Papi nya pergi ke rumah sakit.
Amay pun mengakhiri pembicaraan nya dengan Izam dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Gimana tadi di rumah sakitnya, sayang? " tanya Amay kepada Nanaz yang sudah mengambil tempat di sebelahnya.
"Ya ampun, kasihan sekali, terus tadi Nanaz sama Syakir ngapain aja! " tanya Amay dengan ekspresi sedih.
"Syakir cuma ikut Mami ke ruangan kakek-kakek yang kepala botak itu sama Kakak! Terus kita di sana main dokter dokteran sama Suster yang ada di sana, Aunty! " jawab Syakir yang duduk di karpet lantai.
"Wah, seru dong kalau gitu! " ucap Amay dengan sangat tertarik.
Syakir makin bersemangat bercerita karena Amay menanggapinya dengan sungguh-sungguh sehingga membuat ia begitu senang bercerita. Sedang kan Nanaz hanya diam saja, sepertinya mood sang kakak sedang tidak bagus.
"Loh, cucu Oma ada di sini rupanya? Gimana tadi ikut Mami ke rumah sakit? " ucap Mama Lia ikutan nimbrung bersama mereka.
"Ih, Oma sama Aunty sama aja pertanyaan! Emangnya gak ada pertanyaan yang lain apa? " jawab Nanaz dengan bibir mengerucut kesal.
Mama Lia memberikan kode lewat matanya kepada Amay, yang hanya di jawab Amay dengan mengangkat bahunya. Mama Lia pun duduk di samping Nanaz sambil membelai lembut rambut panjang cucunya tersebut.
"Kenapa sayang? Ada yang ingin Nanaz omongin sama Oma? " tanya Mama Lia dengan lemah lembut.
__ADS_1
"Nanaz sebel Oma! Masa Om-om yang di rumah sakit bilang kalau Nanaz ini gendut, banyak makan, terus nanti kalau sudah gede nanti pasti jelek karena kebanyakan lemak! " jawab Nanaz dengan suara yang hampir menangis.
"Oh sayang nya Oma! Siapa yang berani mengatakan hal bodoh seperti itu kepada cucu Oma? Hemmmm! " ucap Mama Lia sambil memeluk Nanas penuh kelembutan.
"Itu Oma, Om-om yang tadi ketemu di rumah sakit! " jawab Nanaz dengan linangan air mata.
"Nanaz sayang, dengerin Aunty ya Nak! Apa yang di katakan Om-om itu semuanya tidak benar, alias bohong! Nanaz ini gemuk karena Nanaz masih kecil, masih dalam pertumbuhan, jadi Nanaz masih perlu memakan makanan yang bergizi biar tubuh Nanaz sehat. Aunty yakin sekali dengan bertambahnya usia Nanaz nanti, Nanaz akan menjadi perempuan yang paling cantik. Nanaz harus ingat satu hal, untuk apa jika mempunyai wajah cantik tapi mempunyai akhlak yang buruk, lebih baik punya wajah biasa saja tapi berkelakuan baik! InsyaAllah di masa depan Nanaz akan menjadi wanita yang tidak hanya cantik wajahnya tapi juga cantik tingkah lakunya! Nanaz paham kan sayang? " ucap Amay dengan penuh kasih memberikan Nanaz pengertian.
"Jadi Om-om itu bohong ya Aunty? " tanya Nanaz lagi agar yakin.
Amay menganggukkan kepalanya dan Nanaz langsung tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Amay. Ia langsung pergi karena suasana hati nya sudah kembali ceria dan bahagia.
"Haduh... Baru kelas 1 SD, tapi sudah bisa baperan dengan perkataan orang lain! Sepertinya kita harus berhati-hati kalau bicara dengan nya agar gak baperan kayak tadi! " ucap Mama Lia menghela nafas kasar.
"Iya, Mama benar! Mereka seperti dewasa sebelum waktunya! Jadi harus sering di ingatkan agar mereka mengerti dan paham jika menyangkut hal-hal yang tabu sekalipun! " sahut Amay membenarkan kata-kata Mama Lia.
"Iya, kamu benar sayang! Ya sudah, kamu nonton aja di sini! Mama sama Bulek kamu mau bikin cake di belakang! " ucap Mama Lia bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur.
πΎπΎπΎ
Merpati hari ini libur berjualan karena ia pergi mengunjungi kakak sepupunya di rumah sakit. Damian uring-uringan karena gagal bertemu perempuan yang mirip dengan Kinanti. Padahal ia sudah menunggu dari pagi-pagi sekali, tapi semuanya sia-sia.
"Haishhh... Kemana perempuan itu? Kenapa ia hari ini tidak berjualan lagi? Susah payah aku pergi pagi-pagi hanya untuk bertemu dengan nya, namun semuanya gak ada gunanya! " Damian mengerutu sepanjang jalan ke kantor nya.
Setibanya di sana, tangan kanannya Alek sudah menunggu di depan pintu masuk perusahaan dengan wajah datar nya.
"Ada apa? " tanya Damian dengan ketus ketika Alek membukakan pintu mobilnya dan masuk di samping sopir.
"Ada yang mengatakan kalau Tuan Rahman Atmanegara sudah kembali! " jawab Alek dengan menatap lurus ke depan.
"Ohh... Apaaaaa??? " pekik Damian dengan wajah kaget dan pucat.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...