
Haji Amir memasuki hotel tempat berlangsungnya pesta resepsi Izam dan Amay bersama istrinya. Banyak bisik-bisik pengunjung hotel dan karyawan hotel begitu melihat pasangan tersebut berjalan melewati mereka. Mereka menggosipkan dan menertawakan pakaian norak dan dandanan menor istri Haji Amir yang terlalu menyolok.
Begitu sampai di depan pintu aula, mereka berdua di cegat beberapa orang security yang memang di tugaskan untuk memeriksa setiap tamu yang datang tidak terkecuali mereka berdua.
Mereka menunggu antrian untuk di periksa security tersebut, dan dari jauh Hajjah Marlena melihat teman satu pengajian nya juga ikutan di periksa duluan oleh petugas tersebut.
"Loh, itu kan teman satu pengajian nya Umi? Kenapa dia ada di hotel mewah ini dan juga ikutan di periksa security? Periksa nya duluan lagi? " tunjuk Marlena kearah satu keluarga yang sedang di periksa tidak jauh dari tempat ia dan suaminya berdiri menunggu antrian.
"Mungkin di undang juga lah Umi! Gak mungkin kan bukan tamu undangan bisa masuk ke sini! Mana pemeriksaan nya ketat kayak gini lagi! " jawab Haji Amir acuh.
"Ya maksud Umi itu kenapa orang biasa-biasa aja kayak mereka bisa di undang ke hotel mewah kayak gini loh Abi? Ini kan khusus undangan untuk orang yang kaya kayak kita! Masa orang seperti mereka ikutan masuk hotel mewah sama kayak kita! Gak level kali.... " cibir istrinya dengan mulut komat kamit kesal.
"Udahlah Mi ! Gak usah ngurusin urusan orang! Lagian itu kan hak yang punya acara, mau mengundang siapa saja! " tegur suaminya dengan nada pelan tapi tegas.
Marlena hanya mendumel dalam hatinya merutuki sifat suaminya yang tidak sejalan dengan pendapat dan pandangan nya menilai seseorang. Ia semakin kesal saat teman satu pengajiannya berjalan melewati mereka dengan tersenyum ramah menyapa mereka berdua.
"Eh Pak Haji dan Bu Hajjah! Apa kabar Pak, Bu! Gak nyangka nya kita ketemu juga di sini? Bu Hajjah kenapa gak datang waktu undangan pengajian di rumah pengantin ini? Waktu itukan grup pengajian kita di undang ke pengajiannya! " sapa Bunda Yasmine dengan ramah ketika melewati mereka dan berhenti sebentar untuk bertegur sapa.
"Saya lagi ada urusan, jadi gak sempat! " jawab Marlena dengan nada ketus.
"Lagian orang biasa kayak kalian kok bisa-bisa nya sih di undang ke hotel mewah kayak gini? Pasti kamu meminta undangan nya ya waktu pengajian kemaren? Kalian kan gak pantas datang ke tempat bagus seperti ini! " ucap Marlena lagi dengan nada sinis.
Haji Amir hanya bisa memasang wajah memelas seakan meminta maaf atas sikap istrinya tersebut kepada Bunda Yasmine dan keluarganya.
"Maaf Pak Haji, bu Hajjah! Kami masuk duluan! Oh ya Bu Hajjah, kami memang orang biasa dan undangan ini langsung di berikan yang jadi pengantin nya sebulan sebelum pesta ini di gelar. Mereka berdua yang langsung mengundang saya dan keluarga saya! Permisi.... " jawab Bunda Yasmine tersenyum ramah yang mana semakin membuat Marlena semakin tidak suka dan tersenyum mengejek kepada Bunda Yasmine.
Bunda Yasmine dan keluarga nya pun masuk duluan ke tempat VVIP tamu-tamu penting dengan di antar salah seorang security wanita.
"Siapa sih Bun, ibu-ibu yang menghina kita tadi? Sombong amat bilang kita gak pantas masuk ke hotel mewah ini! Udah bajunya norak, dan dandanan nya menor lagi kayak ondel-ondel! Seenaknya nya nuduh kita mengemis minta undangan! Perlu di kasih cabai setan mulut culas nya itu! " tanya putri Bunda Yasmine dengan nada tidak suka.
"Udah, gak usah ngurusin mereka! Mereka itu dulu calon mertuanya Nak Izam pengantin pria ini! Dah lah, gak usah membicarakan mereka lagi! Ayo kita buruan masuk! Nanti tamu nya semakin banyak masuk! " jawab Bunda Yasmine singkat.
"Ish.... Bunda bikin Rum makin penasaran aja! " rengek Rumana putri Bunda Yasmine dengan menghentakkan kakinya ke lantai.
__ADS_1
Bunda Yasmine hanya tersenyum geli melihat putri nya kesal begitu. Mereka di arahkan untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan khusus untuk Bunda Yasmine dan keluarga nya.
"Bun.... Kita beneran duduk di meja ini? Ini kan meja untuk orang-orang penting! Tuh liat ada namanya! " bisik suaminya dengan agak sungkan dan risih karena takut salah tempat duduk.
"Kita ada namanya juga kok Yah! Nih lihat Bunda Yasmine dan keluarga tulisannya! " jawab putra nya yang kebetulan mendengar bisikan suara ayahnya.
Putra nya memberikan tulisan nama yang tergeletak di tengah-tengah meja kepada ayahnya agar ayahnya yakin ini memang meja mereka.
"Iya Yah... Ini memang meja kita! Buktinya kita di suruh ke meja ini dan ada nama Bunda di meja tersebut! " tambah Rumana menyakinkan ayahnya lagi.
"Iya juga ya... Ayah hanya takut kita salah tempat duduk! Secara kan kita hanya orang biasa dan bukan orang penting seperti nama-nama itu! Kan malu pas sudah banyak tamu tiba-tiba yang punya meja datang dan mengusir kita! " jawab Suami Bunda Yasmine agak sedikit minder.
"Siapa bilang kita bukan orang penting, yah! Bunda orang penting kok, buktinya ada nama Bunda nih di atas meja! Sama kayak nama-nama yang di sana itu! Ayah gak usah khawatir gitu lah, karena mungkin ini memang di persiapkan nak Izam untuk keluarga kita! " ucap Bunda Yasmine meyakinkan suaminya.
Tiba-tiba saja Davin datang menghampiri meja Bunda Yasmine yang membuat Bunda Yasmine semakin yakin jika Izam yang mempersiapkan meja tersebut untuk ia dan keluarganya.
"Assalamualaikum Bunda, selamat datang! Masih ingat dengan saya, temannya Izam ! Oh ya, Bunda dan keluarga kalau perlu apapun, minta saja sama pelayan yang lalu lalang di sini! Jangan sungkan untuk mencegat mereka! Sebentar lagi acara nya akan segera dimulai, Izam dan Amay akan segera keluar! " sapa Davin ramah dengan mencium tangan Bunda Yasmine tanda beliau menghormatinya.
"Waalaikumsalam nak Davin... Tentu saja Bunda masih ingat dengan nak Davin! Terimakasih atas keistimewaan yang di berikan nak Izam kepada Bunda dan keluarga! Terimakasih... " jawab Bunda Yasmine penuh rasa haru.
"Iya Nak Davin, silakan! " jawab Bunda Yasmine mempersilakan Davin undur diri.
Sebelum pergi dari meja Bunda Yasmine, Davin terlebih dahulu memanggil dua orang pelayan agar melayani meja Bunda Yasmine kapan pun mereka mau. Anak-anak Bunda Yasmine tersenyum sumringah melihat mereka diperlakukan seperti orang-orang penting lainnya.
"Asyik.... Kita bisa makan apapun yang kita mau! " pekik pelan Arsyad putra Bunda Yasmine kegirangan.
Di tempat lain, Marlena mendumel kesal karena mereka hanya di persilahkan untuk masuk di ruangan yang hanya ada kursinya saja. Bukan yang ada mejanya seperti yang di duduki tamu-tamu VVIP.
"Ini kan pesta orang kaya, masa gak semuanya pakai meja kayak gitu sih! Ini sama saja kayak kondangan di luaran sana! Di luaran saja kita duduknya masih di tempat yang ada mejanya lagi! Di sini apaan cuma kursi doang, mana gabung lagi sama orang-orang yang gak penting kayak gini! Gimana Umi bisa bertemu ibu-ibu pejabat dan ibu-ibu sosialita kalau duduk nya di sini! Bisa gagal Umi berkenalan dengan ibu-ibu yang punya anak-anak yang mungkin saja cocok untuk Ahyar dan Anita! " ucap Marlena mengerutu kesal dengan mulut komat kamit.
Haji Amir membiarkan saja istrinya mengerutu kesal karena ia sedang malas berdebat dengan istrinya itu. Ia hanya melihat ke arah depan dan kebetulan sekali mereka duduk di kursi leretan kedua dan bisa melihat dengan jelas saat pengantin melewati mereka menuju kursi pelaminan.
Terdengar suara MC atau pembawa acara yang mulai bersuara jika acara tersebut akan segera di mulai.
__ADS_1
"Para hadirin sekalian... Ladies and gentlemen... Marilah kita sambut kedatangan pasangan Raja dan Ratu sehari kita Idzam Maliq Barzakh dan Sumayyah Calista A. Kedua mempelai dipersilahkan memasuki aula!! " ucap MC berteriak lantang.
Lampu sorot mengarah ke pintu masuk aula dan dua orang petugas membukakan pintu tersebut. Izam memasuki ruangan dengan lengan kanannya di peluk erat Amay yang langsung memberikan senyuman terbaik mereka dengan kepala tegak ke depan.
"Sepasang pengantin kita sudah melakukan akad nikah dua bulan yang lalu di kediaman pengantin wanita di daerah xxx, hadirin bisa melihat foto-foto akad nikah mereka di layar yang sudah di sediakan. " ucap MC lagi dengan menunjuk ke arah layar ukuran raksasa yang menampilkan foto akad nikah Amay dan Izam.
Mama Lia dan Papa Idris berjalan di belakang Amay dan Izam bersama Bulek Saroh dan Pak lek Rohim yang ikut bersama mereka karena mereka lah yang duduk di kursi tempat orang tua duduk.
Haji Amir kaget dan sangat terkejut ketika melihat dengan jelas Izam yang berjalan berpakaian pengantin melewatinya tersenyum lebar kepada tamu yang lain tapi tidak melihat kearahnya langsung. Terlebih lagi ketika ia melihat layar yang memperlihatkan dengan jelas gambar Izam yang sedang melakukan ijab qabul.
Setali tiga uang dengan suaminya, Marlena tampak shock ketika melihat wajah pengantin pria yang terlihat jelas dari tempat mereka duduk yang mana langsung membuat leher Marlena seperti tercekik dan seluruh tulang-tulang nya terasa lemas seperti jelly. Ia sungguh tidak menyangka dengan kenyataan yang ada di hadapan nya jika laki-laki yang dulu ia hina habis-habisan adalah seorang konglomerat kaya raya.
"A-Abi.... I-ini cuma mimpi kan Bi?? U-umi bermimpi kan Bi?? Gak mungkinkan Bi, laki-laki kere dan kismin itu yang berdiri di sana! Di atas pelaminan itu! I-ini hanya halusinasi U-umi kan Bi.... " tanya Marlena dengan wajah pucat pasi, tangan gemetar dan suara yang bergetar gagap.
"Umi gak bermimpi kok Umi! Ini kenyataan, dan laki-laki yang berdiri di pelaminan itu memang Izam. Laki-laki yang sangat di cintai Anita putri kita. Laki-laki yang dulu Umi hina karena dia miskin dan tinggal di rumah kontrakan yang hanya berjualan kebab untuk mencari uang! Itulah laki-laki yang Umi hina dulu! " jawab Haji Amir dengan suara tercekat di tenggorokannya.
"Gak... U-umi masih gak percaya jika laki-laki kere itu anak orang kaya! Pasti itu kembarannya atau hanya mirip saja! " ucap Marlena menolak mempercayai semuanya.
Ia berusaha berdiri tapi apalah daya semua tulang-tulang yang menopang tubuhnya terasa lemas sehingga ia jatuh terduduk di lantai. Ia menangis karena benar-benar shock ketika mengetahui laki-laki yang dulu ia hina ternyata anak orang kaya dan saat ini sudah menikah. Seandainya saja ia tahu kalau Izam anak orang kaya, ia pasti akan tetap menyuruh Anita berhubungan dengan Izam dan saat ini pasti Anita lah yang berada di atas pelaminan bersama Izam. Dan dia serta suaminya juga lah yang duduk di atas sana sebagai orang tua pengantin wanita.
Marlena menangis tersedu-sedu di lantai menyesali kebodohannya karena sudah membuang laki-laki yang bisa mengangkat derajat mereka menjadi orang kaya raya. Ia menyesal tidak mencari dulu tentang Izam dan keluarga nya sebelum ia meminta Anita memutuskan hubungan mereka berdua.
"Ayo Mi bangun! Malu di lihat orang! Ayo duduk lagi! Tuh lihat, semuanya melihat kearah kita! " bisik Haji Amir mencoba mendirikan istrinya dan membawanya duduk kembali ke kursi mereka.
"Hu... Hu... Bi, Umi gak rela Izam menikah dengan perempuan itu! Hanya Anita putri kita yang pantas berdiri di sana mendampingi Izam. Anita lah yang pantas Abi.... Hanya perempuan seperti Anita lah yang pantas bersanding dengan laki-laki kaya seperti Izam! Umi tidak rela jika perempuan itu mengambil posisi Anita Bi, Umi tidak rela! " ucap Marlena menangis terisak-isak.
"Mi... Bisa gak gak usah bikin malu Abi! Jangan pernah mengatakan kata-kata bodoh itu lagi! Ayo kita pulang! Lebih baik kita pulang dari pada kita lama-lama di sini dan Umi bikin Abi malu! Ingat Mi, di pesta ini banyak tamu orang-orang penting! Memangnya Umi mau reputasi Abi dan perusahaan kita menjadi taruhannya karena kebodohan Umi? Mau Umi? " ancam Haji Amir dengan suara berbisik tetapi sangat tajam di telinga Marlena istrinya.
Setelah mengatakan semua itu, Haji Amir berdiri dan menarik paksa tangan istrinya membawanya pergi menuju pintu keluar dengan berjalan tergesa-gesa tanpa melihat siapapun lagi. Dari sudut yang tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi, Davin tersenyum penuh kemenangan karena melihat wajah shock ibunya Anita yang mengetahui kenyataan bahwa Izam yang selama ini ia hina ternyata seorang konglomerat kaya raya.
Yah, Davin lah yang sengaja memberikan mereka tempat duduk yang tidak begitu jauh dari kursi pelaminan dan layar raksasa yang memperlihatkan foto pernikahan Izam dan Amay. Izam bahkan tidak mengetahui sama sekali jika Davin juga mengundang orang tua Anita. Ia juga tidak melihat akan keberadaan Haji Amir dan istrinya karena banyaknya tamu yang datang dan semuanya terlihat sama dari atas pelaminan.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...