Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Nampak Murung


__ADS_3

Almaira kecil sejak kejadian peristiwa penculikan kelihatan masih trauma. Almaira yang biasa tersenyum riang kini nampak murung. Hal itu tidak lepas dari pemantauan kakak kembarnya.


“Adik sayang, ayo sini bermain dengan kakak!” ajak Setya yang sedng mengendari motor  kecil maticnya, namun Almaira nampak takut hingga bersembunyi di balik baju mamanya.


“Aku takut ma!” ucapnya masih cedal.


“Sayang itu kakak kamu, jangan takut ya?” ucap mamanya sambil menggandengnya untuk naik ke motor mainan kakaknya.


Tidak berapa lama kemudian papa Tegar datang membawa oleh-oleh untuk ketiga putranya, namun lagi-lagi Almaira tidak mau mendekatinya. Tegar merasa terpukul melihat perubahan Almaira yang begitu menyiksanya.


“Almaira sayang, sini nak sama papa! Ini Papa kamu, jadi kamu jangan takut!” Ucap Tegar sambil mengangkat kedua tangannya berharap Almaira mau mendekatinya. Namun laki-laki Tegar kecewa karena Almaira justru menangis dengan sangat keras karena ketakutan.


Dila yang merasa kasihan dengan suaminya akhirnya berusaha membujuk Almaira untuk mendekati papanya.


“ Sayang itu papa. Papanya dik Almaira dan kakak kembar. Itu kakak juga berpelukan sama papa,”ucap Dilla diikuti dengan si kembar memeluk dan mencium pipi papanya. Pelan-pelan Almaira berjalan mendatangi mereka hingga akhirnya Tegar bisa menggendongnya.


Tegar mencium kedua pipi Almaira dengan penuh kasih sayang diikuti oleh kedua Kakak kembarnya.


Si kembar seolah tahu dengan kondisi adiknya maka mereka berdua berusaha menghibur adiknya agar tidak ketakutan lagi  bertemu dengan papanya.


“Almaira…, ayo bernyanyi bersama kakak ya?” ucap Setya yang memang sangat menyanyangi adiknya dan berniat untuk mengajak adiknya selalu gembira.


“Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, "Hap", lalu ditangkap,” ucap Setya sambil menepuk kedua tangannya di lirik terakir sehingga Almaira tertawa kegirangan.


Alamira sudah nampak mulai membaik dan bercanda dengan kakaknya hingga akhirnya kelelehan dan tertidur di sofa.


Setya yang tahu adiknya sudah tertidur memanggil apanya untuk menidurkan Almaira di tempat tidurnya. Tidak lama kemudian Tegar mengangkat Almaira untuk dibawanya ke tempat tidurnya.

__ADS_1


Setelah menidurkan Almaira Tegar berbincang dengan Dilla.  Mereka berdua sepakat akan membawa Almaira ke dokter psikiater anak.


Waktu terus berlalu hingga pagi hari Tegar sudah siap dengan pakaian rapi dengan celana dan baju yang casual.


“Mama,  ayo sudah siap? Aku juga ingin tahu perkembangan Almaira?” ucap Tegar yang sudah berada di dekat Dilla yang sedang menyuapi Almaira.


“ Iya Pa,  ini aku sudah siap. Dan Almaira makannya juga sudah hampir selesai,”ucap Dilla yang membersihkan bibir Almaira dengan tisu basahnya. Kemudian dirinya bergegas mengganti bajunya yang Senada dengan baju Tegar.


Setelah semuanya siap, mereka pergi ke rumah sakit untuk menjumpai dokter psikiater anak.


“Permisi Bu dokter,  kami akan mengkonsultasikan putri kami pasta dari penculikan nampak murung dan sulit untuk bergaul dengan yang lainnya, “ ucap Dilla kepada dokter yang bekerja di rumah sakitnya.


“Iya silakan ibu.  kami akan memeriksa Putri anda,”  ucap dokter Airin tanpa memperhatikan orang di depannya, karena masih membuka berkas-berkasnya yang ada di meja. Airin nampak terkejut saat memandang Dilla dan suaminya.


“ Kak Tegar?” ucap Airin yang tidak menyangka bisa bertemu dengan Tegar masa lalunya semasa sekolah di Jerman.


“Kalian saling mengenal?” tanya Dilla penasaran.


“Iya ibu? Dulu kak Tegar selalu melindungi saya ketika saya harus dikejar-kejar preman karena hutang mama saya dan menjaminkan saya sebagai jaminannya,” ucapnya enteng tanpa ada rasa takut menyinggung perasaan Dilla.


“Begitukah?” tanya Dilla sedikit sendu hingga matanya berubah mendung. Tanpa basa-basi lagi Dilla akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.


“Dilla? Dilla sayang?” ucap Tegar sambil terus mengejar Dilla.


Dilla yang nampak gerah dengan sikap mereka berjalan menuju parkiran dan dengan sekejap sudah menghilang di hadapan Tegar karena Dilla sudah naik taxi yang kebetulan mengantar pasien di rumah sakit.


Tegar pun langsung masuk ke mobilnya hingga mengejar Dila. Mereka saling mengejar membelah jalanan yang beraspal.

__ADS_1


Sementara itu Airin nampak tersenyum puas melihat Dila diliputi rasa cemburu.  Airin pikirannya melayang ke beberapa tahun yang silam di mana dia selalu ditolong dan dilindungi oleh Tegar.


“Hei…,  para preman penagih hutang! Lepaskanlah Airin! Kalau boleh tahu berapa hutangnya mama  nya Airin? Aku yang akan melunasinya,” ucap Tegar yang memang waktu itu sedang jatuh cinta dengan Airin.


Tegar pun tanpa berpikir panjang langsung menuliskan nilai nominal yang disebutkan oleh para preman penagih utang tersebut. Dan karena sudah mendapatkan uangnya preman tersebut pergi meninggalkan Airin. Airin yang panik langsung berlari berhamburan memeluk Tegar.


“Kak Tegar, hikk…, hikk…! Terimakasih kak? Kamu telah menolongku? Kalau kamu tidak hadir tepat waktu mungkin aku sudah dinodai oleh juragan itu!” ucap Airin sambil menangis sesenggukan di pelukan dada bidang Tegar. Tegar pun dengan kasih sayang mendekapnya dengan sangat erat seolah tidak mau melepaskan Airin. Tegar juga mencium kening Airin.


Airin tersadar dari lamunannya ketika seorang perawat datang menghampirinya dan memberikan beberapa berkas tentang Amaira.


“ Maaf dok…,  ini berkas putri Ibu Dilla! Semua catatan tentang medis dan riwayat sakitnya juga ada di dalam sini!” jelas perawatnya bu Airin.


“Baiklah kau taruh di sini saja! Nanti aku akan memeriksanya ulang karena kebetulan mereka berdua ada kepentingan mendesak sehingga tidak jadi memeriksakan putrinya!” jelas Airin kepada perawatnya.


“Bolehkah aku menanyakan sesuatu tentang bu Dilla? Kamu kan sudah lama bekerja di sini? Aku rasa kamu banyak mengetahui tentang mereka? Coba ceritakan banyak hal tentang mereka?”tanya dokter Airin.


“Maaf bu dokter saya tidak mengetahui informasi tentang bu Dilla, apalagi keluarganya!” ucap asisten perawatnya. Airin pun nampak kecewa dengan jawaban perawatnya.


Sementara itu Dilla nampak bersedih dan menghubungi dokter Irfan untuk mencari dokter psikiater yang bisa menangani putrinya agar cepat sembuh dari sindrom penculikannya.


Setelah menelpon Irfan, Dilla meminta sopir taxi mengantar dirinya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah entah sejak kapan Tegar sudah berada di rumahnya dengan tergopoh-gopoh mendatangi Dilla yang menggendong Almaira.


“Sayang,  kamu jangan seperti itu? Aku dan Airin merupakan cerita masa lalu aku! Dan perlu kau tahu aku dan dia sudah tidak ada apa-apanya. Sejak kejadian putusnya aku dan dia, kita tidak pernah bertemu lagi. Apalagi mamanya juga tidak merestui kita?” ucap Tegar yang ternyata justru memperkeruh suasana hati Dilla. Ternyata apa yang diucapkannya menimbulkan salah persepsi baginya. Dilla beranggapan kalau Tegra tidak bersama Airin karena terganjal restu dari mama Airin, Dan itu berarti Airin dan tegar terpisah karena keterpaksaan.


Dilla pikirannya tidak menentu sehingga Dilla dengan bercucuran air mata kembali ke kamarnya dan menidurkan Almaira yang tidur pulas di pelukannya. Sedangkan TEgar semakin panik karena sikap Dilla yang sering ngambek.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2