
Permasalahan di bandara sudah diatasi oleh kepolisian, akan pembuktian keterlibatan Lukas tidak bisa dibuktikan. Pihak kepolisian tidak cukup bukti untuk menjerat Lukas ke dalam masalah hukum terkait kepemilikan sabu-sabu. Orang yang tertangkap di bandara jugfa tidak bisa membuktikan apapun. Semua jejak yang berhubungan dengan Lukas seolah-olah hilang tanpa bekas.
Dimas melaporkan semua kejadian ini kepada Tegar. Mereka berdua membicarakan masalah tersebut di kantor Tegar. Tegar menghela nafasnya panjang panjang dan mengatakan sesuatu kepada Dimas.
“ Aku yakin, Om Lukas tidak bergerak sendiri. Bahkan keterlibatan dirinya terkait dengan kematian papa tidak bisa kita buktikan. Tapi aku yakin sekuat apapun Om Lukas pasti ada titik lemahnya. Dan kita harus mencari kunci dari kelemahan Om Lukas.”
“Itu tidak gampang Bos, karena Om Lukas ada orang dalam yang melindunginya. Untuk mengetahui kelemahan Om Lukas kita harus menyusup ke dalam lingkaran pergaulannya,”ucap Dimas dengan santai.
“ Iya. Kelemahan Om Lucas itu cuman satu yaitu wanita. Om Lukas selain punya Tante Lusi di luar sana juga punya wanita lain yang selalu menghibur nya,” ucap Tegar sambil berusaha memikirkan jalan keluarnya.
“ Aku punya jalan keluarnya. Aku dengar Tiara yang kemarin dipecat oleh si kembar sedang bekerja di di perusahaan Om Lukas. Bagaimana kalau kita cari Tiara dengan tawaran beberapa jumlah uang karena saat ini Tiara membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya,” jelas Dimas kepada Tegar sambil mencari telepon di dalam jam ponselnya.
“Ide yang bagus. kamu urus ya ya? Aku yakin kamu bisa mengatasinya! bagaimanapun kita harus berusaha membuktikan om Lukas biang kerok dari semua kejadian. tapi ingat dalam hal ini jangan libatkan si kembar apalagi Dilla. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mereka,” ucap Tegar sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil pikirannya menerawang jauh entah kemana.
Tidak lama kemudian Dilla datang membawa banyak makanan yang dibagikan untuk bagian kantor. Dilla dengan perasaan senang berjalan menuju ruangan Tegar. Dengan gayanya yang anggun mengetuk pintu kemudian memasuki ruangan Tegar setelah dipersilahkan masuk oleh Tegar.
Dilla masuk kemudian menghampiri Tegar dan mengecup pipi Tegar tiba-tiba dihadapan Dimas, hingga Dimas merasa malu sendiri dengan sikap Dilla dan Tegar. Dimas langsung pamitan namun di hatinya mengutuki sikap bosnya dan Dilla.
“Sial, mereka memamerkan kemesraannya di hadapanku. Apa mereka tidak tahu kalau perasaan jombloku sakit menahan hasrat!” gumamnya lirih dan langsung menelpon Mita.
“Halo sayang, bisakah kita berdua makan siang bersama?” tanyanya lirih hampir tidak terdengar oleh Mita yang ada di seberang.
“Makan berdua? boleh kok sayang, aku juga belum makan. Aku tunggu kamu di kantor ya? tapi ingat tidak pakai lama!”
__ADS_1
ucap Mita yang berada di kantornya.
Tidak berapa lama kemudian Dimas menutup ponselnya dan langsung pergi ke parkiran hendak meluncur menemui Mita.
Sementara itu Dilla setelah makan dengan Tegar mengajak Tegar keluar untuk menonton dan belanja keperluan bulanan. Tegar menggandeng mesra Dilla menuju parkiran sepanjang lorong, para karyawan memperhatikan mereka.
“Sayang, kita jemput dulu si kembar, Kemarin si kembar minta dibelikan seragam dan alat untuk olahraga.” ucap Dila sambil memegang erat tangan Tegar.
“ Oke, kita menjemput si kembar di sekolah,” ucap Tegar yang terus menggandeng Dilla keluar dari kantor. Tegar menyalakan mobilnya dan langsung pergi meluncur ke sekolah si kembar. Di sepanjang jalan mereka mendengarkan lagu kemesraan. Namun di jalan Dila tiba-tiba Dilla meminta Tegar untuk menghentikan mobilnya ketika melihat penjual bakso yang berada di pinggir jalan.
“Sayang, aku ingin membeli bakso. Itu bakso yang paling kusuka pada saat aku masih sekolah dulu. Aku juga kasihan melihat penjual bakso yang sudah tua tapi tetap berjualan,” ucap Dilla sambil memohon kepada suaminya.
“Astaga sayang, mana bisa kita makan di pinggir jalan? Kamu apa tidak malu?” tanya Tegar kepada Dilla. Namun karena Dilla memaksa Tegar untuk berhenti akhirnya Tegar menuruti apa yang menjadi kemauan Dila. Tidak berapa lama kemudian mereka sudah antri beli bakso dan makan di pinggir jalan sambil duduk di bangku taman.
Tegar yang merasa risih dengan sikap Dilla sehingga tidak mau makan dan hanya memandangi Dilla yang makan bakso dengan rakus. Tegar yang melihat gaya Dilla makan akhirnya tertarik untuk mencobanya.
“Hm, ini enak sekali,” Ucap Tegar yang memuji bakso yang dia makan dan kemudian langsung memesan sendiri kepada Abang Tukang Bakso.
“ Pak, baksonya dong satu porsi lagi?” pesan Tegar kepada Abang Tukang Bakso. Tidak lama kemudian bakso yang sudah diracik oleh penjual bakso langsung diserahkan ke Tegar. Namun Belum sempat Tegar memegangnya sudah kembali direbut oleh Dila. Dila makan bakso milik Tegar nampak seperti orang kelaparan hingga membuat Tegar bengong tidak percaya dengan sikap Dila.
“Sayang, kamu kenapa? Makannya yang pelan? kalau memang itu kau minta aku pasti akan memberikannya untukmu?” ucap Tegar sambil menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti kenapa Dilla bersikap seperti itu. Dan lebih anehnya lagi Dilla membubuhkan sambel yang sangat pedas di dalam baksonya.
“ Maaf aku sangat lapar dan aku menyukainya. Entahlah bakso ini kelihatan lezat sekali apalagi dimkan dengan sambal dan kecap!” ucap Dila membela diri.
__ADS_1
“ Iya aku tahu. Tapi sikap mu itu loh? kamu makan bakso seperti orang yang lagi kelaparan dan kelihatan kamu lama tidak pernah makan bakso. Dan sambal yang kamu makan itu terlalu banyak. Kalau kamu sakit bagaimana?” jelas Tegar kepada Della. Dila hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan Tegar dan berlanjut makan bakso yang sudah dia pegang.
Tegar pun akhirnya mengalah dan memesan kembali bakso kepada abang tukang bakso. Setelah beberapa saat mereka menikmati bakso tiba-tiba ada tukang rujak yang lewat di dekat Della. Dilla Yang tertarik dengan varian buah yang ada di dalam gerobak tukang rujak langsung memesan rujak manis untuknya.
“Sayang, apa yang kamu pesan lagi? Apakah perut kamu masih muat menampung rujak yang kamu pesan? Bukankah tadi di kantor juga sudah makan ditambah dengan bakso 2 porsi?” tanya Tegar yang merasa aneh dengan sikap Dilla.
“ Sudahlah kak, kakak yang tenang. Aku tidak masalah. Aku memang lapar. Ditambah lagi Sekarang cuacanya panas. Ini sungguh sangat lezat dan segar?” ucap Dila yang masih bangunnya makanannya yang berada di mulutnya.
Tegar pun hanya pasrah dengan apa yang dilihatnya dan Tegar tidak ingin membuat Dilla kecewa. Setelah selesai menikmati bakso dan rujak mereka berdua melanjutkan perjalanannya untuk menjemput si kembar di sekolah.
Tidak Berapa lama kemudian mereka sampai di sekolah si kembar. si kembar yang kelamaan menunggu sedang bermain basket di lapangan. Tegar yang berusaha menebus kesalahannya langsung ikut bermain di lapangan bersama si kembar.
Tegar dan Yang baru datang langsung berebut bola dengan si kembar dan memasukkannya bola basket itu kedalam ring sekali tembak. Si kembar khususnya abiyasa sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh papa ya.
“Pa, Itu tembakan yang paling bagus? Papa pasti dulunya pernah jadi atlet basket ya?” tanya abiyasa kepada papanya.
”Tidak, dulu papa hanya pemain amatiran yang yang hanya mengikuti lomba antar kampus,” ucap Tegar merendah dihadapan kedua putranya.
“Aku tidak percaya. Pasti dulu papa pemain basket yang cukup handal?” ucap Abiyasa yang menggerakan jarinya untu browsing dan menemukan papanya pernah menjuarai kejuaraan bola basket se-asia.
“Ini dia. aku menemukan artikel tentang perlombaan papa waktu masih di perguruan tinggi,” Dan aku juga menemukan foto papa sebagai kapten basket yang sedang memegang piala kejuaraan.
“Kau itu, sudahlah jangan dibahas. Ayo kita segera berangkat menuju Mall untuk membeli seragam olahraga kamu dan sekaligus menikmati kebersamaan kita sebagai keluarga untuk nonton film di bioskop,” jelas Tegar.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.