Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Lepas Kendali


__ADS_3

Tuan Ardi yang pergi meeting tanpa diantar oleh sopirnya. Tuan Ardi tiba-tiba di tengah jalan merasakan detak jantungnya berdetak kencang dan terasa nyeri. Kemudi mobilnya lepas kendali hingga akhirnya menabrak pengendara di depannya. Kecelakaan pun terjadi. Tuan Ardi luka parah, hingga akhirnya dilarikan di rumah sakit.


Dilla yang piket di IGD melihat tuan Ardi langsung menghubungi Tegar. Tidak lama kemudian Tegar datang dengan asistennya. Tegar menanyakan kondisi ayahnya kepada Dilla. Dilla menyarankan agar Tegar konsultasi dengan dokter jaga.


Setelah dilakukan pemeriksaan secara khusus, bahwa pak Ardi harus operasi karena jantungnya yang perlu penanganan khusus. Selain itu juga harus dilakukan transfusi darah, yang kebetulan stock darah AB di rumah sakit kosong. Sedangkan Tegar sendiri golongan darahnya A jadi tidak bisa membantu ayahnya. Tegar panik menelpon semua saudaranya namun tidak ada yang golongan darah AB. Sedangkan saudaranya yang memiliki golongan darah AB tinggal di luar negeri untuk langsung pulang ke Indonesia jelas tidak memungkinkan.


Tegar duduk di kursi ruang tunggu sambil memegangi kepalanya yang semakin pusing. Dilla yang kebetulan ganti shift jaga langsung menghampirinya. Dilla menanyakan apa yang menyebabkan kegalauan Tegar.


Tegar menjelaskan semua keluhannya tentang donor darah yang diperlukan ayahnya dan harus segera dilakukan. Kemudian Dilla menawarkan dirinya untuk membantu ayah Ardi. Kemudian Dilla di antar oleh tegar di ruang laboratorium untuk dicek kecocokan darahnya dengan pasien.


Setelah dinyatakan cocok Dilla membantu Tuan Ardi dengan menyumbangkan sebagian darahnya. Dilla dengan percaya diri dan yakin membantu tuan Ardi. Setelah darah diambil dari tubuh Dilla kemudian di transfusi kan ke tubuh tuan Ardi.


Setelah memungkinkan untuk operasi akhirnya dilakukan operasi untuk pasang ring jantung. Operasi pun berjalan dengan lancar.


Selama menjalani perawatan di rumah sakit, perusahaannya dikendalikan oleh Dimas. Dimas memang asisten yang paling andal dan merupakan tangan kanan ayah Ardi maupun Tegar. Dimas meskipun orang lain sejak kecil diperlakukan sama seperti anaknya oleh ayah Ardi. Bahkan Dimas juga mendapatkan fasilitas yang sama seperti Tegar.


Hari ini setelah 3 hari menjalani perawatan ayah Ardi sudah mulai membaik. Namun untuk semua aktivitas tuan Ardi membutuhkan bantuan perawat. Dilla yang kebetulan bertugas sebagai perawat di ruang perawatan selalu menjenguk tuan Ardi.


Tuan Ardi semakin menyukai Dilla bahkan tuan Ardi meminta Dilla yang menjaganya disaat Dilla tidak bertugas. Dilla yang melihat kebaikan tuan Ardi tidak tega menolaknya. Hingga sepekan dalam masa perawatan tuan Ardi semakin Akrab dengan Dilla. Dilla yang periang dan murah senyum bisa membuat pak Ardi tertawa. Tuan Ardi pun memperlakukan Dilla bagaikan putrinya sendiri.

__ADS_1


Saat Tegar masuk ke ruang perawatan ayahnya, melihat keakraban mereka merasa cemburu. Tegar langsung ikut nimbrung dengan mereka dengan perasaan galau. Tegar tahu meskipun ayahnya sudah tua tapi masih kelihatan tampan. Tegar merasa dirinya bersaing dengan ayahnya sendiri dan berusaha mencari perhatian.


“Dilla, tolong dong kupas kan aku buah apel ya? Aku ingin makan buah yang segar-segar,” ucap Tegar tiba-tiba yang membuat ayahnya terkekeh. Dilla bingung karena masih menyuapi bubur untuk ayah Ardi.


“Nak, kau kupas kan apel dulu untuk anak ayah ya? Kasihan anak manjanya ayah pingin dimanja dan disayang,” ucap ayah Ardi sambil tersenyum menggoda anaknya. Ayah Ardi sangat senang karena Tegar setelah mengenal Dilla tidak lagi mempermainkan perempuan seperti biasanya. Tegar yang dulu suka ganti-ganti pasangan karena dendam dengan yang namanya wanita. Tegar sangat ingin membalas sakit hati saudara kembarnya Tagor yang meninggal mengenaskan karena dibunuh oleh selingkuhan pacarnya. Sejak saat itu Tegar selalu mempermainkan wanita-wanita cantik yang kecentilan.


“Ayah? Siapa yang ingin di manja dan disayang? Aku hanya ingin makan apel tapi aku males kupas sendiri ayah?” ucap Tegar pada ayahnya yang dengan sengaja menyembunyikan rasa cemburunya di hadapan ayahnya.


Ayah Ardi tersenyum melihat anaknya yang berusaha mendekati Dilla. Kemudian ayah Ardi timbul gagasan untuk meminta Dilla merawat dirinya hingga sembuh. Ayah Ardi hanya menginginkan Dilla membantu dirinya memantau makanan, minuman dan asupan gizi untuk tubuhnya agar tubuhnya segera pulih seperti sedia kala.


“Nak, Dilla kalau boleh tahu kapan ayah bisa pulang ke rumah?” tanya ayah Ardi dengan penuh semangat.


“Ayah ingin kamu yang merawat ayah ya? Entahlah ayah begitu nyaman dan semangat kalau kamu yang merawat ayah,” ucap ayah yang memancing emosi Tegar hingga Tegar pura-pura batuk untuk mengingatkan ayahnya agar tidak kecentilan.


Ayah Ardi semakin antusias menggoda Tegar, namun Dilla yang polos tidak mengetahui kalau ayah dan anak saling bersitegang.


“Merawat ayah? Aku kan kerja yah? Mana bisa aku meninggalkan pekerjaan aku kecuali hari libur yah?” ucap Dilla yang justru semakin membuat hati Tegar jengkel.


“Kau lupa ya siapa pemilik rumah sakit ini?” tanya ayah Ardi kemudian membuat Dilla mengingatnya.

__ADS_1


“Astaga? Kalau tidak salah rumah sakit ini milik tuan Ardi Permana,” ucap Dilla yang langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Ayah Ardi semakin terkekeh melihat sikap Tegar yang semakin bertambah jengkel. “Astaga ayah? Beri kesempatan untuk yang muda to yah?” gumam Tegar lirih nyaris tidak terdengar oleh orang lain.


“Gimana nak? Kamu bersedia kan?” tanya ayah kembali penuh dengan harap. Dilla masih mikir untuk membagi waktu antara bekerja dan merawat ayah Ardi.


“Masih bingung yah? Mana bisa aku membagi waktu aku kerja dan merawat ayah?” jawab Dilla sekenanya agar ayah Ardi mengurungkan niatnya untuk menjaga dan merawatnya.


“Nak Dilla meragukan ayah ya? Ayah kan sudah bilang kalau ayah yang punya rumah sakit. Ayah kan bisa langsung minta bagian adminitrasi untuk menugaskan kamu menjaga dan merawat ayah hingga sembuh.


Tegar bener-bener dibuat sesak nafas oleh ayahnya. Ternyata ayah Ardi sangat bakat mendekati wanita. Ternyata jiwa play boy nya turun dari ayahnya.


Ayah Ardi langsung berbisik di telinga Tegar. “Kau itu anak ayah, masa kalah dengan yang tua nak?” ayah Ardi menggoda Tegar. Tegar yang tergoda langsung minta izin untuk pulang ke rumah dengan perasan dongkol.


Tegar ke luar ruangan dan duduk di teras. Tegar menghela nafasnya kemudian berpikir sejenak. Dirinya, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dirinya menyadari kalau sikapnya seperti anak kecil. Tidak seharusnya dirinya seperti itu di depan Dilla.


Tidak berapa lama kemudian Tegar masuk ruangan ayahnya dan duduk di sofa dengan hati yang sangat tenang. Tegar sudah tidak lagi terpropokatori oleh ayahnya. Tegar memilih membaca koran, sementara itu Dilla merasa heran dengan perubahan sikap Tegar.


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi ana dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2