Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Berkumpul


__ADS_3

Setelah puas bercerita dan bergurau dengan tante Brenda, Setya mengajak Mita dan Dimas pulang. “Aku pulang dulu,  sampai ketemu lagi. Aku suatu saat pasti ingin menginap disini bersama tante,”   kata Setya kepada Brenda.


“ Baiklah,  kapan-kapan kamu memang harus menginap di sini bersama Abiyasa.  Aku senang ternyata kalian merupakan keponakan tante yang lucu dan imut,” ucap Brenda yang mencolek pipi Setya karena gemas. Setya kemudian pamitan kepada om Rahardi.


“Pak Rahardi kami pulang dulu, mudah-mudahan bu Brenda cepet sembuh,” ucap Dimas dan diikuti oleh Mita yang bersalaman dengan pak Rahardi.


“Ya terima kasih,  salam  untuk pak Tegar dan ibu Dilla ya? Kami sangat berharap bisa berkumpul bersama layaknya satu keluarga?”ucap pak Rahardi ramah.


“Iya pak, nanti akan kami sampaikan ke pak Tegar,” ucap Dimas langsung pamitan ke luar dengan menggandeng Mita dan Setya.


Setelah beberapa menit di jalanan dengan mobilnya Dimas, Mita dan Setya sampai di rumah Dilla. Dimas yang ada perlu membahas pertemuan dengan klien langsung bergabung dengan Tegar yang berada di ruang kerja.


“Masuk Dim!” perintah Tegar yang sedang mengecek filenya yang berisi berkas-berkas di depan meja.


“Baik pak!” ucapnya langsung menggeser kursinya dan duduk berhadapan dengan Tegar.


“Bagaimana perkembangan hubungan Rahardi dengan Brenda?” tanyanya mewakili Dilla karena Dilla ingin memastikan kalau saudaranya jatuh di tangan yang tepat.


“Mereka baik-baik saja. Kelihatannya bulan depan mereka akan segera melangsungkan pernikahannya. Rahardi memang sengaja mempercepat pernikahannya karena menginginkan Brenda segera hidup berdampingan dengannya dan terlepas dari pengaruh buruk mamanya,” jelas Dimas.


“Bagus itu, pasti Dilla akan senang menerima kabar itu!” ucap Tegar ikut senang.


“Iya bagus. Tapi Rahardi harus keluar banyak duit untuk pernikahannya karena tante Lusi meminta sebuah rumah mewah di pusat kota untuk mengizinkan agar putrinya bisa menikah dengan pak Rahardi,” jelas Dimas yang merasa kasihan dengan pak Rahardi.

__ADS_1


“Trus Rahardi setuju begitu saja ya?” tanya Tegar mendesak penjelasan dari Dimas.


“Iya... Rahardi memang ingin menyelamatkan calon istrinya dari cengkeraman mamanya. Dan kelihatan kalau Brenda  jauh berbeda dibandingkan tetap tinggal dengan mamanya.  Brenda banyak berubah bahkan  saat bermain dengan anak-anak nampak menikmatinya dan menganggapnya sebagai keluarga,”ucap Dimas. 


“Baiklah, kalau begitu! Berarti kekhawatiran Dilla terhadap sikap adiknya sudah terjawab. Dilla merasa setelah kepergian papanya Brenda menjadi tanggung jawabnya!” ucap Tegar.


Disaat mereka serius tiba-tiba Dilla berjalan menghampirinya di ruang kerjanya. Tegar yang masih mengkhawatirkan kesehatan Dilla langsung menghampirinya dan memapahnya duduk di sofa.


“Sayang, ada apa? Adakah sesuatu yang membuatmu mencari aku ke sini?” tanya Tegar dengan penuh cemas.


“Aku ingin makan sesuatu….” ucapnya sambil memperhatikan Dimas. Dimas yang merasa kalau Dilla hendak menempatkannya kembali langsung pamitan untuk pergi.


“ Maaf Bos…, aku ada perlu yang harus aku selesaikan dengan Mita. Kedua orang tua Mita menungguku di rumahnya!”ucap Dimas agar tidak di suruh nyonya Dilla untuk mencarikan sesuatu untuknya.


“Wah…, kak Dimas mau menghindar ya dari aku? Kak Dimas tahu aja kalau dedek bayi yang ada di kandungan aku minta diambilkan belimbing di belakang rumah. Tolong ya dipanjatkan untuk keponakanmu ini!” perintah Dilla kepada Dimas hingga akhirnya Dimas tidak bisa menolak lagi permintaan Dilla. Dimas keluar ruangan sambil menggerutu kesal.


“Enak ya jadi bos…, istrinya yang ngidam tapi yang di disuruh-suruh aku. Benar-benar si bos terlalu dimanja dengan bos nyonya,” ucapnya sambil komat-kamit tidak jelas hingga Tegar menegurnya.


“Dim…, mau gaji naik apa potong gaji,” ucapnya mengancam Dimas hingga Dimas langsung bergegas pergi meninggalkan mereka menuju ke belakang rumah. Mita yang tahu situasinya langsung bergegas menemui Dimas.


Dimas yang sedikit kesal terobati dengan Mita yang ada di sampingnya. Mereka berdua akhirnya bekerjasama untuk memetik buah Belimbing untuk Dilla. 


Dimas manjat pohon Belimbing dengan hati-hati, karena banyak semut Angkrang di sana. Dimas berhasil mengambil beberapa buah dan Mita di bawah pohon yang menangkap buahnya.

__ADS_1


Dimas yang berhasil mengambil beberapa buah Belimbing tidak menyadari kalau ada sarang semut Angkrang yang menempel di badannya. Dimas digigit beberapa Angkrang hingga akhirnya Dimas turun dari pohon dengan posisi melompat-lompat meringis kesakitan karena gigitan beberapa Angkrang di badannya. 


Mita yang panik langsung mendekatinya dan berusaha membantu menghilangkan semut Angkrang dari tubuh Dimas. Namun karena mereka berdua fokus dengan Angkrang yang ada di tubuh Dimas dan tidak menyadari kalau dirinya berada di pinggir kolam renang secara tidak sengaja Dimas terpeleset hingga jatuh di dalam kolam. Dimas yang jahil pura-pura tenggelam dan minta  tolong.


“Byu...uur, tolong…, tolong aku!” ucapnya yang seolah-olah tenggelam di kolam renang. Mita yang memang cinta sama Dimas langsung menceburkan diri untuk menolongnya dan membawa Dimas dengan susah payah ke tepi kolam renang.


Mita kemudian membolak-balik tubuh Dimas dan menepuk punggungnya agar air yang Dimas telan bisa dikeluarkan. Namun dengan berbagai usaha Dimas tidak juga sadar diri hingga akhirnya Mita bermaksud memberinya nafas buatan. Dimas yang pura-pura pingsan langsung memanfaatkan situasi dan membalasnya dengan ciuman yang penuh sensasi. 


Awalnya Mita menikmatinya namun tiba-tiba Mita menggigit bibir bawah Dimas hingga Dimas merintih kesakitan. Namun Dimas tidak menyerah begitu saja. Dimas kembali mendekap Mita hingga Mita dihimpitnya berada dibawah tekanan tubuhnya dan kembali melaksanakan aksinya.


Sementara itu Dilla yang mengamati mereka berdua nampak tersenyum sendiri melihat ulah kedua orang yang sedang dimabuk cinta.


“Benar-benar mirip dengan bosnya. Heran bos sama asisten kelakuannya mirip,” gumamnya lirih. Tegar yang mendengar ucapan istrinya langsung mendekatinya dengan memeluknya dari belakang.


“Ada apa sayang? siapa yang mirip?” tanyanya sambil menaruh kepalanya di leher istrinya dengan memberinya beberapa ciuman.


“Itu coba kau lihat kak Dimas sama saja dengan kamu!” ucap Dilla kepada suaminya. Tegar langsung terkekeh mendengar ucapan Dilla.


“Wajarlah sayang…, kita dari kecil hingga sekolah dan bekerja selalu bersama jadi Dimas pastilah meniru diriku!” ucapnya bangga sambil tersenyum puas melihat kejahilan Dimas.


“Ayo kak, kita ke sana! Kalau kita biarkan terus kelamaan. Calon bayi kamu keburu ngiler tidak makan buah Belimbing,” ucap Dilla sambil menarik tangan Tegar untuk menghampiri mereka.


Mita yang tahu posisinya berusaha bangkit dari himpitan Dimas namun Dimas yang tidak menyadarinya justru semakin memanas melanjutkan aksinya.

__ADS_1


“Hai Bro…, kalau ingin lebih halalkan dulu baru menikmati!” teriak Tegar pada Dimas hingga membuatnya bertambah malu. Dimas berdiri kemudian menarik tangan Mita untuk mengajaknya berdiri. Kemudian mereka berdua pamitan untuk mengganti baju mereka yang basah.


__ADS_2