Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Kesempatan


__ADS_3

Tegar keluar ruangan perawatan Dilla tersenyum puas karena dia mendapat angin dari kedua anak kembar Dilla. “Alangkah bahagianya jika kedua anak kembar itu buah cintaku dengan Dilla meskipun jalur yang dilaluinya salah,” gumam Tegar lirih sambil berjalan menuju parkiran.


“Bos, kelihatannya ada angin segar nich? Wah kesempatan pak bos untuk kembali meraih cinta bu Dilla,” goda Dimas yang berjalan di samping ceo-nya.


“Begitulah tapi susah banget di dekati. Dia sekarang tambah galak. Sekali senggol langsung mengigit!” Tegar tertawa senang karena nanti sore dirinya akan menjemput Dilla pulang dari rumah sakit.


Sementara itu di ruangan perawatan Dilla menghela nafasnya dan mengucapkan sesuatu kepada kedua putra kembarnya. “Sayang, apa yang kalian lakukan? Om Tegar itu Ceo yang sibuk, kenapa kalian suruh mengantarkan kita pulang ke rumah? Di sin ikan juga ada tante Rara dan tante Mita. Mereka berdua kan bisa mengantar kita pulang ke rumah sayang?” ucap Dilla gemas karena kedua putranya yang berusaha mendekatkan dirinya dengan Tegar yang tanpa mereka ketahui kalau Tegar itu memang ayah biologis mereka berdua.


“Dil, sudahlah kau turuti saja kedua anak kembar mu ini. Aku yakin mereka pasti terlalu berminat untuk mendapatkan papa dalam kehidupannya. Dan tidak ada salahnya kan? Kelihatannya dia juga ingin sekali menjadi suami dan ayah dari anak kamu. Kau berilah kesempatan? Aku yakin dulu karena khilaf,” bisik Rara ke telinga Dilla agar kedua putranya tidak mendengarnya.


“Entahlah, kalau mengingat kejadian dulu aku terasa sakit dan ingin sekali membalas rasa sakit ini dengan membuatnya hancur. Aku ingin menghancurkan perusahaannya dan sekaligus aku ingin mempermainkan cintanya,” balas Dila dengan berbisik sementara itu Yasa anak kembarnya yang duduk di sofa mulai curiga dengan tingkah mama dan tante Rara.


“Ma, kalian membicarakan apa? Kok pakai bisik-bisik segala?” tanya Yasa. Hingga Setya pun ikut menaruh curiga.


“Mama naksir ya sama om Tegar? Tadi saja di depan om Tegar diam tapi sekarang justru membicarakan om Tegar. Gawat nih mama sakit mental kayaknya. Up…maaf Setya bercanda.” Langsung menutup mulutnya.


“Dik bercandanya berlebihan. Tuh kasihan mama mukanya memerah,” ucap Setya yang membuat Dilla semakin malu terhadap kedua putranya.


Tegar yang meeting di kantornya hari ini nampak baik dan auranya nampak berdamai dengan semua orang yang biasanya sering marah-marah dengan setiap orang yang berbuat salah.


“Tumben, pak Tegar hari ini baik. Clara yang sering buat salah hari ini tidak dimarahi sama sekali?” bisik salah satu karyawannya pada temen kerjanya.


“Mungkin pak Tegar sedang jatuh cinta dan dipertemukan dengan pujaan hatinya!” balas salah satu karyawannya.

__ADS_1


“Hari ini meeting kita selesai. Semua karyawan aku perbolehkan pulang lebih awal. Dan jangan lupa besok segera masuk kerja dan harus dengan semangat,” ucap Tegar langsung kembali ke ruangannya.


“Baik bener pak Tegar hari ini. Kalau seperti ini kita bisa-bisa lebih cepat berkumpul dengan keluarga,” ucap salah satu karyawan.


Pak Tegar di ruangannya langsung mandi dan mengganti bajunya dengan stelan casual. Setelah selesai Tegar langsung memanggil Dimas untuk ke ruangannya.


“Dim, tolong kau pesankan mainan yang bagus untuk Abiyasa dan Abisetya ya? Sekalian nanti kita ambil waktu berangkat ke rumah sakit,” perintah Tegar pada Setya.


“Siap bos, untuk mamanya kita pesan kan juga ya?” tanya Dimas menggoda Tegar.


“Ngaco kamu ya? tapi boleh juga usul kamu. Dim tolong dong hubungi Mita tanyakan kesukaan Dilla itu apa?” ucap Tegar membuat Dimas bengong.


“Mita? Bos, aku tidak salah dengar ya? Mana bisa seperti itu? aku kan baru kenal tadi?” jawab Dimas berusaha menghindari perintah bosnya.


“Baiklah akan aku coba! Tapi janji lo bos, soalnya aku mau beli rumah yang cicilannya lumayan banyak perbulannya,” Dimas mengarahkan jari manisnya seperti anak kecil sebagai tanda ikatan janji dari bosnya.


“Kau itu kayak anak kecil saja. Pantang bosmu ini ingkar janji ya?” Tegar langsung duduk di kursi kerjanya menunggu reaksi Dimas yang masih belum bergerak. Tegar nampak menatap tajam kea rah Dimas hingga membuat Dimas kelimpungan tidak berdaya pertanda bosnya mau marah besar.


Dimas pun dengan cekatan menghubungi Mita yang tadi sempat tukar ponsel dengannya. Tidak lama ponsel Dimas langsung nyambung ke Mita yang kebetulan berada di ruang perawatan Dilla.


Mita yang mendapat telpon dari Dimas langsung izin ke luar untuk terima telpon. “Iya kak,ada apa lagi? Adakah sesuatu yang mengganggu kakak?” ucap Mita di seberang sana.


“Mit, tolong dong bantu kakak. Ini bos kakak ingin tahu kesukaan Dilla. Tolong dong informasinya? Kalau kakak tidak menemukan informasi hang satu ini kakak mau dipecat. Trus hidup kakak nanti gimana? Kakak di kampung masih menghidupi kedua orang tua aku dan 2 adik aku. Kalau kakak dipecat kamu yang tanggungjawab ya?” ucap Dimas melancarkan aksinya lewat ponsel hingga Tegar yang berada di dekatnya hampir tertawa lepas mendengarkan percakapan Dimas.

__ADS_1


Dimas yang melirik ulah bosnya langsung melempar note books ke arah Tegar yang bos sekaligus temen bermainnya sejak kecil.


Tegar kembali menatap tajam Dimas dengan mata elangnya hingga membuat Dimas menelalangkupkan kedua tangannya sebagai tanda minta maaf.


Sementara itu Mita nampak berpikir kemudian menjawab pertanyaan Dimas. “Ibu Dilla itu suka koleksi tas branded. Tapi untuk makanan ibu Dilla suka serabi Solo yang berada di dekat alun-alun,” ucap Mita dari seberang.


“Ok, terimakasih. Untuk dik Mita sendiri suka apa? Nanti aku belikan!” Dimas berusaha merayu Mita hingga membuat Tegar tertawa lepas hingga terdengar oleh Mita.


“Kak, itu suaranya siapa? Menertawakan aku ya?” tanya Mita curiga.


“Tidak kok itu tadi ada orang gila yang dikejar oleh petugas Dinas sosial,” ucap Dimas hingga membuat Tegar panas dan kembali melempar note book kearah Dimas dan tepat mengenai kepala Dimas, hingga Dimas terkejut.


“Aduh…” teriak Dimas hingga tertangkap di ponsel Mita.


“Kakak kenapa lagi?” tanya Mita di seberang.


“Tidak kenapa-kenapa. Ini orang gilanya lagi ngamuk berat. Semua barang di lemparkan kea rah kakak,” ucap Dimas memang sengaja diarahkan ke Tegar. Kemudian Dimas mengakhiri pembicaraannya dengan Mita.


“Sudah bos, bagaimana mau beli apa untuk bu Dilla?” tanya Dimas kepada bosnya.


“Baiklah kau suruh Clara membeli barang kesukaannya Dila sekarang juga mumpung masih siang!” perintah Tegar yang tidak bisa di ganggu gugat.


Setelah barang-barang yang diinginkan terbeli Tegar mengajak Dimas untuk pergi ke rumah sakit dengan perasaan senang. Dimas pun merasakan hal yang sama karena sesungguhnya Dimas juga menaruh hati kepada Mita.

__ADS_1


“Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2