
Kehadiran Almaira membawa kebahagiaan bagi keluarga Tegar. Si kembar selalu menjaga adiknya di saat mamanya ada kegiatan. Demikian pula Tegar setiap ada waktu luang dari kantornya selalu menyempatkan untuk pulang ke rumah.
Amira merupakan berkah baginya dan berharap kelak bisa jadi anak sholehah yang bisa mengangkat derajat orang tuanya. Dari raut mukanya Almaira nampak seperti mamanya. Menjelang sepekan setelah kelahirannya di rumah Tegar diadakan perayaan penyambutan kelahiran Putri mereka sekaligus diadakan kegiatan aqiqah untuk Putri Almaira dan kedua putranya.
Tegar memperlakukan mereka tanpa ada rasa pilih kasih, sehingga kedua putranya tidak merasa tersingkirkan dengan kehadiran Almaira.
“ Sayang, untuk acara nanti malam sudah disiapkan apa belum?” tanya Tegar kepada Dilla yang sedang asyik bercanda dengan kedua putranya sekaligus menjaga Almaira.
“Sudah sayang, aku baru saja ngecek dan konfirmasi ke Mita kalau semua perlengkapan sekaligus peralatan sudah siap. Termasuk seksi acara juga sudah disiapkan oleh Mitha,” jawab Dila dengan santai dan terus melanjutkan bercandanya dengan kedua putranya.
“Ok…, Terimakasih. Terus untuk baju keluarga kita sudah disiapkan apa belum?” tanya Tegar kembali.
“Sudah…, tadi ada karyawan putik yang kesini dan menyerahkannya kepadaku. Aku sudah mencoba bersama anak-anak. semuanya bagus dan sangat cocok untuk kita?”jawab Dilla kepada suaminya.
“Baguslah kalau begitu. Berarti tinggal papa yang belum mencoba. Bajunya kamu taruh mana ma?” ucap Tegar yang berjalan ke arah tempat penyimpanan baju. Diikuti oleh Dilla yang membantu mencarikan baju Tegar.
Tegar dengan celana cekatan membuka kancing bajunya kemudian mencoba baju tersebut. Dilla nampak kagum dengan pesona Tegar yang semakin keren dan berwibawa.
“Mama…, Terpesona dengan ketampanan papaya?” goda Yasa yang tidak sengaja memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.
Dilla mendengar ucapan putranya namak malu dan wajahnya tampak kemerah-merahan.
“He…, he…, bukan mama yang terpesona dengan papa tapi papa yang terpesona dengan mama sehingga hadir kalian bertiga,” ucap Dilla kepada kedua putranya.
“Sama saja…, mama?Kita berdua saling mengagumi satu sama lainnya ya?”balas Tegar.
“Ok…, terserah papa saja!”jawab Dilla asal dan yang terpenting suaminya gembira.
__ADS_1
Sementara itu kedua Putra kembarnya tidak mau mendengarkan percakapan Papa dan mamanya. Yasa sedang duduk santai di tepi ranjang berusaha menghibur adiknya.
“Adik Almaira sayang? Adik cantik sekali seperti mama! Lihatlah dik senyum kamu begitu menggoda seperti mama! Sudah pasti papa juga akan begitu menyayangi adik,” ucap Yasa kepada adiknya yang hanya diam dan sesekali tersenyum.
“Kak Yasa, yang sayang Adik tidak hanya papa dan mama saja. Kita juga harus punya Adik kita! kita berdua harus menjaga dia Maira hingga nanti dewasa.” ucap Setya yang sesekali mengelus pipi Almaira.
“Sudah pasti Dik, tidak diperintahkan pun aku sebagai kakak tertua selalu akan menjaga adik Amira!” ucap Yasa yang menimpali perkataan adiknya.
“Iya sayangnya mama semua, kalian memang harus menjaga adik kalian yang cantik ini! apalagi menjelang dewasa pasti putri mama jadi primadona di kota ini!”ucap mamanya sambil mengusap-usap rambut kedua putranya.
“Siap mama. Semua perintah mama akan kami laksanakan!” ucap mereka berdua.
“Baguslah, memang anak cowok memang harus seperti itu! Hari sudah menjelang sore ayo segera mandi nak dan ganti baju kalian. Sebentar lagi kita akan berangkat ke hotel kita untuk perayaan aqiqah adik Almaira dan kalian,” ucap papa Tegar sekaligus memerintahkan mereka untuk bersiap-siap.
“Baik papa, kami akan bersiap-siap,” ucapnya ya kemudian langsung mengajak adiknya menuju ke kamarnya.
Figur keluarga mereka sudah menjadi idola di kalangan masyarakat. Semua rekan bisnis memberi ucapan atas kelahiran putri mereka. Bahkan ada beberapa pejabat dan pengusaha sudah menawarkan diri untuk menjadi calon besan mereka.
“Selamat ya jeng atas kelahiran putrinya? aku juga punya Putra yang sangat tampan masih berusia 2 tahun. Bagaimana kalau kita kedepannya menjadi besan saja!” ucap salah satu istri pengusaha ternama di daerah tersebut.
“Maaf nyonya anak kita masih terlalu kecil. Kita lihat besok saja kalau mereka sudah dewasa. Boleh juga lo besanan? Tapi kita serahkan besok ke putra dan putri kita saja!” jawab Dilla diplomatis.
“Jeng Dilla ada saja! Aku tunggu lo jeng kabar selanjutnya!”jawab nyonya muda tersebut penuh harap.
“Mudah-mudahan putra dan putri kita berjodoh nyonya!” ucap Dilla tanpa membuat rasa kecewa nyonya muda tersebut.
Begitulah mereka yang bertemu Dilla dan putra-putrinya selalu ingin mengajak mereka untuk besanan karena memang putra-putri Tegar dan Dilla sangat tampan dan cantik meskipun masih kecil dan bayi. Mereka seolah-olah memiliki pesona tersendiri dari lahir.
__ADS_1
Tegar juga terkekeh mendengar pembicaraan istrinya dengan nyonya-nyonya pejabat dan pengusaha tersebut.
“Sudahlah ma…, iyakan saja semuanya. Yang terpenting kita bisa cetak lagi hingga selusin putra dan putri yang tampan dan cantik,” ucap Tegar santai hingga membuat Dilla cemberut dengan celotehan suaminya.
“Buat sih enak sayang? Tapi aku yang melahirkan kan bisa-bisa kendur!” ucap Dilla sambil mengerucutkan bibirnya.
“He…, he…, tak apalah dik kau ingat saja semboyan orang jawa banyak anak banyak rezeki, janganlah kau ingat rasa sakitnya!” goda Tegar yang semakin jahil kepada istrinya.
“Iya ma…, aku setuju dengan papa jadi biar keluarga kita jadi keluarga kesebelasan biar ramai. Aku juga senang banyak saudara!”ucap Setya yang tiba-tiba ikut nimbrung dengan mama dan papanya.
“Kau itu sama saja dengan papa! Buat mama kalian dan adik Almaira saja sudah cukup. Kalau mau lebih bisa minta tante Rara dan tante Brenda dan sebentar lagi tante Mita juga mau menikah. Bagi saja masing-masing 3 putra kan beres,” ucap mama Dilla yang masih manyun.
“Apaan ini kok nama aku disebut-disebut!” ucap Brenda yang baru datang dengan Rahardi.
“Itu keponakan kamu minta dibuatkan adik lagi hingga 12. Aku bilang saja yang lainnya biar kalian yang melahirkan tiga-tiga jadi total 12 putra dan putri!” ucap Dilla yang disambut dengan senyuman oleh Brenda.
"Ada apa dik kok senyum-senyum sendiri?"tanya Dilla penasaran.
“Alhamdulilah kak, adikmu ini sekarang sedang hamil. Aku minta do’anya ya biar nanti lancar dan selamat!” ucap Brenda kepada kakaknya.
“Selamat ya dik!Tentulah dik, aku akan mendoakan dirimu dan keselamatan putramu hingga lahir nanti!” ucap Dilla yang langsung diikuti dengan yang lainnya.
"Terimakasih kak!" ucap Brenda memeluk kakaknya.
Begitulah mereka akhirnya tak terasa ngobrol hingga larut malam setelah acara selesai.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1