Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Hasil Sidang


__ADS_3

Keluarga Tegar bersama Dilla semakin hari bertambah harmonis, bahkan beberapa media massa mengabadikannya dalam sebuah berita di media bahwa mereka terlahir sebagai pasangan pengusaha yang bisa menjadi panutan setiap masyarakat terutama kaum pebisnis muda. Namun berita baik tentang keluarganya tidak berdampak kepada Brenda saudara tirinya yang saat ini merasa kecewa dan sedih.


 


Brenda nampak was-was memikirkan mamanya, karena hari ini sidang tentang kasus Sentanu yang ternyata menyeret mamanya. Mamanya yang dia kagumi telah terjerat kasus hukum karena menjadi pengedar narkoba dan perdagangan prostitusi online.


Brenda duduk termenung di teras, membaca semua artikel yang terkait dengan hasil sidang mamanya. Brenda menarik nafasnya kemudian mengatupkan kedua telapak tangannya di mukanya.


Suaminya yang melihat kegalauan hati istrinya berusaha menghiburnya. “Brenda sayang…, sudahlah janganlah kamu memikirkan masalah mama! Aku tahu kamu begitu terbebani dengan kasus mama!” ucap Rahardi penuh perhatian dan memeluk Brenda untuk mencium kening nya.


“Aku kasihan mama kak! Di usianya yang tidak lagi muda harus mendekam di penjara,” ucap Brenda kepada suaminya.


“Hidup itu pilihan dik, mama yang memilih seperti itu padahal sudah kita muliakan hidupnya tapi tidak bersyukur. Kasus ini lebih berat dari kasus yang lalu. Dulu bisa bebas karena belas kasihan pak Tegar dan kak Dilla,” ucap Rahardi kepada istrinya.


“Iya Kak,  aku paham.  Aku mohon Kakak mau memaafkan mamaku,  karena kasus mama aku yakin sebagai menantunya akan mendapat dampak yang tidak baik di dalam  usahamu,” ucap Brenda kepada Rahardi. Rahardi yang begitu menyayangi Brenda merasakan rasa sakit dan kecewanya Brenda karena ulah dari mamanya.


“Sudahlah janganlah kau pikirkan tentang mama, lebih baik kita menata hidup kita untuk mendapatkan masa depan yang lebih cerah. Kita harus berusaha lebih keras lagi untuk melahirkan generasi penerus kita? Dan aku rasa ini suasana yang baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Cuaca yang sangat dingin dan sejuk mendukung kita untuk memulai usaha kita,” Bisik Rahardi kepada Brenda hingga Brenda merasakan sesuatu yang membuatnya merinding dari ujung kaki hingga ujung rambut di kepalanya.


“Kak…, ini masih sore. Aku rasa belum waktunya untuk begituan?” ucap Brenda yang sudah berangsur melupakan kasus mamanya.


“Sore apaan? Untuk suami istri kapan saja juga boleh. Yang terpenting tidak melanggar aturan agama kita,” ucap RAhardi yang langsung menggendong istrinya masuk ke kamar.


Mereka berdua langsung berdamai dengan cuaca dan suasana karena habis diguyur hujan seharian. Mereka berdua melakukan penyatuan hingga berulang-ulang. Rahardi dengan lihai memainkan permainannya hingga Brenda merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dan sesekali Brenda juga memimpin kendali memberikan sensasi yang luar biasa kepada suaminya.

__ADS_1


Setelah puas melakukan aktivitasnya,  Rahardi mengajak Brenda untuk keluar menemui saudaranya.  waktu menunjukkan pukul 19 .00 wib. Rahardi Mengemudikan kendaraannya menuju rumah Tegar.  Rahardi melakukannya untuk menghibur anda agar tidak larut dalam kesedihannya.


 Rahardi mengendarai kendaraannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang sangat sepi karena habis diguyur hujan.  tidak Berapa lama kemudian mereka sampai di halaman rumah Tegar.


 Brenda turun dari mobil dibantu Rahardi menuju rumah Tegar dengan membawa beberapa oleh-oleh khusus untuk keponakannya.


Tidak Berapa lama kemudian pintu itu utama dibuka oleh Mbak Atun. 


“Mbok siapa yang  datang?” tanya Dilla yang berada di ruang Tengah. 


“Ini Nyonya muda.  Non Brenda bersama suaminya,” jawab Mbak Atun yang sedang membukakan pintu utama.


“Ajak kesini mbok! Kita lagi nonton bersama ,” ucap Dilla yang duduk di sofa panjang bersama kedua putranya.


“ Halo Kakak…, dan keponakan tante yang cakep-cakep.  Maaf aku datang ke sini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu,” ucapnya sambil mencium pipi Dilla.


“ Halo Tante yang cantik,  pantas saja tadi malam aku bermimpi ketemu bidadari yang sangat cantik membawa oleh-oleh untuk aku.  Ternyata ada tante cantik yang membawakan oleh-oleh dan mainan yang banyak untuk kita berdua,”  ucap Abiyasa yang memang jago untuk menyenangkan orang lain melalui kata-katanya.


“Masa iya, sayang…? Berarti kita berjodoh ya?”balas Brenda yang memang tidak ingin mengecewakan keponakannya.


“Iya lah tante. Aku selain pintar juga punya kekuatan supranatural yang bisa menembus hati orang lain sehingga apa yang akan aku inginkan pasti akan terkabul,” ucap Abiyasa yang kocak sehingga membuat semua orang tertawa dibuatnya.


“Tante jangan percaya sama kakak ya? Kakak itu memang paling pandai membual hingga semua temen cewek di sekolah aku tergoda dibuatnya,” ucap Abisetya berusaha membuat orang lain juga memperhatikan dirinya.

__ADS_1


“Memang begitu ya? Sayang kamu kok lucu banget ya? Sini ikut om Rahardi bermain tembak-tembakan. Ini aku bawakan senjata pistol yang menarik,” ucap Rahardi yang langsung membagikan permainan tembak-tembakan kepada kedua keponakannya. Namun masih satu yang belum terbagi oleh Rahardi hingga dirinya bengong dibuatnya dan nampak memikirkan sesuatu. Rahardi membawa pistol mainan 4 buah dengan harapan Tegar juga ikut bergabung. Belum sempat dirinya mengatakan sesuatu tiba-tiba Tegar muncul di hadapannya.


“Hai saudaraku, Apa yang kamu pikirkan? Sini aku yang pegang  sepatu pistolnya,” ucap Tegar yang datang di hadapan mereka.


“ Baiklah ini untuk kamu.  Dalam permainan ini kita bagi menjadi dua tim.  Aku bersama Abiyasa dan kamu bersama Abisetya!”  ucap ke Rahardi sambil memberikan pistol kepada Tegar.


“Ok…., Kita bermain di sanggar saja.Di sana cukup luas sehingga kita tidak mengganggu kedua istri kita yang sedang bernostalgia,” ucap Tegar yang memang sengaja memberi kesempatan kepada kakak beradik untuk saling berinteraksi sehingga bisa memperbaiki suasana yang canggung akibat masa lalu mereka.


“Baiklah aku tidak takut!” ucap Rahardi membalasnya dengan senyuman seakan tahu maksud dan tujuan dari Tegar. Akhirnya mereka berempat meninggalkan Brenda dan Dilla berada di ruang tengah.


 Brenda sangat senang karena diberi kesempatan berbincang-bincang dengan kakaknya hanya berdua saja. Brenda dengan keterbatasannya sebagai seorang adik yang merindukan kakaknya dengan tiba-tiba mendekati kakaknya dan menangis di pelukan kakaknya.


“Kakak…, Aku sangat senang Kakak masih bisa menerimaku seperti ini.  ini bahkan Kakak dengan tulus mau memaafkan Mama untuk tidak dipenjarakan karena berusaha menyakiti kak Dilla. Pi Mama tetaplah Mama sehingga dirinya yang penuh Ambisi dan dendam berusaha menjatuhkan Kak Dila dengan memfitnah Kak Tegar melalui bapak sentanu. Aku Sebagai Putri kandungnya sangat malu menerima keadaan seperti ini,” ucap Brenda yang sedang menangis karena Brenda benar-benar menyesalkan perbuatan mamanya.


“Sudahlah Dik…, yang terpenting Mama sudah menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi. Tapi maafkan  kakak untuk kali ini kakak tidak bisa membantu mama untuk keluar dari penjara karena kasusnya sangat berat dan komplek,” ucap Dilla yang begitu dewasa hingga menyejukan hatinya Brenda.


Brenda yang mendengarkan ucapan kakaknya merasa senang karena ternyata kakaknya tidak mencampur adukan masalah mamanya untuk membenci dirinya. Begitulah mereka berdua akhirnya berlanjut ngobrol tentang masalah keluarga dan calon ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya? 


 


 

__ADS_1


__ADS_2