Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Kasih Sayang Kakek


__ADS_3

Kakek Ardi seharian penuh bermain bersama Abiyasa dan Abisetya. Kasih sayang kakek untuk kedua bocah kembar tersebut nampak berlebihan. Setelah puas makan di restauran, kakek Ardi mengajak mereka ke mall untuk bermain game. Setya dan Yasa menjelajahi semua permainan yang ada bahkan semua permainan yang ada hadiahnya nampak kebobolan oleh kedua bocah tersebut. Sang manajer hendak menghentikannya namun dilarang oleh kakek Ardi.


“Biarkanlah mereka bermain sesukanya. Dia itu cucuku, masalah semua hadiah sudah banyak diperolehnya, itu tidak masalah. Aku yang bertanggungjawab toh itu semua juga dibawah naungan PT Tegar Abadi Group. Nanti semuanya aku ganti,” bisik kakek Ardi kepada manajer mall yang mengelola semua game dan permainan anak.


“Baik pak Ardi, nanti akan saya sampaikan ke pimpinan,” ucap sang manajer yang sudah tahu dan mengenal kakek Ardi, langsung pergi meninggalkan mereka. Kakek Ardi nampak bangga dengan kemampuan cucu-cucunya.


“Bener-bener kalian cucuku. Kalian berdua memang anak-anak genius. Tapi kalian lebih genius dari ayah kalian,” gumam kakek Ardi sambil terus memandangi kedua cucunya. Namun tidak lama kemudian Yasa menghampiri sang kakek dan memintanya untuk dibelikan mainan dan peralatan sekolah. Karena kakek Ardi sudah terlanjur sayang, semua mainan dan peralatan sekolah untuk kedua bocah kembar itu dibelinya termasuk permainan game versi terbaru.


Sementara itu ada seseorang yang membuntuti mereka dan mengambil foto-foto kebersamaan mereka. “Wah…, kalau ini aku jadikan berita besar pasti perusahaan mereka akan hancur. Tentunya topiknya harus menarik. Komisaris besar perusahaan PT Tegar Abadi bermain dengan cucu kembarnya dari hubungan tanpa status putra kesayangannya,” gumamnya sambil menimang-nimang HPnya dan pergi meninggalkan mereka.


Karena sudah capek kakek mengajak mereka pulang dari mall. Di mobil mereka berdua tertidur dengan pulas hingga akhirnya sang kakek memutuskan untuk membawanya pulang. Kakek Ardi merasa kasihan dengan Yasa dan Setya. Setelah sampai di rumah kakek Ardi menyuruh sopirnya untuk menggendong kedua bocah tersebut untuk dibawa ke kamar. Namun tiba-tiba Tegar yang sudah pulang ke rumah sejak awal muncul dihadapan mereka.


“Ayah, biar aku saja yang mengendong mereka masuk,” ucapnya sambil mengangkat Setya.


“Baiklah, untuk Yasa bagaimana? Biar pak Akri yang mengangkatnya ya?” tanya kakek Ardi kepada Tegar.


“Tidak usah. Nanti aku akan kembali lagi. Pak Akri cukup tunggu Yasa saja!” Tegar memberi perintah sambil menggendong Setya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.


“Kau lihatlah pak Akri, Tegar sudah banyak berubah. Kedua bocah kembar ini mudah-mudahan bisa membuatnya bertambah dewasa dan mengontrol emosinya. Aku ingin jiwanya yang emosional dan pendendam bisa dikendalikannya. Aku tahu apa yang dilakukannya terhadap Dilla, itu karena dia tidak bisa mengontrol emosinya. Aku kasihan sama Dilla karena perbuatannya dia harus berjuang sendiri untuk membesarkan kedua putranya,” ucap ayah Ardi yang sudah tahu informasinya dari Dimas meskipun Tegar belum menjelaskannya secara langsung.


“Iya tuan, mudah-mudahan tuan muda bisa berubah dan menyadari kalau kedua bocah kecil ini bagian dari hidupnya yang harus diperjuangkan!” sambung pak Akri dan langsung terdiam karena Tegar sudah muncul kembali dihadapannya.


“Apa yang kalian bicarakan?” ucap Tegar penuh selidik.

__ADS_1


“Tidak apa-apa tuan Muda. Tuan hanya ingin bertemu dengan nona Dilla?” kata mang Akri sambil mendesah pelan.


“Ayah yang sabar, sebentar lagi aku akan membawa Dilla menjadi menantu ayah. Aku mohon do’a restu ayah!” Tegar langsung menggendong Yasa masuk ke kamarnya. Dan itu juga tidak lepas dari pengamatan sang ayah.


“Nak, mau kau tidurkan dimana?” tanya kakek Ardi pura-pura tidak mengetahui apa yang ingin dilakukan Tegar.


“Di kamar aku yah. Aku ingin bersamanya hari ini, sebelum mamanya memintanya untuk dipulangkan ke rumahnya,” ucap Tegar langsung membawa Yasa masuk ke kamarnya dan merebahkannya di ranjangnya di sebelah Setya yang sudah dia baringkan di ranjangnya terlebih dahulu. Dan apa yang dikatakannya tidak meleset. Tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat kalau Dilla menelponnya.


“Hallo sayang, kau merindukan aku ya? Baru sehari tidak ketemu saja sudah rindu?” ucap Tegar percaya diri hingga membuat Dilla kesal.


“He…he… siapa yang merindukan kamu? Aku hanya ingin kau antar pulang Yasa dan Setya ke rumah! Karena besok harus sekolah,” ucap Dilla ketus hingga membuat Tegar tertawa.


“Sayang, iya nanti akan aku antar pulang kedua anak kita. Ini masih tidur kasihan mereka kecapekan karena tadi bermain dan belanja di mall bersama kakeknya,” ucap Tegar percaya diri hingga membuat Dilla semakin marah.


“Anak kita? Sejak kapan kamu menjadi suami aku? Jangan mimpi kamu! Bagaimanapun dia bukan anak kamu!” aku tunggu hingga jam 19.30 wib kamu harus mengantarnya pulang kalau tidak akan aku kasuskan dengan kasus penculikan!” ancam Dilla langsung menutup ponselnya.


Tegar tanpa sadar naik ke ranjangnya dan menemani mereka tidur. Tegar memeluk mereka berdua dan tertidur pulas hingga melupakan apa yang disampaikan oleh Dilla.


Dilla gelisah, karena hingga batas waktu yang Dilla tentukan Tegar tidak kunjung datang mengantar putranya pulang. Dilla langsung mengambil kunci mobilnya dan berangkat ke rumah Tegar yang tentunya dia masih mengingatnya karena Ardi dan Tegar masih menetap di rumahnya yang dulu.


Beberapa menit kemudian Dilla sampai di pekarangan rumah Tegar. Pak Akri yang berada di teras langsung menyambut Dilla dan membawanya masuk menemui kakek Ardi.


“Ayah…, Maafkan Dilla?” Dilla nampak berkaca-kaca dan langsung berlari memeluk pak Ardi yang memang sudah Dilla anggap sebagai ayahnya sendiri.

__ADS_1


“Sayang, kemana saja kamu nak? Dulu Tegar mencari-cari mu namun kamu seolah-olah hilang bagai di telan bumi. Maafkan ayah, dulu ayah tidak bisa mencegah Tegar yang berbuat nekad karena dikuasai oleh dendamnya hingga merusak semua yang ada tanpa menelusuri dulu apa penyebab kamu menolaknya!” ucap ayah Ardi kepada Dilla yang sebenarnya tahu persolan Dilla menolak Tegar namun dirinya berbaring sakit hingga tidak berdaya.


“Tidak apa-apa ayah. Nasi sudah menjadi bubur kita tidak bisa mengulang kembali kejadian yang lalu. Biarkanlah semua aku pendam dalam-dalam yah. Dan aku akan membesarkan kedua putraku sendiri tanpanya,” ucap Dilla yang masih menangis sesenggukan mengingat dirinya dulu harus berjuang sendiri melahirkan putranya dan mendidiknya menjadi anak yang super genius


.


“Nak janganlah egois nak. Kedua putramu membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mereka anak yang punya kelebihan harus didampingi. Menikahlah dengan Tegar, biarkan Tegar bertanggungjawab atas semua perbuatannya,” Ayah Ardi melepaskan pelukannya dan memohon kepada Dilla untuk putra semata wayangnya. Ayah Ardi kemudian berlutut dihadapan Dilla hingga membuat Dilla panik dan menariknya agar ayah Ardi berdiri.


“Ayah, janganlah kau berbuat seperti itu hanya untuknya. Aku belum bisa memaafkannya yah. Maafkan aku. Aku kesini hendak menjemput putraku,” ucap Dilla sambil menghapus air matanya.


“Baiklah nak, aku mohon pikirkanlah perkataan ayah. Mari ikut ayah,” Ayah Ardi mengajak Dilla ke kamar Tegar kemudian membukanya.


“Nak lihatlah, mereka begitu dekat. Dan mereka begitu mirip, lihatlah Setya gayanya dan keras kepalanya lebih dominan seperti papanya. Sekali lagi ayah mohon kamu pikirkan semuanya,” ucap ayah Ardi sambil mendekati Tegar dan membangunkannya.


“Nak bangunlah. Itu ada Dilla hendak menjemput putranya,” ucap ayah Ardi sambil mengguncang-guncang tangan Tegar. Tegar berlahan bangun dan duduk di samping ranjang. Ayah Ardi pun meninggalkan mereka berdua bersama kedua putra kembarnya.


“Dilla sayang, kamu bener-bener tidak sabar ingin bertemu aku ya?” ucap Tegar yang pelan-pelan membangun kesadarannya.


“Tidak, buat apa kangen sama laki-laki somplak yang pendendam,” ucap Dilla ketus sambil menghampiri putranya dan hendak membangunkannya.


“Somplak dan pendendam? Tapi kamu suka kan?” tanya Tegar yang semakin membuat Dilla kesal hinga Dilla hendak membalikan badannya pergi meninggalkan Tegar namun kurang hati-hati menyebabkan dirinya kurang keseimbangan dan hampir terjatuh.


Tegar yang mengetahui Dilla hampir terjatuh langsung menangkap dan memeluknya. Tegar pun mengambil kesempatan dan mencium kening Dilla. Mereka pun tanpa sadar terbawa emosi masing-masing karena sesungguhnya saling mencintai, namun tiba-tiba dikejutkan oleh suara Setya yang mengigau.

__ADS_1


“Om tampan, peluk aku,” ucapnya hingga akhirnya Tegar melepaskan Dilla dan fokus melihat Setya yang nampak tidur kembali.


“Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2