
Pagi ini pukul 8.00 wib, dokter yang memeriksa Dilla datang. “Pagi bu Dilla, bagaimana? Sudah mulai membaik kan?” tanyanya sambil memeriksa kondisi tubuh Dilla.
“Alhamdulilah sudah baikan bu dokter, apakah hari ini saya boleh pulang?” tanya Dilla karena sudah tidak betah tinggal di rumah sakit.
“Ok, nanti boleh pulang dan aku buatkan resep vitamin untuk memulihkan stamina Bu Dilla. Dan bu Dilla harus istirahat total terlebih dahulu selama seminggu. Dan untuk pak Tegar tolong jangan sia-siakan Bu Dilla anti kalau hilang kembali susah mencarinya!” goda bu dokter kepada Tegar.
“Baik bu dokter! Tapi sayang yang dijaga maunya menghilang terus! Sukanya main petak umpet dan kucing-kucingan!” ucap Tegar menyindir Dilla. Dilla hanya diam tidak bersuara.
“Habisnya kucingnya susah dijinakkan dan termasuk jenis kucing garong yang suka makan mangsanya!” ucap Dilla lirih hingga membuat bu dokter tertawa terpingkal-pingkal.
“Sudahlah lama-lama kalau aku disini ikut stress! Kalian itu sebenarnya sama-sama suka dan cinta tapi sama-sama bertahan dengan egonya masing-masing!” ucap sang dokter meninggalkan mereka.
Setelah dokter pergi Tegar dengan sabar menyuapi Dilla makanan dari rumah sakit. Dilla makan dengan lahap sehingga membuat Tegar senang. “Sayang, kamu nanti pulang ke rumah aku saja dulu. Aku tidak tega kamu sendirian di rumah meskipun ada si mbok dan anak-anak,” ucap Tegar sambil sesekali menghapus sisa makanan yang ada di bibir Dilla.
“Tidak kak. Aku di rumah saja dan aku bisa menjaga diriku sendiri. Setidaknya Mita dan Rara bisa menemaniku tinggal. Dan salah satu perawat rumah sakit juga bisa aku pekerjakan di rumah,” ucap Dilla menolak permintaan Tegar.
“Baiklah kalau begitu, nanti setiap istirahat dari kerja di kantor aku bisa besuk kamu. Ayo kamu habiskan saja makanan kamu biar segera pulih!” perintah Tegar kepada Dilla. Setelah selesai menyuapi Dilla makan, Tegar langsung menelpon Dimas untuk menjemputnya.
“Dim, kamu segera meluncur ke rumah sakit. Ini Dilla sudah diperbolehkan pulang!” perintah Tegar melalui ponselnya.
“Ok, bos! Aku siap berangkat ini aku selesaikan laporannya dulu, karena tinggal sedikit, nanggung kalau ditinggal,” ucap Dimas sopan.
__ADS_1
“Baiklah, tapi sebelum kesini kau jemput anak-anak dulu di tempat sekolahnya!” perintah Tegar kuatir.
“Ok, siap bos,” jawab Dimas kemudian ponsel dimatikan oleh Tegar.
Sambil menunggu Dimas datang Tegar melihat saham yang ada di perusahaannya dan juga perusahan Abiyasa. “Dik sejak kapan kamu mengelola perusahaan? Dan perusahan kamu yang di Malang siapa yang mengolalanya? Ini alhamdulilah bisa berkembang pesat hampir sejajar dengan perusahaan aku!” tanya Tegar.
“Akulah! Siapa lagi kalau bukan saya sendiri, tentunya aku dibantu Mita dan Rara,” ucap Dilla dengan sedikit sombong.
“Dik, maaf kan aku ya? Kamu harus berjuang sendiri waktu mengandung dan membesarkan buah cinta kita!” ucap Tegar memandang send u wajah Dilla.
“Lupakan saja. Aku tidak keberatan membesarkan mereka. Bagiku mereka merupakan rezeki dan anugrah yang terindah dari Allah,” ucap Dilla sambil berkaca-kaca.
“Maaf ya sayang, kalau waktu itu kamu terus terang penyebab kamu menolak aku tentunya aku tidak berbuat gegabah seperti itu!” Tegar kembali mengusap pipi Dilla dan memeluknya. Dilla menangis sesenggukan di pelukan Tegar. Dilla mengingat kembali perjuangannya mengandung kedua bayi kembarnya hingga menjadi putra yang jenius. Tegar mengerti akan perasaan Dilla.
“Aku belum siap kak, aku juga belum tahu bagaimana nanti memberitahukan ini kepada anak-anak!” ucap Dilla yang melepaskan pelukan Tegar.
“Itu aku yang mengurusnya, kamu tidak usah mengatakan apapun. Aku tahu mereka pasti mau menerimanya! Mereka berdua anak yang baik dan sangat cerdas untuk mengerti situasi ini!” ucap Tegar memberi pengertian Dilla.
“Asalamualaikum mama, dan om tampan, kalian pacaran ya!” ucap Setya dan Yasa yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka. Dilla dan Tegar nampak malu dihadapan mereka.
“Waalaikumsalam putra mama yang tampan! Wah kalian sudah pulang ya? Bagaimana hari ini aktivitas sekolahnya?” tanya Dilla menghilangkan rasa malunya.
__ADS_1
“Ya ma. Sebenarnya belum waktunya pulang, tapi kita tadi dijemput om Dimas,” jawab Yasa mewakili mereka berdua.
“Om Dimasnya mana sayang?” tanya Tegar kepada mereka berdua.
“Om Dimas masih ngobrol dengan temanya yang ada di luar,” ucap Setya yang langsung duduk diantara mereka berdua.
Tidak berapa lama kemudian Dimas datang dan langsung mengambil beberapa barang yang akan dibawa pulang untuk dimasukan dalam mobil. Sepanjang jalan si kembar nampak senang karena mamanya pulang dari rumah sakit. Mereka berdua bernyanyi dengan lagu-lagu yang indah dan gembira.
Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di rumah Dilla. Dilla berjalan masuk kerumah dipapah oleh Tegar menuju kamarnya. Sementara itu barang-barang mereka yang ada di mobil dibereskan oleh si mbok. Sedangkan Dimas diminta oleh Tegar untuk kembali ke perusahaan.
Tegar hari ini memang berjanji ingin menemani Dilla dan kedua putranya. Tegar membiarkan Dilla istirahat di kamar sedangkan Tegar menuju kamar kedua putranya untuk membantu mengganti baju sekolahnya. Tegar juga menemani kedua putranya belajar mengerjakan tugas yang disampaikan oleh sekolah. Setya dan Yasa nampak senang karena om tampan berada di dekatnya.
“Om tampan, aku mengantuk. Bisakah om tampan menemani kita tidur?” tanya Setya kepada Tegar sambil menggandeng tangannya menuju ranjang. Tidak berapa lama si kembar tertidur dan disusul Tegar yang memang lelah semalaman terjaga menjaga Dilla di rumah sakit.
Dilla yang terbangun dari istirahatnya dan berniat untuk melihat kedua putranya di kamar. Dilla pelan-pelan membuka pintu kamar putranya dan Dilla sangat terkejut melihat putranya tidur bersama papanya.
“Astaga mereka benar-benar bagikan pinang dibelah tiga. Mirip segalanya termasuk gaya mereka, bahkan sifat keras kedua putraku turun dari papanya, mungkinkah kita semua akan menjadi keluarga yang utuh,” gumamnya lirih dan kembali menutup pintu kamar putranya.
Dilla kemudian pergi ke dapur dan melihat simbok masak. Kemudian Dilla menyuruh simbok untuk segera menyiapkan makan malam. Dilla membuat catatan menu masakan yang semuanya merupakan masakan kesukaan Tegar dan kedua putranya.
Dilla menyerahkan catatan masakannya kepada simbok. “Mbok, ini catatan menu yang harus kamu masak! Jangan lupa untuk cuminya dibumbui pedas manis ya!” perintah Dilla kepada si mbok.
__ADS_1
“Ya nyonya. Akan saya buat dengan super lezat dan istimewa!” ucap simbok dan segera memulai mengambil bahan di kulkas untuk memasaknya. Kemudian Dilla kembali ke kamarnya untuk melanjutkan istirahatnya karena badannya masih lemah dan perlu istirahat yang cukup.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.