Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Salah Masuk


__ADS_3

Sementara itu Abisetya pengantin baru


sedang berada dalam kamar pegantin. Abisetya sedang berada di kamar hendak


menjalakan aksinya.


“Sayang, bisakah aku memulainya?” bisik


Abisetya kepada istrinya. Sementara itu Liana yang malu dengan perkataan


suaminya hanya memberikan isyarat dengan menganggukan kepalanya.


Abisetya yang tidak sabaran langsung


mendekati Liana dan memeluknya. Abisetya mencium leher dan tengkuk Liana. Liana


yang tidak pernah merasakan pacaran sudah merasakan sensasi yang luar biasa


namun tiba-tiba Abisetya menghentikan kegiatannya karena tiba-tiba ponselnya


berdering.


“Sayang, maafkan aku ya? Rumah sakit


telpon, ada seseorang yang perlu ditangani karena operasi darurat,” ucap


Abisetya dan langsung turun dari ranjangnya kemudian cuci muka dan dilanjutkan


menggantikan bajunya yang bersih.


“Iya kak. Tidak apa-apa!” ucap Liana


sedikit kecewa. Liana pun akhirnya duduk di tepi ranjang kemudian berjalan


menuju sofa untuk menikmati acara televisi.


Sementara itu Abisetya keluar menuju


rumah sakit karena bagaimanapun dirinya sebagai dokter harus bertanggungjawab


terhadap kesembuhan pasiennya.  Abisetya


menghela nafasnya, kemudian bergegas hendak keluar dari hotel namun berpasan


dengan Abiyasa.


“Setya, kamu hendak kemana?” tanya


Abiyasa kepadaa saudaranya.


“Ke rumah sakit kak! Ada pasien yang


perlu diadakan operasi karena darurat mengalami kecelakaan,” ucap Abisetya


memberi keterngan kepada Abisetya.


“Ok! Hati-hatilah! Kalau sudah selesai


segeralah kembali! Kasihan istri kamu!” ucap Abiyasa kepada saudara kembarnya.


“Siap kak, lagian aku juga ingin


merasakan seperti kakak!” jawab Abisetya sekenanya.


“Eit…, merasakan apa?” tanya Abiyasa


kepada saudara kembarnya.


“He…, he…, itu kak belah duren,” jawab


Abisetya sekenanya.


“Wus kau itu ngawur saja masa iya malam


pertama diumpamakan belah duren?” tanya Abiyaasa kepada saudara kembarnya.


“Habisnya kata orang sama-sama enaknya


kak!” ucap Abisetya sekenanya.


“Dasar play boy? Awas ya jangan


macam-macam dengan istrimu! Aku dengar Liana juga jago beladiri!” ucap Abiyasa


menakut-nakuti sudara kembaranya.


“Masa iya kak! Kalau itu aku tidak


tahu!” respon Abiyasa atas pernyataan saudara kembarnya.


“Hem…, gimana to masa latarbelakang


istrinya sendiri tidak tahu?” ucap Abiyasa memberi jawaban pertanyaan


saudranya.


“Sudah ah, aku mau berangkat dulu!”


jawab Abisetya kepada saudara kembarnya. Abisetya langsung meninggalkan saudara


kembarnya menuju parkiran. Abiyasa hanya menggelengkan kepalanya melihat


kepergian saudaranya.


Sementara itu Abisetya buru-buru

__ADS_1


menyalakan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, langsung


memeriksa pasiennya dan menyuruh asistennya untuk menyiapkan peraatan operasi.


Abisetya melakukannya dengan sangat


hati-hati hingga keringatnya bercucuran karena operasi hari ini tergolong


rumit. Beberapa menit kemudian operasi selesai dan berjalan dengan lancar.


Abisetya kemudian memberikan beberapa intruksi kepada asistennya terkait


pasiennya. Rekam medis pasien juga sudah dianalisanya dan hasilnya diserahkan


semua kepada asistennya.


Abisetya merasa bersyukur karena apa


yang diharapkannya berjalan dengan lancar. Abisetya tersenyum simpul karena


sebentar lagi dirinya akan melaksanakan ritual malam pertamanya.


Abisetya saking senangnya langsung


membersihkan dirinya di dalam ruang kerjanya kemudian menganti bajunya dengan


baju yang bersih dan memakai minyak wangi kesukaannya.


Setelah mengemudikan kendaraannya


beberapa menit, Abisetya menghentikan mobilnya di hotel milik keluarganya


kemudian bersiul menuju kamarnya. Sementara tamu yang tersisa nampak dari


keluarganya dan kerabat terdekat sedang bersenda gurau di ruang jamuan.


“Hem, penganten baru nich! Wah kayaknya


buru-buru hendak belah duren ya?” sindir salah satu kerabatnya ketika tahu


Abisetya hendak masuk ke lorong menuju kamarnya.


“Wah, kau itu masih kecil aja banyak


ngomong! Hayo udah punya pacar belum. Tuh bisa-bisa kamu dibalap sama Almaira.


Almaira sudah punya pacar tuh!” kelakar Abisetya terhadap sepupunya, sengaja


menggodanya dan Almaira.


“Kakak, memangnya sapa tuh pacar


Almaira?” tanya sepupunya yang bernama Brian.


kak Abisetya. Aku jamin dia pasti banyak bohongnya!” sahut Almaira ingin


menghindar dari gurauan kakaknya.


“La itu dia panjang umur kan?” sahut


Abisetya mengarahkan telunjuknya kea rah seseorang yang masuk ke ruangan


tersebut. Almaira nampak tersipu malu melihat arah telunjuk kakaknya.


“Astaga, Ibra! Benarkah? Itu Ibra?”


tanya Brian kepada Abisetya.


“Yah, begitulah!” jawab Abisetya kepada


saudara sepupunya.


“Hai..., bro! Wah ini penganten baru


kok begadang terus memangnya tidak itu ya?” tanya Ibra sama kotornya dengan


Brian.


“Ibra? Wah mantap nich, lama tidak


jumpa jadi kita bisa dong tanding lagi?” tanya Brian tiba-tiba.


“Boleh bro! tapi tidak sekarang ya? Aku


ada perlu dengan gadis kecilku!” bisik Ibra tak kala bersalaman dengan Brian.


Brian seketika langsung mengarah ke Almaira.


“Ih…, apaan sih kak Brian?” tanya


Almaira yang tersipu malu karena perhatian Brian mengarah padanya.


“Gak apa-apa dong! Aku suka kok kalau


kalian jadian. Pokoknya sepenuhnya aku dukung kalian,” ucap Brian sambil


menepuk bahu Ibra.


“Ok , terimakasih! Tapi aku masih


menunggu jawaban dari gadis kecilku!” jawab Ibra santai yang semakin membuat


Almaira tersipu malu.


“Ibra. Aku mendukungmu kalau kamu

__ADS_1


jadian sama adik aku. Tapi aku tidak akan memberimu kehidupan jika


mempermainkan adik aku!” ucap Abisetya kepada sahabatnya.


“Siap bro, aku jamin akan buat adik


kesayangamu tu bahagia!” jwab Ibra penuh keyakinan.


“Ok, kalian lanjutkan pesta kalian! Aku


pamit dulu!” jawab Abisetya kepada sahabatnya.


“Ok, bro tenang saja aku akan


bahagiakan gadis kecilku!” jawab Ibra santai sambil sedikit mengangkat alisnya


naik turun pandangannya mengrah pada Almaira.


“Ok, aku pegang janjimu. Aku permisi


dulu,” ucap Abisetya yang terus geloyor masuk ke lorong menuju kamarnya.


Abisetya masuk dengan santai tanpa memperhatikan nomor kamarnya seingatnya


dirinya ada di kamar utama. Abisetya degna gontai masuk ke kamar yang sudah


terbuka pintunya namun entah mengapa tiba-tiba lampu mati. Abisetya yang tidak


ingin istrinya ketakutan langsung masuk begitu saja.


Begitu masuk ke kamar dan mendekati


ranjag tiba-tiba listriknya menyala lagi.


“Sayang, kamu dimana? Up …, maaf


ternyata ini kamar mama dan papa ya?” ucap Abisetya yang ternyata papa dan


mamanya berada di kamar tersebut. Papa dengan mesra duduk di pangkuan mamanya.


“Abisetya, kebiasaan ya? Makanya kalau


pergi itu diingt dulu no kamar kamu berapa? Kebiasaan tidak mau mengingat!”


ucap mama Dilla sambil menggelengkan kepalanya.


“Em, sekali lagi maaf pa…, ma!” jawab Abisetya


sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal kemudian izin pamit untuk kembali


ke kamarnya.


Dan tidak lama kemudian Abisetya


beranjak pergi menuju kamarnya. Abisetya merasa geli memikirkan ulahnya yang salah


masuk kamar yang ternyata kamarnya berada di sebelah kamar papa dan mamanya.


“Wah benar-benar memalukan!” gumamnya


lirih ketika sudah berada di dalam kamarnya.


“Sayang apa yang memalukan?” tanya


Liana ketika mengetahui suaminya sedang bergumam tidak jelas.


“Eh…, aku tadi buru-buru hendak masuk


kamar yang kebetulan kamar mama dan papa pintunya terbuka ditambah lampu hotel


mati jadi aku yang kuatir sama kamu buru-buru masuk karena kawatir kamu


ketakutan,” jelas Abisetya kepada istrinya


“Kakak, lucu dech! Makanya otaknya


jangan ngeres dulu! Pasti kakak maunya cepat-cepat ke kamar untuk making love ya?”


jawab Liana sambail tertawa terpingkal-pingkal menertawakan suaminya.


“Awas ya? Habis ini akan aku buat


dirimu ketagihan! Yang pasti kamu akan selalu minta jatah lagi!” jawab Abisetya


yang langsung mendekati istrinya dan merengkuhnya dalam pelukannya. Abisetya


mengangkat dagu istrinya kmudian mendekatkan bibirnya dan memulai mencium


istrinya.


“Sayang, terimaksih ya? Kamu


benar-benar bidadariku! Aku sayang kamu! Aku inginmemperoleh keturunan dari


kamu! Aku hendak menaburkan benih dai dalam dirimu! Aku berharap kamu siap


sayang?”ucap Abisetya yang terus melancarkan aksinya. Liana hanya bisa tersenyum


menanggapi perkataan Abisetya karena dirinya dalam pelukan Abisetya.


Terimakasih para pembaca yang setia,


atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita


terus mengikuti kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2