Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Kematian


__ADS_3

Sejak seminggu ayah Wisnu dirawat di rumah sakit mama dan adik tirinya hanya menjenguk ayah Wisnu sekali saja. Hari ini ayah Wisnu Sanjaya kesehatannya semakin memburuk. Dilla semakin panik dan dadanya terasa sesak setelah mengetahui penyebab ayahnya sakit adalah Tegar yang menyita semua aset perusahaan ayahnya untuk jaminan hutangnya.


Dilla menunggu ayahnya sambil meneteskan air matanya, sementara sang mama yang dicintai ayahnya tidak mau menunggui ayahnya yang sedang koma. Mama tirinya secara terang-terangan bermesraan dengan asisten ayahnya. Mama Lusi dan Lukas sering berkumpul bersama di rumahnya bahkan mereka sudah menjalin hubungan terlarang.


Dilla melihat ayahnya yang semakin tidak berdaya, hampir semua alat kesehatan dipasang untuk memonitor kesehatan ayahnya. Dilla yang tidak tega langsung pergi konsultasi dengan dokternya.


Setelah konsultasi disarankan agar ayahnya segera melakukan operasi untuk penyedotan darah yang menggumpal di otaknya. Dilla kembali ke kamarnya namun ternyata ayahnya sudah tidak bernyawa di tolong oleh perawat jaga.


“Maaf mbak ayah anda sudah meninggal,” ucap perawat tersebut sambil melepas selang pernafasan.


Dilla menangis histeris, syok karena kematian ayahnya. Dilla kemudian menghubungi mama tirinya dan mengatakan kalau ayahnya sudah tiada, namun mamanya sudah tidak memperdulikannya lagi karena tidak ada jawabannya. Dilla yang sudah tidak punya saudara langsung mengurus segala sesuatunya sendiri sambil meneteskan air matanya.


Setelah jenasah tiba di rumahnya semua tetangga dan karyawan ayahnya yang masih setia membantu proses pemakaman ayahnya. Mama dan adik tirinya pura-pura bersedih dan meneteskan air matanya untuk mencari simpati dari masyarakat.


Pemakaman berjalan dengan lancar, Dilla kembali ke rumahnya. Namun nasibnya sangat buruk, mama dan adik tirinya mengusir Dilla agar meninggalkan rumah tersebut. Semua barang-barang Dilla di lempar ke luar rumah dan diusir agar segera pergi dari rumahnya sendiri. Bahkan mobil satu-satunya peninggalan mamanya tidak boleh dibawa oleh mama tirinya.


Mbok Minem menangis dan meratapi nasib anak asuhnya yang dia asuh sejak kecil. Mbok Minem membantu Dilla mengemasi semua baju yang berserakan di teras. Mbok Minem tidak tega melihat Dilla yang terpuruk. Baru ditinggal ayahnya pergi dan diusir dari rumahnya sendiri oleh mama tirinya.

__ADS_1


“Mbok, masuk ke dalam rumah. Kalau si mbok tetap membantunya mulai detik ini kamu aku pecat,” ancam mama Lusi dan Brenda. Mereka berdua merupakan sepasang ibu dan anak yang menyerupai iblis.


Mbok Minem mau tidak mau harus merelakan majikannya meninggalkan dirinya. Mbok Minem yang tidak tega langsung masuk ke kamarnya sambil menangis.


Dilla membawa kopernya melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Dilla menyeret kopernya terseok-seok meninggalkan rumahnya. Dilla dengan bekal tabungannya mencari hotel untuk menginap sementara. Dilla masuk ke hotel dan menghampiri resepsionis untuk menyewa satu kamar.


Dilla menginap di hotel dengan perasaan yang tidak menentu. Dilla kemudian membuka kembali kotak mainannya yang ternyata sama mama tirinya masih dimasukan dalam kopernya. Dilla kemudian menghubungi tante Nadia kalau besok mau berangkat ke Malang. Dengan perasaan lega Dilla rebahan di sofa sambil merenungkan nasibnya ke depan.


Dilla yang seharian tidak makan membuat perutnya mengeluarkan bunyi sehingga Dilla memesan makanan melalui pelayanan hotel. Dilla memencet telpon kamar hotel untuk memesan makanan. Sementara itu Tegar yang kebetulan juga menginap di hotel tersebut mengetahui saat Dilla masuk ke kamar hotel yang berada di sebelahnya. Tegar yang merupakan pemilik hotel tersebut sudah menghubungi pelayan hotel untuk memasukan obat perangsang di minuman Dilla jika memesan makanan.


Pelayan yang di suruh Tegar langsung menjalankan aksinya, karena bagaimanapun Tegar adalah atasannya dan dia tidak mau dipecat. Setelah beberapa menit pelayan tersebut menjalankan aksinya, Tegar langsung meminta kunci cadangan kamar Dilla.


Dilla berusaha menahan nafsunya, hingga tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan datanglah Tegar pria yang sebenarnya dia cintai. Namun karena ingin menyelamatkan Tegar dari ambisi mama tirinya Dilla harus menolaknya.


Dilla merintih meminta pertolongan Tegar agar membantunya. Tegar memanfaatkan moments tersebut dan meminta Dilla agar memohonnya. Dilla yang tidak bisa mengendalikan nafsunya menuruti apa yang dikatakan oleh Tegar.


Tegar tersenyum sinis melihat Dilla tidak berdaya. Semua tubuh seksi dan indah milik Dilla hari ini telah berada di hadapannya. Tegar memang menginginkan Dilla seutuhnya, namun karena penolakan Dilla membuat Tegar yang merupakan ceo pendendam langsung antusias melancarkan aksinya.

__ADS_1


Tegar dengan dendamnya yang membara langsung mencium bibir Dilla yang seksi kemudian turun menyesap sesuatu yang terasa nikmat dan membuat Dilla semakin tidak berdaya merasakannya. Dilla pun membimbing pusaka milik Tegar untuk masuk ke dalam wadahnya hingga berhasil menerobos masuk merenggut kesucian Dilla. Dilla merasakan perih dan sakit di area sensitifnya namun juga merasakan kenikmatan yang begitu dalam.


Dilla dibawah obat perangsang juga sangat menikmati permainannya. Dilla dengan agresif menyerang Tegar kembali dan memegang kendali permainan. Dilla dengan inten memainkan senjata berharga milik Tegar hingga membuat Tegar menggeliat puas. Mereka berdua berkali-kali merasakan nikmat dan kepuasan secara bersama-sama karena sesungguhnya mereka berdua ada perasaan cinta satu sama lainnya. Namun sayang cinta mereka berdua harus berjalan seperti ini.


Karena melakukannya berulang-ulang Tegar dan Dilla akhirnya lemah lunglai tak berdaya hingga tertidur. Dilla tidur di dalam pelukan Tegar dengan nyaman.


Setelah menjelang subuh Dilla terbangun kemudian meraih semua pakaiannya dan bergegas meninggalkan kamar hotel tersebut dengan perasaan hancur. Dilla meratapi nasibnya yang harus melepas kehormatannya dengan jalan tersebut meskipun Dilla sangat mencintai Tegar. Dilla terseok-seok meninggalkan hotel dengan memanggil taxi yang kebetulan lewat di depan hotel. Dilla menuju stasiun dan hendak pergi ke Malang menemui tante Nadia.


Sementara itu Tegar yang terbangun langsung meraba-raba Dilla yang ada di sampingnya, Tegar sangat terkejut mengetahui kalau Dilla sudah tidak ada di sampingnya. Kemudian Tegar dengan cekatan bangkit dari tidurnya dan hendak mencari Dilla.


Tegar terperanjat menyaksikan dibalik selimutnya ada noda darah milik Dilla. Tegar yang biasa melakukan hal tersebut dengan wanita lain biasanya tidak ada reaksi apa-apa. Namun saat ini Tegar tiba-tiba merasa bersalah dengan kepolosan Dilla apalagi Tegar merasakan kalau sebenarnya dari gaya bermainnya Dilla kelihatan mencintainya.


Tegar semakin gila dibuatnya hingga Tegar mengusap kepalanya berulang-ulang dengan kedua tangannya karena penyesalannya. Tegar merasa tidak seharusnya dia berbuat seperti itu terhadap Dilla yang sebenarnya dia sangat mencintainya.


Kemudian Tegar mencari pelayan hotel dan bagian resepsionis untuk melacak CCTV hotel. Dari CCTV mereka mengetahui kalau Dilla keluar hotel dan pergi meninggalkan hotel dengan naik taxi.


Tegar memukulkan tangannya ke meja hingga membuat semua orang yang berada di dekatnya terkejut karena kemarahannya. Tegar mengerahkan seluruh karyawan dan kepercayaannya untuk mencari Dilla namun Dilla bagaikan di telan bumi sangat sulit ditemukan. Tegar merasa prustasi berat hingga semua karyawan diamuknya.

__ADS_1


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2