Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Hasil Penyelidikan


__ADS_3

Aska berhasil memperoleh data-data tentang Marsha sahabatnya Sabrina,  kemudian menyerahkannya kepada Yasa. Hasil penyelidikan Aska tidak ada hal yang perlu dikuatirkan tentang Marsha, karena memang Marsha adalah anak yang yang baik kurban dari kebusukan dan keserakahan  ibu tirinya. Marsha lari dari rumahnya karena hendak dijual oleh mama tirinya pada lelaki tua untuk membayar hutang-hutangnya. 


Tanpa sepengetahuan papanya, mama tiri Marsha terlibat dalam perjudian online sehingga hutang-hutangnya menumpuk.  Marsha memutuskan pergi meninggalkan papanya dan hidup sendiri di kontrakan  dan membiaya hidup dan kuliahnya sendiri. Marsha sekarang kuliah sore hari jurusan akuntansi di salah satu universitas swasta di kota ini. Marsha yang dulu hidup bagaikan putri sekarang harus berjuang hidup sebatang kara. Marsha sekarang agak keras perangainya karena belajar dari pengalaman hidupnya yang pahit. Sementara itu papanya sekarang tidak berdaya karena sakit-sakitan dibawah tekanan mama tirinya.


Azka terus menceritakan semua hasil penyelidikannya, hingga di akhir perkataannya mengejutkan Yasa karena kalau dicerna dengan baik Azka menaruh hati dengan Marsha.


“Andaikan Aku mengenal lebih awal,  tidak akan aku biarkan untuk hidup menderita. Pasti aku akan memanjakannya,” ucapnya sekali lagi  sambil menghela nafasnya.


“Hai…, hai apakah kamu jatuh hati padanya?” tanya Yasa ketika melihat perubahan sikap Aska.


“Tidaklah, aku hanya simpati saja dengan kisah hidupnya!” ucap Aska menyembunyikan perasaannya.


“Gombal apa bro, dari raut mukamu jelas bahwa kamu itu ada perasaan terhadap Marsha.  Aku bisa membantu kamu untuk mendekatkan diri  dengannya!” ucap Yasa dengan senyumannya yang penuh arti. Dia akan menebus rasa bersalahnya terhadap Marsha karena mencurigainya. Dia akan membantu sahabat Sabrina itu untuk dekat dengan Aska.


“Serius nich bos!” tanya Aska penasaran.


“Hem…, hem…, akhirnya terungkap juga ya?” ucap Yasa kepada asistennya sekaligus sahabatnya.


“Iyalah. Aku mau bantu kamu kok! Besok Sabtu ada acara hari jadi perusahaan kita  dan ada lomba memasak berpasangan. Nanti kita ambil undian tapi sebenarnya aku pasangkan dengan Marsha seolah-olah kita buat tidak sengaja!” ucap Yasa mengatur strategi demi asisten dan juga sahabatnya itu.


“Tok…, tok,” tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. 


“Masuk!” ucap Yasa yang ternyata Setya yang datang.


“Wah serius amat. Maaf nich aku mengganggu kalian, kayaknya ada yang serius ya?” ucap Setya yang masih dengan seragam dokternya. Setya tidak mau mengikuti jejak papanya namun dia dan Almaira berkeinginan menjadi dokter untuk meneruskan dan mengelola rumah sakit mamanya.


“Ini si azka ada gebetan baru, kamu sendiri bagaimana? Apakah  masih bertahan dengan jomblo kamu ya?” tanya Yasa kepada saudara kembarnya.


“Hidup itu dinikmati kak! Aku masih ingin sendiri dan belum punya keinginan untuk menikah. Jadi untuk sementara aku masih ingin sendiri,” ucapnya dengan santai dan terus duduk disofa sambil membuka majalah bisnis yang tergeletak di meja.


“Ingat usia dong dik!” ucap Yasa memberi peringatan kepada adiknya.


Tenang bang kan baru 25 kak! Kalau kakak mau menikah duluan gpp lagian juga sudah ada  calon kakak ipar,” ucap Setya santai.


“Iya…, terserah kamu saja!” ucap Yasa menyerah adu argumentasi dengan adiknya sementara itu Aska hanya menjadi aksi keributan mereka berdua.

__ADS_1


“Kak…, As…, ayo ngopi dong! Sekalian kita ngobrol kan enak!” ucap Setya seenaknya kalau ngomong.


“Hari kerja dik!” Emang kamu yang habis turun jaga! Kita ngopi disini saja ya? Aku pesankan kopi biar dibuatkan oleh OB!” ucap Yasa dan langsung memutar tombol interkom yang terhubung dengan bagian dapur. 


“Tolong buatkan kopi cappucino 3, dan kirim ke ruangan saya!” perintah Yasa tanpa basa-basi.


“Baik pak!” jawab seseorang di seberang sana.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya kopi yang mereka pesan santan diantar oleh Marsha. Marsaha masuk dengan mengetuk pintu ruangan Yasa.


“Permisi pak, ini pesanan kopinya!” ucap Marsha yang langsung menaruh kopi-kopi tersebut ke meja.


Setya nampak takjub memandang Marsha yang kalem dan cantik yang ternyata tidak lepas dari pengamantan Yasa. Aska yang melihat gelagat kalau Setya juga menyukai Marsha merasa minder. Bagaimanapun kalau disuruh bersaing dengan Setya pasti dia tidak akan unggul melawan Aska.


“Terimakasih Marsha? Kenapa kamu yang mengantarnya? Dimana Winda yang biasa buat kopi di dapur?” tanya Yasa yang sengaja menegur Marsha untuk mengalihkan perhatian mereka berdua.


“Maaf pak. Kak Winda lagi di rumah sakit. Ibunya masuk rumah sakit karena jatuh dari kamar mandi. Maaf pak saya masih banyak pekerjaan mohon izin dulu!” ucap Marsha kemudian izin undur diri karena risih diperhatikan Aska dan Setya.


“Baiklah, terimakasih!” ucap Yasa yang kemudian matanya secara bergantian memandang adik dan sahabatnya.


“Apaan sih kak! Aku hanya kagum saja kok! Tapi boleh juga tuh kak!” ucap Setya keceplosan tanpa memikirkan perasaan Aska.


“Astaga dik! Itu gebetan Aska dan tadi baru saja membicarakan bagaimana agar mereka berdua bisa berdekatan!” ucap Yasa memberitahu adiknya agar tidak melangkah terlalu jauh bersaing dengan Aska.


“Benarkah? Wah kalau begitu aku nyerah saja kak! Aska aku jamin aku tidak akan mendekati itu cewek kok!” ucap Setya menyakinkan Aska.


“Marsha namanya ya? Tepatnya Marsha Setyadji,” ucap Aska tiba-tiba hingga membuat Yasa dan Setya tergelak menahan tawa.


“Wah kayaknya benar-benar sudah cinta mati nich! Nama panjangnya sampai hafal!” ucap Yasa menggoda sahabatnya.


“Wih…, Aska! Aku do’akan semuanya lancara ya?” ucap Setya sambil mengulurkan tangannya kepada Aska.


“Terimakasih bro! Kalian berdua betul-betul sahabat yang sangat pengertian!” ucapnya sambil menyeruput kopi buaan Marsha.


“Hem…, harum! Benar-benar kopinya mantap dan manis seperti orang yang membuatnya!” Aska menghirup aroma kopinya dan kemudian menyeruputnya pelan-pelan seolah membayangkkan kalau dirinya minum kopi di temani Marsha.

__ADS_1


“Plak…,  Wah benar-benar otakmu sudah dipenuhi dengan Marsha bro!”  ucap Yasa sambl menimpuk bahu sahabatnya karena gemas dengan tingkah lakunya.


“Udah kak panggil Marsha kembali dan nikahkan saja mereka berdua!” ucap Setya menggoda Aska.


"Boleh dong! Siapa takut!" ucapnya seolah-olah memang dirinya sudah mantap dengan Marsha. 


"Pluk… , Bener-bener sudah gila kanu As… , " Setya menimpuk Aska dengan tisu yang ada di dekatnya. 


"Cinta itu memang gila bro! Pokoknya Marsha is the best!" ucap Aska sambil terus menikmati minumnya. 


"Setya, Aska aku tinggal dulu ya? Kakak ipar kamu minta diantar ke mall. 


" Astaga itulah kak kenapa aku belum siap menikah karena aku tidak ingin bucin seperti kalian!, " ucap Setya yang terus  menyeruput kopi buatan Marsha. 


"Ayo Aska kamu ikut juga ya? Kata Sabrina si Marsha,ikut juga lo? " ucap Yasa memberikan kunci mobilnya ke Aska. 


"Ya sudah sana pergi biar kantor saya yang nunggu," ucap Setya sambil menangis dorong mereka berdua untuk segera pergi. 


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2