
Hari ini hari minggu. Ibra tiba-tiba datang ke rumah untuk pendekatan dengan Almaira dan keluarganya. Mama Dilla berada di taman depan ketika Ibra datang.
“Pagi tante, bisa saya bantu tante?” ucap Ibra sopan sambil membawa oleh-oleh untuk mama Dilla. Mama Dilla terseyum lebar ketika tahu kalau calon mantunya datang.
“Wah, nak Ibra pagi-pagi Sudah datang. Memangnya mau kemana?” tanya Mama Dila kepada Ibra.
“Tidak kemana-mana tante, paling hanya mengajak Almahira pergi ke mall untuk nonton,” Jawab Ibra dengan sopan. Mama Dila meletakkan selang untuk menyirami tanamannya kemudian mengajak Ibra untuk masuk ke dalam. Mereka berdua masuk ke rumah secara beriringan menuju ke ruang tamu. Entah apa yang yang dimiliki oleh Ibra sehingga bisa menarik perhatian Mama Dila. Dalam waktu sekejap Mama Dila Sudah bisa menyatu pembicaraan dengan Ibra.
“Ayo duduklah nak! Tante akan panggil Almaira untuk keluar. Almaira biasanya kalau liburan pasti bermalas-malasan di dalam kamar,” ucap mama Dilla kepada calon menantunya. Mama Dila melangkahkan kakinya menuju kamar Almaira yang kebetulan berada di lantai bawah.
“Pagi sayang!”Mama Dila membuka pintu kamar Almaira yang kebetulan sedang rebahan dan baca buku di ranjang.
“ Aduh, benar-benar anak gadis yang pemalas? pasti ini belum mandi ya?” tanya Mama Dila sambil menghampiri putrinya.
“He…, he…, Mama tau aja! Alamira lagi M Ma?” jawab Almaira sekenanya.
“M? Bukannya kemarin baru selesai?” tanya mama Dilla kaget kepada putrinya.
“Iya lagi M yang maksudnya malas mandi!” ucap Almaira sekenanya.
“Sayang, kamu aneh-aneh! Penyakit malas mandi kok dipelihara?” ucap mama Dilla yang sudah duduk di tepi ranjang Almaira.
“Sayang pamali lo kalau anak gadis jam segini belum mandi. Bisa-bisa kamu jauh jodoh!” ucap mama Dilla yang sengaja memberi peringatan kepada putrinya.
__ADS_1
“Masa sih ma?” tanya Almaira yang ciut nyalinya.
“Makanya ayo sana mandi! Itu ada Ibra nunggu di luar!” ucap mama Dilla memberitahu Alamira sehignga Amaira kaget.
“Kak Ibra datang kesini? Berarti aku tidak jauh dari djodoh dong!” ucap Almaira sambil tersenyum girang.
“Lo memangnya kamu suka sama Ibra? Apa kamu yakin kalau Ibra sudah pasti memilih kamu?” ucap mama Dilla yang masih penasaran dengan calon menantunya.
“Mama, ya maksud aku kalau ada cowok datang ke sini berarti masih ada yang suka sama aku dong? Dan itu berarti tidak jauh dari jodoh dong ma?” ucap Almaira ngeles jawaban mamanya.
“Dasar anak gadis pemalas! Kalau kamu tidak mandi dan masih begini menghadapi cowok kamu lama-lama cowok kamu akan mikir untuk menjahui kamu sayang?” ucap mama Dilla sambil mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Iya, mama. Putrimu ini akan nurut saja deh apa kata mama. Aku sekarang mau mandi dulu. Tolong kak Ibra suruh menunggu dulu ya?” jawab Almaira hendak menuju kamar mandi. Namun tiba-tiba mamanya menghentikannya dengan menarik lengannya sambil berbisik ke telinga Almaira.
“Mira…, pakai make up yang cakep dan natural ya? Dan tolong jangan sia-siakan kesempatan ini. Ibra calon menantu idaman para orang tua dan bisa jadi juga calon suami yang baik untuk kamu!” goda Dilla kepada anaknya. Almaira mukanya semakin nampak memerah menahan malu.
“Bibik…, nak Ibra kemana ya?” tanya mama Dilla kepada asistennya yang kebetulan lewat.
“Itu nyonya, Tuan muda Ibra sedang berada di teras samping ngobrol dengan Tuan Tegar!" jawab bibi yang baru saja kembali dari teras.
“Baiklah, sudah kamu buatkan minum dan antarkan camilan?” tanya mama Dilla kepada asistennya.
“Sudah nyonya. Bahkan untuk nyonya juga sudah aku siapakan!” ucap bibik tersebut kemudian memohon undur diri. Sementara itu mama Dilla menuju teras samping mendekati suaminya.
__ADS_1
“Maaf nak Ibra, anak gadis mama masih mandi.” ucap mama Dilla santai tanpa ada yang disembunyikan terkait anak gadisnya. Ibra pun menanggapinya hanya dengan terseyum. Ibra paham akan kebiasaan Almaira dari kecil. Almaira paling males kalau mandi pagi.
“Iya tante, Tidak apa-apa!” ucap Ibra menanggapi santai dilanjut ngobrol kembali dengan om Tegar.
“Nak, Ibra masih ingat ya? Waktu Almaira kecil om suka gendong-gendong Almaira untuk mandi ketika hendak pergi pagi!” ucap Tegar yang tiba-tiba menerawang di masa kecilnya Almaira.
“Iya om, waktu itu pas ada acara keluarga di villa. Almaira yang masih tertidur dalam gendongan om langsung jeburin ke dalam mbak mandi dan parahnya Almaira masih memejamkan matanya. Benar-benar anaknya bandel banget ya om!” ucap Ibra menimpali perkataan om Tegar.
“Wah nak Ibra kelihatannya masih merekam semua aktivitas dan kebandelan Almaira kecil ya?” ucap om Tegar yang memang sudah menyatu dengan Ibra. Menurutnya Ibra adalah sosok menantu yang pas dan bisa berjodoh dengan Almaira.
“Iya lah om! Almaira kecil selalu pulang dari sekolah membawa masalah. Almaira selalu berbuat jail sama teman-temannya. Pernah suatu ketika dia bertengkar dengan si gendut teman sekelasnya yang tanpa sebab menuduh Almaira curang dalam melakukan ujian. Dengan spontan Almaira marah dan menyerang si gendut hingga membuatnya babak belur. Sampai di rumah om Tegar hukum dengan tidak diberi uang jajan. Namun Almaira kecil tidak takut dan tidak menuntut. Almaira kecil ikut jualan kue keliling sama temannya hingga tidak pulang,” ucap Ibra mengingat kejadian dulu masa kecilnya dengan Almaira.
“Wah nak Ibra kelihatannya mengahafalkan semua kebiasaan Almaira ya?” ucap papa Tegar sambil menyeruput secangkir copi.
“Benar-benar menantu yang bisa diandalkan. Dah pokoknya mama setuju kamu jadi menantu mama!” ucap mama Dilla percaya diri.
“Mama, ih malu atuh ma!” ucap Almaira tiba-tiba nongol dari pintu dan langsung gabug dengan mereka.
“Kenapa mesti malu? Toh nak Ibra benar-benar menginginkanmu. Bahkan kemarin terang-terangan minta sama papa kamu! benarkan nak Ibra?” ucap mama Dilla banga karena memang dari awal dengan suaminya sepakaat kalau ingin menjodaohkan mereka berdua jauh hari sebelum Ibra maminta langsungg kepada papa Tegar.
“Mama, jangan begitu! Aku malu ma?” ucap Almaira sambil menundukan kepalanya dan mukanya memerah menahan malu.
“He…, he…, pokoknya papa dan mama dukung kalian berdua bersatu. Sana segera pergi katanya mau nonton film!” perintah mama agar dirinya juga bisa bermesraan dengan suaminya.
__ADS_1
“Terimaksih tante atas pengertiannya. Dan dik Almaira saya ajak keluar, mohon om dan tante memberi izin,” ucap Ibra. Dan setelah pamitan mereka berdua pergi ke mall untuk nonton dan makan-makan. Ibra menggandeng Almaira dengan mesra hingga semua orang nampak iri dengan Almaira.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?