
Tegar berencana mengajak Dilla untuk pergi menemui orang penting di kotanya sebagai kliennya. Dan kliennya meminta Tegar membawa calon istrinya.
Seperti biasanya Tegar langsung masuk ke rumah sakit di ruangan kerja Dilla. Sesampainya di pintu ruangan Tegar langsung mengetuk pintu, kemudian masuk menemui Dilla. “Siang sayang, bagaimana kamu sudah siap belum?” tanya Tegar tak kala sampai di ruang kerja Dilla.
“Sebentar sayang, pekerjaan aku sudah hampir selesai. Kalau kamu ingin istirahat dulu boleh kok tiduran di sofa,” ucap Dilla yang memang sibuk mengerjakan laporan.
“Sayang, sebenarnya apa yang kamu kerjakan? Bolehkah aku membantumu?” ucap Tegar menawarkan bantuan pada Dilla, namun Dilla tidak berkenan jika Tegar membantunya.
“Bantuan apa sih Kak, ini hanya pekerjaan ringan kok! Apalagi ini merupakan pekerjaan rutinitas aku. Sudahlah Yang penting kamu diam disitu saja!” ucap Dilla manja.
Karena tidak mau dibantu, maka Tegar merebahkan dirinya di sofa. Tegar sebagai seorang pria dewasa selalu memandang Dilla dengan perasaan penuh kasih sayang. Tegar melihat belahan kerah leher baju Dilla yang terlalu rendah dan agak turun ke bawah. Tegar mulai gerah dengan pemandangan yang ada di depannya.
“Kakak tolong jangan memandangi aku seperti itu, Aku sangat malu,” ucap Dilla sambil membetulkan anak rambut yang mengenai dahinya. Namun Entah mengapa Tegar tiba-tiba sudah menghampiri Dilla yang sedang asyik menunduk menandatangani berkas-berkas. Tegar langsung bergelayut manja mendekap mengalungkan ke dua tangannya di leher Dilla dan menyandarkan kepalanya di bahu Dilla.
“Sayang…, aku haus. Aku ingin minum, bolehkah aku pergi ke pantry untuk mengambil minum,” ucap Tegar sambil menelan salivanya. Tegar yang begitu dekat dengan Dilla hingga kedua matanya berpandangan menimbulkan getar-getar aneh di dada mereka berdua.
“Sayang Apa yang kamu lakukan kan? Kalau hanya minum saja, di kamar aku itu ada minuman dingin. Masuklah dan carilah sendiri di kamar!” perintah Dilla kepada Tegar. Dilla merasa Itu hanya alasan tegar untuk mendekatinya. Tegar tidak melangkah pergi ke kamar yang berada di belakang Dilla akan tetapi tiba-tiba langsung mencium anak rambut Dilla yang jatuh di bahunya.
Tegar yang hari itu penuh gelora, langsung mencium leher Dilla dari belakang. Dilla merasakan sesuatu yang sangat menyentuh hatinya hingga bergelora jiwa mudanya. Della kemudian memutar kursinya berhadapan dengan Tegar. Dilla berbalik menggelayutkan tangannya dileher Tegar kemudian Dilla berdiri dari tempat duduknya dan langsung mencium bibir Tegar.
__ADS_1
Dilla yang tidak mengingat kalau dia berada di ruang kerjanya nya, langsung memulai mencium Tegar dengan lembut. Tegar yang mulai panas dan bergelora langsung menggendong Dilla menuju kamar pribadi Dilla yang berada di belakangnya.
Tegar menurunkan Dilla di ranjang kemudian Tegar mulai menjalankan aksinya untuk membangkitkan gelora cinta Dilla. Tegar mulai mencium bibir, leher, hingga Kemudian mulai sedikit bergerak ke bawah dan dan memberikan tanda stempel kepemilikannya di situ. Belum sempat mereka melangkah lebih jauh tiba-tiba ada ketukan pintu yang berasal dari luar. Tegar yang terkejut, langsung merapikan pakaiannya dan sekaligus membantu merapikan pakaian Dilla. Tegar yang sudah rapi berjalan menuju sofa dan pura-pura duduk di sana, sedangkan Dilla yang baru selesai merapikan bajunya langsung duduk di kursi kerjanya.
“Ya silakan masuk,” ucap Dilla sebagai seorang wanita yang mandiri dan penuh wibawa. Mita berjalan masuk menghampirinya dengan beberapa berkas yang ada di tangannya yang harus segera ditandatangani oleh Dilla.
Mita yang curiga telah terjadi sesuatu antara Tegar dan Dilla hanya bisa melirik keduanya. kita pun pura-pura menanyakan keberadaan Dimas kepada Tegar..
"Pak Tegar, Dimas ke mana? Apa tidak mengikuti pak Tegar ke sini?” tanya Mita kepada Tegar karena memang sesungguhnya Mita berharap Dimas bersama Tegar.
"Kamu kangen ya sama Dimas? Dimas hari ini keluar kota, kemungkinan Dimas menginap 3 hari. Kalau kamu merindukannya saya bisa mengirim kamu ke sana,” ucap Tegar menggoda Mita.
"Kak, Memangnya Dimas kamu suruh ke mana? Apa kamu tidak kasihan hari ini kan hari weekend, kasihan mereka yang hendak memadu kasih. Apa Kakak ndak pernah muda?” ucap Dilla gemas membela Mita.
"Aku hanya menyuruhnya ke Semarang. Ada sedikit masalah di perusahaan cabang. Bukanya sudah aku katakan, kalau kamu mau, aku bisa mengirim kamu ke Semarang,” ucap Tegar membela diri.
"Sayang, anak-anak juga lagi liburan, bagaimana kalau kita pergi berlibur ke Semarang. Sekalian kita ajak Mita,” usul Dilla tiba-tiba karena sesungguhnya Dilla hanya ingin menyenangkan Mita.
" Sayang, kamu ingin berlibur? Oke, itu tidak masalah. Nanti setelah kita pergi menemui klien, aku akan mengajakmu berangkat ke Semarang bersama anak-anak. Dan kamu Mita tolong siapkan segala sesuatunya termasuk perlengkapan dan bekal anak-anak,” perintah Tegar kepada Mita.
__ADS_1
“Ini tidak bercanda kan? Oke, kalau begitu saya ya minta izin pergi menjemput anak-anak. Aku juga akan menyuruh Mbok Atun untuk Menyiapkan baju Bu Dilla dan anak-anak,” ucap Mita yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Hai…, Mita. Terus ini berkasnya bagaimana? apa tidak kamu bawa sekalian?”ucap Dilla sambil menyerahkan berkas-berkasnya kepada Mita.
“Oh…, iya,” jawab Mita sambil menepuk-nepuk tangannya ke jidatnya.
“Kelihatannya kamu sudah kangen berat ya?” ucap Dilla yang sengaja menggoda Mita.
" Tidak, aku tidak kangen. Aku hanya merindukannya.” ucapnya sambil membuka pintu ruangan Dilla.
"Kamu itu ya, mengaku saja lah kalau kangen. Lagipula yang ada kan hanya kita bertiga. Kamu juga tahu sendiri, kak Tegar sangat merestui hubungan kalian. Kamu juga sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri, Tak perlu kamu menyimpan rahasia apapun untuk kita,” ucap Dilla sedikit memberi ceramah kepada Mita.
"Oke bos. Aku lain kali pasti akan bilang ke ibu Dilla tentang segala sesuatunya termasuk acara lamaran ku nanti. Ta…pi jangan lupa untuk acara pesta pernikahan, tempatnya Bu Dilla yang menyewakan ya?” ucap Mita santai tanpa malu-malu. Namun Dilla pun mengiyakan begitu saja permintaan Mita.
"Ok, itu bisa diatur. Kau tanyakan Dimas kapan orang tuanya datang melamar mu. Pesta nanti yang menanggung aku dan kak Tegar. Bukan begitu kak?" tanya Dilla kepada Tegar. Tegar pun setuju atas permintaan Dilla. Mita yang merasa puas langsung melanjutkan niatnya ke luar ruangan.
“Sayang, ayo segera berangkat. Tidak enak nanti kalau kita terlambat. Mereka sangat penting dan berpengaruh terhadap usahaku. Dan ini gaun dan perhiasannya, pakelah!” ucap Tegar dan menyerahkan pepper bag kepada Dilla. Dilla pun langsung mengambilnya dan berjalan menuju kamarnya yang berada di ruang kerjanya. Tegar hendak ikut bersamanya namun Dilla melarangnya. Dilla tidak mau kejadian tadi terulang kembali.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.
__ADS_1