Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Kaulah Miliku


__ADS_3

Setelah kecelakaan itu Tegar dirawat di rumah sakit sendiri. Dilla dengan setia menemani Tegar di rumah sakit. Tegar hanya cidera ringan setelah dilakukan pemeriksaan tidak ada sesuatu yang membuatnya harus menginap di rumah sakit hingga beberapa hari.


Namun entah mengapa dokter yang merawatnya meminta Tegar untuk menjalani perawatan hingga sepekan.


Dilla yang mengetahuinya langsung meminta kepala rumah sakit untuk menyelidikinya.


“Dokter Amara, coba aku selidiki ini! Apa yang terjadi sehingga suamiku harus perawatan di sini selama sepekan!” ucap Dilla di meja komisaris direktur.


“Maaf aku akan mencoba menyelidikinya, setahuku yang menangani tuan Tegar itu dokter Riyadi,” ucap dokter Amara yang merasa kuatir dengan kelangsungan kinerja sahabatnya. Dokter Mira menghela nafasnya, mungkin ini ada hubungannya dengan dokter Airin adik perempuan dokter Riyadi.


Kemarin sewaktu ada pertemuan dengan rekan dokter yang membahas perkembangan dan kemajuan rumah sakit, dokter Riyadi sempat bercerita kalau adiknya sangat mencintai pak Tegar suami bu Dilla owner rumah sakit ini.


Amara menghela nafasnya hingga akhirnya pamitan untuk pergi menyelidikinya. Dokter Amara pelan-pelan masuk ke ruangan dokter Riyadi dan menanyakannya kepadanya langsung.


“Permisi dokter? Bolehkah aku duduk di sini?” tanyanya sopan.


“Boleh , tumben anda duduk di sini! Adakah sesuatu yang anda tanyakan?” ucapnya datar tanpa memperhatikan dokter Amara.


“Maaf aku kesini diminta bu Dilla untuk menyelidiki kasus rawat inap pak Tegar. Bu Dilla curiga kalau ada permainan di balik itu!” ucapnya biasa saja tanpa ada rasa mengintimidasi dokter Riyadi.


“Astaga aku tidak berbuat seperti itu! Aku bahkan merekom pak Tegar untuk pulang!” ucapnya terkejut. Pak Riyadi langsung teringat oleh adiknya Airin yang dari tadi senyam-senyum tidak jelas.


Pak Riyadi dengan cemas akhirnya memanggil perawat yang tadi diminta memberikan surat keterangan pengobatan pak Tegar kepada pihak keluarga.


Perawat yang berada di dekat pak Riyadi nampak ketakutan. Kemudian dia menceritakan kalau semua itu dipaksa oleh dokter Airin untuk mengganti surat keterangan dokter Riyadi kepada keluarga pasien. Dokter Riyadi nampak menghela nafasnya menahan amarah oleh sikap adiknya.


Kemudian dokter Riyadi pamitan kepada dokter Amara untuk mencari adiknya namun di ruangannya tidak ditemukan sama sekali.


Sementara itu Dilla mendapat telepon dari pembantunya untuk segera pulang ke villa karena Almaira sedang rewel dan tidak mau digendong olehnya.

__ADS_1


“Sayang, aku pulang dulu. Aku nanti segera balik lagi kesini! nanti biar Dimas yang menunggu kamu!” Dilla langsung mendekat ke suaminya dan mencium pipi suaminya yang sedang berbaring di ranjang.


“Sayang, aku juga ikut pulang saja! Aku tidak merasa sakit apapun!” ucap Tegar yang sesungguhnya hanya ingin berada di samping istrinya.


“Tidak sayang, kamu tidak boleh seperti itu. Kalau begitu biar Almaira biar dibwa kesini saja sama si mbok!” ucapnya yang kembali lagi ke tempat tidur suaminya.


“Jangan sayang, aku saja yang ikut pulang bersamamu! Sure aku tidak apa-apa!” ucapnya lirih seraya memegang tangan istrinya.


Sementara itu ada seseorang yang memperhatikannya di balik pintu kamar perawatannya.


“Kalian hari ini bisa bermesra-mesraan tapi sebentar lagi suami kamu akan menjadi tahanan hidup aku hingga seumur hidupnya!” gumamnya dalam hati kemudian mencari tempat tersembunyi untuk mengamati tingkah mereka.


Setelah sedikit berselisih paham akhirnya Dilla pulang meninggalkan Tegar dengan maksud Tegar dapat pelayanan dan pengobatan yang baik.


Setelah kepergian Dilla, Tegar yang ngantuk berat langsung tertidur.  Di saat tidur ada seseorang yang masuk di kamar  perawatan Tegar untuk berbuat sesuatu. Dengan pelan-pelan seseorang tersebut menikam Tegar dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Dengan  cekatan  orang tersebut yang ternyata dokter Airin  mengemudikan mobil tersebut menuju sebuah Villa yang terpencil jauh dari kota. Airin  tersenyum puas karena berhasil membawa Tegar dari rumah sakit.  Airin dengan sangat sengaja mengikat Tegar agar nanti di saat siuman tidak bisa melepaskan dirinya.


Di  dalam mobil akhirin menoleh ke belakang lewat kaca spion tengah.  Airin melihat Tegar masih di bawah pengaruh obat bius.


 Setelah   kurang 1 jam  perjalanan Airin sampai di sebuah vila.  Disana Airin sudah dibantu oleh dua orang laki-laki yang berperawakan besar dan menyeramkan seperti preman.


Airin meminta ke-2 orang tersebut untuk menurunkan Tegar dan membawa nya ke dalam suatu ruangan yang dipenuhi dengan obat-obatan serta alat-alat kimia seperti untuk eksperimen tertentu.


Kedua orang suruhan Airin langsung mengikat Tegar di keranjang dalam ruangan tersebut.


“Nona, sudah kami lakukan!  Untuk  selanjutnya kami tinggal menunggu perintah dari anda!” ucap salah satu orang tersebut.


“Ok, kalau begitu berjagalah di depan! Jangan ada seorangpun yang bisa masuk ke villa ini! Kalau ada seseorang yang memaksa ingin masuk ke villa ini segera habisi dia!” perintah Airin semakin menggila.

__ADS_1


“Baik nona! Kami berdua akan melanjutkan berjaga di depan, kalau ada perlu nona cukup menelpon kami!” ucap salah satu preman yang kelihatannya pemimpinnya. Mereka berdua melanjutkan aktivitasnya di depan.


Airin yang berada berdua di dalam kamar bersama Tegar menatap tubuh kekar Tegar dengan puas seolah ingin menelanjanginya.


“Hem…, harusnya aku lah yang bisa menikmati dan memiliki tubuh ini bukan Dilla si mantan perawat yang murahan itu!” gumam Airin puas sambil mengusap-usap tubuh Tegar dengan lembut.


Tegar yang kesadaran mulai berangsur pulih karena pengaruh obat biusnya mulai hilang, pelan-pelan membuka matanya.


“Sayang, dimanakah aku ini?” ucapnya lirih memanggil Dilla karena dirinya teringat kalau terakhir berada dalam ruang perawatan rumah sakit.


“Sayang kita berada di negeri dongeng di atas langit yang hanya kita berdua yang tahu,” tiba-tiba Airin menyahut pertanyaan Tegar.


“E.., eh... , Airin! Apa yang kau lakukan dengan tubuhku? Kenapa kamu mengikatku?” tanya Tegar dengan tubuh yang mulai lemas karena meronta sehingga menagalmi kelelahan.


“Tenanglah sayang? Aku ingin kamu bersamaku selamanya dan menceraikan Dilla si mantan perawat brengsek itu!” ucapnya sambil mengusap pipi Tegar dengan bernafsu.


“Kamu benar-benar wanita gila yang pernah aku temui! Ingatlah hubungan kita telah berakhir! Dan cinta dan kasih sayang aku hanya untuk istri dan anak-anakku!” ucap Tegar tegas sehingga membuat Airin murka.


“Plak…, sadarlah Tegar kaulah milikku dan garis hidupmu telah ditentukan untukku,” Airin langsung menampar Tegar.


“Meskipun di dunia ini hanya kamu satu-satunya perempuan aku tidak akan menikah denganmu Airin, camkan itu!” Gertak Tegar hingga Airin kembali memanas.


“Ok, kalau itu pendirianmu, untuk hari ini aku tidak akan memberimu makan! Seberapa jauh kamu akan bertahan!” ucap Airin dan terus melangkah pergi meninggalkan Tegar.


 


 


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2