
Usia kandungan Dilla sudah memasuki bulan ke 4, Dilla berencana mengadakan acara Baby Shower. Dilla ingin merayakan kehamilannya bersama teman-temannya dan kerabatnya. Dilla menginginkan perayaannya diadakan di rumah lama peninggalan mamanya yang dekat dengan danau.
Dilla mengatakan maksudnya kepada Tegar suaminya, dan Tegar menyambutnya dengan baik. Tegar menyuruh Dimas dan Mita untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dimas dan Mita langsung meluncur pergi menuju lokasi.
Dimas melibatkan beberapa karyawan hotel dan restoran untuk menata segala sesuatu yang diperlukan untuk pesta.
Setelah semuanya beres Dimas mengajak Mita pergi di tepi danau untuk menikmati pemandangan yang ada di sekitar danau. Dimas yang kelihatan serius tiba-tiba mengajak Mita duduk di tepi danau.
“Sayang…, rasakan dan resapi ini!” Dimas menggenggam tangan Mita kemudian mengarahkannya ke dadanya hingga terasa detak jantung Dimas begitu kencang membuat Mita panik. Minta kemudian menatap mata Dimas dengan penuh tanda tanya.
“Iya…, sayang aku sudah merasakan kalau itu isi hatimu terhadapku!” ucapnya dengan percaya diri.
“Sayang…, inilah gelora hatiku dan detak jantung aku semuanya ada kamu. Dengan disaksikan alam semesta ini maukah kau menjadi istriku?” ucap Dimas yang menembak langsung Mita dengan berjongkok di depannya sambil memberikan cincin yang sudah disiapkan sebelumnya. Mita saat itu juga tidak bisa berkata apa-apa hingga meneteskan air matanya sebagai tanda bahagia dalam hidupnya akan segera dimulai.
Mita menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui lamaran Dimas. Dimas yang mendapat respon baik dari Mita langsung memeluknya dan mencium keningnya.
Setelah keduanya cukup menikmati kebersamaan akhirnya memutuskan untuk menginap di villa sekitar danau di tempat terdekat rumah Dilla.
Sementara itu Dilla seharian nampak ngambek karena suaminya tidak berada di dekatnya. Sebagai pelampiasan Dila selalu memarahi kedua Putra kembarnya.
“Abiyasa…, tolong mainannya jangan dibiarkan tergeletak di lantai ya! Nanti kalau membuat mama terpeleset bagaimana! Ayo segera dibereskan bersama Adik,” perintah Dilla yang penuh emosi namun di tanggapi dengan cengiran oleh kedua putranya.
“Mama sayang kenapa ya? Betulkah ini mama kami?” ucap Abiyasa yang mendekati mamanya yang sedang terduduk di sofa ruang keluarga.
“Iya… dong, masa bukan? Mama kan yang melahirkan kamu?” ucapnya yang emosinya agak mereda.
__ADS_1
“Iya aku tau. Tapi kenapa mama marah-marah pada kami? Menurut kami itu bukan sifat mama karena biasanya mama sangat lembut memperlakukan kami,” ucap Abiyasa sambil memijit kaki mamanya.
“Maaf kan mama ya sayang? Mama lagi kesal saja, seharian papa kamu tidak kelihatan batang hidungnya! Biasanya juga makan siang ke rumah, tapi hari ini tidak pulang sama sekali,” ucap mama Dilla resah dan gelisah.
“O…, mama rindu ya sama papa? Aku telponkan sekarang ya? Biar papa cepat pulang!” tanya Abisetya kepada mamanya yang tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka berdua.
“Tidak nak! Biarkan saja paling papa juga sibuk atau ada klien penting,” ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Baiklah mama, ayo mama istirahat dulu. Aku akan mengantar mama untuk istirahat ke kamar!” ucap Abisetya. Kemudian mama Dilla pun menuruti kemauan putranya.
Setelah mengantar mamanya istirahat di kamar, Abisetya menelpon papanya. Tidak berapa lama kemudian ponselnya tersambung dengan papanya.
“Papa ada dimana? Mama dari tadi mencari papa dan merasa kalau papa tidak menghiraukan mama sama sekali. Aku mohon papa segera pulang ya?” ucap Abisetya yang tidak memberi kesempatan papanya untuk berbicara.
“Papa masih ada janji dengan klien penting nak, papa mohon kamu beritahu mama kalau sebentar lagi papa pulang!” sahut papa Tegar di seberang sana.
“Baik pa…, aku akan menyampaikan ke mama. Papa hati-hati ya?” ucap Abisetya kepada papanya.
“Baik pa…, sampai bertemu nanti. Kita tunggu papa untuk segera pulang!” ucap Abisetya kepada papanya.
“Baiklah nak, See...you!” ucap papa Tegar dan segera mengakhiri telponnya. Abisetya langsung mencari mbok Atun untuk menyiapkan semua keperluannya. Kemudian Abisetya kembali ke kamar mamanya dan lihatnya sang mama sudah tertidur pulas.
Abisetya kemudian berjalan menuju ruang tengah menghampiri Abiyasa yang sedang asyik nonton film.
“Kak…, tadi papa memberitahu kita untuk siap-siap. Papa akan mengajak kita semua menginap di rumah mama terdahulu yang dekat dengan danau,” ucap Abisetya kepada kakaknya.
“Apa betul dik? Kita ke tempat kelahiran mama? Aku sangat senang seperti itu. Di sana pemandangannya sangat sejuk. Kita juga kembali berkeliling naik kuda,” ucap Abiyasa dengan senang hati karena bisa menyatu dengan alam.
“Iya kak, ayo kita bersiap diri. Kita akan membangunkan mama setelah kita sudah siap,” ucap Abisetya kepada sang kakak.
__ADS_1
“Baiklah. Ayo kita segera mandi,” ucap Abiyasa yang langsung tanpa basa-basi kembali ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan badan.
Setelah semuanya siap mereka kembali menemui mamanya yang masih di kamar. Si kembar begitu sampai di kamar mamanya langsung naik di atas ranjang. Abisetya membisikan sesuatu ke telinga mamanya agar terbangun.
“Ma…, ayo bangun sebentar lagi papa pulang dan mengajak kita menginap di rumah mama yang dekat dengan danau,” ucap Abisetya yang berhasil membangunkan mamanya dengan hanya sekali berbisik.
“Yang benar nak…?” tanya mamanya yang masih berusaha membuka matanya.
“Iya dong ma? aku kan bukan tampang penipu?” ucap Abisetya yang berusaha tersenyum terhadap mamanya.
“Baiklah nak…, mama akan bersiap diri dulu kalian tunggu di luar ya?”ucap mama Dilla yang pelan-pelan menuju kamar mandi. Abiyasa dan Abisetya langsung ke luar dari kamar mamanya.
Tidak berapa lama papa Tegar datang dan dengan mengendap-endap masuk ke kamar dan mengunci kamarnya. Tegar yang tahu kalau istrinya berada di kamar mandi untuk menyusulnya.
“Papa…, kapan datang?” tanya Dilla yang kaget dengan kehadiran suaminya.
“Barusan…! Papa ikut mandi sekalian ya biar cepat dan kita segera berangkat menuju ke rumah kamu,” ucap papa Tegar menyakinkan istrinya.
“Terserah kakak saja yang terpenting tidak macam-macam!” ancam mama Dilla kepada suaminya. Tegar pun tersenyum simpul sebagai pertanda kalau dirinya akan dengan mudah bisa melancarkan aksinya. Tegar yang bersemangat langsung ikut masuk dalam bath up dan akhirnya sesuatu pun terjadi.
Setelah puas dengan permainannya. Tegar langsung menggendong Dilla masuk ke dalam kamar. Mereka pun bersiap untuk pergi ke kediaman Dilla yang telah dahulu.
Setelah semuanya siap Tegar langsung bergegas menuju ke rumah Dilla dengan kecepatan sedang.
Tidak berapa lama kemudian mereka sampai lokasi, ternyata begitu turun dari mobil mereka berempat sudah disambut dengan meriah oleh semua tamu dari kerabat, karyawan dan teman-teman mereka.
Dekorasinya tertata rapi dan bertuliskan istilah “Selamat atas baby showernya sehingga kelak menjadi putra yang solehah atau soleh,”
Semua itu tidak lepas dari pengamatan Dilla sehingga dirinya terharu dengan acara yang dipersiapkan oleh suaminya. Bahkan beberapa hadiah diberikannya untuk mama Dilla.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya