Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Memberatkan


__ADS_3

Setelah mengemudi kendaraannya membelah jalanan yang beraspal Tegar bersama Dilla sampai di tempat kepolisian.


Tegar dan Dilla kemudian di introgasi di ruangan khusus. Mereka berdua di introgasi oleh pihak kepolisian.


Tegar dan Dilla menjawab apa adanya tanpa dikurangi maupun di tambah.


Setelah semuanya selesai dari keterangan polisi, kasus Tegar dan Airin akan terus diproses. Semua keterangan dari berbagai saksi sangatlah  memberatkan Airin. Saudara kandungnya yang dokter pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan nya.


Airin yang masih ditahan di kantor polisi, meminta saudaranya untuk menjamin dirinya. Namun karena kasusnya begitu berat maka tidak bisa dilakukan.  Bahkan saudaranya berusaha maksimal dengan menyewa beberapa pengacara yang terkenal untuk mengurus jaminan Airin tapi yang mereka lawan adalah pengusaha terkenal seperti Tegar sehingga usaha mereka akan sia-sia.


Tegar dan Dilla karena tidak bersalah nampak santai, kemudian ke luar dari kantor polisi setelah semuanya keterangan yang diminta polisi terselesaikan dengan baik.. Tidak beberapa lama kemudian Dilla dan Tegar sudah kembali di jalanan untuk pulang. Dilla juga mengajak Tegar untuk pergi ke toko membelikan oleh-oleh untuk si kembar dan Almaira.


“Sayang aku ingin mampir ke toko terlebih dahulu membelikan mainan untuk si kembar dan Almaira. Aku kasihan dengan Almaira yang beberapa hari ini tidak saya perhatikan karena sedang mencarimu!”pinta Dilla kepada suaminya dengan baik-baik.


“Baiklah sayang,” Tegar pun dengan senang hati menuruti  yang menjadi kemauan istrinya dan selain itu dia juga tidak mau mengecewakan putra dan putrinya.


Tegar mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang untuk mencari toko mainan, dan tidak jauh dari kepolisian. Tegar yang begitu dekat dengan putra dan putrinya membelikan banyak mainan. Setelah semuanya cukup memilih mainan untuk anaknya, mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah  Dilla dan Tegar menemui putra dan putrinya yang ternyata sedang berada di teras depan sedang bermain.


"Papa pulang, papa aku kangen!" teriak Almaira dengan suaranya yang cedal langsung berlari menemui papanya. Tegar membungkukan badannya memeluk Almaira dan menciumi pipinya yang cuby.


Si kembar tidak ketinggalan juga memeluk papanya dari belakang. Si Setya bergelayut di belakang sambil berpegangan lehernya.


"Iya, papa juga kangen kalian. Putri papa semakin cantik dan jagoan papa juga semakin dewasa ya? Dan kamu Yasa dan Setya terimakasih ya nak atas usaha kalian membantu ," ucap yang Tegar menggendong Almaira menuju kamarnya. Diikuti oleh Putra kembarnya.


“Iya pa, sama-sama. Kita bertiga sangat merindukan papa. Aku kangen ketika tidur dipeluk papa,” ucap Setya yang terus bergelayut manja di belakang papanya. Yasa yang merasa dirinya paling besar hanya melihat dan memandang mereka gembira itu sudah cukup baginya.


Mereka berempat bercanda di kamar papa dan mamanya. Sementara itu Dilla menyiapkan makanan untuk mereka karena sebentar lagi makan siang.


Sementara itu yang di kamar papa dan anak saling bercanda. Almaira nampak senang berkumpul dengan papanya yang sekian hari tidak bertemu.


Si kembar juga dengan semangat bercanda dengan papanya.


"Pa, besok minggu kita pergi ke villa ya?" aku kangen suasana danau. Aku juga ingin memancing bersama papa," ucap Setya yang duduk di dekat papanya.


"Iya gpp minggu kita kesana kalau perlu kita nanti sekalian ziarah ke makam opa dan oma," jawabnya yang sedang bercanda dengan Almaira.


"Dret… ,  dret… ," tiba-tiba bunyi ponselnya berbunyi. Tegar langsung mengangkat ponselnya yang ternyata dari Dimas.


Dimas memberitahu bahwa istrinya berada di rumah sakit hendak melahirkan namun pendarahan dan memerlukan bantuan darah O.


Tegar menggendong Almaira menuju dapur untuk memberitahu Dilla, dan tanpa pikir panjang mereka berdua melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Almaira diserahkan kembali kepada pengasuhnya. almaira yang tahu keadaan hanya diam dan memandang kepergian mereka be

__ADS_1


Dilla yang kebetulan memiliki golongan darah yang sama berniat untuk mendonorkan darahnya. Tegar pun berniat sama dengan dirinya.


Sesampainya di rumah sakit mereka berdua langsung menemui Dimas, dan menyatakan kesediaannya untuk membantu istrinya.


"Terima kasih bro kamu mau membantu diriku, semoga istriku bisa tertolong, "ucap Dimas sedih.


“Sabar bro, aku yakin Mita bisa tertolong!” ucap Dilla kepada Dimas. Dilla kemudian meminta Tegar mengantarnya melihat bayi Mita.


“Wah cantik betul keponakan tante. Almaira ada temannya kak!” ucap Dilla yang melihat putri Dimas dari luar kaca.


“Pa…, kelihatannya mirip banget dengan Mita!” ucap Dilla yang kemudin mengajak Tegar menemani Dimas kembali.


Tidak lama kemudian Rara juga datang bersama Irfan. Rara langsung memeluk Dilla.


“Mita…, bagaimana keadaannya?” tanya Rara pada sahabatnya.


“Kita berdoa saja, semoga Mita baik-baik saja,” ucap Dilla kepada sahabatnya.


Tidak berapa lama kemudian, dokter yang menangani Mita keluar. Dilla langsung menemuinya untuk mengetahui keadaan Mita.


“Dokter,  Bagaimana keadaan minta sahabat saya?”  tanya Dilla yang mencemaskan sahabatnya.


“ Alhamdulilah,   keadaanya mulai membaik! Hari ini bisa dipindahkan di ruang perawaatan!” ucap Dokter memberi penjelasan. Dilla tersenyum lega.


Dila bersama Rara dengan sabar  menunggu Mita untuk siuman. Dimas yang sangat mencintai Mita tidak henti-hentinya mencucurkan air matanya.


“Sayang, Ayolah lekas siuman!  kau Lihatlah Putri kita begitu cantik seperti dirimu!” ucap Dimas sambil mengusap punggung tangan Mita.


Tidak berapa lama kemudian Mita mulai menggerak-gerakan matanya tersadar dari pingsannya.


“Kak…, Mana Putri kita? Aku ingin memeluknya!” ucap Mita lirih, kemudian Dilla yang tanggap langsung membantu Dimas untuk memeninta perawat membawa bayinya Mita untuk dibawa ke ruangannya Mita.


Perawat yang bertugas dengan cekatan membawa bayi mereka mendekati Mita. Mita nampak tersenyum puas melihat bayinya yang cantik.


“Sayang kamu begitu cantik sekali! Aku mau memberimu nama kamu dengan nama Melati secantik dirimu yang bersih. Dan besok kamu harus bisa menjadi wanita yang cantik seutuhnya dan mampu membahagiakan ibu mertuamu dengan baik!” ucap Mita sambil melirik Dilla dengan harapan besok bisa menjadikan putrinya sebagai menantunya.


“Iya…, iya aku mengerti. Sudah pasti Melati kelak akan aku jadikan menantu aku!” ucapnya terkekeh karena mengingat usia mereka masih balita. Dilla memang sengaja melakukannya agar tidak  menyinggung sahabatnya.


Setelah melihat keadaan kita mulai membaik, Dila beserta suaminya pamitan untuk pulang. Namun anehnya Melati tidak mau ditinggal seolah-olah  tidak mau lepas dari pangkuan Dilla.


Dimas kemudian meminta anaknya untuk di gendongnya dan menyerahkannya kepada perawat rumah sakit.


“Mita, kami pulang dulu! Ingat kamu harus segera sehat kembali. Kamu harus bisa merawat anak mu dengan tanganmu sendiri!” ucap Dilla yang kemudian pamitan kepada mereka berdua,

__ADS_1


Mita hanya menganggukan kepalanya karena posisinya masih lemah belum sepenuhnya pulih.


 


 


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2