Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Tidak Sengaja


__ADS_3

Setelah kakek Ardi keluar besama kedua anak kembarnya, Dilla langsung meminta Tegar untuk menandatangani berkas. Tegar kemudian mengeluarkan dokumen yang harus ditandatangani oleh Dilla. Dilla dengan percaya diri langsung menandatangani dokumen tersebut tanpa melihat isinya. Karena bagi Dilla lebih cepat selesai akan lebih baik.


“Ok, dokumen sudah selesai ditandatangani, untuk selanjutnya kita segera pergi meninjau lokasi tempat pembangunan proyek,” ucap Tegar.


“Ok, baiklah mari berangkat, Mita kau hubungi sopir kantor untuk segera bersiap diri,” perintah Dilla dengan maksud menghindari satu mobil dengan Tegar.


“Maaf bu, ternyata mobil kita lagi ada masalah. Bannya bocor,” ucap Mita yang memang sengaja Kerjasama dengan Dimas dan berniat ingin menyatukan mereka.


“Baiklah kalau begitu kita…,” belum sepat menyelesaikan perkataannya Tegar langsung menimpalinya.


“Kita jalan satu mobil saja, selain hemat juga memudahkan kita untuk segera sampai di lokasi pembanguan yang memang medannya agak jauh dari sini,” ucap Tegar yang didukung oleh Dimas.


“Iya bu Dilla, sebaiknya juga seperti itu. Jadi nanti biarkan aku yang pegang kemudi karena aku sangat menguasai lokasi itu yang kebetulan itu adalah tanah kelahiranku,” ucap Dimas sengaja mendukung keputusan atasannya.


“Baiklah, karena sudah siang aku mengikuti saja!” ucapnya kemudian terus berjalan dibelakang Tegar yang lebih dulu keluar ruangan.


Dilla masuk ke mobil bagian belakang di susul dengan Tegar. “Mita kau temani Dimas di depan ya? Jagalah dia jangan sampai mengemudi dengan kecepatan tinggi. Kebiasaan dia kalau mengemudi selalu begitu kalau tidak ada yang mengingatkan!” perintah Tegar pada Mita.


“Ya sudah, kamu duduk di depan saja sama Dimas, biar kamu bisa mengingatkannya!” ucap Dilla ketus bermaksud Mita menemaninya.


“Dia kalau sama aku tidak mempan sayang, masa iya pisang dengan pisang yang ada malah terasa hambar dan dia tidak bersemangat mengantarkan kita?” jawab Tegar yang sengaja menggodanya.


“Dasar, cari kesempatan! Dasar ceo pendendam, mesum dan arogant. Pantas saja anaknya mewarisi sifatnya!” katanya keceplosan.

__ADS_1


“Apa sayang, apa aku salah dengar? Jadi betulkan kedua anak itu darah dagingku?” tanya Tegar tanpa ada perasaan malu sedikitpun.


“Apa? Darah dagingmu? Wong dia yang lahirkan aku mana ada darah daging mu?” ucap Dilla sambil membuang mukanya kea rah candela mobil. Sementara itu Dimas nampak menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan debat bosnya dengan Dilla. Dimas tidak mau ambil pusing lagi dengan perdebatan mereka dan langsung menyalakan mobilnya dan berangkat menuju lokasi.


“A..ku kan yang mengukirnya dan berkembang di rahimmu?” bisik Tegar lirih agar tidak terdengar oleh Dimas dan Mita.


“Kau.., betul-betul laki-laki yang tidak tahu malu,” ucapnya lirih sambil pura-pura tertidur karena lokasi yang pegunungan dan jalannya menanjak akhirnya Dilla benar-benar tertidur karena menahan rasa sakit kepala akibat mabuk kendaraan. Tegar yang tidak tega melihat Dilla yang hampir membentur kaca mobil akhirnya menyenderkannya ke bahunya secara pelan-pelan.


“Dimas lokasinya masih jauh ya?” tanyanya yang berharap memang betul-betul masih jauh.


“Siap. Setengah jam lagi bos. Tapi masih lumayan lo? Manfaatkan kesempatan bos!” godanya sambil melirik spion ke belakang. Sementara itu Mita yang mendengarnya terasa risih langsung mencubitnya.


“Aduh…, sakit dik! Lama-lama kamu aku cium lo biar tahu rasa!” ancam Dimas membuat Tegar tersenyum melihat ulahnya.


“Iya…, ya. Demi kamu aku siap menjaga apapun termasuk menjaga hatimu biar hanya untuk diriku seorang!” gombalnya mulai muncul.


“Kakak mulai deh itu kita sudah sampai,” Mita mengingatkan Dimas kemudian Dimas membelokan mobilnya menuju lokasi.


“Dim, kamu sama Mita berjalan duluan saja menuju lokasi. Aku tunggu bu Dilla sampai bangun dari tidurnya ya? Kasihan kelihatannya dia agak kecapekan,” ucap Tegar yang masih berada di dalam mobil dan memeluk Dilla yang bersandar di bahunya.


“Ok…, ayo Mit kita turun dan menuju lokasi. Jangan lupa kau bawa catatan mu, nanti aku yang evaluasi proyeknya dan kamu yang mencatatnya,” Dimas membukakan pintu untuk Mita dan mereka berdua berangkat bareng menuju lokasi. Cuaca yang berkabut membuat Mita agak kedinginan hingga Dimas membuka jasnya dan memakaikannya untuk Mita.


Tegar yang masih di mobil secara tidak sengaja melihat kerah baju Dilla yang begitu rendah hingga sesuatu yang ada di dalamnya nampak menyembul keluar merangsang nafsunya. Tegar pun tidak bisa mengendalikan senjatanya yang tiba-tiba terangsang dan tanpa sadar tersentuh oleh Dilla.

__ADS_1


“Ah…, apa an ini!” ucap Dilla spontan dan langsung terbangun dari tidurnya dan melepaskan sandarannya di bahu Tegar.


“He..., he…, itu senjataku sayang, habisnya kamu memakai baju yang kerahnya terlalu rendah hingga pusaka ku terbangun dan berniat untuk mencari warangka nya!” goda Tegar hingga membuat Dilla kesal.


“Dasar Ceo mesum. Mana bisa seperti itu…,” ucapnya yang tidak dilanjutkan karena begitu melirik bajunya Dilla terkejut dan berusaha membetulkan bajunya.


“Sayang, lain kali kalau pakai baju yang sopan ya? Atau jangan-jangan kamu sengaja ya memancing aku untuk menikmati tubuhmu kembali?” tanya Tegar yang terang-terangan tanpa ada rasa untuk ditutup-tutupi dan semakin membuat Dilla bertambah kesal.


“Plak…, Dasar manusia pecundang hatinya diliputi ***** dan pendendam. Makanya hati dan perasaan tidak ada dalam jiwamu. Kau manusia iblis yang tak lebih hanya berniat untuk menyalurkan nafsumu!” ucap Dilla yang turun dari mobil dan terus berlari menuju hutan.


Tegar merasa bersalah dan menyusul Dilla yang terus berlari. Namun entah mengapa Dilla menghilang bagaikan ditelan bumi. Sudah hampir setengah jam Tegar tidak menemukan Dilla, hingga akhirnya Tegar panik dan menghubungi Dimas. “Dim, kamu segera menuju ke mobil, Dilla menghilang masuk ke dalam hutan, aku sudah mencarinya namun tidak kunjung ketemu,” ucapnya setelah ponsel Dimas di angkat.


“Bos, kok bisa begitu bukannya tadi baik-baik saja. Ok, kami akan segera kesana!” Dimas langsung menutup ponselnya dan mengajak Mita menuju ke areal parkir mobil.


“Ada apa dengan bu Dilla kak!” tanyanya cemas sambil terus berlari mengikuti Dimas sudah duluan berlari menuju parkiran.


“Bu Dilla menghilang di tengah hutan. Ayo cepetan kita bantu bos kita untuk mencarinya!” ucap Dimas yang menggandeng tangan Mita. Begitu sampai di lokasi Tegar langsung menceritakannya secara garis besar kepada Dimas dan Mita.


“Bos…, makanya kalau ngomong dijaga dan pelan-pelan! Apalagi bu Dilla hatinya pernah terluka. Kalau sudah seperti ini siapa yang merugi?” tanya Dimas kepada bosnya.


“Iya…, aku tahu. Aku yang salah. Makanya ayo segera kita cari dia karena sebentar agi gelap!” ucap Tegar semakin panik. Akhirnya mereka berempat mencari Dilla menyisir seluruh hutan dekat Resort yang mau dibangun. Sementara itu semua karyawan dikerahkan untuk mencari Dilla namun hari menjelang malam tidak ada tanda-tanda Dilla ditemukan. Tegar semakin cemas dan takut kehilangan Dilla kembali karena hampir 5 tahun dirinya berpisah dengan Dilla.


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2