Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Semakin Betah


__ADS_3

 Kehadiran Almaira membuat Tegar semakin betah di rumah, namun hal itu justru membuat Dilla semakin risih. Tegar setiap hari selalu menanyakan berakhirnya masa nifas. 


“Dik…, sudah selesai belum? Aku sudah pingin lo dik? Ini adik aku selalu ingin berontak keluar menuju sarangnya?” ucapnya tanpa basa-basi di balkon kamarnya.


“Kau itu kak, sabar kenapa? Lagian ini baru sebulan dari kelahiran Almaira?” ucapnya yang berlalu begitu saja meninggalkan Tegar. Tegar yang hasratnya tidak bisa dibendung terus membuntuti Dilla hingga ke dapur untuk mengambil minum.


“Dik…, terus ini bagaimana?” tanya Tegar yang kemudian membimbing tangan Dilla ke adik kecilnya.


“Astaga kakak! Belum waktunya kak! Terserah kakak saja mau gimana?” ucap Dilla yang kembali meninggalkan Tegar menuju kamarnya.


Tegar kembali lagi membuntutinya tapi kali ini Tegar mengambil tindakan dengan memeluk istrinya dari belakang kemudian menutup pintu kamarnya.


“Sayang aku merindukannya? Bolehkah aku…?” Tegar tidak melanjutkan kata-katanya namun langsung beraksi mencium bibir dan berlanjut ke leher jenjang Dilla. Dilla juga nampak menikmatinya namun mereka hanya melepaskan rindu dan tidak lebih. Disaat mereka lagi asyik, tiba-tiba bayi Almaira menangis hingga akhirnya Tegar menghentikan aksinya.


“Sayang, anaknya mama? Maaf sayang papa nakal ya? Sini sama mama nak!” ucap Dilla sambil mengambil putrinya dari tempat tidur untuk dipeluknya. Dilla pun memberikan asi eksklusifnya untuk putrinya tercinta.


“Sayang, papa juga mau dong?” goda Tegar kepada istrinya.


“Papa jangan ngaco ya? Itu susu papa ada di kulkas! Sudah sana pergi, jangan godain kita berdua,” ucap Dilla yang kesal dengan suaminya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi Tegar tidak bergeming dari duduknya, justru menggoda putrinya dengan mencabut minum susunya hingga Almaira menangis kembali.


“Oek…, oek...,” Almaira kembali menangis, hingga akhirnya Dilla memukul Tegar agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.


“Cup…, cup…,sayang…, maafkan papa. Papa hanya menggoda adik saja! Habisnya adik minum susu mama tapi melupakan papa!” ucap Tegar yang kembali bercanda hingga membuat Dilla mendelikkan matanya.


“Papa…, semakin meracau deh! Ayo pergi sana, antar si kembar les musik! Tadi Mita bilang tidak bisa mengantar karena ada fitting baju untuk pernikahannya nanti!” ucap Dilla kepada suaminya. Tegar tidak menunggu perintah lagi langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan bergegas memanggil putra kembarnya untuk berangkat ke tempat les.

__ADS_1


Di dalam mobil kedua Putra kembarnya wanti-wanti agar Papanya tidak ikut turun mengantarnya sok ke dalam ruangan les. Namun Tegar tidak mempedulikan apa yang disampaikan oleh putranya.  Tegar menggandeng putranya menuju ke ruang les. 


Tapi Tegar sangat terkejut ternyata di dalam sudah banyak ibu-ibu muda yang mengantar putra dan putrinya untuk mengikuti les musik.  Tegar yang memang memiliki penampilan yang sangat cakep membuat ibu-ibu muda tersebut gempar memandang Tegar. Bahkan ada beberapa ibu muda yang tiba-tiba langsung menghentikannya dan meminta foto bersama.  Bahkan mereka kelewat dekat sehingga menimbulkan sesuatu yang bisa menyulut kemarahan Dilla.


Entah darimana sumbernya Dilla menerima beberapa foto Tegar dengan ibu-ibu muda berada di medsos. Dilla cemburu melihat kedekatan Tegar dengan ibu-ibu muda tersebut, bahkan Dilla uring-uringan tidak jelas hingga membuat Rara yang barusan datang kena sasarannya hingga bingung dibuatnya. 


“Bu Dilla apa apa? Adakah yang salah dengan aku dan pekerjaanku?” tanya Rara dengan sopan.


“Makanya kita jangan mudah percaya sama orang lain, apalagi suami sendiri! Coba ini kau lihat!”ucap Dilla sambil menyodorkan beberapa foto yang ada di hp-nya kepada Rara.


“Waduh, Bu Dilla jangan  mudah percaya begitu saja,  aku yakin itu hanya buat koleksi wanita  sebagai penggemar pak Tegar. Bu Dilla sendiri juga tahu kalau pak Tegar merupakan sosok pengusaha muda yang sangat terkenal di  berbagai medsos. Pak Tegar yang tampan tentunya sangat menggoda hingga beberapa ibu muda tertarik untuk berpose dengannya,” Ucapkan Rara yang sesungguhnya hanya  memberi komentar apa adanya. Namun tanpa sengaja komennya telah menyakiti bu Dilla. 


“Rara…, itulah yang aku takut kan. Suamiku memang memiliki pesona khusus sehingga banyak wanita yang ingin menjeratnya,” ucap bu Dilla serius.


“Sudahlah bu Dilla, yang terpenting pak Tegar hanya cinta dan sayang pada anda dan keluarga!” ucap Rara berusaha menghibur teman sekaligus bosnya.


“ Iya sih, kalau memang seperti itu aku pasti akan pergi meninggalkannya?” ucap Rara yang tiba-tiba di dengar oleh Irfan yang nongol di dekat mereka.


“Hayo…, lagi diskusikan apa ya? Jangan-jangan mendiskusikan persoalan pribadi?” tanya Irfan penuh rasa curiga.


“Anu…, itu lo kak, aku ingin gendong si kecil Almaira. Entahlah aku begitu menyayanginya dan kalau pulang ke rumah meninggalkannya sangat berat sekali!” ucap Rara tenang.


“O…, Almaira? Kalau itu sih, aku juga ingin sekali menggendongnya. Pipinya yang tembem buat aku gemes! Mudah-mudahan besok anak kita terlahir cewek seperti Almaira,” ucap Irfan penuh harap.


“Iya kak! Tapi bagi aku cewek maupun cowok sama saja yang terpenting kita segera memiliki putra!” ucap Rara.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian Tegar bersama si Kembar datang, namun Dilla memasang muka manyun dan tidak mau nanya Tegar sama sekali.


Tegar dibuat heran dengan tingkah istrinya,  hingga membuat suasana menjadi panas. Rara Yang mengetahui posisi mereka berdua langsung menggendong Almaira menjauh dari mereka dengan harapan memberi peluang kepada Dilla untuk mendiskusikan masalah dengan suaminya. 


 Irfan yang mengetahui posisinya juga mengajak si kembar untuk berlatih di ruang karate.


“Yasa dan Setya ayo segera ganti baju karate! Kita berlatih di sanggar, om lama tidak berlatih! Badan om semuanya terasa pegal-pegal!” ucap Irfan yang dengan sengaja menjauhkan si kembar dari kedua orang tuanya yang kelihatannya akan ada perang Dunia ke-2. 


“Baik om…, ayo kita ke sanggar! Aku mau ambil baju aku dulu! Aku pastikan om akan kalah dengan aku dan Setya!” ucap Yasa yang tidak mau kalah dengan om Irfan tapi dirinya akan melawan om Irfan berdua dengan adiknya.


Setelah semuanya pergi, Dilla merasa sesak ketika mengingat foto Tegar dengan ibu-ibu muda. Dilla tanpa basa-basi langsung meninggalkan Tegar sendirian di ruang tengah. Tegar yang tidak mengerti sikap istrinya berusaha menghiburnya. 


Dilla yang tidak mudah dan gampang dirayu berusaha mencueki suaminya. Dilla masuk ke kamar dan hendak mengunci kamarnya dari dalam. Tegar dengan cekatan mengganjal pintu kamarnya dengan kakinya.


Tegar yang tahu istrinya marah berusaha menarik perhatian Dillla dengan memanfaatkan situasi.


“Aduh…, aduh…, sakit dik!” ucap Tegar merintih menahan sakit.


“Kakak kenapa?” ucap Dilla khawatir.


“Ini dik hatiku sakit, kamu membuat aku bingung? Kenapa kamu kelihatan marah dengan aku? Adakah sesuatu yang membuat kamu marah?” tanya Tegar penasaran.


“Ini siapa? Apakah ini tidak menyakiti aku sebagai istrimu?” ucap Dilla menangis dan bahunya terguncang menahan rasa sakitnya. 


“Ini ibu dari teman putra kita, kamu cemburu ya?” ucap Tegar langsung merengkuh Dilla dalam pelukannya.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak cemburu, tapi setidaknya kamu seharusnya menjaga perasaan aku!” Dilla masih terisak di pelukan Tegar. Tegar yang tidak tega dengan istrinya membimbingnya duduk di sofa kamar kemudian menjelaskannya hingga kedua saling percaya. 


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya? 


__ADS_2