Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Kegilaan Airin


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Tegar berada dibawah tekanan dan intimidasi Airin. Tegar diperlakukan dengan sangat baik tapi Tegar merasa tertekan dengan tingkah laku Airin yang menyimpang.


Kegilaan Airin semakin membuat Tegar muak menghadapinya. Airin memperlakukannya seolah Tegar suaminya namun masih tetap diikat di ranjang. Airin yang terobsesi dengan Tegar berusaha membangkitkan gairahnya hingga Airin bertelanjang bulat dihadapan Tegar. Namun entah mengapa Tegar tidak bereaksi sama sekali.


Airin bahkan nampak menari eksotis di hadapan Tegar dan sesekali menggesek-gesekan lembut di badan Tegar.


“Airin hentikan permainanmu ini! Aku tak segila itu! Tubuhmu tidak sebagus tubuh istriku! Dengarkan dan camkan itu Airin!” ucap Tegar yang sangat menusuk hati Airin hingga akhirnya Airin mengambil jalan pintas dengan memasukan obat perangsang ke dalam mulut Tegar secara paksa.


“Airin hentikan! Janganlah kau berbuat nekat seperti ini? Ingat Airin kamu itu masih punya masa depan. Kamu dokter yang berbakat, janganlah kau racuni bakatmu ini dengan perbuatan nista seperti ini! Masa depan kamu masih panjang Airin?” ucap Tegar yang berusaha menyadarkan Airin untuk kembali ke jalan yang benar.


“Aku tidak peduli. Masa depanku hanya dengan kamu. Kaulah segalanya bagiku!” ucap Airin yang mulai emosi sambil menahan tangisnya.


“Airin itu masalalu kita Airin? Kita terpisah juga karenamu Airin? Ayolah terimalah kenyataan. Takdir kita tidak bisa bersama Airin,” ucap Tegar yang terbata-bata berusaha menahan emosinya dan gejolak di dalam hatinya karena badannya mulai panas karena obat perangsang itu mulai berekasi.


Sementara itu hilangnya Tegar juga diketahui oleh Putra kembarnya. Seperti biasa Yasa dan Setya berusaha melacak keberadaan Tegar dengan peralatan canggihnya. Setya yang pandai merakit peralatan elektronik berhasil mengetahui keberadaan papanya.


“Bagaimana dik? Apakah kamu sudah berhasil mencari dan melacak keberadaan papa?” tanya Yasa di ruangan khusus mereka berdua.


“Ini kak, dari alat pelacak aku, papa berada di sebuah daerah pegunungan yang banyak villa di sana! Ayo kita segera melaporkan kejadian ini ke om Dimas,” ucap Setya kepada Yasa saudara kembarnya.


“Baik, ayo segera bertindak. Om Dimas kebetulan berada di luar bersama bodyguard suruhan mama,” ucap yasa yang langsung menggandeng adiknya keluar rumah menuju ruang keluarga yang sudah berkumpul dimas dan timnya.


“Siang om, ini adik sudah menemukan keberadaan papa. Ayo kita segera menolongnya, kalau tidak lekas bertindak aku takut terjadi sesuatu dengan papa!” ucap Yasa kemudian menyuruh adiknya untuk menjelaskan lokasi papanya hingga akhirnya mereka menyusun strategi untuk menyelamatkan Tegar.


“Baiklah, karena tim sudah siap maka kita segera berangkat menuju lokasi. ingat tetap waspada dan jangan ceroboh karena musuh kita ini wanita ular yang licik! Dia juga memiliki beberapa ramuan untuk membuat kita lumpuh,” ucap Dimas yang sebelumnya tahu informasi tersebut dari saudaranya Airin yaitu dokter Riyadi yang bekerja di rumah sakit Dilla.

__ADS_1


Dimas dan rombongan tidak menunggu lama dan langsung bergerak hendak menuju lokasi namun di depan pergerakan mereka diketahui oleh Dilla yang berada di Teras bersama Almaira.


“Dimas, hendak kemana kalian?” ucap Dilla yang sedang menyuapi Almaira makan.


“Kita mau menyelamatkan pak Tegar kebetulan Setya berhasil melacak keberadaan mereka,” ucap Dimas yang tergesa-gesa masuk ke dalam mobil yang sudah ada di parkiran.


“Dim…, aku ikut. Aku akan menghabisi wanita itu dengan tanganku sendiri!” ucap Dilla yang kemudian menghentikan aktivitasnya menyuapi Almaira dan menyerahkannya kepada asisten rumah tangganya dan bergegas ikut Dimas masuk ke dalam mobil bersama si kembar.


“Mama di rumah saja! Ini terlalu bahaya ma, karena musuh kita itu wanita iblis,” ucap Yasa yang memberi peringatan kepada mamanya.


“Tidak nak, mama harus ikut. Mama merasakan papa sangat membutuhkan mama!” ucap Dilla bersikeras memaksa untuk ikut.


“Baiklah bu Dilla boleh ikut tapi janganlah bergerak sendiri. Bu Dilla cukup menunggu di mobil saja ya?” ucap Dimas memberi arahan kepada nyonya besarnya.


“Ok, terserah kamu saja!” jawab Dilla.


Tidak berapa lama kemudian mereka sudah meluncur di jalanan beraspal menuju lokasi yang sudah diperoleh oleh Setya dengan pelacak onlinenya. Rombongan dua mobil yang dipimpin oleh Dimas tiba di lokasi dengan waktu kurang lebih 45 menit, yang ternyata lokasinya di puncak tidak jauh dari danau yang biasa Dilla kunjungi.


Mereka memarkirkan mobil mereka agak jauh dari lokasi agar tidak terdengar oleh penjaga suruhan Airin. Dimas mengamati pergerakan mereka dan menyuruh beberapa bodyguard untuk menyelidiki situasi yang ada di dalam namun mereka tidak ada hasil. Hingga akhirnya Dimas dengan sangat terpaksa menyuruh nyonya besarnya menyamar menjadi sales girl yang menawarkan produk rokok kepada penjaga villa.


Dilla kemudian menyuruh Dimas untuk membeli perlengkapan make up dan baju seksi untuk menerobos masuk ke dalam villa. Setelah semuanya siap Dilla turun tangan dengan Dimas sendiri yang mengantar dengan mobil dan diturunkan di depan villa tersebut kemudian berjalan menghampiri penjaga villa.


“Permisi om, ini aku punya rokok produk kusus yang bisa membuat om menikmatinya dan melupakan masalah om hingga Fly di sepanjang masa!” ucap Dilla dengan lemah gemulai menawarkan produknya. Dilla yang tampil seksi sangat memukau mereka hingga mereka tertarik untuk membeli produk tersebut. Tapi salah satu dari mereka ada yang curang berusaha menggoda Dilla hendak mengusap pipi mulus Dilla.


“Waduh…, waduh sayang, kamu sudah tidak sabaran ya? Nanti dulu kita pesta saja dulu dengan menikmati rokok ini! Sekali hisap kita akan Fly dan tentunya akan bertambah nikmat jika begituan?” ucap Dilla yang berusaha menghindar dari sikap kurang ajarnya penjaga villa suruhan Airin.

__ADS_1


“Wah cocok ini! Kita bisa bergilir menikmatinya!” ucap penjaga lain dengans angat antusias dan langsung mengambil rokok yang berada di tangan Dilla dengan paksa..


Dilla nampak menyeringai puas melihat reaksi mereka. Dilla kemudian membagikan rokok tersebut kepada mereka berdua dan menyalakan korek agar mereka bisa menghisap rokok yang Dilla sediakan.


Tidak berapa lama mereka berdua menikmati rokok tersebut dan tiba-tiba dengan beberapa hisapan mereka langsung tumbang dan pingsan karena rokoknya di ujungnya sudah diberi obat bius oleh Dilla.


“Bagus Dilla, kerja yang sangat bagus,” ucap Dilla lirih hingga akhirnya Dilla menyuruh Dimas untuk mengikat mereka di pos. Dilla tanpa pikir panjang langsung mengendap-endap masuk ke dalam villa diikuti oleh yang lainnya. Namun ternyata di dalam masih ada beberapa orang yang harus dilumpuhkan.


Menurut pengamatan Dilla dan Dimas, penjaga yang ada di dalam sangat sulit untuk ditaklukan karena mereka menggunakan senjata tembak berlaras panjang.


“Gila Dim, ternyata Airin wanita yang tidak bisa dipandang sebelah mata! Aku yakin dibalik ini pasti ada kasus lain yang menjerat Airin jikia tertangkap!” ucap Dilla penuh dengan selidik.


“Iya bu! Kita harus hati-hati menghadapinya. Kalau perlu kita harus menggunakan strategi yang menghabisi mereka tapi tidak menimbulkan suara,” ucap Dimas santai kemudian bergulung-gulung menghampiri mereka tanpa meninggalkan suara menyerang dari belakang salah satu dari mereka.


“Bukg…,” Dimas memukul tengkuknya bagian belakang hingga pingsan namun sayang karena berat musuh yang jatuh pingsan sangat berbobot jadi menimbulkan suara dan terdengar oleh musuh yang lainnya.


“Siapa itu?” ucap penjaga tersebut.


“Meong…, meong,” suara kucing yang kebetulan berada di dekatnya.


“Ternyata hanya seekor kucing,” ucapnya lirih dan duduk kembali di ruang tamu.


Tidak berapa lama kemudian Dimas sudah berada di depannya dan adu duel dengannya yang kebetulan penjaga ini tidak bersenjata seperti yang satunya yang telah menggunakan tembak laras panjang yang digunakan untuk berjaga.


Dimas duet berbaku hantam dengan penjaga tersebut, dan Dilla yang sudah berada di dalam rumah berusaha mencari Tegar dengan memeriksa beberapa kamar hingga akhirnya menemukan kamar dimana mereka berada.

__ADS_1


Dilla menghela nafasnya melihat keberadaan suaminya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?


__ADS_2