Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Cemburu


__ADS_3

Setelah insiden di lorong perusahaan, Tegar membawa kedua putranya dan Dilla meluncur ke mall untuk bermain di dunia mainan. Yasa dan Setya bermain dengan senang. Tegar bersama Dilla nunggu di café dengan memesan minuman dan makanan ringan. Dilla duduk menyandarkan kepalanya ke bahu Tegar sedangkan Tegar mengelus-elus pipi Dilla. Mereka berdua seolah-olah kembali mengenang masa mudanya. Sementara itu Dimas dan Mita kencan sendiri entah kemana.


“Sayang, kau lihatlah mereka berdua sangat senang dan gembira. Kedua putra kita nampak dominan diantara anak-anak yang lain. Terimakasih sayang, kau mendidiknya dengan baik,” ucap Tegar sambil mengecup kening Dilla.


“Iya, aku membesarkannya dibantu dengan tante Nadia dan kak Irfan. Aku sangat berterimakasih dengan mereka berdua yang bisa mengajari aku hidup ikhlas dan sabar menerima keadaan,” ucap Dilla yang masih dalam pelukan Tegar tanpa sengaja menyinggung perasaan Tegar.


“Begitu berarti kah mereka berdua untukmu?” ucapnya penuh cemburu hingga akhirnya Dilla mendongakkan wajahnya menatap Tegar.


“Kamu cemburu dengan kak Irfan?” tanya Dilla dengan matanya yang sayu menatap Tegar hingga Tegar luluh lantah dibuatnya. Pelan-pelan Tegar mengusap pipi Dilla yang merah merona.


“Tidak, aku tidak cemburu. Aku ingin berterimakasih kepada mereka berdua terutama tante Nadia. Bolehkah aku bertemu dengannya?” tanyanya kembali berusaha menenangkan Dilla.


“Boleh, tapi tante Nadia pindah ke luar negeri tepatnya di Belanda. Kamu bisa menemuinya kalau kunjungan kerja ke negeri Belanda,” ucap Dilla menyakinkan Tegar. Disaat mereka asyik ngobrol ada sepasang kekasih menyapanya.


“Pak Tegar? Ini calon istrinya ya? Perkenalkan ini calon istri saya!”ucap Rahardi yang bingung menatap Dilla karena menurutnya calon istri pak Tegar mirip dengan Brenda calon istrinya. Brenda yang sedang berada dalam pelukan Rahardi langsung menghampirinya.


“Kak Dilla perkenalkan ini calon suami aku namanya pak Rahardi,” ucap Brenda grogi sambil menghampiri kakaknya kemudian memeluknya.


“Baguslah kalau begitu.” Ucap Dilla sambil memperkenalkan dirinya kepada mereka. “Aku titipkan adik aku ke kamu, dan aku mohon jangan kau sia-siakan dirinya hanya karena orang lain. Camkan itu!” ancam Dilla kepada pak Rahardi.


“Dilla? Apa betul kamu Dilla Sanjaya? Dan kalian berdua bersaudara? Masihkah kamu ingat denganku? Rahardi Arwana kakak kelasmu dulu waktu SMA,” ucap Rahardi tiba-tiba sambil mengernyitkan dahinya karena tidak percaya bisa bertemu dengan Dilla Sanjaya adik kelasnya waktu SMA dan waktu itu adalah cinta pertamanya.

__ADS_1


“Iya, dia adik aku. Eh…, tunggu dulu, kak Rahardi Arwana kah? Ketua OSIS SMA Putra Bangsa?” ucap Dilla sambil mengingatnya.


“Wah, pak Tegar beruntung bisa dapatkan primadona di sekolah kita. Dia itu cantik, supel dan pintar di sekolah kita sehingga banyak laki-laki berebutan ingin berpacaran dengannya namun dianya cuek sekali!” cerita Rahardi namun tidak sadar membuat Tegar cemburu.


“Iya terimakasih. Kami berdua bulan depan akan segera menikah. Dan mudah-mudahan kamu sama Brenda juga segera menikah!” ucapnya sambil memeluk Dilla dan mencium keningnya di hadapan mereka berdua.


“Astaga, ini kak Tegar bener-bener tidak ada akhlak. Semua orang juga tahu itu, kenapa main cium saja dihadapan orang lain,” gumam Dilla mukanya memerah karena menahan malu.


“Pak Rahardi ayo gabung dengan kita. Kita harus merayakan moments penting ini!” ucap Tegar kepada Rahardi. Kemudian Tegar langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan.


Rahardi yang memang rekan bisnis Tegar tidak mampu untuk menolaknya. Mereka berempat makan bersama sambil ngobrol tentang bisnis dan keluarga mereka.


“Bener-bener beruntung pak Tegar mendapatkan calon istri seperti Dilla, andaikan waktu itu aku bisa mendapatkannya pasti akan aku bahagiakan,” lamun Rahardi hingga secara tak sengaja membuat Brenda kesal.


“Sayang, apa yang kamu pikirkan?” tanya Brenda sambil menarik-narik kemeja Rahardi.


“Tidak ada kok sayang, aku hanya kepikiran kalau tadi aku ada janji dengan relasi perusahaan untuk membahas kerjasama kita,” ucapnya lirih karena sesungguhnya dirinya tidak kuat menahan cemburu melihat kemesraan antar Tegar dan Dilla.


“Ya sudah kalau begitu kita pulang saja,” rengek Brenda langsung berdiri pamitan untuk pergi.


“Kak, maaf kita pulang dulu. Terimakasih jamuan makannya!” Brenda menghampiri Dilla kemudian mencium pipi kakaknya sebelum pergi.

__ADS_1


Namun sebelum melangkah pergi tiba-tiba si kembar Yasa dan Setya muncul. “Tante…, tante genit kok ada di sini? Tante mau ganggu papa tampan aku ya?” ucap Setya tiba-tiba hingga Brenda merasa malu mendengarnya. Rahardi melirik Brenda yang merasa canggung. Dilla yang mengetahui situasinya tidak enak langsung mencairkan suasananya.


“Sayang, kamu tidak boleh begitu? Mana bisa seperti itu, tante Brenda kan saudara mama? Kak Rahardi jangan diambil hati perkataan putraku ya? Mereka hanyalah anak-anak yang sangat mencintai papanya jadi terlalu protektif jika ada perempuan lain selain mamanya,” ucap Dilla bijak yang justru membuat Rahardi kagum. Dilla menggandeng Setya untuk duduk di dekatnya karena tidak ingin Setya semakin merancau bicaranya.


“Tidak apa-apa! Namanya juga anak kecil. Untuk sementara kita izin pulang karena ada kepentingan. Untuk lain kali kitab isa berkumpul kembali. Dan anak tampan salam kenal dari om dan tante ya?” Rahardi berusaha mendekati Setya dan Yasa. Dan Rahardi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberi mereka coklat.


“Terimakasih om! Lain kali kita main game bersama ya?” ucap Yasa yang berusaha mengenal Rahardi dengan baik.


“Ok, sampai ketemu lain kali,” Rahardi pamit langsung pergi meninggalkan mereka dan menggandeng mesra Brenda.


“Sayang, kamu dulu pacaran ya sama kak Dilla?” tanya Brenda penuh dengan kecemburuan.


“Tidak, aku dan dia hanya sebatas teman dalam organisasi OSIS di sekolah dan dia termasuk siswi yang cerdas dan berperan penting dalam setiap kegiatan OSIS. Kamu cemburu ya? Masa cemburu sama kakak sendiri? Sudahlah sayang cinta dan kasih sayang ku hanya untukmu!Ayo kita pulang!” Rahardi langsung membimbing Brenda masuk ke mobilnya.


Sementara itu Setya protes sama mamanya, karena dirinya merasa kalau Brenda itu jahat dan tidak bisa diberi hati. Karena menurutnya Brenda itu manusia ular dan tidak bisa diberi kelonggaran.


“Ma, kenapa sih mama itu jadi orang baik sekali. Mama terlalu lunak sama orang yang pernah membuat mama menderita,” ucap Setya protes.


“Tidak apa-apa, janganlah setiap kejahatan itu kita balas dengan kejahatan pula. Siapa tahu kalua kita balas dengan kebaikan bisa merubah kebiasaan jahatnya menjadi kebaikan,” ucap Dilla memberi nasehat kepada putranya hingga Tegar semakin mengagumi Dilla.


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2