Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Terpental Jatuh


__ADS_3

Sementara itu perjuangan Abisetya untuk


mencapai puncak kenikmatan terbayar dengan puasnya merekaa berdua mencapai


puncak kenikmatan bersama-sama. Abisetya merasa belum puas dengan sekali


berhubungan. Menjelang dini hari, Abisetya terbangun dan melihat Liana masih


pulas dengan tidurnya. Abisetya memandangi wajah Liana yang polos dan mengusap


pipinya yang merah.


“Sayang, kau memang benar-benar cantik!


Aku sangat menynyangi mu!” bisik Abisetya kepada istrinya. Liana yang merasa


seolah dirinya mimpi diperlakukan kaya permaisuri oleh raja hanya mengliatkan


tubuhnya. Namun pergerakan tubuhnya yang polos membuat pergesekan dengan tubuh


Abisetya yang masih bertelanjang dada. Seketika itu juga adik kecil milik


Abisetya terbangun tak urung berusaha mencari sarangnya.


“Sayang, kau benar-benar membuat aku


kecanduan!” bisiknya langsung pelan-pelan merangkak diatas tubuh Liana hingga


membuat Liana terbangun yang secara reflek tiba-tiba menendang Abisetya hingga


terpental jatuh dari atas ranjangnya.


“Buk…, Ach…! Sakit sayang!” ucap Abisetya


yang berisik sehingga membangunkan Liana dari tidurnya. Liana yang tahu dirinya


membuat suaminya tejatuh dengan pergerakn tegesa-gesa turun dari ranjangnya.


Tubuh Liana yang seksi tanpa sehelai benangpun menarik perhatian Abisetya.


Abisetya dengan acktingnya melajutkan


rasa kesakitannya untuk menarik perhatian Liana. Liana menghampiri suaminya


yang terjatuh dan masih tergeletak di lantai dengan memegangi pinggangnya.


“Sayang, maaf kan aku? Aku masih belum


terbiasa tidur dengan kamu! Aku belum sadar kalau aku sudah menikah dan tidur


sama kamu,” ucap Liana yang duduk jongkok menghampiri suaminya.


Abisetya yang nakal justru memanfaatkan


event tersebut untuk merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. Abisetya dengan


nakalanya mengecup seluruh tubuh Liana hingga Liana mengeliat kegelian dan


kenikmatan.


“Ini balsan kamu menendang suamimu! Ternyata


benar apa yang dikatakan kakak kalau kamu bisa beladiri. Tendangan kamu sungguh


mematikan. Untung tidak mengenai burung kakak,” ucap Abisetya yang terus


melanjutkan pergerakannya tanpa ampun.


“Sayang, kamu apa an? Aku tidak kuat


sayang?” bisik Liana di telinga suaminya. Hingga akhirnya Abisetya menggendong


Liana menuju ranjang kembali.


“Liana sayang ayo kamu ucapkan ke kakak,


aku mau lagi sayang?” bisik Abisetya terhadap istrinya. Liana yang malu tidak


mau dan hanya terdiam dan menggeliatkan tubuhnya.


“Kak…, tolong jangan siksa aku,” ucap


Liana yang masih dalam pelukan suaminya.


“Ayo katakana sayangku? Aku akan


mengajakmu terbang ke surga kembali,”ucap Abisetya dengan tegasnya. Liana yang


tidak betah lagi langsung menuruti apa yang dimu suaminya.

__ADS_1


“Abang sayang, ayo dong satu kali lagi?”


ucap Liana agak tercekat di tenggorokannya hingga suaranya terdengar seksi oleh


Abisetya.


“Bagus sayang, aku akan memulainya,”


Abisetya membaringkan tubuh Liana di tepi ranjang hingga kakinya masih


menyentuh lantai. Dengan pergerakan pasti dan pelan Abisetya memasukan


senjatanya menuju warangkanya. Liana pun mendesah dan menjerit dengan kepuasan.


“Bagus sayang aku suka dengan suara


seksi kamu!” bisik Abisetya tanpa menghentikan gerakannya hingga mereka berdua


terbawa menuju kenikmatan berkali-kali hingga berganti-ganti pose.


Aktivitas mereka terhenti tak kala adzan


subuh berkumandang hingga mereka terklai lemas di atas ranjang. Abisetya


berbaring lemas disammping istrinya dan sesekali memandangi istrinya yang


kembali terlelap. Abisetya dengan pelan membangunkan istrinya untuk mandi dan


sholat subuh.


Liana yang manja nampak hanya


menggeliat saja, maka dengan pergerakan yang reflek Abisetya menggendong


istrinya menuju ke kamar mandi. Abisetya memasukan tubuh istrinya ke dalam bath


up dan menyalakaan airnya. Liana pun terbangun dengan air yang sudah membasahi


tubuhnya.


“Sayang, ini sangat perih,” bisiknya


manja terhadap suaminya.


“Tidak apa-apa sayang, in ikan baru


pertama!” ucap Abisetya menjelaskan kepada istrinya.


sambil menangis.


“Sudah tidak apa-apa! Ayo segera


bersihkan tubuhmu! Kita akan sholat subuh berjamaah di mushola,” bisik Abisetya


terhadap istrinya. Karena tidak ada pergerakan dari Liana, akhirnya Abisetya


memandikan istrinya. Namun sayang lagi-lagi adik kecilnya menegang dan tak


pelak memasukannya lagi ke dalam wadahnya. Liana yang tadinya mengeluh sakit


tiba-tiba mendesah penuh kenikmatan. Mereka berdua akhirnya melakukannya lagi


hingga mereka berdua akhirnya memutuskan untuk sholat subuh di kamar.


“Kak…, aku buat jalan sakit!” bisik


Liana yang berusaha berjalan dari kamar mandi menuju ke ranjang.


“Sudahlah sini kakak gendong,” Abisetya


dengan cekatan menggendong tubuh Liana untuk didudukan di tepi ranjang.


Abisetya dengan telaten mencarikan pakaian ganti untuk istrinya. Abisetya juga


mengeringkan rambut istrinya setelah itu mereka melakukan sholat subuh.


Setelah sholat subuh Abisetya memesan


makanan ringan dan minuman panas untuk istrinya. Dan tak lama kemudian


pesanannya datang.


“Sayang, ayo kamu makan dulu cemilan


ini untuk mengisi perut kamu yang kosong. Sebentar lagi kita butuh tenaga ekstra


untuk bertempur lagi!” bisik Abisetya sambil menuangkan the hangat di cangkir.


“Kakak, apaan sih kak! Emangnya kita

__ADS_1


akan perang?” tanya Liana sambil mendelikan matanya di depan suaminya nmaun yang


ada justru membuat Abisety gemas terhadap istrinya. Abisetya dengan tiba-tiba


mengangkat dagu istrinya kemudian ******* bibir istrinya untuk kesekian


kalinya.


Liana berusha melepas pagutan suaminya,


di saat Abisetya lengah Liana langsung menarik dirinya dari serbuan dan srangan


suaminya.


“Kakak, apaan sih kak! Katanya suruh


makan dan minum dulu!” ucap Liana sambil memenayunkan bibirnya.


“He…, he…., habisnya bibir kamu manis


dik! Bahkan gula ini saja kalah manis dengan bibirmu!” ucap Abisetya yang


memang sudah kecanduan dengan merahnya bibir Liana.


“Kakak, emangnya Liana candumu apa!”


ucap Liana sambil merengut.


“Tentu dong sayang, kau canduku. Aku


sayang kamu dan aku akan selalu menjagamu selamanya! Dan satu lagi aku senang


kamu bisa menjaga milikmu hingga sepeuhnya kau serahkan utnukku!” ucap Abisetya


penuh makna.


Liana hanya tersipu malu mendengar


ucapan suaminya. Liana hanya menundukan wajahnya karena tidak ingin wajahnya


yang mulai berubah merah terlihat di hadapan suaminya.


“Sayang kalau seperti ini kamu


kelihatan cantik, aku suka denganmu! Aku cinta dan sayang sama kamu! Ayo kita


lanjutkan lagi ya?’ ucap Abisetya dengan gerakan matanya yang mesum menatap


tubuh istrinya.


“Ih…, sayang aku butuh tenaga? Aku


lapar,” ucap Liana polos yang kemudian disusul suara yang bunyi dalam perutnya.


“Kruk…., kruk! Tuh kan perut aku bunyi?”


bisik Liana malu sambil memegangi perutnya yang kosong.


“Tanang sayang, suami kau akan memesankan


makanan yang enak dan bergizi untuk kamu!” ucap Abisetya disusul dengan suara


jemarinya yang mengetik nomor di ponselnya. Kemudian terdengar suara dari


seseorang di seberang yang tak lain chef dari hotelnya.


“Baik pak, pesanan bapak akan kai


laksanakan,” ucap chef dari hotelnya.


“Tunggu ya sayang, pasti satu jam lagi


hidangan yang kamu suka pasti akan segera tersajikan! Dan dijamin kamu akan puas


so jadi kalau kamu puas gentian kamu memuaskan suamimu ini!” bisik Abisetya


dengan mata nakalnya menggoda istrinya.


“Kakak, mesti deh. Pikirannya mesum


melulu!” ucap Liana yang hendak berdiri menuju sofa.


“Ach…, sakit!” katanya yang baru saja


berdiri dan hendak meanpakan kakinya berjalan. Abisetya tanpa menunggu aba-aba


langsung menggendong istrinya kemudian mendudukannya di sofa.


Terimakasih para pembaca yang setia,

__ADS_1


atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita


terus mengikuti kisahnya ya?


__ADS_2