
Sementara itu perjuangan Abisetya untuk
mencapai puncak kenikmatan terbayar dengan puasnya merekaa berdua mencapai
puncak kenikmatan bersama-sama. Abisetya merasa belum puas dengan sekali
berhubungan. Menjelang dini hari, Abisetya terbangun dan melihat Liana masih
pulas dengan tidurnya. Abisetya memandangi wajah Liana yang polos dan mengusap
pipinya yang merah.
“Sayang, kau memang benar-benar cantik!
Aku sangat menynyangi mu!” bisik Abisetya kepada istrinya. Liana yang merasa
seolah dirinya mimpi diperlakukan kaya permaisuri oleh raja hanya mengliatkan
tubuhnya. Namun pergerakan tubuhnya yang polos membuat pergesekan dengan tubuh
Abisetya yang masih bertelanjang dada. Seketika itu juga adik kecil milik
Abisetya terbangun tak urung berusaha mencari sarangnya.
“Sayang, kau benar-benar membuat aku
kecanduan!” bisiknya langsung pelan-pelan merangkak diatas tubuh Liana hingga
membuat Liana terbangun yang secara reflek tiba-tiba menendang Abisetya hingga
terpental jatuh dari atas ranjangnya.
“Buk…, Ach…! Sakit sayang!” ucap Abisetya
yang berisik sehingga membangunkan Liana dari tidurnya. Liana yang tahu dirinya
membuat suaminya tejatuh dengan pergerakn tegesa-gesa turun dari ranjangnya.
Tubuh Liana yang seksi tanpa sehelai benangpun menarik perhatian Abisetya.
Abisetya dengan acktingnya melajutkan
rasa kesakitannya untuk menarik perhatian Liana. Liana menghampiri suaminya
yang terjatuh dan masih tergeletak di lantai dengan memegangi pinggangnya.
“Sayang, maaf kan aku? Aku masih belum
terbiasa tidur dengan kamu! Aku belum sadar kalau aku sudah menikah dan tidur
sama kamu,” ucap Liana yang duduk jongkok menghampiri suaminya.
Abisetya yang nakal justru memanfaatkan
event tersebut untuk merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. Abisetya dengan
nakalanya mengecup seluruh tubuh Liana hingga Liana mengeliat kegelian dan
kenikmatan.
“Ini balsan kamu menendang suamimu! Ternyata
benar apa yang dikatakan kakak kalau kamu bisa beladiri. Tendangan kamu sungguh
mematikan. Untung tidak mengenai burung kakak,” ucap Abisetya yang terus
melanjutkan pergerakannya tanpa ampun.
“Sayang, kamu apa an? Aku tidak kuat
sayang?” bisik Liana di telinga suaminya. Hingga akhirnya Abisetya menggendong
Liana menuju ranjang kembali.
“Liana sayang ayo kamu ucapkan ke kakak,
aku mau lagi sayang?” bisik Abisetya terhadap istrinya. Liana yang malu tidak
mau dan hanya terdiam dan menggeliatkan tubuhnya.
“Kak…, tolong jangan siksa aku,” ucap
Liana yang masih dalam pelukan suaminya.
“Ayo katakana sayangku? Aku akan
mengajakmu terbang ke surga kembali,”ucap Abisetya dengan tegasnya. Liana yang
tidak betah lagi langsung menuruti apa yang dimu suaminya.
__ADS_1
“Abang sayang, ayo dong satu kali lagi?”
ucap Liana agak tercekat di tenggorokannya hingga suaranya terdengar seksi oleh
Abisetya.
“Bagus sayang, aku akan memulainya,”
Abisetya membaringkan tubuh Liana di tepi ranjang hingga kakinya masih
menyentuh lantai. Dengan pergerakan pasti dan pelan Abisetya memasukan
senjatanya menuju warangkanya. Liana pun mendesah dan menjerit dengan kepuasan.
“Bagus sayang aku suka dengan suara
seksi kamu!” bisik Abisetya tanpa menghentikan gerakannya hingga mereka berdua
terbawa menuju kenikmatan berkali-kali hingga berganti-ganti pose.
Aktivitas mereka terhenti tak kala adzan
subuh berkumandang hingga mereka terklai lemas di atas ranjang. Abisetya
berbaring lemas disammping istrinya dan sesekali memandangi istrinya yang
kembali terlelap. Abisetya dengan pelan membangunkan istrinya untuk mandi dan
sholat subuh.
Liana yang manja nampak hanya
menggeliat saja, maka dengan pergerakan yang reflek Abisetya menggendong
istrinya menuju ke kamar mandi. Abisetya memasukan tubuh istrinya ke dalam bath
up dan menyalakaan airnya. Liana pun terbangun dengan air yang sudah membasahi
tubuhnya.
“Sayang, ini sangat perih,” bisiknya
manja terhadap suaminya.
“Tidak apa-apa sayang, in ikan baru
pertama!” ucap Abisetya menjelaskan kepada istrinya.
sambil menangis.
“Sudah tidak apa-apa! Ayo segera
bersihkan tubuhmu! Kita akan sholat subuh berjamaah di mushola,” bisik Abisetya
terhadap istrinya. Karena tidak ada pergerakan dari Liana, akhirnya Abisetya
memandikan istrinya. Namun sayang lagi-lagi adik kecilnya menegang dan tak
pelak memasukannya lagi ke dalam wadahnya. Liana yang tadinya mengeluh sakit
tiba-tiba mendesah penuh kenikmatan. Mereka berdua akhirnya melakukannya lagi
hingga mereka berdua akhirnya memutuskan untuk sholat subuh di kamar.
“Kak…, aku buat jalan sakit!” bisik
Liana yang berusaha berjalan dari kamar mandi menuju ke ranjang.
“Sudahlah sini kakak gendong,” Abisetya
dengan cekatan menggendong tubuh Liana untuk didudukan di tepi ranjang.
Abisetya dengan telaten mencarikan pakaian ganti untuk istrinya. Abisetya juga
mengeringkan rambut istrinya setelah itu mereka melakukan sholat subuh.
Setelah sholat subuh Abisetya memesan
makanan ringan dan minuman panas untuk istrinya. Dan tak lama kemudian
pesanannya datang.
“Sayang, ayo kamu makan dulu cemilan
ini untuk mengisi perut kamu yang kosong. Sebentar lagi kita butuh tenaga ekstra
untuk bertempur lagi!” bisik Abisetya sambil menuangkan the hangat di cangkir.
“Kakak, apaan sih kak! Emangnya kita
__ADS_1
akan perang?” tanya Liana sambil mendelikan matanya di depan suaminya nmaun yang
ada justru membuat Abisety gemas terhadap istrinya. Abisetya dengan tiba-tiba
mengangkat dagu istrinya kemudian ******* bibir istrinya untuk kesekian
kalinya.
Liana berusha melepas pagutan suaminya,
di saat Abisetya lengah Liana langsung menarik dirinya dari serbuan dan srangan
suaminya.
“Kakak, apaan sih kak! Katanya suruh
makan dan minum dulu!” ucap Liana sambil memenayunkan bibirnya.
“He…, he…., habisnya bibir kamu manis
dik! Bahkan gula ini saja kalah manis dengan bibirmu!” ucap Abisetya yang
memang sudah kecanduan dengan merahnya bibir Liana.
“Kakak, emangnya Liana candumu apa!”
ucap Liana sambil merengut.
“Tentu dong sayang, kau canduku. Aku
sayang kamu dan aku akan selalu menjagamu selamanya! Dan satu lagi aku senang
kamu bisa menjaga milikmu hingga sepeuhnya kau serahkan utnukku!” ucap Abisetya
penuh makna.
Liana hanya tersipu malu mendengar
ucapan suaminya. Liana hanya menundukan wajahnya karena tidak ingin wajahnya
yang mulai berubah merah terlihat di hadapan suaminya.
“Sayang kalau seperti ini kamu
kelihatan cantik, aku suka denganmu! Aku cinta dan sayang sama kamu! Ayo kita
lanjutkan lagi ya?’ ucap Abisetya dengan gerakan matanya yang mesum menatap
tubuh istrinya.
“Ih…, sayang aku butuh tenaga? Aku
lapar,” ucap Liana polos yang kemudian disusul suara yang bunyi dalam perutnya.
“Kruk…., kruk! Tuh kan perut aku bunyi?”
bisik Liana malu sambil memegangi perutnya yang kosong.
“Tanang sayang, suami kau akan memesankan
makanan yang enak dan bergizi untuk kamu!” ucap Abisetya disusul dengan suara
jemarinya yang mengetik nomor di ponselnya. Kemudian terdengar suara dari
seseorang di seberang yang tak lain chef dari hotelnya.
“Baik pak, pesanan bapak akan kai
laksanakan,” ucap chef dari hotelnya.
“Tunggu ya sayang, pasti satu jam lagi
hidangan yang kamu suka pasti akan segera tersajikan! Dan dijamin kamu akan puas
so jadi kalau kamu puas gentian kamu memuaskan suamimu ini!” bisik Abisetya
dengan mata nakalnya menggoda istrinya.
“Kakak, mesti deh. Pikirannya mesum
melulu!” ucap Liana yang hendak berdiri menuju sofa.
“Ach…, sakit!” katanya yang baru saja
berdiri dan hendak meanpakan kakinya berjalan. Abisetya tanpa menunggu aba-aba
langsung menggendong istrinya kemudian mendudukannya di sofa.
Terimakasih para pembaca yang setia,
__ADS_1
atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita
terus mengikuti kisahnya ya?