
Tegar keluar kamarnya Dilla dan putranya dengan perasaan tidak menentu. Tegar menelpon Dimas untuk mengajaknya pulang. Tidak lama kemudian Dimas menghampiri bosnya dan pulang bersama-sama. Tegar menunjukan wajah yang kesal hingga menarik perhatian Dimas.
“Bos, kenapa wajahnya kelihatan begitu kesal? Apa bu Dilla menolaknya bos?” tanyanya semakin membuat Tegar kesal.
“Itu kamu tahu? Aku sudah usaha tapi pertahanannya sangat kokoh dan sulit untuk dirobohkan,” ucapnya yang masih menerawang membayangkan wajah cantik Dilla.
“Kalau sulit ya yang sabar to bos? Batu karang saja yang keras kalau kena air setetes demi tetes lama-lama juga akan hancur!” ucap Dimas sok menasehati bosnya. Tegar bengong melihat Dimas kemudian menonjok lengannya.
“Tumben, kau waras. Kau sendiri bagaimana apakah Mita mau menerima kamu?” Tegar bertanya balik pada Dimas.
“Kalau itu tidak usah ditanyakan lagi bos, Mita dan aku siap menikah. Aku akan segera melamarnya dan menemui keluarganya,” ucap Dimas percaya diri.
“Memangnya kamu sudah nembak dia?” Tegar kembali bertanya.
“Wah kalau itu tidak usah diragukan lagi bos, dari bahasa kalbunya dia juga suka sama aku,” ucap Dimas sambil membelokkan mobilnya menuju halaman rumah Tegar. Mereka berdua kemudian masuk ke rumah namun tiba-tiba Dimas izin mau pulang ke apartemennya karena ada mamanya datang dari kampungnya.
Tegar malam ini tidak bisa tidur, Tegar membuka beberapa foto dan video waktu pesta ulang tahunnya Dilla yang dikirim oleh Dimas dan Setya. Tegar mendesah panjang kemudian membayangkan kalau dirinya bersama Dilla dan kedua putranya bermain di puncak menikmati indahnya pemandangan di gunung. “Sayang, aku akan tetap mengejar mu. Aku tidak akan berhenti sampai kau luluh dan takluk dengan kebesaran cinta kita. Aku yang salah dan aku yang akan memperbaikinya,” gumamnya lirih.
Tegar kemudian melangkah ke balkon kamarnya memandang langit yang penuh dengan bintang. Rasa sesalnya karena dendam yang tidak jelas terhadap Dilla yang punya hati tulus padanya telah merusak cinta dan kepercayaan Dilla padanya. Andai waktu bisa diputar ulang Tegar akan menyelidiki penyebab Dilla menolak dirinya. Tidak berapa lama kemudian Tegar baru bisa memejamkan matanya tertidur di ranjangnya.
Suara adzan sayup-sayup masuk ke kamarnya hingga membuat dia terbangun dan berjalan ke mushola untuk sholat subuh. Tegar nampak berbeda dengan Tegar yang dulu. Perubahan tersebut tidak lepas dari pantauan ayah Ardi .
__ADS_1
Tegar bersiap diri untuk ke kantor. Tegar nampak memakai pakaian yang begitu rapi dengan gayanya yang maskulin.
Tegar menuju ruang makan dan duduk di sebelah ayah. Tegar mengambil sepotong roti untuk dimasukan dalam mulutnya.
Ayah Ardi memulai pembicaraan tentang Dilla dan kedua putranya. “Nak, bagaimana acara mu tadi malam bersama Dilla?” tanyanya.
“Acaranya sih lancar yah, tapi kisah ku masih perlu diperjuangkan. Dilla belum bisa menerimaku sebagi ayah dari putranya,” ucapnya sambil menikmati sepotong roti untuk sarapan.
“Sabar nak, ayah yakin Dilla akan menerimamu kembali dan kalian bisa bersatu menjadi keluarga utuh. Lihatlah Yasa dan Setya mereka anak yang cerdas dan jenius. Kalau ayah lihat mereka berharap untuk menyatukan mamanya denganmu. Ayah berharap kamu mau berjuang dan tidak menyerah. Ini semua data tentang Dilla dan kegiatannya tertulis di situ,” ucap ayah Ardi sambil menyerahkan satu berkas kepada Tegar.
“Wah ini menarik sekali ayah, terimakasih ternyata kau kalah cepat dengan ayah. Hari ini dai akan pergi kantormu dan akan meninjau proyek yang kalian tandatangani kerjasamanya,” manfaatkan kesempatan tersebut. Ingat kesempatan tidak akan datang terulang kembali.
“Siap ayah, aku berangkat dulu. Jangan lupa ayah nanti ke kantor dan ajaklah si kembar ke luar agar aku lebih banyak waktunya bersama mamanya,” ucap Tegar semangat dan penuh percaya diri. Sementara itu Dimas sudah berada di luar menjemputnya karena semalam dimas pulang dengan mobil Tegar.
“Bukan hanya lotre, tapi kesempatan emas. Hari ini aku mau bertemu dengan kekasih hati. Kita akan mengunjungi proyek yang kita bangun bersama-sama. Dan yang lebih mengejutkan lagi Dilla akan pergi ke kantor terlebih dahulu untuk menandatangani berkas,” ucapnya senang.
“Kalau itu kan aku sudah tahu bos, bukannya bos kemarin sudah saya beritahu?” ucap Dimas sambil terus fokus mengemudi.
“Apa iya? Ah…, sudahlah yang terpenting kita nanti perginya berempat ke tempat proyeknya,” Tegar semakin senang.
“Lo…, terus si kembar mau dikemanakan?” tanya Dimas tidak percaya.
__ADS_1
“Ayah Ardi janji akan mengajak mereka bermain ke luar dan ayah memberi kesempatan penuh padaku untuk terus berdekatan dengan Dilla dan kamu harus berusaha memisahkan Mita dengan Dilla ya? terserah pokoknya itu tugas kamu!” Tegar dengan semangat mengungkapkan rencananya.
“Siap…, pokoknya serahkan semuanya padaku bos. Aku jamin bos akan senang!” Dimas nampak memikirkan sesuatu.
“Sip…, itu namanya asisten yang tahu diri tentang kemauan bosnya!” Tegar dan Dimas tertawa bersamaan dan tak terasa mereka sudah sampai di kantor mereka.
Tegar menyiapkan segala sesuatu yang perlu dibahas dengan Dilla selaku perwakilan dari PT Abiyasa. Tegar nampak gelisah dan berkali-kali melihat jam tangannya. Waktu menunjukan pukul 10.00 wib tapi Dilla tak kunjung datang.
“Dim, coba kamu cari tau kenapa mereka datang terlambat!” perintahnya kepada Dimas. Kemudian Dimas langsung menelpon Mita dan dari seberang sana Mita mengatakan kalau bu Dilla masih menjemput putranya. Tegar bernafas lega setelah menerima informasi dari Dimas.
Benar saja waktu pukul 10.30 wib mereka sudah datang ke kantor bersama kedua bocah kembar si Yasa dan Setya. Mereka berdua sangat senang karena bertemu dengan om tampan. Yasa langsung berlari memeluk Tegar dan bergelayut minta gendong. Setya yang tidak mau kalah dengan Yasa juga ikut berlari memeluknya dan minta gendong juga hingga kanan kiri Tegar menggendong kedua bocah tersebut.
“Yasa…, Setya kasihan om Tegar nanti capek! Ayo lekas turun nak!” ucap Dilla kepada kedua bocah kembar tersebut.
“Tidak, apa-apa bu Dilla, kalaupun tambah satu mamanya aku juga masih kuat. Sini mama Dilla aku gendong juga dibelakang atau di depan ya?” ucap Tegar sekenanya hingga mampu membuat wajah Dilla memerah menahan malu.
“Hai…, hai…, cucu kakek sudah di sini to? Ayo ikutan kakek ya? Biarkan mereka menyelesaikan masalah orang-orang dewasa dulu!” ucap kakek Ardi yang datang tiba-tiba.
“Memang kita mau kemana kek?” tanya Setya penasaran.
“Kita akan bersenang-senang ke dunia fantasi, dan kalian boleh bermain apa saja disana. Kakek yang traktir kalian, bagaimana?” ucap kakek Ardi merayu mereka.
__ADS_1
“Wah mantap kek! Ayo kita berangkat!” Yasa langsung menggandeng tangan kakek Ardi diikuti oleh Setya. Sementara itu Dilla yang didampingi oleh Mita tidak bisa menolaknya karena Dilla sangat menyanyangi kakek Ardi seperti ayah kandungnya sendiri.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.