Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Jaga Image


__ADS_3

Suasana pesta berjalan meriah, akan tetapi sejak insiden listrik mati semua peserta dansa malas melanjutkan dansanya. Agar suasana kembali normal, Tegar langsung naik ke panggung dan membisikan sesuatu kepada pemain music dan Tegar juga mengambil salah satu gitar yang dipakai oleh pemain musik.


“Untuk hari ini aku akan menyanyikan lagu untuk seseorang yang aku sayangi dengan judul lagu Cinta Tak Mungkin Berhenti, dan semoga dia memaafkan ku,” ucap Tegar langsung memainkan gitarnya dan menyanyikan lagunya.


“Tak ada kisah tentang cinta


Yang bisa terhindar dari air mata


Namun kucoba menerima


Hatiku membuka


Siap untuk terluka


Cinta tak mungkin berhenti


Secepat saat aku jatuh hati


Jatuhkan hatiku kepadamu


Sehingga hidupku pun berarti


Cinta tak mudah berganti


Tak mudah berganti jadi benci


Walau kini aku harus pergi


'Tuk sembuhkan hati”

__ADS_1


Di tengah menyanyikan lagunya Tegar melihat Dilla meneteskan air matanya, hingga akhirnya Tegar mendekati Dilla dan menghapus air matanya, dan terus melanjutkan lagunya.


Semua orang berteriak histeris menyaksikan kedekatan mereka. “Bener-bener pasangan ideal, aku rasa mereka memang berjodoh,” ucap salah satu tamu undangan.


“Iya betul, aku rasa mereka sangatlah cocok untuk menjadi satu keluarga, hai…, lihatlah si kembar. Mereka bener-bener mirip dengan pak Tegar,” teriak salah satu tamu yang menyaksikan kedua bocah kembar itu mendekati Tegar dan Dilla. Yasa menggandeng tangan Tegar dan Setya menggandeng tangan Dilla untuk disatukan oleh mereka berdua. Mereka berdua nampak bergandengan satu sama lainnya dan sesekali Tegar melirik Dilla dan kedua bocah kembar itu dengan perasaan sayang hingga lagu berakhir. Semua tamu undangan memberi tepuk tangan yang cukup meriah.


Acara pun berakhir, semua tamu undangan pulang, tinggal Dilla dan orang kepercayaannya ditambah Tegar beserta Dimas. Irfan kembali lebih dulu karena ada operasi penting di rumah sakit yang melibatkan dirinya.


“Om tampan, lagunya bagus sekali. Bolehkah aku besok diajari main music dan bernyanyi?” tanya Yasa tiba-tiba.


“Tentu bolehlah sayang, apapun untuk kalian om tampan akan melakukannya, bahkan menikahi mamamu sekarangpun om tampan siap,” kata Tegar yang mampu membuat hati Dilla berdegup kencang.


“Boleh juga om tampan, tapi mama bagaimana? Sudah siap belum mama menerima om tampan sebagai papa Yasa dan Setya?” tanya Yasa kepada mamanya hingga sang mama yang sibuk mengendalikan perasaannya langsung mengalihkan perhatiannya.


“Sayang, hari sudah malam. Ayo kita tidur. Hari ini karena capek kita tidur di hotel saja!” ucap Dilla kepada kedua putranya.


“Ma, karena hari sudah malam, om tampan boleh ya menginap di hotel kita,” ucap Setya kepada sang mama hingga lagi-lagi Dilla menelan salivanya dan melirik kea rah Tegar agar menolak permintaan putranya. Tegar yang merasa tidak enak dan mengerti kegundahan hati Dilla berusaha menolak permintaan Setya.


“Setya, tidak boleh begitu nak! Kasihan om Tegar besok harus bekerja," Dilla berusaha membujuk Setya.


"Aku maunya sama om tampan, kalau tidak boleh aku ikut om tampan pulang saja," ancam Setya hingga membuat Dilla menyetujuinya.


"Baiklah, terserah kamu saja. Rara dan Mita kamu nginap di tempat biasanya ya? Untuk Dimas kamu carikan kamar yang kosong!” perintah Dilla sambil meninggalkan mereka bertiga.


“Baik, bu. Kami sementara belum tidur dan akan ngobrol di bar hotel,” ucap Mita sambil mengajak Dimas untuk mengikutinya. Sementara itu Rara yang mengantuk langsung menuju ke kamarnya.


“Ah, ngapain aku ikut mereka. Lebih baik aku tidur saja lebih enak, daripada dijadikan obat nyamuk,” gumamnya lirih.


Sementara itu Setya bermanja-manja dengan Tegar. Setya mengganti bajunya dengan baju tidur kemudian bergelayut manja di pangkuan Tegar yang duduk di sofa. Sedangkan Yasa minta dipeluk mamanya dan tertidur di ranjang.

__ADS_1


“Om, tampan tolong dong aku dibacakan cerita tentang putri Cinderella?” ucap Setya yang tidak kunjung tidur. Tegar membacakan cerita dengan penuh kasih sayang. Dilla yang mendengarnya perlahan-lahan meneteskan air matanya.


“Andai jalan hidup kita tidak seperti ini? tentu kita akan hidup bahagia kak? Sesungguhnya aku mencintaimu, tapi di sisi lain aku juga membencimu? Mampukah dirimu mengubah rasa benciku menjadi cinta dan kasih sayang?” gumam Dilla lirih hingga dirinya menerawang jauh tidak menentu dengan rasa gelisahnya.


Setya tidak lama kemudian tertidur di pangkuan Tegar dengan nyaman. Tegar pelan-pelan menggendong Setya dan menidurkannya di dekat Yasa, dan tidak sadar tangan Tegar menyentuh tubuh Dilla yang ada di dekat Yasa.


Dilla dengan spontan duduk di tepi ranjang kemudian berjalan menuju meja rias dan bercermin melepaskan kalung pemberian Tegar. Dilla kemudian memberikan kembali kalung itu kepada Tegar.


“Pak Tegar yang terhormat, maaf kalung ini aku kembalikan. Perlu kamu tahu aku bukanlah seorang wanita yang gila akan harta. Terimakasih kau telah datang ke tempatku dan memeriahkan acara ulang tahunku,” ucap Dilla yang sok jaga image padahal hatinya senang dengan hadiah Tegar dan juga orangnya.


“Dilla sayang, aku mohon terimalah pemberianku ini. Aku ikhlas memberikannya untukmu. Aku tahu kalau aku banyak salah kepadamu tapi aku mohon terimalah. Janganlah kau kecewakan aku?” ucap Tegar sambil mengembalikan kalung itu di meja rias dan tidak sengaja Tegar menyenggol badan Dilla. Sekali lagi jantung Dilla dibuat berdegup kencang.


“Pak Tegar…, aku mohon…!” belum selesai Dilla mengucapkan sesuatu tangan kanan Tegar menutup mulut Dilla dengan lembut kemudian memeluknya hingga kedua matanya saling bertemu pandang.


“Janganlah kau berisik, jangan sampai kedua putra kita bangun dari tidurnya?” ucap Tegar yang langsung mengandeng Dilla duduk di sofa.


Dilla yang tersadar mendapat perlakuan seperti itu langsung menjauhi Tegar. “Apa kamu bilang, Anak kita? Mereka bukan anak kamu. Tapi anak aku,” jawab Dilla emosi.


“Ok…, anak kamu tapi darah dagingku juga,” ucap Tegar percaya diri. Hingga membuat Dilla semakin emosi.


“Maaf pak Tegar yang terhormat, hari sudah malam sebaiknya anda pulang saja. Aku mau tidur,” ucap Dilla yang membaringkan tubuhnya di dekat kedua putranya. Tegar yang tidak mau berdebat langsung berniat untuk pulang. Namun Tegar sebelum pulang menyempatkan dirinya mencium pipi si kembar satu persatu. Tegar berusaha mendekati Dilla dan hendak mencium keningnya tapi Dilla langsung membalikan tubuhnya hingga Tegar tidak bisa menciumnya.


“Ok.., selamat tidur dan mimpi yang indah sayang. Sampai ketemu besok, dalam acara meeting di kantor untuk pembukaan pembangunan proyek kerjasama kita,” ucap Tegar kemudian melangkah pergi ke luar ruangan. Dilla tidak membalas perkataan Tegar dan membiarkannya pergi.


“Sayang…, sayang kepalamu peang, enak saja main pergi-pergi saja,” ucap Dilla lirih tapi terdengar oleh Tegar.


“Ya iyalah sayang, apa kamu mau ditunggui sampai pagi?” goda Tegar yang menghentikan langkahnya sejenak.


“Enggak…, sana pulang-pulang sana!” Dilla semakin kesal dan langsung memeluk buah hatinya agar Tegar segera pergi.

__ADS_1


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2