
Dilla yang hancur karena semalam kehormatannya telah direnggut oleh lelaki yang dicintainya membuat dia terluka. Dilla tidak mengira kalau semua ini harus menimpa dirinya. Dilla yang sudah terusir dari rumah harus tertimpa musibah dengan kehilangan kehormatannya sebagai wanita. Dilla berusaha menguatkan hatinya untuk bangkit dari keterpurukan.
Dilla sampai di Malang dimana tante Nadia sahabat mamanya telah menyampaikan Amanah mamanya kepadanya. Di rumah tante Nadia telah duduk seorang pengacara yang siap dengan dokumen-dokumen untuk ditanda tangani oleh Dilla. Di dalam dokumen tersebut tante Nadia menyerahkan sebuah rumah sakit dan perusahaan obat yang sangat terkenal beserta satu buah rumah mewah. Dilla tidak menyangka kalau ternyata mamanya masih menyimpan warisan untuknya.
“Nak, ini semua kekayaan mama kamu yang pengelolaannya di serahkan kepada tante selama ini. Sehari sebelum kematiannya mama kamu menulis wasiat dan mengalihkan semua hartanya ke tante Nadia. Mamamu berusaha untuk menyelamatkan hartanya dari mama tiri mu yang waktu itu masih sebagai sekertaris ayahmu,” ucap tante Nadia sambil menghela nafasnya.
“Tante. Maaf sebelumnya. Aku merasa berterimakasih pada tante, entah apa yang harus aku lakukan. Aku belum siap menerima semua ini. Aku mohon tante mau membimbing aku untuk mengelolanya. Aku tidak tahu apa-apa tentang manajemen. Sedangkan aku sendiri kuliah di jurusan perawat, aku kuatir tidak bisa menguasai dan menjalankan bisnis sebesar ini,” ucap Dilla yang memohon kepada tantenya agar membantunya.
Sementara pengacara perusahaan yang dari tadi terdiam mendengarkan pembicaraan kedua belah pihak langsung memberikan solusi kepada keduanya.
“Maaf kalau menurut saya, sebaiknya bu Nadia sebelum melepaskan semua aset kepada nona Dilla perlu diberi bimbingan dan pendampingan sehingga nanti kedepannya perusahaan dapat berjalan baik dan menjamin kesejahteraan para karyawan. Mengingat basic Pendidikan nona Dilla yang perawat tentunya akan sangat sulit untuk mengatur perusahaan dan rumah sakit yang begitu besar ini,” ucap Fredy selaku pengacara perusahaan dan sekaligus kepercayaan tante Nadia.
Tante Nadia menghela nafasnya karena sebenarnya dia ingin sekali menetap ke luar negeri menikmati masa tuanya bersama suami dan putranya. “Baiklah nak, aku akan membantu dan membimbing kamu. Aku yakin kamu dalam waktu singkat pasti bisa memimpin perusahaan dan rumah sakit ini dengan baik,” ucap tante Nadia yang kemudian menandatangani berkas-berkas yang ada secara bergantian dengan Dilla.
Setelah selesai menanda tangani semua berkas, tante Nadia bersama Dilla berkeliling perusahaan. Tante Nadia mengenalkan bagian-bagian perusahaan kepada Dilla. Dilla tidak menyangka kalau dirinya sekarang punya kekayaan yang melimpah bahkan tidak habis untuk tujuh keturunan. Mamanya yang memang wanita karier sangat pintar mengelola bisinis namun setahu Dilla semua bisnis mamanya sudah dikuasai oleh ayahnya bersama mama tirinya yang berujung pada kebangkrutan usahanya.
Dilla tidak tahu harus bagaimana, di tengah-tengah dirinya yang terpuruk ternyata masih ada secerah harapan untuk meniti masa depannya. Dilla menghela nafasnya berjalan di koridor kantor dan tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang.
“Bruk.” Dilla terhuyung-huyung hendak jatuh ke tanah namun dengan cekatan orang yang menabraknya langsung menariknya hingga Dilla jatuh di pelukannya.
“Dilla,” ucap orang tersebut yang ternyata adalah dokter Irfan. “Kak Irfan,” pekik Dilla yang tak kalah terkejutnya.
__ADS_1
“Kalian saling mengenal?” tanya tante Nadia kepada mereka berdua.
“Tentulah tante. Kak Irfan itu tetangga nenek aku di Yogyakarta. Dan dia selalu jadi pembela dan penyelamat aku jika aku dibully temen-temen,” ucap Dilla yang tertawa penuh arti.
“Wah, kebetulan ini. Ayo kita lanjut ngobrol di dalam saja,” ucap tante Nadia yang langsung berjalan menuju ruangannya diikuti oleh mereka berdua.
Di dalam ruangan tante Nadia, Irfan sesekali mencuri pandang Dilla yang sedang duduk di sebelah tante Nadia. Dilla nampak salah tingkah dengan sikap Irfan.
“Dilla, bagaimana kabar om Wisnu? Maaf aku sejak kejadian itu sudah tidak bekerja lagi di sana,” ucap Irfan merasa bersalah.
“Ayah aku sudah meninggal. Entahlah sebenarnya ayah aku sudah mulai membaik tapi tidak tahu mengapa tiba-tiba langsung drop hingga nyawanya tidak tertolong lagi,” ucap Dilla sedih mengenang ayahnya yang sudah tiada dan di saat-saat terakhirnya tidak didampingi oleh mama tirinya.
“Iya kak. Terimakasih dukungannya. Lo kakak sekarang bekerja di sini ya?” tanya Dilla mengalihkan kesedihannya agar bisa melupakan ayahnya.
“Tidak, aku bekerja di rumah sakitnya. Hari ini aku kesini karena ada perlu dengan tante Nadia,” ucap dokter Irfan yang kemudian di perjelas oleh tante Nadia.
“Iya Dil. Dokter Irfan ini adalah keponakan saya. Dan kebetulan hari ini aku minta bantuannya untuk mengantarkan aku ke bengkel mengambil mobil yang selesai diperbaiki,” ucap tante Nadia.
“Berarti tante Nadia juga berasal dari Yogyakarta satu kampung dengan mama ya?” tanya Dilla yang tidak tahu keberadaan tante Nadia.
“Iya, tapi tante menetap di Malang sejak kuliah dan kebetulan setelah menikah menetap di Malang,” ucap tante Nadia dengan senyum.
__ADS_1
“Iya tante, makanya setiap aku ke Yogyakarta tidak pernah melihat tante,” ucap Dilla penasaran.
“Sudahlah hari sudah siang. Ayo tante aku antar ke bengkel, dan kamu Dilla sekalian aku antar kamu pulang ya?” tanya Fredy pada Dilla namun pandangannya tertuju pada tante Nadia untuk minta persetujuannya.
“Iya nak sekalian nanti kita tunjukan keberadaan rumah kamu. Biar nanti kamu bisa langsung menyesuaikan dengan penghuni rumah,” ucap tante Nadia.
Mereka bertiga langsung ke luar ruangan dan menuju parkiran dimana mobil Irfan terparkir di halaman depan perusahaan.
Fredy dengan cekatan membukakan pintu mobil untuk Dilla agar duduk disampingnya, sedangkan tante Nadia duduk di belakang. Tante Nadia kelihatan sekali ingin menjodohkan mereka berdua, namun Dilla tidak mengetahuinya.
Sepanjang jalan mereka bertiga terdiam hingga akhirnya Irfan memutar lagu-lagu romantik. Tante Nadia yang terbawa emosi langsung menanyakan tentang pacar kepada Dilla.
“Dil, kamu sudah punya pacar belum? Kalau belum pria di samping kamu itu kelihatannya cocok lo buat kamu. dan aku lihat kamu juga punya chemistry dengan Irfan?” ucap tante Nadia tiba-tiba hingga membuat Dilla dan Irfan terkejut.
Dokter Irfan yang terkejut dengan tiba-tiba langsung mengerem mobilnya hingga Dilla kepalanya hampir kebentur kaca mobil. Dan kali ini Irfan secara reflex langsung merentangkan tangan kirinya menghalangi kepala Dilla agar tidak terbentur kaca.
“Bener-bener kalian cocok lo? Dan kamu Dil harusnya tersanjung bisa dapatkan keponakan tante yang bisa dipertanggungjawabkan,” ucap tante Nadia serius.
“Itu sih kalau Dilla mau tante? Dilla itu sudah punya pilihan sendiri lo tante?” ucap dokter Irfan yang membuat Dilla malu sehingga pipinya merona menahan malunya.
“Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.
__ADS_1