
Almaira kecil sudah mulai tumbuh berkembang menjadi anak yang menggemaskan. Di usianya yang 1 tahun Almaira mendapat teman dari Rara yang melahirkan Putri pertamanya. Dan selang sebualn kemudian secara berurutan Brenda dan Mita juga melahirkan putri yang cantik-canti. Sementara itu kakak kembarnya sudah mulai masuk di sekolah dasar.
Almaira kecil selalu membuat Tegar terhibur dengan tingkahnya yang lucu. Di setiap keluar kota, Tegar selalu membawa Dilla beserta putrinya ikut serta. Tegar seolah tidak mau terlepas dari putri kesayangannya.
“Ma! Ayo segera packing baju kamu dan Almaira. Kita akan pergi ke Jakarta karena ada pertemuan dengan klien!” perintah Tegar kepada Dilla.
“Maaf pa, bukan maksud aku untuk membantah perkataan papa. Aku merasa perasaan aku tidak enak. Aku mohon kita jangan pergi aja!” ucap Dilla kepada suaminya karena kegundahan hatinya.
“Aku rasa itu hanya perasaanmu saja!Ayolah, Dimas sudah menunggu di depan!” ucap Tegar memberi perintah kepada istrinya. Dilla pun akhirnya menyiapkan semua yang diminta oleh Tegar. Dilla juga menyuruh mbok Atun untuk menjaga kedua putranya karena kepergiannya cukup lama. Seminggu baginya cukup berat karena harus meninggalkan si kembar yang harus sekolah.
“Ayo sayang…, sini Almaira aku yang mengendongnya!” Tegar dengan cekatan menggendong Almaira.
“Almaira sayang…, kesayangan papa yang lucu dan mengemaskan. Kamu jangan rewel dan menangis ya? Kita ada pertemuan klien penting di Jakarta?” ucap Tegar kepada putrinya. Almaira pun tahu apa yang dimaksuda papanya, hingga Almairan mengangukan kepalanya dengan senyuman.
Tidak berapa lama kemudian mereka masuk ke mobil dengan diantar oleh sopir kantor menuju bandara.
“Om Dimas juga ikut?” tanya Dilla kepada Dimas, karena Mita baru saja melahirkan pasti berat untuk ditinggal.
“Iya…, bu! Sementara di Mita ditemani oleh Mama mertua yang kebetulan sekarang berkunjung ke rumah kami!” jawab Dimas.
“ O…, Baguslah kalau begitu. Aku merasa lega karena bagaimanapun setelah melahirkan pasti akan sangat berat jika sendirian,” ucap Dilla.
“Terimaksih atas perhatiannya bu!” Dimas kemudian segera naik di depan dekat sopir. Setelah menempuh perjalan darat selama satu jam mereka sampai di bandara Solo dan berlanjut melakukan perjalan dengan pesawat.
Setelah kurang lebih 1 jam 18 menit mereka sampai di Jakarta. Karena kebelet ingin ke kamar mandi, Dilla menyerahkan Almaira kepada Tegar. Tegar menggendong Almaira dengan penuh kasih sayang sambil menunggu Dilla yang sedang di kamar mandi.
Almaira yang lucu membuat semua orang yang lewat menggoda Almaira. Kemudian mereka berlanjut menuju hotel tempat bertemunya dengan klien.
Jam menunjukan pukul 9.30 wib sedangkan jadwal meeting dilakukan pukul 10.00 wib, masih ada waktu setengah jam. Tegar meyiapkan semua berkas-berkasnya untuk bertemu dengan klien.
Setelah semuanya siap Tegar pamitan kepada istrinya untuk pergi meeting.
“Ma, nanti kalau lapar mama bisa minta petugas rertauran untuk membawakan makanan ke kamar ya?” ucap Papa Tegar memberikan pessan kepada istrinya.
“Almaira sayang? Jaga baik-baik mama ya nak?” ucap papa Tegar kepada putrinya. Alamaira pun terkekeh mendengar ucapan papanya.
“Pa…, nanti mama sama Almaira boleh main di halamn depan ya?” ucap Dilla minta izin kepada suaminya.
__ADS_1
“Iya, tidak apa-apa. Tapi jangan jauh-jauh ma!” ucap Tegar kemudian mencium kening istri dan pipi Almiara.
“Ok papa!” balas Dilla setelah suaminya pergi Dilla mengajak Almaira bermain di taman depan hotel. Suasananya memang sangat mendukung di situ juga ada cafe untuk nongkrong.
Dilla memesan minuman dan makanan ringan di cafe tersebut, Almaira nampak duduk di dekatnya.
Tidak beberapa lama kemudian dengan menikmati minuman dan makanan ringan yang telah dipesannya. Hari ini ngopi nampak dengan pengunjung. Entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul segerombolan orang menodongkan pistol ke arahnya.
“Kalau anda ingin selamat serahkan semua perhiasan yang anda miliki kepada kami,” teriak salah satu perampok kepada Dilla hingga Dilla yang ketakutan langsung menyerahkan dompetnya kepada perampok tersebut.
Namun perampok tersebut kurang puas dengan yang diperolehnya karena semua yang ada di dompet Dilla hannya berupa kartu kredit saja, sedangkan uang kasnya hanya beberapa juta rupiah saja.
“Sial kita salah pilih sasaran, tapi dari kartu creditnya kelihatan dia orng tajir. Ayo bawa putrinya ikut dengan kita! Kita akan upayakan untuk minta tebusan!” teriak salah seorang dari gerombolan perampok tersebut yang kemungkinan adalah pimpinannya.
‘Tolong…, jangan bawa anak aku! Kalau kamu mau uang aku bisa memberimu dengan uang kas sekarang juga!” ucap Dilla memohon.
Namun karena ada sirine kepolisian berbunyi dengan sangat otomatis mereka meraih Almaira untuk dibawa ikut serta pergi menyelamatkan diri. Dengan Almaira dibawa serta oleh segerombolan perampok tersebut.
Dilla sempat berusaha mempertahankan putrinya, namun karena mereka bersikap kasar, akhirnya membiarkannya putrinya.
Tegar nampak murka hingga memerintrahkan Dimas untuk menyewa detektif untuk mencari Almaira.
“Sayang, putri kita telah diculiknya!” ucap Dilla yang terisak di pelukannnya.
“Kamu yang tenang sayang, aku akan mengerahkan semua orang-orang kita untuk mencarinya!” ucap Tegar kepada istrinya yang terisak menangis sedih.
Tegar berusaha menguatkan hatinya agar tidak kelihatan bersedih di hadapan istrinya. Semantara itu Dilla jatuh pingsan di pelukannya kemudain Tegar menggendong istrinya menuju ke kamarnya.
Berita hilangnya Almaira juga terdengar sampai di kotanya. Si kembar langsung menelpon Dimas untuk menanyakan keberadaan mama dan adiknya.
Dimas akhirnya menceritakan semuanya sesuai dengan keterangan orang yang ada di sekitarnya.
Dimas pun bergerak cepat dengan data yang diperoleh dari kepolisian. Dimas menyebarkan semua orang-orangnya untuk langsung mencarinya. Namu pergerakan mereka begitu cepat seolah merupakan perampok yang sudah terlatih sehingga sangat sulit dilacak.
Semantara itu Tegar masih sibuk menenangkan istrinya karena begitu tersadar dari pingsannya terus histeris memanggil-manggil nama Almaira.
Tegar nampak meneteskan air matanya, mengingat perkataan istrinya pagi hari tadi. Memanglah insting ibu sangatlah kuat yang meminta dirinya untuk tidak berangkat tapi dirinya tetap memaksa istrinya untuk ikut serta.
__ADS_1
“Sayang, maafkan mama yang tidak bisa menjagamu!” teriak Dilla penuh histeris.
“Mama, itu bukan salah mama. Harusnya mama menyalahkan papa yang telah memaksa kalian ikut dengan papa,” jawab Tegar yang memberi arahan kepada istrinya.
Setelah beberapa jam mereka disibukan dengan pencarian Alamira, Dilla nampak kelihatan lemah dan lesu hingga akhirnya Tegar menyuapinya makan dan membujuknya agar bersabar.
Dilla justru semakin teriak histeris memanggil-manggil nama Almaira.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1