
Tegar pun dengan santainya langsung memanggil Dilla beserta Si kembar untuk meninggalkan rumah tersebut. Dilla yang tidak mengerti permasalahannya, hanya diam dan mengikuti kemauan Tegar.
Tegar kemudian membawa Dilla beserta anak kembarnya menuju ke rumah kediaman Dilla. Setelah Tegar sampai di rumah Dilla, Tegar berpamitan kepada Dilla untuk mengurus segala sesuatunya yang berhubungan dengan perusahaan dan aset yang lain.
Tegar mau tidak mau karena kondisi akhirnya mengadakan pertemuan dengan beberapa orang kepercayaannya untuk menyusun kembali strategi agar perusahaannya bisa kembali ke tangannya.
Dimas dan beberapa staf yang setia sudah menunggu Tegar di perusahaan yang tidak semegah perusahaannya dan kelihatan sudah memulai memudar cat bangunannya.
“Pak, semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Jadi Perusahaan kita yang lama itu hanya nampak megah secara fisiknya saja akan tetapi semua aset sudah kita alihkan ke perusahaan yang akan kita kelola ini! Dan yang lebih menguntungkan Om Lukas hanya meminta Perusahaan yang selama ini yang dikelola oleh Pak Ardi dan pak Tegar. Untuk aset yang lain seperti hotel restoran dan Mall itu tidak masuk ke dalam perjanjian yang ditandatanganinya bersama Ayah Ardi,” ucap Dimas santai yang seolah-olah tahu permasalahannya.
“Bagus, Ternyata strategi kita untuk membuat perusahaan bayangan selama ini telah berjalan dengan mulus tanpa diketahui oleh antek Om Lukas,” ucap Tegar yang memberi penjelasan kepada Dimas dan staf-staf yang lainnya.
Tegar kemudian menginstruksikan untuk membuat perusahaan yang mereka kelola sekarang ini menjadi perusahaan yang megah. Semuanya mereka poles dengan baik sehingga orang akan mengenalnya sebagai perusahaan yang terkenal di kota tersebut.
Setelah semuanya jelas,Tegar membagi masing-masing stafnya sesuai dengan tugasnya.
Hari sudah menjelang sore, Tegar membaringkan tubuhnya di sofa kantor. Sementara itu Dilla yang berada di rumah merasa kuatir dengan perkembangan Tegar.
Dilla langsung menelpon Dimas untuk mencari informasi tentang Tegar. Setelah mendapatkan informasi dari Dimas, Dilla langsung menyiapkan beberapa makanan untuk tegar. Dilla berniat untuk mengunjungi Tegar di kantornya yang baru.
Dilla sengaja tidak mengajak anak-anaknya, Dilla berniat untuk menghibur dan mendukung Tegar agar tetap semangat. Dilla keluar dari rumahnya berpapasan dengan Mita yang kebetulan sedang berada di ruang tengah nonton televisi.
“Sore Bu Dilla? Kelihatannya kok rapi sekali? Apakah Bu Dilla hendak pergi?” tanya Mita cuek sambil menonton acara di televisi.
__ADS_1
“Aku mau ke kantornya Kak Tegar yang baru,” ucapnya sambil berlalu meninggalkan Mita yang asyik nonton televisi.
“Dilla, tunggu dulu. Apa? Ke kantornya pak Tegar? Berarti ada juga Kak Dimas ya?” tanya Mita yang langsung menyusul Dilla untuk berjalan disampingnya.
“Ya tentu lah. Pokoknya ada kak Tegar pasti ada juga Kak Dimas, kecuali kalau ada situasi tertentu,” Jawab Dilla dengan santai.
Mita yang gemas dengan sikapnya langsung mengambil kunci mobil yang masih di pegang oleh Dilla.
“Oke, kalau begitu aku yang memegang kemudi. Aku tidak ingin bu Dilla pergi sendiri apalagi situasinya agak gentingnya,” ucap Mita yang sengaja ingin ikut Bu Dilla agar bertemu dengan Dimas.
“Dasar yang lagi ada maunya? Baiklah kalau begitu ayo kita pergi!” Dilla langsung bergegas menuju parkiran mobilnya diikuti oleh Mita. Mereka berdua pun pamitan kepada anak kembarnya agar tidak bermain terlalu jauh.
Setelah memberi beberapa perintah kepada si kembar, mereka berdua langsung meluncur menuju alamat yang telah Dimas kirim melalui share lokasi.
Dilla nampak menghela nafasnya karena merasa prihatin dengan kondisi yang dialami oleh Tegar. Dilla bersama Mita masuk ke ke kantor Tegar dengan menggunakan lift. setelah sampai di atas mereka berusaha mencari kantor direktur. Mereka berpapasan dengan Dimas yang baru keluar dari ruangannya.
“Kak Dimas, kakak sudah Makan belum? Ayo kita makan keluar?” Bisik Mita sambil memberi kode dengan mengerlingkan matanya kepada Dimas. Dimas pun tanggap dengan syarat yang diberikan Mita, yang sebenarnya ingin memberi kesempatan Dilla dan untuk berdua saja.
“Kak Dimas, sebelum pergi tunjukan dulu ruangan kak Tegar?” pinta Dilla kepada Dimas yang buru-buru hendak pergi meninggalkannya.
“Itu di depan, kamu tinggal masuk saja karena Pak Tegar lagi tiduran. Dan kelihatannya pak Tegar sangat capek sekali!” ucapnya sambil menggandeng Mita dan berjalan pergi meninggalkan Dilla.
Dilla pun langsung berjalan menuju ruangan yang telah ditunjukkan oleh Dimas. Dilla berjalan mengendap-ngendap membuka pintu kantor dan hendak membuat kejutan kepada Tegar.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Dilla sudah berada di dekat Tegar, Dilla sangat mengkhawatirkan kesehatan Tegar. Hari ini Tegar kelihatan kusut dan capek menghadapi masalah yang ditimpa nya.
Dilla langsung berjongkok di hadapan Tegar yang sedang berbaring di sofa. Dilla pelan-pelan mengusap wajah Tegar dan meneteskan air matanya. Dilla tidak tega dengan Tegar yang harus berjuang untuk mempertahankan perusahaannya agar bisa beroperasional seperti biasanya.
Memindahkan perusahaan yang besar dan membangun jaringan kembali itu sangat memerlukan waktu dan pikiran yang cukup melelahkan. Tegar tidak seperti dirinya yang pernah merasakan hidup susah karena ditindas oleh ibu tirinya. Sedangkan Tegar dari kecil sudah hidup nyaman dengan kemewahan meskipun ditinggal pergi oleh mamanya. Ayah Ardi memilih hidup sendiri mengurus Tegar hingga dewasa.
Tegar merasakan kalau ada seseorang yang telah memperhatikannya, kemudian Tegar terjaga dari tidurnya. Pelan-pelan Tegar membuka matanya dan Tegar sangat terkejut karena di dekatnya sudah ada Dilla yang menangis sesenggukan memandanginya.
Tegar langsung duduk dan menarik Dilla agar duduk di sebelahnya. Dilla semakin tidak bisa membendung air matanya. Tegar merengkuh Dillah dalam pelukannya kemudian dengan kasih sayangnya mengusap airmatanya Dilla.
“Sayang, janganlah kau menangis. Aku tidak masalah, yang diambil oleh om Lucas hanya 25% dari kekayaan ku. Dan itu pun hanya berwujud gedungnya saja karena semua operasional perusahaan sudah saya alihkan ke sini sejak seminggu yang lalu. Meskipun belum sepenuhnya selesai tapi setidaknya aku sudah ah bisa membendung keserakahan Om Lukas ,” Tegar sambil mengecup kening Dilla.
“Kak, Itulah yang aku takutkan 5 tahun yang lalu. Om Lukas di bawah pengaruh mama tiri ku henndak memanfaatkan aku untuk menguasai harta kamu bersama harta ayah Ardi yang merupakan saudara tirinya Om Lukas,” ucap Dilla mengingat waktu dirinya yang secara tidak sengaja telah mendengarkan pembicaraan dengan Tante Lusi Mama tirinya.
“Sudahlah sayang, janganlah kau bahas masalah itu. aku merasa Tidak peka atas sikapmu yang waktu itu menolak lamaranku. hingga akhirnya nya Kita harus mengalami seperti ini,” Ucap Tegar kembali memeluk Dilla sangat erat seolah tidak mau melepaskan Dilla kembali.
“Sudah lah kak, janganlah kau ungkit lagi masalah itu. Karena waktu itu aku juga bersalah, aku tidak pernah mengungkapkan permasalahan itu kepadamu,” ucap Dilla yang mendongakkan wajahnya menghadap ke Tegar hingga mereka saling bertemu pandang.
“Oke sayang, kita sepakat melupakan masa lalu kita. Kita akan membangun kembali cinta kita yang terpisahkan ada keadaan. Aku janji mulai sekarang akan membahagiakanmu bersama anak-anak kita dan minggu depan kita langsung menikah sesuai dengan wasiat ayah,” ucap Tegar yang kembali menghapus air mata Dilla.
Dilla yang merasa langsung bangkit dari duduknya dan mengambil bekalnya yang ditaruh di meja untuk makan berdua. Dilla dengan kasih sayangnya menyuapi Tegar dan sebaliknya Tegar sesekali juga menyuapi Dilla. Malam ini semua permasalahan mereka berdua yang mengganjal sudah selesai dan mereka berusaha membangun cerita di kertas yang putih kembali.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.
__ADS_1