
Sementara itu Brenda yang menikmati kemenangannya karena beritanya tiba-tiba terkejut karena laporan anak buahnya.
“Bu Brenda, maaf berita skandal anda muncul di internet, dan ini sangat berpengaruh terhadap perusahaan kita. Semua investor menarik dananya. Kita terancam bangkrut karena proyek terancam mangkrak akibat pendanaannya tidak ada,” ucap Lita kepercayaannya.
“Sial…, siapa yang melakukannya? Sudah kamu lacak belum?” tanyanya cemas.
“Maaf bu, tim IT perusahaan sudah berusaha mencarinya akan tetapi entah bagaimana sulit dilacak. Kelihatannya yang melakukannya professional sekali dan terlihat sudah ahli,” ucap Lita cemas pasti akan menerima kemarahan Brenda.
“Apa? Terus apa gunanya aku gaji kalian kalau mengurus hal sepele ini tidak bisa! Hancur semua usaha yang aku rintis,” Brenda marah sekali hingga teriak-teriak tidak jelas. Tidak lama kemudian mamanya datang menghampirinya.
“Brenda, ada apa nak? Kenapa kamu bertingkah seperti itu?” tanya mamanya.
“Hancur ma semua hancur. Itu semua gara-gara orang yang tidak bertanggungjawab menyebarkan berita tentang aku,” jawab Brenda sambil menunjukan berita di medsos.
“Kau teledor sekali. Kenapa harus meninggalkan jejak?” ucap sang mama lemas hingga terduduk di kursi depan Brenda.
“Entahlah ma. Aku tidak pernah sama sekali meninggalkan jejak setiap berhubungan dengannya, tapi entah mengapa mereka memperoleh datanya dengan mulus,” ucapnya lesu.
“Bu, apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Lita yang berada di dekatnya. “Telponlah papa Lukas, kita harus merundingkan sesuatu agar kita bisa bertahan,” ucap mama Lusi.
“Baik nyonya,” Lita langsung menghubungi pak Lukas.
“Selamat pagi pak. Anda di suruh segera ke kantor, ada sesuatu yang harus dibicarakan!” ucapnya melalui ponsel.
“Ya, sampaikan ke nyonya saya masih dalam perjalanan!” ucap Lukas yang memang baru meeting di luar kota.
“Hem…, ini pasti soal Brenda. Bener-bener ceroboh anak itu! Aku harus berbuat sesuatu, sebelum bangkrut aku harus minta pertolongan sama kak Ardi,” gumamnya lirih.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian Lukas mengarahkan kendaraannya menuju rumah kakaknya. Lukas sebagai adik dari Ardi sering berbuat salah, namun Ardi selalu baik padanya karena amanah dari orang tuanya.
Mobil Lukas mulai masuk pekarangan, disitu terlihat Ardi sedang bermain dengan cucu kembarnya. Yasa dan Setya mengajak sang kakek bermain tebak-tebakan. “Kek, aku punya satu tebakan dan kakek harus bisa menjawabnya!” ucap Setya kepada sang kakek.
“Buah apa yang bisa terbang?” tanyanya kepada sang kakek.
“Buah…apa ya? Buah naga!” jawab kakek tiba-tiba.
“Bagus kek. Kakek kok bisa menjawab. Satu lagi kek,” ucap Setya kepada sang kakek.
“Untuk tebakan yang satu ini, aku kek yang bertanya,” ucap Yasa spontan.
“Adakah manusia di dunia ini yang suka mengulang kesalahan dan tidak mengakui kesalahannya kek. Bahkan selalu berbuat jahat?” tanya Yasa asal.
“Ada sich, tapi jarang. Karena manusia itu diciptakan oleh Allah dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing,” ucap sang kakek kepada kedua cucunya.
“Terus kalau kakek itu bagaimana?” tanya Setya tiba-tiba menunjuk Lukas yang baru datang, hingga kakek Ardi menelan salivanya ternyata arah tebak-tebakan Yasa dan Setya untuk menyindir Lukas.
“Hai-hai anak siapa ini? Kurang ajar sekali dia. Kenapa dia begitu dekat dengan Ardi dan astaga…., mukanya mirip dengan Tegar. Mungkinkah dia anak tegar?” gumamnya lirih.
“Eh, kamu Lukas. Ayo masuk ke dalam dan ini perkenalkan Abiyasa dan Abisetya,” kakek Ardi berusaha mencairkan suasana. Lukas langsung mengarahkan tangannya berusaha memeluk Yasa namun Yasa dengan cekatan mengelak pelukan Lukas.
“Maaf kek, aku mau bertemu om tampan dulu,” jawab Yasa pergi meninggalkan mereka berdua disusul dengan Setya,
“Bener-bener anak kurang ajar. Kalau tidak ada Ardi sudah aku cincang anak itu!” gumam Lukas kesal.
“Hai…, kamu kok bengong ada apa kamu kesini! Ayo kita masuk ke dalam sambil minum teh,” ucap kakek Ardi yang selalu baik kepada siapapun. Mereka berdua masuk ke dalam dan bercakap-cakap dai dalam.
__ADS_1
“Mbok tolong buatkan teh dan cemilan bawa kesini ya?” perintah kakek Ardi kepada mbok Yem. Tak lama kemudian mbok Yem membawa the dan cemilan untuk mereka.
“Kak, aku minta tolong perusahaan Sanjaya yang sekarang aku Kelola bersama Lusi dan putrinya mengalami masalah dan butuh dana segar untuk mengembangkannya kembali. Hari ini perusahaanku terpuruk karena berita skandal yang tidak jelas dari Brenda putrinya Lusi,” ucap Lukas memohon, namun tiba-tiba Tegar datang bersama Yasa dan Setya.
“Maaf om, bukannya kita tidak mau membantu. Untuk sementara kita tidak ada dana, karena kita ada pekerjaan menyelesaikan proyek yang cukup besar. Dan kebetulan proyek kita bekerjasama dengan PT Abiyasa yang dipimpin olehnya. Aku rasa Brenda sudah menyampaikannya kepada om. Kebetulan Brenda kemarin juga ada disana,” kata Tegar tegas karena memang ingin memberi pelajaran Om Lukas.
“Tegar, masa kamu tega sama om. Kamu kan tahu pergerakan saham perusahaan om semakin menurun karena kasus Brenda. Aku mohon setidaknya biar perusahaan kita tidak pailit,” Lukas kembali memohon.
“Bener-bener maaf om. Tapi…, kalau om menghendaki kita hanya bisa membantu dengan pinjaman yang harus ada jaminannya. Dan itupun harus tempo satu bulan dan paling lama 3 bulan. Bagaimana?” tanya Tegar yang semakin memojokkan Lukas. Lukas tidak ada pilihan lain akhirnya menyetujuinya.
“Ok…, aku bersedia nanti jaminannya saham kepemilikan perusahaan PT Sanjaya sebesar 75%!” ucap Lukas yang memang tidak ada pilihan lain.
“Ok…, besok aku tunggu di perusahaan untuk menandatangani akte perjanjian,” ucap Tegar kepada Lukas dan dengan cuek bersama si kembar berlalu meninggalkan mereka berdua.
“Bener-bener, pasangan ayah dan anak yang serasi. Mereka sama-sama cuek dan tengil. Kayaknya mereka ada hubungan darah,” gumam Lukas yang semakin penasaran dengan mereka.
“Kak, siapa kedua bocah kembar itu? Dan kenapa begitu dekat dengan Tegar?” tanya Lukas yang semakin penasaran.
“Kau itu dari dulu suka ngurusi masalah orang lain saja. Ayo kita bermain atur saja!” ucap Ardi sambil mengambil papan catur bermaksud mengalihkan pertanyaan Lukas.
“Kak, kamu dan putramu dari dulu selalu bermain teka-teki dan membuat misteri yang sama sekali keluarga tidak akan tahu!” ucap Lukas yang selalu mendapat jawaban yang tidak jelas dari kakaknya.
Mereka berdua semakin asyik bermain catur dan beberapa kali kakek Ardi kalah oleh Lukas. Sementara itu Yasa yang melihat kakek Ardi kalah terus langsung menghampirinya.
“Kek, biar aku yang menggantikan kakek bermain,” ucapnya percaya diri sementara itu Lukas nampak meremehkan Yasa.
“Bermain? Ingin mengalahkan kakek Lukas? Ha…, ha…, bocah-bocah kamu bisa apa?” ucap kakek Lukas.
__ADS_1
“Skak mat. Kakek Lukas kalah. Aku yang menang,” Yas tiba-tiba mengarahkan permainannya hingga membuat Lukas tidak berkutik lagi dan mengakui kalau lawannya tidak bisa dianggap remeh.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.