Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Berkumpul Bersama


__ADS_3

Syukuran rumah baru pengantin baru pun


diadakan di rumah trsebut. Abisetya dan Liana disibukan dengan tamu-tamu. Mereka


berkumpul bersama dan nampak menikmati kebersamaan mereka.


Hari itu rumah barunya nampak dipenuhi


oleh beberapa tamu undangan dan kerabat. Mereka meikmati hidangan makanan yang


telah disediakan.


“Sayang, ayo aku kenalkan dengan relasi


rumah sakit yang sudah kenal akrab denganku,” ucap Abisetya menarik tangan


istrinya untuk dikenalkan dengan relasinya.


“Iya kak!” ucap Liana yang bergelayut


manja di lengan suminya. Abisetya dengan penuh percaya diri menggandeng


istrinya menuju kerumunan tamu undangan.


Di saat mereka bercengkraman dengan


relasi rumah sakif, tiba-tiba ada seorang wanita berpenampkilan menarik mendekati


mereka.


“Hai…, Setya!Wah tidak bertemu, semakin


bertambah tampan saja,” ucap dokter Silvi yang tiba-tiba mendekati Abisetya dan


mencium pipinya. Liana yang berada di sebelahnya nampak santai akan tetapi


terlihat mengeryitkan dahinya seperti memikirkan sesuatu untuk mmpermalukan


dokter Silvi. Dengan gerak cepat Liana langsung mengarahkan kakainya untuk menjegal


dokter Silvi hingga dokter Silvi sempoyongan geloyor menubruk pelayan yang


kebetulan lewat membawa minuman es buah.


“Byur…,” semua minuman yang berada di


nampan yang dibwa pelayan mengguyur tubuh dokter Silvi.


“Maaf nona?” ucap pelayan tersebut dan


hendak membersihkan minuman yang menumpahi tubuh Silvi.


“Maaf…, jangan sentuh tubuhku!” teriak


dokter Silvi hingga membuat semua orang terkejut.


“Cantik sih! Tapi sombong! Apa iya


memperlakukan orang lain seperti itu? Benar-benar orang yang sok cantik dan


terlalu memandang status sosial,” ucap salah satu tamu undangan yang ada di


ruangan tersebut.


Liana yang melewati dokter Silvi


mencondongkan badannya dan mengucapkan sesuatu.


“Itu baru peringatan. Ingat sekali kamu


menganggu suami aku yang ada aku tidak akan tinggal diam!” bisik Liana setengah


mengancam. Abisetya yang thu gerak-gerik istrinya hanya tersenyum simpul.


“Sayang kamu itu benar-benar istri yang


galak ya? Besok-besok jangan begitu ya? Kalau bisa langsung tending atau lempar


saja di got saj!” ucap Abisetya yang sengaja menggoda istrinya.


“Memangnya boleh kak? Tapi aku masih


taku?” ucap Liana berbisik.


“Takut? Memangnya yang kamu takutakan


apa?” tanya Abisetya kepada istrinya.


“Takut dipenjara!” ucap Liana lirih.


“Up…, ternyata istri aku masih waras


juga ya!” ucap Abisetya yang sengaja menggoda istrinya kembali.

__ADS_1


“Iya lah! Aku kan masih normal!” ucap


Liana sambil bergelayut manja mendampingi suaminya untuk menyambut tamu-tamunya


yang hadir.


“Bguslah! Tenyata cintamu tidak buta


sayang?” ucap Abisetya kepada istrinya.


“Tidaklah! Aku masih bisa berpikir


jernih dong?” ucap Liana masih tetap bergelayut manja dengan suaminya.


Perawakannya yang tinggi semampai dibalut dress warna biru copel dengan


suaminya membut semu tamu mengaguminya.


“Pasangan serasi! Selamat pak Abisetya


atas pernikahan kalian! Semoga kalian selalu langgeng dalam menjalanka hidup


kalian?” ucap salah satu dokter senior yag bekerja di rumah sakitnya.


“Terimaksih pak dokter!” ucap Abisetya sambil


bersalaman dengan dokter tersebut.


Demikianlah semua kegiatan hari itu


berjalan lancar. Karena waktu sore hari akhirnya semua saudara dan kerabat


dekat pamitan untuk pulang. Mama Dilla dan rombongan juga pamitan untuk pulang.


“Sayang , mama dan papa pulang dulu ya?


Tolong jaga menantu mama, jangan kau sakiti!” bisik mama Dilla kepada


putranya,


“Tentu dong ma? Mana tega aku


menyia-nyiakan istri aku yang cantik ini!” ucap Abisetya dengan senyumannya.


“Liana, ntar kalau kakak aku


macem-macem sama kamu, ambilkan saja cacing! Kakak akan lari terbirit-birit!” ucap


“Serius Al, masa iya dokter takut


cacing?” ucap Liana sambil menutup mulutnya yang ternganga tidak percaya dengan apa yang di dengarnya sambil sesekali melirik suaminya.


“Sayang, jangan dengarkan Almaira! Awas


yan anti kau akan ku makan habis-habis tahu rasa!” bisik Abisetya kepada


istrinya.


Liana langsung mendelik kea rah


suaminya seolah tahu apa yang suaminya maksud. Mereka pun mengantarkan


keluarganya pulang. Setelah semuanya pamitan yang ada hanya mereka berdua.


Abisetya langsung mendekati istrinya


dan menggendongnya.


“Kakak, aku masih capek!” ucap Liana


yang tahu kalau suaminya lagi menginginkannya. Liana merasakan detak jantung suaminya


yang semakin terpacu.


“Nanti aku pijitin, biar capek kamu


hilang!” ucap Abisetya yang sebenarnya dipakai modus olehnya.


“Pijitin badan aku atau modus menginginkan


aku?” bisik Liana manja yang mengalungkan tangannya di leher suaminya.


“Dua-duanya sayang, dan yang terpenting


kamu juga puas mencapai kenikmatan!” bisik suaminya yang justru menaikan


adrenalin nya.


“Sayang, tapi pelan ya? Dan satu lagi,


aku ingin berendam dulu! Seluruh badan aku lengket semua kak.


“Boleh sayang , kita mandi bersama ya?”

__ADS_1


ucap Abisetya yang langsung menggendong istrinya menuju kamar utama kemudian


merebahkan tubuh istrinya di ranjang. Abisetya berjalan menuju kamar mandi


untuk menyiapkan air dan aroma terapi untuk mereka berendam.


Setelah semuanya siap Abisetya membuka


bajunya dan berjalan menuju istrinya dan dengan pelan naik ke ranjang dan


melucuti semua pakaian istrinya. Abisetya kemudian menyentuh istrinya dan


sesaat menciumi istrinya.


“Sayang, jangan begitu ya? katanya


mandi dulu?” bisik Liana yang tanpa menolak justru merekatkan pelukannya.


“Ok! Siapa takut kita lanjut di kamar


mandi ya?” bisik Abisetya kepada istrinya.


“Kakak, kayaknya telinganya perlu di


obat di dokter THT ya?” ucap Liana meledek suaminya yang memang tidak bisa


dikendalikan kalau urusan bercinta.


“Boleh sayang, yang terpenting kita


lanjut dulu,” kelakar Abisetya disertai tawanya yang renyah. Dan pelan-pelan


menaruh tubuh istrinya di dalam bath up. Pelan dan pasti Abisetya


menindih tubuh istrinya kemudian bermain kuda-kudaan dengannya.


Abisetya sangat tahu apa yang


dibutuhkan Liana. Dengan pergerakan dan ritme yang pelan namun pasti mampu


membuat Liana berteriak mencapai kepuasan.


“Gimana sayang? Apa kamu masih ingin


menambah lagi?” bisik Abisetya kepada istrinya. Liana yang sudah kembali


terpacu Aderalinnya dengan serta merta merubah posisi dengan Liana berada di


atas suaminya. Liana dalam satu minggu sudah berhasil menguasai teknik bercinta


yang secara tidak langsung diajarkan oleh suaminya.


“Ah…, lagi sayang!”jerit Abiseya tak kuasa


menahan permainan dari Liana.


“Gimana kakak masih mau lanjut?” bisik


Liana yang masih dengan irama yang pelan.


“Iya sayang,” ucap Abisetya yang dengan


langsung membalik tubuh Liana dan memegang kendalinya. Mereka berdua terus


melanjutkannya hingga keduanya kelelahan. Setelah sama-sama lelah mereka berdua


membilas badannya dan mandi besar.


Abisetya nampak sumringah memperhatikan


istrinya. Liana baginya sudah merupakan candu untuknya dan tidak bisa


dilepaskan lagi. Dalam hatinya Abisetya berjanji akan selalu setia terhadap


Liana hingga akhir hayatnya.


Setelah istirahat sejenak di sofa


sambil mengeringkan rambut, Liana matanya terpejam karena kecapekan. Abisetya


yang tidak tega melihat istrinya memindahkannya di ranjang kemudian


menyelimutinya. Abisetya tak henti-hentinya memandangi wajah cantik istrinya.


Abisety berharap kelak dirinya memperoleh keturunan anak perempuan seperti


istrinya. Karena capek Abisetya tertidur di samping istrinya.


Terimakasih para pembaca yang setia,


atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita


terus mengikuti kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2