
Syukuran rumah baru pengantin baru pun
diadakan di rumah trsebut. Abisetya dan Liana disibukan dengan tamu-tamu. Mereka
berkumpul bersama dan nampak menikmati kebersamaan mereka.
Hari itu rumah barunya nampak dipenuhi
oleh beberapa tamu undangan dan kerabat. Mereka meikmati hidangan makanan yang
telah disediakan.
“Sayang, ayo aku kenalkan dengan relasi
rumah sakit yang sudah kenal akrab denganku,” ucap Abisetya menarik tangan
istrinya untuk dikenalkan dengan relasinya.
“Iya kak!” ucap Liana yang bergelayut
manja di lengan suminya. Abisetya dengan penuh percaya diri menggandeng
istrinya menuju kerumunan tamu undangan.
Di saat mereka bercengkraman dengan
relasi rumah sakif, tiba-tiba ada seorang wanita berpenampkilan menarik mendekati
mereka.
“Hai…, Setya!Wah tidak bertemu, semakin
bertambah tampan saja,” ucap dokter Silvi yang tiba-tiba mendekati Abisetya dan
mencium pipinya. Liana yang berada di sebelahnya nampak santai akan tetapi
terlihat mengeryitkan dahinya seperti memikirkan sesuatu untuk mmpermalukan
dokter Silvi. Dengan gerak cepat Liana langsung mengarahkan kakainya untuk menjegal
dokter Silvi hingga dokter Silvi sempoyongan geloyor menubruk pelayan yang
kebetulan lewat membawa minuman es buah.
“Byur…,” semua minuman yang berada di
nampan yang dibwa pelayan mengguyur tubuh dokter Silvi.
“Maaf nona?” ucap pelayan tersebut dan
hendak membersihkan minuman yang menumpahi tubuh Silvi.
“Maaf…, jangan sentuh tubuhku!” teriak
dokter Silvi hingga membuat semua orang terkejut.
“Cantik sih! Tapi sombong! Apa iya
memperlakukan orang lain seperti itu? Benar-benar orang yang sok cantik dan
terlalu memandang status sosial,” ucap salah satu tamu undangan yang ada di
ruangan tersebut.
Liana yang melewati dokter Silvi
mencondongkan badannya dan mengucapkan sesuatu.
“Itu baru peringatan. Ingat sekali kamu
menganggu suami aku yang ada aku tidak akan tinggal diam!” bisik Liana setengah
mengancam. Abisetya yang thu gerak-gerik istrinya hanya tersenyum simpul.
“Sayang kamu itu benar-benar istri yang
galak ya? Besok-besok jangan begitu ya? Kalau bisa langsung tending atau lempar
saja di got saj!” ucap Abisetya yang sengaja menggoda istrinya.
“Memangnya boleh kak? Tapi aku masih
taku?” ucap Liana berbisik.
“Takut? Memangnya yang kamu takutakan
apa?” tanya Abisetya kepada istrinya.
“Takut dipenjara!” ucap Liana lirih.
“Up…, ternyata istri aku masih waras
juga ya!” ucap Abisetya yang sengaja menggoda istrinya kembali.
__ADS_1
“Iya lah! Aku kan masih normal!” ucap
Liana sambil bergelayut manja mendampingi suaminya untuk menyambut tamu-tamunya
yang hadir.
“Bguslah! Tenyata cintamu tidak buta
sayang?” ucap Abisetya kepada istrinya.
“Tidaklah! Aku masih bisa berpikir
jernih dong?” ucap Liana masih tetap bergelayut manja dengan suaminya.
Perawakannya yang tinggi semampai dibalut dress warna biru copel dengan
suaminya membut semu tamu mengaguminya.
“Pasangan serasi! Selamat pak Abisetya
atas pernikahan kalian! Semoga kalian selalu langgeng dalam menjalanka hidup
kalian?” ucap salah satu dokter senior yag bekerja di rumah sakitnya.
“Terimaksih pak dokter!” ucap Abisetya sambil
bersalaman dengan dokter tersebut.
Demikianlah semua kegiatan hari itu
berjalan lancar. Karena waktu sore hari akhirnya semua saudara dan kerabat
dekat pamitan untuk pulang. Mama Dilla dan rombongan juga pamitan untuk pulang.
“Sayang , mama dan papa pulang dulu ya?
Tolong jaga menantu mama, jangan kau sakiti!” bisik mama Dilla kepada
putranya,
“Tentu dong ma? Mana tega aku
menyia-nyiakan istri aku yang cantik ini!” ucap Abisetya dengan senyumannya.
“Liana, ntar kalau kakak aku
macem-macem sama kamu, ambilkan saja cacing! Kakak akan lari terbirit-birit!” ucap
“Serius Al, masa iya dokter takut
cacing?” ucap Liana sambil menutup mulutnya yang ternganga tidak percaya dengan apa yang di dengarnya sambil sesekali melirik suaminya.
“Sayang, jangan dengarkan Almaira! Awas
yan anti kau akan ku makan habis-habis tahu rasa!” bisik Abisetya kepada
istrinya.
Liana langsung mendelik kea rah
suaminya seolah tahu apa yang suaminya maksud. Mereka pun mengantarkan
keluarganya pulang. Setelah semuanya pamitan yang ada hanya mereka berdua.
Abisetya langsung mendekati istrinya
dan menggendongnya.
“Kakak, aku masih capek!” ucap Liana
yang tahu kalau suaminya lagi menginginkannya. Liana merasakan detak jantung suaminya
yang semakin terpacu.
“Nanti aku pijitin, biar capek kamu
hilang!” ucap Abisetya yang sebenarnya dipakai modus olehnya.
“Pijitin badan aku atau modus menginginkan
aku?” bisik Liana manja yang mengalungkan tangannya di leher suaminya.
“Dua-duanya sayang, dan yang terpenting
kamu juga puas mencapai kenikmatan!” bisik suaminya yang justru menaikan
adrenalin nya.
“Sayang, tapi pelan ya? Dan satu lagi,
aku ingin berendam dulu! Seluruh badan aku lengket semua kak.
“Boleh sayang , kita mandi bersama ya?”
__ADS_1
ucap Abisetya yang langsung menggendong istrinya menuju kamar utama kemudian
merebahkan tubuh istrinya di ranjang. Abisetya berjalan menuju kamar mandi
untuk menyiapkan air dan aroma terapi untuk mereka berendam.
Setelah semuanya siap Abisetya membuka
bajunya dan berjalan menuju istrinya dan dengan pelan naik ke ranjang dan
melucuti semua pakaian istrinya. Abisetya kemudian menyentuh istrinya dan
sesaat menciumi istrinya.
“Sayang, jangan begitu ya? katanya
mandi dulu?” bisik Liana yang tanpa menolak justru merekatkan pelukannya.
“Ok! Siapa takut kita lanjut di kamar
mandi ya?” bisik Abisetya kepada istrinya.
“Kakak, kayaknya telinganya perlu di
obat di dokter THT ya?” ucap Liana meledek suaminya yang memang tidak bisa
dikendalikan kalau urusan bercinta.
“Boleh sayang, yang terpenting kita
lanjut dulu,” kelakar Abisetya disertai tawanya yang renyah. Dan pelan-pelan
menaruh tubuh istrinya di dalam bath up. Pelan dan pasti Abisetya
menindih tubuh istrinya kemudian bermain kuda-kudaan dengannya.
Abisetya sangat tahu apa yang
dibutuhkan Liana. Dengan pergerakan dan ritme yang pelan namun pasti mampu
membuat Liana berteriak mencapai kepuasan.
“Gimana sayang? Apa kamu masih ingin
menambah lagi?” bisik Abisetya kepada istrinya. Liana yang sudah kembali
terpacu Aderalinnya dengan serta merta merubah posisi dengan Liana berada di
atas suaminya. Liana dalam satu minggu sudah berhasil menguasai teknik bercinta
yang secara tidak langsung diajarkan oleh suaminya.
“Ah…, lagi sayang!”jerit Abiseya tak kuasa
menahan permainan dari Liana.
“Gimana kakak masih mau lanjut?” bisik
Liana yang masih dengan irama yang pelan.
“Iya sayang,” ucap Abisetya yang dengan
langsung membalik tubuh Liana dan memegang kendalinya. Mereka berdua terus
melanjutkannya hingga keduanya kelelahan. Setelah sama-sama lelah mereka berdua
membilas badannya dan mandi besar.
Abisetya nampak sumringah memperhatikan
istrinya. Liana baginya sudah merupakan candu untuknya dan tidak bisa
dilepaskan lagi. Dalam hatinya Abisetya berjanji akan selalu setia terhadap
Liana hingga akhir hayatnya.
Setelah istirahat sejenak di sofa
sambil mengeringkan rambut, Liana matanya terpejam karena kecapekan. Abisetya
yang tidak tega melihat istrinya memindahkannya di ranjang kemudian
menyelimutinya. Abisetya tak henti-hentinya memandangi wajah cantik istrinya.
Abisety berharap kelak dirinya memperoleh keturunan anak perempuan seperti
istrinya. Karena capek Abisetya tertidur di samping istrinya.
Terimakasih para pembaca yang setia,
atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita
terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1