
Sudah sepekan Tegar dan Dila berada di Bali. Hari ini Dila minta Tegar untuk kembali ke kotanya. Dila mengemas beberapa pakaian dan oleh-oleh untuk dimasukkan ke dalam koper. Semua teman dan penghuni rumahnya mendapatkan oleh-oleh darinya.
Dila memberikan beberapa oleh-oleh untuk si kembar. setelah selesai mengemas barang-barangnya Dila nampak capek dan duduk di sofa. Tegar yang merasa kasihan terhadap Dila langsung mendekatinya dan berusaha untuk memijit pagi Dila. Tegar begitu menyayanginya bahkan terlalu berlebihan.
“ Syang, Makanya kalau beres-bers itu tunggu aku dulu. Aku bisa mengerjakan semuanya, janganlah kamu capek-capek. Ingat dirimu itu tugasnya hanya untuk melayani ku agar segera mendapatkan Tegar kecil yang lainnya,“ ucap Tegar sambil terus memijit kaki Dila yang diselonjorkan di sofa.
“Kakak, mesti dech. Kamu itu terlalu vulgar kak!” ucap Dilla Sambil memonyongkan bibirnya hingga tidak kuasa Tegar kembali mendekatinya untuk mengecup bibirnya.
Tapi belum ke sampean langsung terhalang oleh Dila yang memang bertujuan untuk menghalangi aksi Tegar. Tegar tertawa geli melihat tingkah aku Dila.
“Sayang, itu hukuman untuk kamu yang membuat aku kesal. Pokoknya untuk hari ini tidak ada ciuman untuk kak Tegar,” ucap Dilla yang masih menempelkan telapak tangannya untuk menutupi bibirnya.
“ Oke kalau begitu tidak masalah,” ucap Tegar yang tiba-tiba langsung mengangkat tubuh Dilan menuju kamar. Tegar langsung menindihnya dan mencium leher hingga bagian tubuh Dila kecuali bibirnya. Dilla bertambah kesal dengan ulah Tegar, namun lama-kelamaan juga mengimbangi semua yang dilakukan oleh Tegar.
“Ha…, ha…,” Tegar tertawa melihat sikap Dila.
“Kak, apa an sih kak! Kakak nyebelin banget!” ucap Dilla yang masih memasang wajah cemberut. Namun Tegar tidak menghiraukannya dan langsung meneruskan aksinya.
“Kau itu anaeh cinta, lain di hati lain di mulut! Katanya mau menghukum tapi kok…,” ucapnya terhenti karena Dilla langsung membungkam bibir Tegar dengan ciuman.
Tegar nampak senang dan gembira apa yang diinginkannya tercapai hingga membawanya kembali ke titik kenikamtan. Sebelum pulang ke kotanya mereka berdua memuaskan memadu cinta di ranjang.
Tak Berapa lama kemudian mereka berdua mengakhiri aktivitasnya dan langsung bersiap diri untuk menuju bandara.
Antara Bali dan Solo yang begitu dekat sehingga mereka hanya menghabiskan waktu terbang sekitar 1 jam setengah. Berapa lama kemudian mereka sampai di bandara Solo. Si kembar bersama Mita dan Dimas menjemput mereka.
Si kembar ada di jajaran paling depan untuk menjemput Papa dan Mama mereka. Di saat mereka berada di rumah tunggu, ada seseorang yang tiba-tiba hendak memasukan sesuatu ke dalam tas papa papa mereka. Setya yang membawa air mineral langsung melemparnya ke arah orang tersebut hingga orang tersebut mengurungkan niatnya untuk memasukan sesuatu ke dalam tas Tegar. Namun orang tersebut bersandiwara bahwa Setya hendak mencelakainya.
__ADS_1
Orang tersebut minta ganti rugi kepada Tegar atas perlakuan anaknya terhadap dirinya. Tegar yang tidak mau ambil pusing langsung mengeluarkan uang dari dompetnya untuk diberikan kepada orang tersebut. Namun lagi-lagi setia tidak memperbolehkan tegar untuk memberi sejumlah uang kepada orang tersebut.
Setya yang pura-pura ngobrol dengan orang tersebut untuk mengalihkan perhatian agar fokus kepada dirinya, memberi kode kepada Yasa untuk mengambil benda yang tadi hendak dimasukan ke dalam saku papanya.
Namun sayang ulah si kembar di lihat oleh orang tersebut hingga akhirnya orang tersebut berteriak kepada satpam untuk menangkap si kembar. Yasa yang sudah mengambil barang tersebut berusaha mengamatinya dengan teliti meskipun satpam bandara sudah berada di depannya. Yasa berlindung di belakang Tegar hingga Tegar turun tangan berusaha cara membujuk Yasa.
“Nak, Apa yang kamu lakukan? Mana boleh seperti itu? Mengambil milik orang lain yang bukan haknya itu tidak baik,” ucap Tegar sambil jongkok di hadapan Yasa.
“Aku tidak mengambilnya. Aku hanya ingin tahu apa yang hendak dimasukkan ke dalam tas papa. Aku yakin, bapak itu akan menjebak papa,” ucap Yasa dengan tenang sambil terus meneliti barang tersebut.
“ Ok, Kalau begitu apa buktinya!” ucap Tegar agak kesal terhadap Yasa.
“Ini yang aku pegang, aku yakin ini di didalamnya berisi barang yang terlarang,” ucap Yasa yang terus mengamati barang tersebut.
“ Hai, anak kecil. Kamu jangan sembarangan ngomong. Itu hanya obat untuk kedua orang tuaku yang lagi sakit,” ucap orang tersebut sedikit grogi.
“Baiklah, kalau begitu masalah ini kita selesaikan di kantor,” ucap satpam Tersebut sambil menyita barang yang dibawa oleh Yasa. Tegar dan rombongan akhirnya mengikuti satpam tersebut menuju ke kantor.
“ Maaf, aku rasa bapak punya tujuan tersendiri untuk memasukkan serbuk itu ke dalam tasku. Kalau boleh tahu tujuan yang hendak bapak inginkan itu apa?”tanya Tegar penasaran.
“Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mencari keselamatan diriku agar terbebas dari razia polisi yang ada di depan,” ucapnya terbata-bata dan matanya tidak bisa dibohongi kalau sesungguhnya dia bermaksud mengalihkan kecurigaan Tegar.
“Hei…, tunggu dulu. Aku pernah melihat orang ini di mana ya?” ucap Mita tiba-tiba sambil berusaha mengingatnya.
“Oh...iya, Aku pernah melihatnya waktu itu berjalan sama Om Lukas di mall,” ucap Mita yang berhasil mengingat orang tersebut.
“Sayang, Apa kamu tidak salah lihat?” tanya Dimas kepada Mita, yang ragu akan kesaksian Mita.
__ADS_1
“Aku yakin, dia orang yang aku temui bersama Lukas di mall,” ucap Mita tanpa ragu lagi.
“Pak, aku mohon berkatalah dengan jujur. aku akan membantumu jika bapak berkata dengan jujur,” ucap Tegar kepada bapak tersebut. tiba-tiba Bapak tersebut langsung berlutut di hadapan Tegar dan mengungkapkan sesuatu kepada Tegar.
“Ampun Pak, aku seperti ini memang disuruh oleh Pak Lukas. Pak lugas menginginkan Anda terjerat hukum sehingga semua kekayaan anda nanti bisa di edit oleh pemerintah dengan demikian anda diharapkan bangkrut karena terbukti bersalah dan semua aset yang anda miliki merupakan hasil penjualan dari sabu-sabu,”ucap orang tersebut yang masih berlutut dihadapan Tegar.
“Lalu kenapa Bapak mau disuruh oleh om Lukas berbuat yang tidak baik?” tanya Tegar yang tidak tega terhadap orang tersebut.
“Maaf Pak, aku membutuhkan biaya untuk pengobatan putriku? putriku saat ini sedang sakit parah dan harus dioperasi,”ucap orang tersebut penuh kejujuran.
“ Baiklah, aku tidak menuntut atas kejahatan bapak. Akan tetapi untuk perihal kepemilikan sabu saya tidak bisa membantu. Sedangkan untuk kasus putri Bapak nanti saya akan membiayai seluruh pengobatan Putri bapak,” ucap Tegar tegas namun membuat orang tersebut mengaguminyha.
“Baiklah Pak, aku sangat berterima kasih Anda yang sudah sangat bijaksana bisa meringankan beban saya. perihal kasus saya tentang kepemilikan sabu saya sudah pasrah. Karena memang ketentuannya saya sudah melanggar hukum.
“Baiklah, nanti yang mengurus adalah Asisten saya. Dimas, Tolong semuanya diurus, termasuk pengobatan putri Bapak ini.” perintah Tegar kepada Dimas.
Setelah Bapak tersebut dibawa ke kantor polisi dan semua berita acara ditandatangani oleh pihak bandara dengan Kepolisian. Tegar bersama rombongan langsung pulang ke rumah mereka.
Dila nampak senang melihat sikap Tegar yang sudah berkurang arogannya dan dan sudah berhasil meredam nafsunya sehingga semua permasalahan terselesaikan dengan baik. Dila membayangkan jika kasus ini terjadi 5 tahun yang lalu sudah dipastikan Bapak tersebut badannya akan hancur dipukul oleh Tegar. Dila tersenyum tipis mengingat kejadian itu hingga menarik tegar untuk Bertanya kepadanya.
“ Sayang, kamu kenapa?” tanya tegar di tengah perjalanan mereka pulang.
“ Aku tidak apa-apa. Aku hanya senang ternyata kakak mampu meredam emosi dan ***** kakak untuk membalas dendam atas perbuatan Bapak tersebut. aku tadi membayangkan jika itu terjadi di waktu 5 tahun yang lalu pasti kamu memukuli Bapak tersebut hingga babak belur,” ucap Dila sambil bergelayut manja menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Tegar.
“ Sayang, yang Aku bukan tegar yang dahulu. aku aku bisa seperti ini juga karena dirimu dan anak-anak. Aku berjanji semua hal buruk yang ada di dalam diriku akan aku buang jauh-jauh,” ucap Tegar sambil memeluk Dila.
Sementara itu si kembar yang duduk di belakang sendiri tersenyum puas dengan kebersamaan kedua orang tuanya. Si kembar langsung tos satu sama lainnya dengan mengangkat kanannya. Tidak berapa lama kemudian mereka sampai di rumah mereka dengan perasaan bahagia mereka turun dari mobil menuju ke dalam rumah.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.