Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Permintaan Tegar


__ADS_3

Tegar hari ini menghadiri rapat dengan beberapa perusahaan untuk memperebutkan Tender terkait untuk pembangunan sebuah kompleks Perumahan Elit di wilayah kotanya.


Tegar di dampingi Dimas mempersiapkan dirinya untuk presentasi, namun di saat dirinya maju ke depan secara tidak terduga dirinya melihat sosok istrinya sedang berada di tengah-tengah mereka bersama Mita. Tegar merasa naik darahnya karena istrinya dalam keadaan hamil pergi menghadiri rapat tersebut.


"Benar-benar terlalu memaksa. Aku kan suruh tinggal dirumah," gumam Tegar lirih.


Tegar hampir gagal fokus namun Dimas menguatkan diri pak Tegar dengan memberi kode lewat tangannya dengan cara mengepalkan tanganya agar bosnya tidak terpengaruh oleh keadaan dan situasi. Tegar yang mengerti maksud dari Dimas langsung fokus sepenuhnya terhadap presentasi proyeknya. 


Tegar mempresentasikan hasilnya dengan hasil yang memuaskan sehingga beberapa investor tertarik menanamkan modal di perusahaan Tegar. 


Sementara itu Dilla yang mewakili perusahaannya juga ikut mempresentasikan proyeknya. Dan hasil presentasinya juga bagus sehingga membuat klien semakin mengaguminya. Bahkan ada beberapa pengusaha yang dengan terang-terangan memuji kecantikannya.


Presentasi yang dilakukan oleh Dilla juga cukup kuat pengaruhnya dan sama kuatnya dengan presentasi yang dilakukan oleh Tegar. Akhirnya investor melakukan diskusi untuk menentukan pilihan mereka.


Setelah menunggu beberapa saat maka diputuskan kalau tender untuk pembangunan kompleks Perumahan Elit dijatuhkan kepada perusahaan Tegar. Karena sudah ada keputusan pemenang lelang tender maka akhirnya para tamu beranjak pergi 


Dilla beserta Mita masih duduk sesuai dengan posisinya sambil menunggu suami dan asistennya. Tegar yang gemas dengan istrinya berusaha mendekatinya.


“Sayang…, apa yang kamu lakukan disini? Bukankah harusnya kamu tinggal di rumah?” tanya Tegar kepada istinya.


“Suamiku tersayang…, aku ikut tender lah!” ucap Dilla hingga membuat Tegar murka tapi mengingat istrinya hamil dia tidak tega memarahi istinya.


“Sayang…, aku mohon kamu di rumah saja. Biar yang mencari nafkah aku saja suamimu tercinta ini,”ucap Tegar hingga membuat Dilla manyun.


“Ok, aku bisa tergantung dengan kamu. Lalu bagaimana dengan nasib karyawan ku. Mereka membutuhkan biaya untuk hidup, kalau aku diam dan perusahaan bangkrut siapa yang memberi gaji mereka,” ucap Dilla kecewa dengan suaminya lalu beranjak pergi meninggalkan suaminya diikuti oleh Mita.

__ADS_1


“Sayang…, tunggu aku! Maksud aku bukan seperti itu!” ucap Tegar yang langsung mengejar istrinya namun Dilla keburu masuk ke dalam mobil. 


“Mita, ayo kita pergi dari sini!” teriak Dilla kepada Mita. Mita yang takut segera melajukan kendaraannya.


Sementara itu Tegar langsung meminta kunci mobilnya dar Dimas dan mengejar Dilla dan Mita. Namun Tegar tak kunjung bisa mengejarnya karena Mita mengemudikan dengan kencang.


“Dimas…, coba kau hubungi Mita suruh berhenti,” ucap Tegar yang semakin panik karena kendaraan yang di depannya melaju sangat kencang.


“Maaf…, tidak diangkat,” ucap Dimas yang membuat Tegar semakin emosi hingga akhirnya dia memutuskan menambah kecepatan untuk mengejar mereka. 


Tidak berapa lama kemudian Tegar berhasil melampaui mobil Mita dan menghadangnya dari depan sehingga Mita menghentikan mobilnya.


Tegar masih beruntung bisa mengejar Mita dan Tegar keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Mita dan memintanya untuk turun. Tegar kemudian mengetuk candela mobil Mita dan memintanya untuk turun dari mobilnya Dilla. Tegar kemudian langsung menerobos masuk di belakang kemudi setelah Mita keluar dari mobil.


“Mita…, kamu sama Dimas saja! Biar aku yang mengemudi mobil ini!” ucap Tegar yang langsung membawa Dilla pergi. Dilla yang masih emosi, terdiam tidak mau berkata sedikitpun.


“Kamu duduk di sini saja! Aku saja yang mengemudi,” ucap Dimas keluar dari mobilnya kemudian memutar di depan mobil untuk mengemudi


Sementara itu Dilla dan Tegar masih terjadi perang dingin. Mereka di mobil nampak terdiam seribu bahasa. Tegar sesekali melirik istrinya namun juga tidak ada respon sama sekali. Tegar bingung dengan sikap istrinya.


Tegar kemudian pelan dan pasti membawa istrinya menuju ke puncak. Tegar dengan hati-hati memarkirkan kendaraannya menuju villa keluarga.


Tidak berapa lama kemudian mereka sampai di Villa, Tegar turun dari mobil dan memutari bagian depan mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Dilla. Dilla yang masih mendongkol dan kecewa dengan ucapan Tegar masih duduk terdiam di mobil. Dilla tidak mau turun dari mobil.


“Ayo sayang…, turunlah dari mobil!” ucap Tegar kepada istrinya namun Dilla nampak diam hingga beberapa kali Tegar memanggilnya namun yang ada hanya sikap diam Dilla. Tegar yang gregetan dengan Dilla langsung menggendongnya masuk ke dalam villa yang sudah dibukakan oleh penunggu Villa.

__ADS_1


Dilla nampak meronta dari gendongan Tegar namun Tegar yang memiliki postur tubuh yang cukup besar bisa mengatasi Dilla dengan baik.


Dilla yang capek karena tidak bisa lepas dari gendongan Dilla langsung terdiam dan memukuli dada bidang Tegar.


“Sayang aku mohon diamlah…, aku takut terjadi sesuatu dengan kandungan kamu,” ucap Tegar yang masih menggendong Dilla menuju kamar. Dengan pelan Tegar menurunkan Dilla ke ranjang.


Dilla begitu diturunkan dari gendongan Tegar langsung memiringkan badannya menghadap ke didinding kamar Villa. Tegar pelan-pelan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.


Tegar dengan sabar membelai rambut Dilla dan menciuminya dari belakang.


“Sayang, sebenarnya aku tidak tega melihat kamu bekerja menjalankan bisnis ini! Aku menginginkan kamu istirahat hingga bayi kita lahir,” bisik Tegar dari belakang istrinya hingga Dilla yang awalnya terdiam tidak peduli dengan Tegar langsung membalikan tubuhnya menghadap sang suami.


“Kak tapi aku yang bertanggung jawab dengan kelangsungan operasional perusahaan kalau aku tidak bekerja bagaimana?”tanya Dilla hingga membuat Tegar berpikir sejenak dan memberi solusi kepada Dilla.


“Mita kan bisa membantu kamu? Aku tahu dulu kalau kamu sedang ada kepentingan atau hal tertentu kamu selalu menyuruh Mita mengerjakannya! Aku rasa Mita juga cukup handal!” ucap Tegar menyakinkan suaminya.


“Mita tidak sepenuhnya mampu kak? Mita hanya mampu jika menangani klien kecil, kalau klien besar belum mampu sepenuhnya menangani biasanya aku dampingi,” ucap Dilla membela diri. 


“Ok…, kalau memang begitu Dimas biar membantu Mita memimpin perusahaan kamu! aku yakin melalui Dimas perusahaan kamu pasti akan berkembang pesat,” ucap Tegar menyakinkan istrinya.


“Kakak yakin? Lalu perusahaan kakak bagaimana?” tanya Dilla yang meragukan bantuan dari suaminya.


“Yakinlah sayang, aku bisa mengatasinya sendiri. Nanti aku juga akan dibantu sekertaris aku!” ucap Tegar yang masih menyakinkan istrinya.


“Ok…, terserah kakak saja! Aku akan menuruti permintaan dan kemauan kakak!” ucap Dilla yang manja di pelukkan sang suami. Tegar akhirnya tersenyum puas karena permintaanya bisa dikabulkan istrinya.

__ADS_1


Dilla yang sudah merasa lega dan jelas dari keterangan suaminya sangat menyadari kalau sesungguhnya permintaan Tegar ada benarnya juga. 


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2