
Hari ini semuanya pergi ke Villa, Tegar dan Dilla beserta kedua putranya dalam satu mobil. Hari ini Tegar dengan sukarela menyetir sendiri menuju villa. Mbok Atik beserta sopir keluarga Dilla mengikuti mereka bersama dengan Dimas dan Mita.
Si kembar sangat menikmati perjalanannya menuju Villa. Di dalam perjalanan mereka berdua selalu buat ulah. Mereka berdua bercanda dengan riang, namun tak kala melihat papa dan mamanya tidak saling berucap membuat mereka berdua gemas.
“Kak, kayaknya kita harus membantu mereka berdua untuk mencairkan susana,” bisik Setya lirih kepada kakaknya.
“Iya betul dik. Kayaknya mama susah menerima papa sepenuh hatinya. Mama perlu proses dik, tidak semudah itu mama bisa melupakan masa lalunya,” Yasa berbisik dengan suara pelan kepada adiknya.
“Iya betul kak, kita harus berusaha menyatukan mereka. Jangan sampai om tampan nanti menyerah menaklukan mama,” ucap Setya bingung.
“Pa, kalau ntar sudah menikah dengan mama. Aku dibuatkan adik kecil perempuan ya?” ucap Yasa tiba-tiba, hingga membuat sang mama gemas.
“Adik? Memangnya Yasa ingin adik berapa?” tanya Tegar yang sengaja memancing Yasa karena Dilla dan dirinya nampak membisu tidak ada pembicaraan sama sekali. Dilla masih canggung kalau berhadapan dengan Dilla demikian sebaliknya Tegar karena beban rasa bersalahnya di masa lalu.
“Dua saja pa. Adik perempuan yang kembar seperti kita,” ucap Yasa penuh ceria. Sedangkan Setya yang tadinya terdiam, langsung ikut bersuara mendukung perkataan sang kakak.
“Iya. Aku setuju dengan kakak. Aku juga ingin dua adik perempuan saja, pasti nanti ser. Nanti aku akan menjaganya dengan baik bersama kakak. dan satu lagi tentunya adikku kalau perempuan pasti cantik seperti mama,” ucap Setya yang secara sengaja memuji ibunya.
“Iya nak. Mama kamu memang cantik kok. Papa bertemu pertama kali dengannya langsung jatuh cinta tapi entah mengapa dulu mama kamu pergi begitu saja meninggalkan mama,” ucap Tegar yang mendesah pelan.
__ADS_1
“Ya itu semua karena mama tidak mau melukai orang yang mama cintai,” ucap mama kesal karena Tegar memang sengaja mengajaknya bicara.
“La itulah nak, akhirnya terjadi kesalahpahaman antara papa dan mama?” ucap Tegar dengan tenang.
“Papa yang pendendam akhirnya membuat papa hidupnya berantakan dan papa selalu mencari mama kalian namun tidak pernah ketemu hingga lima tahun bertemu dengan mama lewat kalian. Terimakasih nak kalian berdua telah membawa kebahagiaan untuk papa dan mama,” ucap Tegar.
“Kak, aku mohon jangan libatkan anak-anak dengan masa lalu kita yang kelam. Biarkan kelak mereka kalau sudah dewasa tahu dengan sendirinya,” bisik Dilla kepada Tegar dengan sedikit memohon.
“Sayang, kita harus memberitahunya. Jangan sampai mereka tahu dari orang lain,” ucap Tegar memberi penjelasan kepada Dilla.
“Iya kak, tapi jangan sekarang. Nanti kalau sudah waktunya aku akan memberi penjelasan kepadanya?” bisik Dilla semakin memanas menahan emosi.
Tidak berapa lama kemudian mereka sampai di Villa, Tegar dan rombongan langsung memasuki villa dan mereka langsung masuk ke kamar mereka masing-masing yang sudah di atur oleh Dimas. Dilla tidur bersama kedua putranya, sedangkan Tegar tidur di kamar sebelah Dilla.
“Papa tampan, ayo berenang bersama. Aku ingin berlomba berenang dengan papa tampan?” ucap Setya sambil mendekatinya.
“Nak, kamu itu lucu sekali. Mana bisa kamu berenang sejauh itu? Dan yang sebelah situ terlalu dalam untuk anak kecil,” ucap Tegar meremehkan kedua putranya.
“Papa tampan, kalau begitu kita coba ya? Aku dan kakak sudah mahir berenang,” ucap Setya yang duduk di tepi kolam renang. Setelah setuju mereka bertiga langsung meluncur berenang. Dan Yasa meminta Dilla menjadi pengamatnya. Tegar merasa kasihan dengan kedua putranya kemudian memperlambat gerakan renangnya hingga akhirnya dimenangkan oleh Setya. Hal itu dikarenakan Yasa juga mengalah seperti Tegar. Tegar sangat salut dengan sikap Yasa yang sangat dewasa. Tegar merasa puas karena Yasa bisa bersikap baik kepada adiknya.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat semula, Tegar langsung menghampiri Dilla dan membisikan sesuatu kepada Dilla . “Terimakasih ya sayang, kau telah mendidik kedua putra kita menjadi pribadi yang baik,”
“I’tu kan sudah wajib aku sebagai orang tua untuk mendidiknya menjadi pribadi yang baik dan tidak menurun sifat dari ayahnya yang pendendam,” ucap Dilla menyindir Tegar hingga Tegar menelan salivanya. Dan untunglah Dimas datang dan mengatakan kalau ada telpon dari relasi yang harus diangkat oleh Tegar karena ada masalah darurat yang harus diselesaikan.
Tegar langsung keluar dari kolam renang dan berjalan menuju ruang kerja. Tegar kemudian membersihkan dirinya dan langsung pergi untuk meeting. Tapi sebelumnya Tegar pamit terlebih dahulu dengan kedua bocah kembar tersebut beserta mamanya. Yasa merengek ingin ikut tapi Tegar melarangnya karena dirinya ada urusan dengan relasi yang cukup penting. Dilla pun membujuk Yasa agar tidak mengikuti tegar. Yasa pun akhirnya menurut dengan permintaan mamanya.
Tegar pergi bersama Dimas untuk menemui relasinya, ternyata Setya mengendap-ngendap masuk mengikuti mereka dan sembunyi di jok belakang. Tegar dan dimas karena tegang jadi tidak memperhatikan Setya.
“Dim, apakah mereka tidak bisa di nego. Bukankah kemarin pembebasan tanah itu sudah selesai, kenapa sekarang kok jadi kacau dan rumit?” tanya Tegar cemas.
“Sepertinya yang bermasalah itu karyawan kita, mereka tidak menyampaikannya kepada masyarakat sesuai dengan kompensasi yang diberikan oleh perusahaan,” jawab Dimas.
“Ok, nanti kau selidiki kasus ini, kalau perlu PHK karyawan yang bermasalah!” perintah Tegar serius.
Setelah sampai di tempat perselisihan Tegar dan Dimas turun dari mobilnya dan berjalan menemui mereka tanpa ada perasaan takut. Tegar berusaha bernegosiasi dengan alah satu pimpinan yang membuat kericuhan.
Mereka bernegosiasi hampir 2 jam tapi tidak ada titik temunya hingga akhirnya salah satu warga naik pitam dan hendak mencelakai Tegar. Salah satu warga tersebut hendak menancapkan sebuah belati kea rah Tegar namun tiba-tiba ada bocah kecil langsung menendang tangan orang tersebut sehingga terlepas dari tusukan.
“Brak…, jangan celakai papaku. Awas kalau kau mencelainya maka kau akan aku hancurkan hidupmu,” teriak Setya yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
__ADS_1
“Setya apa yang kamu lakukan disini? Dan bagaimana kamu bisa ikut di sini padahal kakakmu tadi ikut tidak saya perbolehkan. Tapi kamu malah mengikuti kami, bener-bener kamu anak ayah yang naka!” ucap Tegar kepada putranya. Dan Setya terkekeh mendengar omelan papanya tanpa ada perasaan berdosa.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.