Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Pernikahan Abisetya


__ADS_3

Abisetya sangat senang dengan kondisinya sekarang ini. Hidupnya sekarang ini penuh dengan warna sejak mengenal Liana. Apalagi seminggu lagi pernikahannya akan segera dilangsungkan. Atas permintaan orang tuanya dan sekaligus orang tua Liana pernikahan dipercepat untuk menghindari segala sesuatu yang tidak diinginkan.


Abisetya menyiapkan pernikahannya dengan penuh kemewahan, bahkan semua relasi kerjanya di rumah sakit diundang. Dan tidak lupa semua saudara dan kerabat juga diundang.


Adiknya Almaira  yang heboh sangat membantu persiapan pernikahan kakaknya bahkan paling cerewet dengan penataan dekorasinya.


“Bang, dekorasinya harus yang baik. Bunganya kalau perlu ditambahkan bunga sedap malam biar wangi seluruh ruangan. Dan untuk kamar pengantin jangan lupa ditambahkan bunga mawar yang warna-warni dan kalau perlu buat gambar love di ranjangnya,” ucap Almaira dengan gayanya yang khas seorang putri konglomerat.


“Iya non. Non Almaira jangan kuatir! Kita akan mendesain seindah mungkin biar kakak non puas dan senang di malam pertamanya,” ucap abang dekorasi ruangan dengan senyumnya yang manis.


Setelah semuanya siap Almaira menemui papa dan mamanya di ruangan khusus keluarga yang memang disediakan di salah satu bagian hotel tersebut.


“Pa…, semuanya sudah siap. Aku sudah mengecek seluruh ruangan. Bahkan dekorasi pelaminan dan kamar pengantin sudah aku cek semua. Pokoknya dijamin memuaskan!” ucap Almaira yang duduk di sebelah papanya dengan manja sambil merebahkan kepalanya di pangkuan papanya.


“Iya sayang, terimakasih! Anak gadis papa bawaannya manja banget. Gimana nich kamu sudah punya pacar belum? Teman akrab kamu saja sudah mau menikah dengan kakak kamu?” tanya papanya tiba-tiba dan itu sangat mengejutkan Almaira.


“Pacar, apaan sih pa? Aku belum mau menikah dulu. Aku masih ingin fokus melanjutkan kuliah aku pa?” jawab Almaira.


“Sayang, kamu itu jangan lama-lama jomblo. Kamu wanita lo sayang? Papa ingin kamu nikah muda sayang? Kalau kamu belum ada calon, papa akan carikan kamu calon. Anaknya baik dan sopan. Dan kamu sering bertemu dengannya,” ucap papanya sambil membetulkan anak rambut putrinya yang menutupi matanya.


“Ih papa, gak mau. Aku gak mau dijodohkan. Papa, jaman bukan jamannya Siti Nurbaya pa? Papa gak asyik!” ucap Almaira yang langsung berdiri dan ngeloyor pergi menyusul mamanya yang hendak menuju kamar rias.


“Ma…, tunggu Almaira! Papa gak asyik! Nyebelin banget, aku ikut mama saja!” ucap Almaira yang bergelayut manja dengan menggandeng lengan mamanya. Sementara itu mamanya hanya tersenyum simpul melihat ulah putrinya.


“Iya. Ayo kita ke ruang make up sekalian persiapan karena sebentar lagi akad nikah akan segera dimulai!” ucap mama Dilla menanggapi sikap putrinya.

__ADS_1


“La, memangnya kakak sudah selesai mempersiapkan diri ma?” tanya Amaira.


“Sudah sayang, kakak kamu sudah ada di ruangan dimana nanti akad nikahnya dilaksanakan!” ucap mama Dilla yang tersenyum sambil mengusap rambut putrinya.


“Baiklah, aku kesana dulu!” ucap Almaira hendak pergi menghampiri kakaknya, namun sang mama dengan cekatan menariknya kembali.


“Kalau kamu kesana, nanti make upnya tidak selesai sayang, kamu bakal ketinggalan tidak bisa mengikuti akad nikah kakak kamu!” ucap mama Dilla.


“Iya deh, aku nurut aja apa iata mama!” ucap Almaira sambil bersungut-sungut geloyor masuk ke ruang ganti dan make up.


Dilla nampak tersenyum puas melihat putrinya yang memang sangat manja dan susah menurut. Mereka berdua sudah siap-siap, sementara itu mempelai wanita sudah di make up dan nampak begitu cantik. Almaira sebagai sahabatnya berusaha menggoda Liana.


“Hem…, hem calon kakak iparku kelihatan tambah cantik saja! Gimana nich perasaannya mau jadi nyonya muda Abisetya?” tanya Almaira nyerocos tanpa melihat kalau Liana nampak tersipu malu.


“Gak salah dengar aku? Bukannya kamu tidak suka anak kecil? Bahkan dulu nyokap kamu mau mengambil anak angkat saja kamu tidak setuju. Dan kamu gak mau di rumah kamu ada anak kecil lagi?” tanya Almaira penasaran.


“Up…, karena aku gak mau punya adik kecil lagi. Dan aku tidak mau orang tua aku kasih sayangnya terbagi,” ucap Liana masih berbisik pada Almaira.


Almaira nampak melototi Liana, karena ternyata Liana sama egoisnya dengan dirinya. Mamanya berbagi kasih sayang dengan keponakannya saja dia tidak mau.


“Sudah jangan bahas itu! Ayo kamu segera make up. Dan nanti ikut menemani aku akad nikah ya? Aku nampak gugup, jantung aku berdebar cukup kencang,” ucap Liana yang menuntun tangan kanan Almaira menunjuk dadanya.


“Wah ternyata kamu bener-bener jatuh cinta sama kakak aku. Padahal kakak aku itu cuek dan dingin kayak kulkas lo?” ucap Almaira menggoda Liana.


“Gak juga kak Setya itu menarik dan yang membuat aku gemas itu perhatiannya. Dan aku senang dia nampak begitu menyanyangiku,” ucap Liana yang mengungkapkan perlakuan Abisetya terhadap dirinya.

__ADS_1


“Masa sih? Padahal kakak itu menyebalkan dan mejengkelkan,” ucap Almaira yang kemudian fokus untuk merias dirinya.


“Nak, sudah selesai belum? Lima belas menit lagi akad nikah dimulai,” ucap mama Dilla yang sudah selesai berdandan. Papa dan mamanya Liana juga kerabatnya sudah menunggu di tempat acara.


“Suadah ma,” ucap Almaira yang sudah bersiap diri mengantar Liana memasuki ruang pernikahan. Liana nampak anggun demikian juga Almaira tidak kalah anggun dengan Almaira. Semua orang nampak tidak berkedip memandang mereka berdua bahkan salah satu tamu yang berada di dekat Abisetya nampak mengagumi Almaira. Bahkan kedua matanya nampak tidak berkedip mengagumi kecantikan Almaira.


Setelah semuanya siap, Abisetya mengucapkan akad nikah disaksikan kedua orang tua mempelai dan kerabatnya. Dengan lancar Abisetya mengucapkan ijab kabul dan disertai jawaban dari beberapa orang yang hadir dan dengan serentak mereka menjawab syah.


Setelah ijab kabul selesai dilanjutkan do’a untuk kedua mempelai dan acara ditutup dengan perayaan pesta dan jamuan yang meriah untuk para undangan.


Semua keluarga dan kerabat dari kedua mempelai foto bersama. Almaira yang nampak dominan diantara mereka tidak terlepas dari perhatian seseorang. Bahkan nampak begitu jelas orang tersebut ingin mendekati Almaira.


Belum sempat dirinya mendekati Almaira tiba-tiba seseorang menoel bahunya.


“Hai…, apa yag sedang kamu perhatikan nak?” tanya papa Tegar yang tiba-tiba sudah ada di samping pemuda tersebut.


“Eh om Tegar, maaf aku telah mencuri pandang putri om Tegar,” ucapnya terus terang.


“Ya begitulah Almaira nak! Dia masih gadis manja seperti dulu? Apakah kamu belum bertemu dengannya?” tanya Tegar kepada pemuda tersebut yang ternyata teman Abisetya yang sudah lama mengenal Almaira. Namun karena harus melanjutkan study ke luar negeri mereka lama tidak bertemu dan tentunya Almaira pasti akan lupa dengan sosok pemuda tersebut yang bernama Ibra. Ibra yang sekarang nampak cakep dan memiliki body yang six pack idaman para wanita.


“Belum om?” jawab Ibra yang tampak tidak begitu fokus dengan pertanyaan Tegar.


“Makanya sana temui gadis kecilmu! Om akan merestui kalian,” ucap Tegar kepada Ibra yang nampak puasa dengan Tegar yang secara tidak langsung memberinya lampu hijau untuk meminang putrinya.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2