Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Berterimakasih


__ADS_3

Beberapa hari setelah sidang kasus om Lukas, tante Lusi nampak murung. Semua aset perusahaan yang berhubungan dengan om Lukas dijadikan bukti di pengadilan dan dilakukan penyelidikan. Dan semua kekayaan perusahaan yang Tante Lusi dan om Lukas kelola harus kembali kepada Tegar.


Karena keputusan hakim sudah bulat dan ditetapkan sesuai dengan hukum maka tante Lusi diharuskan untuk menyerahkan perusahaan kepada Tegar.  Dengan perasaan berat hati  Tante Lusi melepas semua kepemilikan perusahaan tersebut.


Tante Lusi yang berada di rumahnya nampak bersedih, semua barang-barangnya sudah dikemas dengan rapi karena hendak pindah ke rumah kontrakan yang telah disiapkan oleh Brenda. “Sayang, aku sangat berat meninggalkan rumah ini. Aku juga tidak rela kalau rumah ini kembali kepada Dilla,” ucap mama Lusi kepada Brenda.


“ Mama…, sudahlah. Kita harus menerima kenyataan bahwa semua barang yang kita miliki memang bukan hak kita,” ucap Brenda kepada mamanya.


“Kau itu..., tahu apa! Aku bisa memperoleh semua ini memerlukan banyak perjuangan. Tidak gampang mendapatkan semua ini!” ucap mama Lusi yang masih menangis tidak percaya dengan semua kejadian yang menimpanya.


“Iya…, ma. Tapi kita memperolehnya dengan tidak halal. Bagaimanapun kita merebutnya dengan hal yang tidak baik dari mamanya  kak Dilla dan papa Wisnu. dan sebaiknya mama harus minta maaf kepada kak Dilla!” ucap Brenda kepada mamanya.


“Tidak, bagaimanapun aku tidak mau untuk meminta maaf kepada anak ingusan itu!” ucap mama Lusi kepada Brenda.


“Sudahlah, sayang…! Kamu jangan memaksa mama. Biarkanlah mama berpikir sendiri dan aku yakin suatu saat mama pasti akan terbuka hatinya untuk menyadari kekeliruannya!” ucap Rahardi menasehati Brenda. Rahardi kemudian berjalan mengambil koper Brenda untuk ditaruh di bagasi mobilnya dan tidak lupa menaruh kopernya tante Lusi.


Setelah semuanya  beres,  mereka akhirnya  berangkat menuju ke tempat kontrakan mereka yang baru.


“ Apa…?Inikah rumah yang harus aku tinggali?” ucap tante Lusi yang tidak pernah menunjukan rasa syukurnya.

__ADS_1


“ Mama…, Kita harus bersyukur, setidaknya ada tempat yang bisa kita tinggali.  Meskipun kecil tapi semua fasilitas juga tidak kalah dengan rumah kita yang lama,” Ucap Brenda sambil mengingatkan mamanya akan tetapi tante Lusi masih menunjukan sikap tidak puasnya  hingga Brenda malu kepada Rahardi yang mencarikan rumah untuknya dan mamanya.


“Iya sih,  akan tetapi disini ini   kolam renangnya cukup kecil dan tidak sebagus dengan yang ada di rumah lama. Dan disini tidak ada pembantunya, mama menginginkan pembantu kita yang lama tetap tinggal di sini!” perintah mama Lusi kepada Brenda.


“Tapi ma…, mana bisa kita membayar untuk pembantu kita. rumah saja kita yang menyewakan kak Rahardi,” ucap Brenda pelan karena malu di dengar oleh kekasihnya. 


“aku tidak peduli. Rahardi kalau menginginkanmu harus bertanggung jawab atas semua kehidupanmu dana mama!” teriak tante Lusi tanpa rasa malu kepada calon menantunya.


“Tapi ma, kita tidak boleh seperti itu. Membebani semua masalah kebutuhan kita kepada kak Rahardi,” ucap Brenda pelan karena malu kepada Rahardi.


“Sudahlah…, sayang. Itu tidak masalah. Si mbok kamu ajak tinggal di sini, nanti semuanya aku yang mencukupi!” ucap Rahardi dengan tulus.


“Sayang, kenapa kamu punya pikiran seperti itu?Aku mencintaimu dengan tulus tanpa ada beban apapun. Jika kamu dalam kesulitan aku pasti dengan tulus dan ikhlas membantumu,” ucap Rahardi yang pelan-pelan merengkuh tubuh Brenda dalam pelukan.


“Ah…, Anak muda zaman sekarang Sangat jago memberi harapan palsu.  Cinta sih cinta tapi rumah begini kecil saja dibanggakan. Ditambah lagi bukan rumah sendiri masih mengontrak! Dasar laki-laki tidak modal sama sekali!” ucap tante Lusi kesal.


“Mama…, aku mohon sudahlah ma. Kita harus berterima kasih kepada kak Rahardi  setidaknya kita sudah ada tempat tinggal,” ucap Brenda kesal langsung menarik tangan Rahardi menuju ruang tengah untuk ngobrol sambil melihat televisi. 


Tante Lusi yang jengkel masih berdiri di teras baru kemudian menyusul BRenda dan Rahardi masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sementara itu Tegar mengajak Dilla jalan-jalan ke luar rumah naik mobil dengan dirinya sendiri sebagi sopirnya. Tegar menghentikan mobilnya di tepi danau. Kemudian pelan-pelan Tegar mengajak Dilla berjalan menyusuri tepi danau sambil menikmati pemandanggan di sekitar Danau. Setelah puas bermain di tepi danau sambil menikmati makanan ringan yang di bawanya dari rumah, Tegar langsung membawa Dilla naik ke dalam mobil. 


“Sayang, aku akan memberimu kejutan tapi mata kamu aku tutup terlebih dahulu ya?” ucap Tegar sambil menyekap kedua mata Dilla dengan kain yang telah dia siapkan.


Setelah Dilla siap, Tegar kembali naik ke mobilnya duduk di belakang kemudi. Dengan kecepatan sedang Tegar membawa Dilla ke suatu tempat. Tidak beberapa lama kemudian mereka sampai ke tempat yang mereka tuju. Tegar membuka pintu mobil kemudian menggendong Dilla turun dari mobil berjalan menghampiri sebuah rumah yang ada di depannya. 


Begitu sampai di teras rumah tersebut, Tegar langsung membuka penutup mata Dilla dan menyuruhnya membuka matanya. Dilla sangat terkejut ketika melihat kalau dirinya sudah berada di depan rumahnya yang dulu dikuasai oleh mama tirinya.


“Sayang…, ini kunci rumah kamu. Dan surat-suratnya aku masukan ke dalam tas ini,” ucap Tegar kepada istrinya sambil menyerahkan semuanya kepada Dilla. Dilla sangat terharu melihat kejutan yang diberikan oleh suaminya.


“Terimakasih sayang…, rumah ini sangat berarti buat aku. Banyak kenangan masa kecil dan remaja ku di sini,” ucap Dilla sambil mencium pipi suaminya. kemudian mereka bergandengan masuk kedalam rumah. 


Dilla nampak senang dan langsung menuju kamar dimana dirinya dulu tidur dan menikmati beberapa siksaan batin akibat ulah mama tiri dan adik tirinya. Matanya berkaca-kaca menahan tangis karena teringat masa lalunya.


“Sudahlah sayang…, janganlah kau ingat-ingat lagi. Ayo kita ke taman belakang dan yang terpenting kita senang,” ucap Tegar sambil mengajak istrinya bertanggung jawab. 


Dilla hanya menganggukan kepalanya menyetujui permintaan suaminya, hingga akhirnya mereka berjalan ke taman belakang menikmati udara sejuk yang di luar rumah. Dilla berjalan menuju ayunan yang dulu pernah digunakan semasa masih kecil. Tegar yang berada di belakang Dilla membantu mengayun ayunan tersebut hingga mereka sangat menikmatinya,


“Sayang…, aku ingin setelah melahirkan untuk tinggal di sini. Aku sangat mencintai rumah ini,” ucap Dilla manja hingga Tegar tidak mampu menolak apa yang dikatakan Dilla.

__ADS_1


“Ok…, itu tidak masalah. Aku akan menuruti semua kemauan kamu. Tapi rumah kita bagaimana sayang?” tanya Tegar kepada Dilla hingga akhirnya mereka berdua membuat kesepakatan kalau rumah Dilla hanya dipakai kalau saat berlibur saja.


__ADS_2