
Dila semakin uring-uringan tidak jelas, sehingga membuat Tegar enggan untuk pulang. Tegar mengajak Dimas untuk nongkrong di cafe semasa mudanya dulu.
“Dimas, bagaimana ini Dim! Istriku sejak bertemu dengan Airin kemarin selalu marah tidak jelas dan ujung-ujungnya aku yang disalahkan!” ucap Tegar memulai pembicaraan sambil menghela nafasnya panjang.
“Parah kalau begitu bro? Aku jamin pak bos pasti gak dapat jatah makan ya?” ledek Dimas kepada bosnya.
“Iya nich padahal terkadang keinginanku sudah naik ke ubun-ubun, tapi ujung-ujungnya usaha sendiri! parah kan?” ucap Tegar sambil menghisap rokoknya kemudian menghembuskannya lagi.
“Kalau seperti itu, ya kamu harus buktikan kalau Airin sudah tidak ada apa-apanya lagi dengan kamu!” ucap Dimas berusaha mencari solusi bosnya.
“Sudah tapi nihil!” nampak Tegar memikirkan sesuatu namun dirinya masih ragu.
“Bro jangan-jangan bawaan bayi bro! Bu Dilla hamil lagi!” ucap Dimas iseng bercanda agar Tegar tidak tegang.
“Serius nich Dim? Kalau begitu aku pulang dulu ya, ada sesuatu yang harus aku lakukan!” ucap Tegar langsung ngibrit pulang tanpa menghiraukan lagi teriakan temannya.
“Terus bagaimana ini Bos? siapa yang membayar semua ini?” tanya Dimas kesal.
“Kamu bayar dulu, nanti masukan di bon kantor!” teriak Tegar sambil terus berjalan menuju ke luar cafe.
Tegar melajukan kendaraannya cukup kencang hingga tidak lama kemudian sampai di rumahnya. Tegar dengan tergopoh-gopoh masuk ke kamarnya untuk mencari Dilla.
“Sayang-sayang…, kamu dimana?” tanya Tegar yang nyelongong masuk ke kmarnya namun tidak ada jawaban sama sekali dari Dilla.
“Maaf tuan, nyonya pergi ke rumah lama bersama anak-anak tadi pagi daiantar pak sopir?” ucap sallah satu pembantu rumah tangganya yang menghampiri Tegar.
“Astaga, kenapa jadi begini?” tanya Tegar kepada pembantunya.
“Memangnya kenaapa tuan? Nyonya muda hanya liburan kebetulan si kembar libur seminggu setelah ulangan.
“Baik mbok, tolong siapkan baju aku selama seminggu untuk nginap di sana! Aku akan menyusul mereka!” ucap Tegar sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi. setelah semuanya siap Tegar berangkat pergi menyusul mereka.
Tidak berapa lama setelah kepergian Tegar tiba-tiba ponselnya si mbok berbunyi yang ternyata dari bu Dilla.
“Mbok, bapak sudah pulang?” tanya Dilla yang meskipun dirinya ngambek tapi sesungguhnya masih mencintai dan perhatian terhadap suaminya. Dilla sebenarnya juga mengetahui kalau sebenarnya dirinya itu merasakan kalau dirinya sangat keterlaluan.
“Maaf nyonya, bapak pergi ke puncak menyusul nyonya! dan barusan bapak berangkat,” ucap pembantunya membuat bu Dilla langsung lemas.
__ADS_1
“Serius mbok? Bapak pergi menuju ke mari?” tanyanya panik.
“Iya bu!” ucap pembantunya dan semakin membuat Dilla panik dan langsung menutup panggilannya dengan pembantunya.
Sementara itu Dilla yang panik berusaha menghubungi Tegar agar tidak berangkat ke puncak karena cuaca yang tidak bersahabat. Hari ini hujan begitu lebat telah mengguyur sekitar puncak hingga longsor dan pohon tumbang banyak terjadi di daerah tersebut.
Tegar yang penasaran dengan keadaan istrinya berusaha menerobos jalanan meskipun hujan sangat lebat. Tegar tanpa pikir panjang terus melajukan kendaraannya hingga tiba-tiba pohon yang cukup besar tumbang mengenai mobilnya.
Mobilnya kena bagian depannya hingga kacanya pecah dan melukai keningnya hingga berdarah. Tegar meringis kesakitan kelihatannya keningnya membentur bagian depan mobil dengan begitu keras.
Berita tumbangnya pohon besar dengan cepat menyebar ke seluruh medsos hingga beritanya dibesar-besarkan bahwa pengusaha muda Ceo perusahaan ternama Tegar Permana sedang tergencet dibawah pohon tumbang hingga tidak bisa bergerak.
Kabar yang tidak jelas itu juga terdengar sampai di telinga Dilla hingga Dilla tidak henti-hentinya menangis dan meminta sopirnya untuk mengajaknya turun menghampiri tempat kejadian.
“Maaf nyonya kita harus menunggu hujan reda! untuk situasi seperti ini akan sangat berbahaya untuk keselamatan nyonya!” ucap sang sopir sopan. Dilla dengan kondisi panik berusaha menghubungi Dimas hingga beberapa kali namun Dimas tidak mengangkatnya.
Dilla yang semakin panik akhirnya menghubungi Mita dan kebetulan sedang online sehingga langsung segera tersambung.
“Mita, dimana suamimu!” ucap Dilla tiba-tiba membuat Mita bingung karena nada bicara Dilla aneh.
“Mandi! Memangnya ada apa? Adakah sesuatu yang harus aku bantu?” tanya Mita penasaran.
“Astagfirullah, kamu yang sabar ya? Semoga pak Tegar tidak apa-apa! Aku akan memberitahunya untuk segera mencari tahu informasi tentang pak Tegar,” ucap Mita yang ternyata sedang hamil besar berjalan tertatih-tatih menghampiri suaminya yang sedang mandi.
“Sayang, tolong segerakan mandi nya!” ucap Mita setelah membuka pintu kamar mandinya.
“Kenapa memangnya sayang? Apa kamu ingin minta lagi?” tanya Dimas menggoda istrinya karena barusan dai bersama istrinya melakukan aktivitas suami istrinya di tempat tidur.
“Astaga sayang jaga pikiran kotor kamu! Pak tegar mengalami kecelakaan saat menuju ke puncak menghampiri bu Dilla,” ucap Mita yang membuat kaget Dimas hingga Dimas langsung menyelesaikan mandinya dan bergegas mengganti baju bersihnya.
“Aduh sayang kenapa tidak bilang dari tadi?” ucap Dimas yang gemas dengan istrinya terus menyambar jaket dan kunci mobilnya meluncur ke lokasi.
Hujan sudah mulai reda Dimas melajukan kendaraannya dengan sangat kencang hingga dalam waktu 30 menit sampai ke lokasi. Demikian pula Dilla langsung meluncur menuju lokasi sedangkan putra dan putrinya diserahkan ke pengurus Villa untuk menjaganya.
Dimas dengan cekatan berusaha menerobos garis polisi hendak menolong Tegar namun dihalangi oleh pak polisi hingga tidak bisa masuk. Demikian pula Dilla dari arah yang berbeda berusaha menerobos masuk ke are lokasi namun polisi juga tidak mengizinkanya masuk.
“Anda itu bagaimana? Di sana ada suami saya yang membutuhkan pertolongan kenapa saya tidak diizinkan masuk!” bentak Dilla kepada petugas.
__ADS_1
Dilla dengan segala upayanya langsung menyingkap kerumunan beberapa orang dan dengan kekuatan seorang istri yang mengkhawatirkan suaminya berhasil masuk menerobos garis polisi.
“Sayang…, bagaimana keadaanmu?” tanya Dilla panik dan berusaha membuka pintu mobil dengan sekuat tenaga namun tidak bisa juga dilakukan karena posisinya terjepit dengan pohon.
“Aku baik-baik saja sayang, kamu menjauhlah dari sini biar petugas yang membantu aku,” jawab Tegar dengan suara lemah karena menahan rasa sakit di bagian kepalanya dan kakinya juga terjepit tidak bisa keluar.
Melihat kegigihan Dilla yang ingin berusaha membantu suaminya keluar akhirnya masyarakat dengan sigap dan gotong royong membantu mengevakuasi pak Tegar karena menunggu bantuan dari pihak terkait belum juga datang.
Dengan peralatan seadanya dari masyarakat akhirnya mereka bisa mengeluarkan pak Tegar dengan kondisi selamat. Tegar berhasil keluar dengan kening dan kaki yang terluka namun tidak vatal.
Dilla langsung memeluk tubuh suaminya dan mencium pipi suaminya seraya berucap syukur karena suaminya masih selamat.
Dilla yang mantan perawat langsung memberi pertolongan pertama kepada suaminya dengan peralatan seadanya. Dimas yang cemas dan sudah berada di dekat mereka langsung memapah Tegar untuk masuk ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1