Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Kejutan


__ADS_3

Setelah selesai sarapan di kamar,


Abisetya mengajak istrinya untuk berenang. “Sayang, ayo kita berenang,” ucap


Abisetya tiba-tiba disamping istrinya yang sedang bermanja di pangkuan


suaminya.


“Maaf kak, aku gak bisa renang,” ucap


Liana yang memang sengaja mengatakan dirinya tidak bisa berenang agar dirinya


tidak jadi diajak renang oleh suaminya karena sesungguhnya dia malu dan malas


kalau berenang di hotel meskipun itu hotel keluarga.


“Masa sih, seorang Liana yang suka


olahraga, tidak bisa berenang! Aku ajarin kamu sayang,” tanya balik Abisetya.


“He…, sebenarnya bukan itu kak. Tapi


aku malu kalau berenang di tempat umum,” jawab Liana yang merasa kalau mereka


berenang pasti banyak tamu yang melihatnya.


“Kamu salah sayang ku! Kolam renang


yang kita pakai kolam renang yang adda di belakang kamar kita itu hanya kolam


pribadi jadi kita tidak perlu berenang di kolam depan.


“Masa iya kak! Aku lihat tembok kamar


kita juga tidak ada pintunya nenuju kolam renang?” tanya Liana penasaran.


“Iya sayang memang papa mendesain


tempat ini khusus untuk keluarga. Kita ada kalanya kalau acara tertentu


menginap di sini. Dn khusus ruanangn ini untuk keluarga utama dan banyak pintu


rahaasianya,” ucap Abisetya memberi penjelasan kepada Liana.


“O…, mantap dong. Kalau begitu aku mau


kak! Aku juga penasaran dengan yang kamu ucapkan,” bisik Liana manja.


“Ok, kamu tunggu dulu ya? Aku akan


menyuruh bagian logistic hotel untuk membelikanmu baju renang,” ucap Abisetya


kepada istrinya.


“Iya kak!” ucap Liana yang kemudian


kembali merebahkan dirinya di sofa. Entah karena pertempuran yang berkali-kali


akhirnya Liana tertidur kembali di sofa. Abisetya yang mengetahu istrinya capek


segera memindahakannya ke ranjang. Dan akhirnya Abisetya pun kembali merebahkan


tubuhnya di samping Liana.


Abisetya dengan tubuhnya yang kekar


memeluk dan mendekap Liana yang disandarkan di dadanya yang bidang. Liana yang


merasakan kenyamanan langsung teertidur pulas. Abisetya memainkan anak rambut


yang mengenai muka Liana.


Abiyasa dengan pelan memainkan anak rambut


yang menutupi Sebagian wajah Liana, kemudian mengecup keningnnya.


Setelah rasa capek hilang, mereka pun


terbangun dan matahari sudah mulai meninggi jadi mereka memutuskan tidak jadi


berenang.


“Kak, kata mama Dilla nanti kita di


suruh menemuinya setelah makan siang. Ini mama baru saja pesan lewat Watshapp,”

__ADS_1


ucap Liana sambil membuka ponselnya yang baru saja berdering.


“Iya, ini kakak juga diberi pesan oleh


mama! Ayo kamu cuci muka dulu! Kita makan siang di ruang jamuan. Semua kerabat


hadir di bawah!” ucap Abisetya kepada istrinya.


“Baik kak! Tunggu sebentar ya?” ucap


Liana yang mulai berjalan menuju kamar mandi.


Setelah semuanya siap mereka berdua


berjalan menuju raung jamuan. Abisetya dengan mesra menggandeng istrinya hingga


akhirnya mereka tiba di ruang jamuan. Semua kerabat berusaha menggoda mereka


berdua terutama Abiyasa.


“Astaga pengantinnya baru turun nich?


Wah kelihatan kalau habis pertandingan dengan pergulatan seru nich. Hem…,


kayaknya aka nada Abisetya junior nich?” ledek Abiyasa di dengar oleh semua


orang yang hadir.


“Dasar memang kakak sekongkol dengan


yang lainnya ya? Kak kalau godain kita jangan dihadapan Liana. Kasihan dia


tersipu malu tuch!” bisik Abisetya kepada kakanya.


“Sudahlah, ayo segera duduk. Kita lnjut


makan siang!” ucap mama Dilla yang kalem   hingga meka berdua memposisikan duduk yang nyaman.


Suasana makan siang ini berjalan dengan


lancar karena semua kerabat hadir. Setelah makan siang selesai semua kerabat


memberi kado kepada mempelai berdua. Sementara itu mama Dilla menyiapkan kado


istimeewa untuk Liana calon menantuny.


rawatlah dengan baik ya?” ucap mama Dilla yang berada di smping Liana.


“Terimaksih ma,” jawab Liana yang


kmudain secara spontan mereka yang hadir menyuruh untuk membuka isi kado dari


mama Dilla. Mama dilla yang tahu Liana masih ragu akhirnya memberi kode dengan


mengganggukan kepalanya agar Liana membukanya.


Karena sudah ada persetujuan dari


mertuanya, Liana dengan pelan dan pasti membuka kado dari mama Dilla. Liana


mendapatkan sebuah kunci rumah yang tentunya tidak jauh dari ruman utama.


“Terimakasih, ma!” ucap Liana sambil


kembali memeluk mama Dilla. Liana tidak menyangka akan mendapatkan kejutan


seperti itu. Rumah mewah sudah disiapkan oleh mama mertuanya. Liana tidak


menyangka kalau dirinya begitu disayangi oleh mertuanya.


“Iya sayang, yang terpenting ke


depannya mama segera diberi cucu ya?” bisik mamanya menggoda menantunya.


“Iya… ma!”jawab Liana tertunduk malu


sambil melirik suaminya. Abisetya hanya tersenyum menanggapi istrinya.


“Ma…, habis ini kita boleh dong


langsung menempati rumah baru,” tanya Abisetya kepada mamanya.


“Boleh dong sayang…, tapi kita adakan


syukuran dulu ya?” ucap mama Dilla.

__ADS_1


“Iya aku setuju kak! Kita adakan pesta


bakar-bakar ya ma?” ucap Almaira yang ikutan nimbrung dengan keluarganya.


“Nah…, ini mantap dik! Nanti ajak juga


Ibra ya?” goda Abisetya pada adiknya.


“Hem…, Ibra? Temen kamu itu! Yang


kemarin hadir di sini yang selalu mengikuti papa Tegar?” ucap mama Dilla yang


nampak senang dengan kedekatan putrinya bersama Ibra.


“Iya ma! Ibra temen kuliah aku yang di


kedokteran!” jawab Abisetya menjelaskan kepada mamanya.


“Wah bakal seneng mama. Sebentar lagi


mama akan dapat anak mantu lagi!” jawab mamanya yang sengaja menggoda Almaira.


“Ih…., mama Almaira belum siap!” jawab


Almaira yang tersipu malu.


“Sayang…, kalau kamu belum siap terus


kapan? Jangan sampai kamu jadi perawan tua ya?” ucap mama Dilla yang sengaja


menakut-nakuti Almaira.


“Iya dik! Kamu gak seperti temen kamu


ini?” tanya kakanya kepada adiknya.


“Ih, kakak kenapa ikut-ikutan? Sana


pergi sana!” ucap Almaira kepada kakanya.


“Tentu dong! Kalau gak ikut-ikutan dan


lepas tangan soal kamu berarti kakak lepas tanggungjawab sebagai kakak dong?”


tanya Abisetya kepada adik tercintanya.


“Sudah ah! Terserah kakak saja!” ucap


Almaira kembali cemberut. Namun tidak lama kemudian dari arah pintu hadir Ibra


yang sudah smile menyapa mereka.


“Wah panjang umur nich! Ma itu calon


menantunya datang!” ucap Abisetya kepada mamanya. Mamanya langsung mengarah


yang ditunjukan oleh Abisetya. Dan tidak lama kemudian Ibra menghampiri mereka


dan menyapanya. Ibra juga mencium punggung tangan mama Dilla. Mama Dilla


terlihat sangat menyukai Ibra.


“Nak, ayo kamu makan dulu! Almaira


tolong ambilkan makanan untuk Ibra!” perintah mama Dilla terhadap anak


gadisnya. Lmaira tidak berani membantah kemauan mamanya kemudian mengahmpiri


Ibra dan mempersilahkannya duduk di kursi makan. Almaira dengan cekatan


mengambil makanan yang di sukai oleh Ibra.


Ibra tersenyum puas ternyata dari dulu


gadis kecilnya tidak melupakan makanan kesukaannya. Ibra memperhatikan gerak


gerik Almaira yang semakin membuatnya kagum. Baginya almaira semakin tambah


anggun dan cantik. Ibra pun tidak menyesal karena menunggu Almaira ke sekian


tahunnya.


Terimakasih para pembaca yang setia,


atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita

__ADS_1


terus mengikuti kisahnya ya?


__ADS_2