
Setelah selesai sarapan di kamar,
Abisetya mengajak istrinya untuk berenang. “Sayang, ayo kita berenang,” ucap
Abisetya tiba-tiba disamping istrinya yang sedang bermanja di pangkuan
suaminya.
“Maaf kak, aku gak bisa renang,” ucap
Liana yang memang sengaja mengatakan dirinya tidak bisa berenang agar dirinya
tidak jadi diajak renang oleh suaminya karena sesungguhnya dia malu dan malas
kalau berenang di hotel meskipun itu hotel keluarga.
“Masa sih, seorang Liana yang suka
olahraga, tidak bisa berenang! Aku ajarin kamu sayang,” tanya balik Abisetya.
“He…, sebenarnya bukan itu kak. Tapi
aku malu kalau berenang di tempat umum,” jawab Liana yang merasa kalau mereka
berenang pasti banyak tamu yang melihatnya.
“Kamu salah sayang ku! Kolam renang
yang kita pakai kolam renang yang adda di belakang kamar kita itu hanya kolam
pribadi jadi kita tidak perlu berenang di kolam depan.
“Masa iya kak! Aku lihat tembok kamar
kita juga tidak ada pintunya nenuju kolam renang?” tanya Liana penasaran.
“Iya sayang memang papa mendesain
tempat ini khusus untuk keluarga. Kita ada kalanya kalau acara tertentu
menginap di sini. Dn khusus ruanangn ini untuk keluarga utama dan banyak pintu
rahaasianya,” ucap Abisetya memberi penjelasan kepada Liana.
“O…, mantap dong. Kalau begitu aku mau
kak! Aku juga penasaran dengan yang kamu ucapkan,” bisik Liana manja.
“Ok, kamu tunggu dulu ya? Aku akan
menyuruh bagian logistic hotel untuk membelikanmu baju renang,” ucap Abisetya
kepada istrinya.
“Iya kak!” ucap Liana yang kemudian
kembali merebahkan dirinya di sofa. Entah karena pertempuran yang berkali-kali
akhirnya Liana tertidur kembali di sofa. Abisetya yang mengetahu istrinya capek
segera memindahakannya ke ranjang. Dan akhirnya Abisetya pun kembali merebahkan
tubuhnya di samping Liana.
Abisetya dengan tubuhnya yang kekar
memeluk dan mendekap Liana yang disandarkan di dadanya yang bidang. Liana yang
merasakan kenyamanan langsung teertidur pulas. Abisetya memainkan anak rambut
yang mengenai muka Liana.
Abiyasa dengan pelan memainkan anak rambut
yang menutupi Sebagian wajah Liana, kemudian mengecup keningnnya.
Setelah rasa capek hilang, mereka pun
terbangun dan matahari sudah mulai meninggi jadi mereka memutuskan tidak jadi
berenang.
“Kak, kata mama Dilla nanti kita di
suruh menemuinya setelah makan siang. Ini mama baru saja pesan lewat Watshapp,”
__ADS_1
ucap Liana sambil membuka ponselnya yang baru saja berdering.
“Iya, ini kakak juga diberi pesan oleh
mama! Ayo kamu cuci muka dulu! Kita makan siang di ruang jamuan. Semua kerabat
hadir di bawah!” ucap Abisetya kepada istrinya.
“Baik kak! Tunggu sebentar ya?” ucap
Liana yang mulai berjalan menuju kamar mandi.
Setelah semuanya siap mereka berdua
berjalan menuju raung jamuan. Abisetya dengan mesra menggandeng istrinya hingga
akhirnya mereka tiba di ruang jamuan. Semua kerabat berusaha menggoda mereka
berdua terutama Abiyasa.
“Astaga pengantinnya baru turun nich?
Wah kelihatan kalau habis pertandingan dengan pergulatan seru nich. Hem…,
kayaknya aka nada Abisetya junior nich?” ledek Abiyasa di dengar oleh semua
orang yang hadir.
“Dasar memang kakak sekongkol dengan
yang lainnya ya? Kak kalau godain kita jangan dihadapan Liana. Kasihan dia
tersipu malu tuch!” bisik Abisetya kepada kakanya.
“Sudahlah, ayo segera duduk. Kita lnjut
makan siang!” ucap mama Dilla yang kalem hingga meka berdua memposisikan duduk yang nyaman.
Suasana makan siang ini berjalan dengan
lancar karena semua kerabat hadir. Setelah makan siang selesai semua kerabat
memberi kado kepada mempelai berdua. Sementara itu mama Dilla menyiapkan kado
istimeewa untuk Liana calon menantuny.
rawatlah dengan baik ya?” ucap mama Dilla yang berada di smping Liana.
“Terimaksih ma,” jawab Liana yang
kmudain secara spontan mereka yang hadir menyuruh untuk membuka isi kado dari
mama Dilla. Mama dilla yang tahu Liana masih ragu akhirnya memberi kode dengan
mengganggukan kepalanya agar Liana membukanya.
Karena sudah ada persetujuan dari
mertuanya, Liana dengan pelan dan pasti membuka kado dari mama Dilla. Liana
mendapatkan sebuah kunci rumah yang tentunya tidak jauh dari ruman utama.
“Terimakasih, ma!” ucap Liana sambil
kembali memeluk mama Dilla. Liana tidak menyangka akan mendapatkan kejutan
seperti itu. Rumah mewah sudah disiapkan oleh mama mertuanya. Liana tidak
menyangka kalau dirinya begitu disayangi oleh mertuanya.
“Iya sayang, yang terpenting ke
depannya mama segera diberi cucu ya?” bisik mamanya menggoda menantunya.
“Iya… ma!”jawab Liana tertunduk malu
sambil melirik suaminya. Abisetya hanya tersenyum menanggapi istrinya.
“Ma…, habis ini kita boleh dong
langsung menempati rumah baru,” tanya Abisetya kepada mamanya.
“Boleh dong sayang…, tapi kita adakan
syukuran dulu ya?” ucap mama Dilla.
__ADS_1
“Iya aku setuju kak! Kita adakan pesta
bakar-bakar ya ma?” ucap Almaira yang ikutan nimbrung dengan keluarganya.
“Nah…, ini mantap dik! Nanti ajak juga
Ibra ya?” goda Abisetya pada adiknya.
“Hem…, Ibra? Temen kamu itu! Yang
kemarin hadir di sini yang selalu mengikuti papa Tegar?” ucap mama Dilla yang
nampak senang dengan kedekatan putrinya bersama Ibra.
“Iya ma! Ibra temen kuliah aku yang di
kedokteran!” jawab Abisetya menjelaskan kepada mamanya.
“Wah bakal seneng mama. Sebentar lagi
mama akan dapat anak mantu lagi!” jawab mamanya yang sengaja menggoda Almaira.
“Ih…., mama Almaira belum siap!” jawab
Almaira yang tersipu malu.
“Sayang…, kalau kamu belum siap terus
kapan? Jangan sampai kamu jadi perawan tua ya?” ucap mama Dilla yang sengaja
menakut-nakuti Almaira.
“Iya dik! Kamu gak seperti temen kamu
ini?” tanya kakanya kepada adiknya.
“Ih, kakak kenapa ikut-ikutan? Sana
pergi sana!” ucap Almaira kepada kakanya.
“Tentu dong! Kalau gak ikut-ikutan dan
lepas tangan soal kamu berarti kakak lepas tanggungjawab sebagai kakak dong?”
tanya Abisetya kepada adik tercintanya.
“Sudah ah! Terserah kakak saja!” ucap
Almaira kembali cemberut. Namun tidak lama kemudian dari arah pintu hadir Ibra
yang sudah smile menyapa mereka.
“Wah panjang umur nich! Ma itu calon
menantunya datang!” ucap Abisetya kepada mamanya. Mamanya langsung mengarah
yang ditunjukan oleh Abisetya. Dan tidak lama kemudian Ibra menghampiri mereka
dan menyapanya. Ibra juga mencium punggung tangan mama Dilla. Mama Dilla
terlihat sangat menyukai Ibra.
“Nak, ayo kamu makan dulu! Almaira
tolong ambilkan makanan untuk Ibra!” perintah mama Dilla terhadap anak
gadisnya. Lmaira tidak berani membantah kemauan mamanya kemudian mengahmpiri
Ibra dan mempersilahkannya duduk di kursi makan. Almaira dengan cekatan
mengambil makanan yang di sukai oleh Ibra.
Ibra tersenyum puas ternyata dari dulu
gadis kecilnya tidak melupakan makanan kesukaannya. Ibra memperhatikan gerak
gerik Almaira yang semakin membuatnya kagum. Baginya almaira semakin tambah
anggun dan cantik. Ibra pun tidak menyesal karena menunggu Almaira ke sekian
tahunnya.
Terimakasih para pembaca yang setia,
atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita
__ADS_1
terus mengikuti kisahnya ya?