
Setelah mencabut Semua kasus yang terkait dengan Wendy, Tegar kembali ke ruangan di mana Dilla istirahat. Tegar masuk ke ruangan tersebut, namun diranjang tidak nampak Dilla. Tegar menyebarkan pandangannya di seluruh ruangan tersebut, di pojok ruangan Tegar menangkap ada sesosok tubuh Dilla yang meringkuk karena ketakutan.
Tegar perlahan-lahan mendekati Dilla, dan langsung mendekapnya dalam pelukannya. Dilla yang secara psikologis terganggu karena mengalami trauma akibat dikeroyok masa oleh ibu-ibu, berontak hendak melepaskan diri dari pelukan Tegar.
“Lepaskanlah aku, aku tidak bersalah. Hik…, hik…,” Dilla menangis dalam pelukan Tegar dan berkali-kali memukuli Tegar. Hati Tegar merasa sangat sakit melihat kondisi Dilla.
“Sayang, ini aku. Aku…, kak Tegar.” Tegar menelungkup kan tangannya pada wajah Dilla dan memandanginya dengan penuh kasih sayang. Dilla perlahan-lahan sadar dan mengenali Tegar.
“Kak…. Aku takut. Mereka semua jahat,” ucap Dilla penuh ketakutan. Tegar yang yang tidak tega langsung merengkuhnya dan menggendongnya untuk dibaringkan ditempat tidur. Tegar memperlakukan Dilla selayaknya seperti anak kecil yang kehilangan induknya. Tegar mengusap-usap kening Dilla hingga tertidur.
Setelah Dilla tertidur, Tegar yang mengingat kalau ada janji dengan Mita beserta anak-anak. Tegar langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Mita. Tidak lama kemudian ponsel Tegar terhubung dengan Mita.
“Halo…, Mitha. Hari ini ini kamu beserta anak-anak Pergilah menyusul Dimas di Semarang. Aku beserta Dilla akan menyusul besok pagi kalau Dilla sudah membaik,” perintah Tegar yang membuat Mita sebal, karena dirinya tidak hanya berkencan dengan Dimas akan tetapi menjadi pengasuh kedua Putra kembar Dilla.
“Pak Tegar, mana bisa begitu. Ada apa dengan Bu Dilla dan pak Tegar? Kenapa tidak sekalian kita berangkat bersama-sama. Aku sangat keberatan jika harus membawa serta si kembar. Mereka berdua begitu aktif dan tak jarang aku selalu dikerjai mereka berdua,” ucap Mita yang memang selalu kewalahan menangani si kembar.
“Kau itu, jangan alasan saja ya? Masa merawat dua bocah saja tidak mampu. Dilla masih sakit, karena peristiwa di restoran tadi siang?” jawab Tegar tanpa memberi penjelasan tentang peristiwa di restoran.
“Terus bagaimana? Bisakah aku mengajak Mbok Atik?” tanya Mita berusaha mencari keringanan untuk menjaga si kembar.
“Dasar, inginnya dapat enak ya? pasti kamu ingin berkencan dengan Dimas ya? Baiklah, bawalah Mbok Atik mengikutimu ke Semarang. Kalau sudah sampai ke Semarang, segera hubungi saya kembali,” ucap Tegar langsung memutus ponselnya.
Sementara itu Mita nampak kesal dengan sikap Tegar. Mita dan si kembar sudah siap untuk berangkat langsung memutar badannya mencari Mbok Atik sedang berada di ruang tengah.
__ADS_1
“Mbok..., ayo kamu segera siap-siap. kita akan pergi ke Semarang untuk berlibur bersama si kembar,” perintah Mita kepada Mbok Atik.
“Non…, aku di rumah saja. Aku Masih Menunggu nyonya muda pulang,” hujan Mbok Atik sopan.
“Tenang mbok, ini perintah pak Tegar atas suruhan Bu Dilla. Ayolah kita nikmati liburan hari ini,” ucap Mita merayu mbok Atik agar ikut dengannya.
“Baiklah non, aku akan siap-siap,” Mbok Atik langsung menuju kamarnya untuk menyiapkan perlengkapan dan beberapa baju pengganti untuk dirinya.
Sementara itu Tegar masih menunggu Dilla, karena Dilla masih tertidur nyenyak maka Tegar pun tidak berusaha untuk membangunkannya. Tegar menunggu Dilla dengan berbaring disampingnya. Tegar yang capek akhirnya tertidur di samping Dilla.
Hari pun beranjak gelap, sinar matahari telah tenggelam seolah ditelan oleh langit. Demikian pula dengan hati Tegar. Entah mengapa perasaan Tegar tidak enak seolah-olah ada sesuatu yang akan terjadi. Tegar pelan-pelan membangunkan Dilla.
Dilla mulai membuka matanya dan hendak beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa saat di kamar mandi, Dilla keluar dengan memakai handuk yang terlilit di dalam tubunya karena baju yang dia pakai terjatuh di kamar mandi.
Dilla membuka sedikit pintu kamar mandi dan matanya menyebar memandangi seluruh ruangan, namun tidak terlihat sosok Tegar di dalamnya. Dilla dengan penuh percaya diri berjalan mengendap-endap menuju almari yang ada di ruangan tersebut. Dilla membuka almari dan mencari baju yang kira-kira bisa dipakai untuk dirinya.
Tidak berapa lama kemudian terdengar suara pintu dibuka. Tegar membawa beberapa Paper bag dan duduk disebelah Dilla.
“Sayang, hari ini ini kamu nampak cantik sekali memakai kemejaku ini,” sambil menelan saliva hanya karena melihat lekuk-lekuk tubuh Dilla yang indah karena memakai baju warna putih yang transparan.
Dilla yang tersadar, langsung melihat kondisi tubuhnya. Dilla tersipu malu melihat kalau Ternyata baju yang dia pakai nampak transparan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya.
“Kak, kamu jangan merayuku,” ucapnya malu sambil menutupi bagian terpentingnya dengan tangannya.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak merayumu. Ta...pi, kamu lebih cantik kalau kamu pakai baju yang aku bawa ini,” ucap Tegar sambil menyerahkan paper bag kepada Dilla.
Dilla yang malu dengan kondisi tubuhnya langsung berusaha merebut paper bag yang Tegar berikan. Dilla pun langsung berdiri dan hendak melangkah pergi meninggalkan Tegar. Namun karena terburu-buru kaki Dilla menyandung kaki Tegar hingga Dilla akhirnya jatuh di pelukan Tegar.
Baju yang dipakai Dilla begitu tipis dan Dilla tidak memakai apapun maka Tegar merasakan kalau ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Tegar yang merupakan laki-laki normal langsung bereaksi. Senjatanya yang berada di bawah tindihan Dilla, bereaksi menunjukkan kalau yang yang punya masih normal.
Dilla yang menyadarinya berusaha melepaskan diri dari Tegar. Namun Tegar berusaha memeluknya sangat erat agar Dilla tidak lepas begitu saja.
“Kak…, aku mohon lepaskan aku. Aku mau ke kamar mandi mengganti bajuku,” ucap Dilla dengan memerah karena menahan malu.
“Iya…, Tapi kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus bisa mendinginkan sesuatu yang ada di tubuhku ini agar tidak menegang,” ucap Tegar menggoda Dilla.
“Kakak, jangan main-main ya? Memangnya Kakak sudah siap kalau ada dua bocah kembar lagi? Ingat kak, kita jangan mengulang kesalahan yang sama ma!” ucap Dilla yang berusaha menyadarkan Tegar.
Tegar pun terkekeh mendengar jawaban Dilla. Kemudian Tegar mengangkat tubuh Dilla untuk menempatkan di samping tubuhnya. Tegar perlahan-lahan mengungkung tubuh Dilla dengan kedua tangannya. Tegar dengan pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke wajah Dilla hingga membuat Dilla semakin ketakutan.
“Dasar wanita ceroboh dan penggoda, awas ya, kalau kamu melakukan ini kepada ada laki-laki lain. Aku tidak akan memberimu ampun. Aku akan menghukum mu hingga kamu tidak bisa berjalan.” ucap Tegar kembali terkekeh dan kemudian berdiri meninggalkan Dilla yang masih bengong berada di sofa.
“Dasar CEO pendendam dan selalu dipenuhi dengan *****. Awas ya Ya kalau main perempuan di belakang aku!” gumam Dilla Lirih. Namun ternyata Tegar mendengarnya dan kemudian langsung berbalik arah kembali mendekati Dilla. Dilla yang panik langsung berdiri dari sofa dan hendak kabur dari cengkraman Tegar. Tegar yang sudah sampai di dekat Dilla langsung menarik kerah belakang baju Dilla hingga tidak bisa bergerak.
“Sayang, Memang aku bernafsu. Apalagi sama kamu. Mau kah aku buktikan?” ucap Tegar yang sebenarnya hanya menggoda Dilla, namun Dilla sangat ketakutan melihat tingkah Tegar.
“Kakak, aku mohon jangan lakukan itu! kamu boleh melakukannya kalau sudah menikah. Aku akan siap melakukan apapun untukmu! bahkan sehari berkali-kali juga siap,” ucapnya asal agar terbebaskan dari cengkraman Tegar.
__ADS_1
Tegar pun akhirnya melepaskan Dilla dengan senyum kemenangan dan kembali melangkahkan dirinya ke kamar mandi.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.