Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Kencan Pertama Abisetya


__ADS_3

Abisetya setelah acara pernikahan Abiyasa nampak sumringah dan sesekali bersiul ketika hendak makan bersama keluarga sehingga Almaira jahil padanya.


“Wah kayaknya ada orang yang ketiban durian runtuh ya?” ucap Almaira menggoda kakaknya.


“Ha…, apa? Durian? Mana duriannya,” jawab Setya pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud dengan perkataan Almaira.


“Di perumahan Elite kampung sebelah,” ucap Almaira yang memang sengaja memancing perkataan kakaknya.


“What perumahan kampung sebelah,” ucap Setya yang terkejut dan duduk di sebelah Almaira.


“Iya…, memangnya kakak kemarin tidak dikasih alamatnya?” tanya Almaira penasaran.


“Tidak hanya no whatsapp saja kok! Kamu nguping pembicaraan kakak ya? Dasar gadis nakal!” ucap Setya sambil memencet hidung adiknya.


“Kakak sakit nich!” ucap Almaira sambil memonyongkan bibirnya.


“Makanya diam adik cerewet!” ucap Setya yang terus membuka piringnya dan mengambil sarapan untuknya.


“Eh…, kok ramai ya? Ayo makan nak! Nanti makanannya keburu gak enak! Setya makan dulu baru cerita,” ucap Dilla yang menengahi putra dan putrinya.


“Cerita? Cerita apa an ma?” ucap Setya bigung.


“Ya hasilnya pendekatan tempo hari kamu dengan Liana di pernikahan Yasa?” ucap mama Dilla sambil tersenyum melihat putranya.


“Eh…, anu ma! Pokoknya ya lumayanlah! Aku nanti mau jemput dia di sanggar senam yang dekat rumah sakit kita ma!” ucap Setya lirih karena tidak ingin didengar oleh Almaira.


“Wah mantap nich ma! Aku akan dapat calon ipar Liana. Ini benar-benar menyenangkan! Aku setuju ma! Liana itu cantik, pintar dan supel!” cerocos Almaira di hadapan keluarganya


“Bagus tuh! Papa senang akhirnya putra papa bisa menemukan calon istrinya! Tapi ingat jangan main-main karena Liana itu anak yang baik dan papanya relasi perusahaan kita!” ucap papa Tegar kepada putranya yang tentunya sangat mendukung kencan pertama Abisetya.

__ADS_1


“Baik pa!” ucap Setya senang dan meneruskan makannya. Setelah makannya selesai Setya pamitan untuk berganti baju menjemput Liana.


“Kak…, aku ikut mau ketemu calon kakak ipar sekalian aku mau ajak dia menyelesaikan tugas kuliahku yang sulit,” rengek Almaira sengaja ingin ngerjain kakaknya.


“Gak bisa. Mengganggu saja! Nanti aku yang bantu menyelesaikan tugasmu! Dasar manja!” ucap Setya dan langsung meninggalkan adiknya menuju ke kamarnya. Tidak lama kemudian keluar kamar dan pamitan dengan papa dan mamanya langsung menuju ke mobilnya dan pergi menjemput Liana.


Akmal yang tidak asing dengan sanggar senam itu langsung masuk ke ruang tunggu menunggu Liana keluar ruangan. Di ruang tunggu juga ada beberapa orang laki-laki yang menjemput istri atau kekasihnya. Tidak lama kemudian Liana keluar ruangan dengan senyumnya yang ceria.


“Wah kakak bener-bener datang ke sini ya? Padahal kemarin aku cuman bercanda!” ucap Liana sopan kemudian mereka berdua pun ke luar ruangan menuju parkiran.


Akmal membukakan pintu mobil untuk Liana agar Liana naik ke dalam mobilnya. Liana masuk ke dalam mobil Abisetya dengan perasaan tidak menentu. Hati Liana berdebar begitu kencang, apalagi saat Setya memakaikan sabuk pengaman untuknya.


“Liana…, sabuknya dipakai! Nanti kena tilang pak polisi lo?” ucap Setya yang memakaikan sabuk pengaman untuk Liana. Liana secara spontan langsung meraih tangan Setya hendak memakainya sendiri.


“Klik!” suara sabuk pengaman di mobil yang sudah di pencet klik oleh Setya.


“Kak aku tidak lapar! Kalau habis senam makan lama-lama perut aku gendut dong!” protes Liana kepada Akmal.


“Kita minum dan makan makanan ringan saja! Nanti makanya kita bungkus!” ucap Setya dan langsung menggandengnya masuk restoran begitu ada di depan restoran dan membawanya duduk di tempat yang dekat dengan kolam ikan.


Tidak lama kemudian pramusaji datang memberikan menu untuk mereka berdua. Setelah memilih beberapa menu Setya mengajak Liana ngobrol sambil menunggu menu datang.


“Liana…, om dan tante ada di rumah tidak?” ucap Setya tiba-tiba.


“Ada kak, Papa sama mama hari ini ada di rumah tapi kalau besok mereka akan terbang ke Australia mengurus bisnisnya. Emangnya ada apa kok nanya tentang papa dan mama?” tanya Liana penasaran.


“Ya sowanlah! Aku calon menantunya kan juga ingin dekat dengan keluargamu!” ucap Setya yang membuat pipi Liana semakin memerah. Liana yang biasanya judes terhadap laki-laki untuk kali ini benar-benar tidak bisa berkutik apa-apa.


“Tapi kak kita kan baru kenal? Kenapa mesti buru-buru?” ucap Liana yang bingung melihat keseriusan Setya kakak dari sahabatnya.

__ADS_1


“Justru itu aku ingin mengenal kamu dan keluarga kamu! Dan kalau kamu izinkan aku berniat serius menjalin hubungan dengan kamu!” ucap Setya dengan gombalnya.


“Kakak! Aku bingung!” ucap Liana yang menundukan kepalanya menatap ubin yang ada di bawahnya.


“Liana sayang kamu jangan bingung! Kakak benar-benar serius sama kamu!” ucap Setya yang kemudian membawa tangan Liana untuk merasakan degup jantungnya yang semakin keras. Liana seketika itu juga merasakan gejolak dihatinya. Pelan-pelan tangannya di tariknya dari dekapan Setya.


“Permisi makanan sudah siap!” ucap pelayan yang menyajikan makanan untuk mereka berdua. Setelah pramusaji pergi Setya bersama Liana menikmati makanannya.


Setya sesekali melirik Liana yang makan. Liana baginya merupakan sosok wanita yang sangat bersahaja dan impiannya. Liana yang dipandangi oleh Setya langsung gugup dan menumpahkan makanannya ke bajunya.


“Liana pelan dong!” ucap Setya yang langsung berdiri membantu membersihkannya hingga tanpa sadar dirinya menyenggol sesuatu di bagian depan tubuh Liana.


“Kakak!” peik Liana begitu menyadari bagian tubuh sensitifnya tersentuh oleh Setya.


“Maaf aku tidak sengaja!” ucap Setya langsung melipat kedua tangannya dan berlanjut menikmati makanan mereka berdua. Setelah selesai makan Setya pergi menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran kemudian mengajak Liana pergi.


Di sepanjang jalan Liana hanya diam tidak berbicara sama sekali sehingga menarik perhatian Setya.


“Dik tolong kamu ngomong atau ceritalah kepada kakak tentang masa kecil kamu atau apa jadi jangan diam saja!” ucap Setya memulai pembicaraan agar tidak garing di mobilnya.


“Aku tidak bisa cerita kak!” ucap Liana yang kembali mengundang gelak tawa Setya.


“Ha…, ha…, kamu itu! Tunjukan seperti waktu kita pertama kali bertemu. Liana yang suka mengkritik dan pedas kalau ngobrol dengan ku!” ucap Setya mengingatkan Liana.


“Kakak! Aku…!” ucap Liana tidak melanjutkan pembicaraannya karena keburu ditutup mulutnya oleh Setya dengan jari telunjuknya.


“Sudahlah! Sebentar lagi sampai! Mana alamat rumah kamu!” tanya Setya diikuti dengan Liana yang mengarahkan arah jalannya biar tidak tersesat.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2