Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Terpukul


__ADS_3

Sudah tiga hari mereka berada di Jakarta, akan tetapi Almaira kecil belum ada kabar sama sekali.  Bahkan seolah-olah  yang menculik Almaira tidak membutuhkan uang tebusan seperti yang mereka pikirkan.


 Dilla juga dalam kondisi terpuruk, karena tidak mau makan. Badan Dilla sangat kurus hingga Tegar bingung memikirkannya.


“Sayang…, aku mohon jangan siksa dirimu dengan seperti ini! Makanlah!” ucap Tegar sambil memeluk tubuh mungil istrinya.Tegar tidak kuasa menahan rasa sakit di dalam dirinya, Tegar juga meneteskan air mata melihat kondisi istrinya seperti itu.


“Sayang…, aku berjanji aku akan mencari Amaira hingga ketemu. Kalau tidak ketemu Alamira aku  tidak akan pulang menemuimu!” ucap Tegar dan langsung berdiri dan bergegas pergi meninggalkan Dilla.


“Dimas tolong kau telpon Brenda dan Rahardi untuk menjemput pulang Dilla. Kita tetap tinggal di sini mencari Almaira!” perintah tegas Tegar kepada Dimas.


“Kak…,” ucap Dilla lirih hingga akhirnya Tegar berbalik menemui istrinya.


“Iya, sayang? Ada apa?” tanya Tegar kepada istrinya.


“Aku ingin tetap tinggal disini menunggu Almaira hingga ketemu!” Ucap Dilla sambil meneteskan air matanya.


“ Baiklah sayang, tapi kamu harus menjaga kondisi tubuh kamu. Makanlah setelah itu kita akan mencari kembali Almaira kita,” bujuk Tegar kepada istrinya dan kembali mengambil makanan untuk menyuapi istrinya dengan penuh kesabaran.


Pelan-pelan akhirnya Dilla mau makan hingga habis satu porsi makananan. Namun begitu selesai makan Dilla kembali histeris minta Tegar untuk mencari Almaira kembali.


“Alamaira…, kamu dimana nak? Pa…, papa ayo kita cari Almaira! Aku mohon selamatkan anak kita!” teriak Dilla penuh histeris.


“Sayang kalau kamu seperti ini terus kita tidak akan bisa mencari Almaira. Tenangkanlah pikiranmu dulu!” bisik Tegar sambil memeluk istrinya dalam dekapannya.


Namun entah dari mana sumbernya tiba-tiba ada berita di televisi kamar hotel yang mengatakan bahwa telah ditemukan seorang balita Perempuan yang berusia kira-kira 1 tahun dengan kondisi sudah tidak bernyawa dan mengapung di atas sungai. Dilla kembali histeris dan mengajak Tegar untuk melihatnya di rumah sakit.


Tidak berapa lama kemudian mereka meluncur menuju rumah sakit yang berada di Jakarta sesuai dengan berita yang disampaikan di dalam televisi.


Dila beserta suami ditemani oleh Dimas menuju ruang jenasah. Disana sudah ada beberapa polisi yang sedang melakukan proses penyidikan.


“Maaf tuan, apakah ini putri anda?” tanya seorang polisi yang membukakan kantong jenasah yang menutupi tubuh mungil seorang balita tersebut.


“Bukan pak. Balita perempuan ini bukan putri kami,” ucap Tegar sedikit lega setidaknya masih ada harapan kalau dirinya bisa menemukan Almaira.


“Alhamdulilah bukan Almaira, aku yakin Almaira masih hidup sayan?” ucap Dilla lirih dipelukan suaminya.


“Iya ma, Almaira putri kita sangatlah kuat dan lucu. Aku yakin mereka tidak akan menyakitinya!”ucap Tegar berusaha menghibur istrinya.


“Iya sayang ketika Almaira kecil tertawa sungguh membuat orang disekitarnya tertarik untuk menyayanginya dan menjaganya. Mudah-mudahan mereka akan mengembalikan Almaira kita!”ucap Dilla.


Dan benar saja tidak berapa lama kemudian ponselnya berbunyi menunjukan ada pesan masuk. Tersebut berasal dari orang yang tidak dikenalnya, Tegar berharap itu merupakan kabar menyangkut Putri kecilnya.


 Tegar kemudian membuka pesan tersebut dan benar saja di dalamnya menunjukkan keberadaan Putri kecilnya akan tetapi mereka meminta sejumlah uang tebusan yang harus dikirim di suatu tempat yang telah mereka tentukan.


 Tegar menunjukkan semua pesan tersebut kepada pihak kepolisian yang kebetulan berada di dekatnya. Kemudian mereka beranjak meninggalkan Rumah Sakit menuju Kantor Polisi akan tetapi tiba-tiba ponsel Tegar berbunyi kembali.


  Pesan dari orang yang sama kembali muncul di ponsel Tegar,  mereka mengancam agar Tegar datang sendiri tanpa bantuan siapapun termasuk polisi.


Tegar yang takut akan terjadi sesuatu dengan putrinya maka Tegar meminta pihak polisi agar tidak turut campur dengan permasalahannya.


 Namun pihak dari  kepolisian tidak sepenuhnya menuruti semua permintaan Tegar. Tanpa Tegar sadari pihak polisi telah menyadap ponselnya hingga mengetahui dimana tempat janjian Tegar bersama komplotan penjahat tersebut.

__ADS_1


Tegar menyiapkan semua uang yang digunakan untuk menebus Amira kecil. Dimas mengantarkan Tegar  menuju  gedung tua yang berada di pinggir kota Jakarta.


 Dimas meninggalkan Tegar dengan perasaan tidak menentu, namun tiba-tiba Dimas memutar haluan kembali untuk membantu Tegar. Dimas menyembunyikan Mobilnya di semak-semak agar tidak diketahui oleh komplotan penjahat tersebut.


 Tegar sudah memasuki area Gedung Tua, kemudian tidak Berapa lama keluarlah Gembong penjahat tersebut dengan membawa Almaira.


“Ha…, ha…, bagus tuan Tegar yang terhormat ternyata kamu punya nyali juga!” ucap sosok laki-laki tersebut yang ternyata juga mengenali Tegar dengan baik.


“Astaga pak Bagas? Apa anda tidak kapok dengan kasus penculikan putraku terdahulu? Kenapa kamu melakukannya lagi?” tanya Tegar begitu mengetahui ternyata yang menculik putrinya adalah Bagas yang menculik Setya terdahulu.


Ternyata Bagas bebas dari penjara setelah dinyatakan memiliki gangguan jiwa karena goncangan mental yang sangat luar biasa. Dimana dirinya selain masuk penjara juga dituntut istrinya untuk bercerai. Karen penyakit mentalnya maka Bagas dirawat di rumah sakit jiwa, namun karena lengah, Bagas bisa melarikan diri dari rumah sakit jiwa yang merawatnya.


“Aku ingin minta ganti rugi atas semua masalah yang menimpaku! Itu semua karena putra kembarmu! Ha…, ha…, ternyata nasib baik berpihak kepadaku saat anak buah aku menculik putrimu!”ucap Bags tertawa terbahak-bahak.


“Aku tidak perlu ocehanmu. Sekarang juga serahkan Almaira kepadaku!” ucap Tegar kepada Bagas mereka saling barter. Dengan waktu sekejap Almaira berada dalam pelukan Tegar.


Namun beberapa detik kemudian tiba-tiba polisi datang mengepung mereka. Tegar dengan sekuat Tenaga berusaha berlari membawa Almaira agar menjauh dari tempat tersebut, namun sayang Bagas dengan cekatan mengarahkan tembakannya hingga mengenai kaki Tegar. Tegar yang menahan sakit karena kena tembakan akhirnya limbung hendak terjatuh hingga Almaira terlepas dari pelukannya. Dimas yang berada di tempat persembunyian tidak jauh dari Tegar berusaha menangkap Almaira agar tidak terjatuh di tanah.


Begitulah akhirnya polisi bisa menangkap komplotan Bagas dan memenjarakannya lagi yang ternyata Bagas merupakan buronan polisi yang lama sudah dicari oleh pihak kepolisian karena kasus perampokan yang sering dilakukannya.


Bagas setelah melarikan diri dari rumah sakit jiwa berusaha menyambung hidupnya dengan mermpok.


Sementara itu Almaira dan Tegar dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan. Almaira dinyatakan sehat tidak kurang dari suatu apapun. Namun Almaira kecil sedikit Trauma karena penculikan itu.


Sementara Tegar setelah diambil peluru yang bersarang di kakinya diperbolehkan pulang. Tegar dengan dibantu egrang medis tertatih-tatih menemui istrinya yang sedang menggendong Almaira.


“Terimakasih Dimas, kau datang tepat waktu hingga Almaira tidak terjatuh!” ucap Tegar seraya memeluk istrinya dan mencium pipi Almaira kecil di gendongan Dilla.


Setelah semuanya beres akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke kotanya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2