Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Penculikan


__ADS_3

Tegar bingung dan panik menghadapi Dilla yang pingsan. Tegar meminta Mita dan Rara menjaga Dilla, Tegar dengan emosi yang meluap-luap langsung kembali ke ruang kerja Dilla dan memeriksa CCTV di luar gerbang. Di dalam CCTV nampak Setya yang kesal berjalan kaki menjauh dari rumahnya, namun tiba-tiba di depan Setya muncul beberapa orang laki-laki tinggi besar yang keluar dari mobil dan langsung menangkap Setya. Kalau dari gerak-geraknya itu merupakan kasus penculikan yang disengaja dan direncanakan.


Flashback on


Setya sempat memberi perlawanan dengan bekal bela dirinya namun apalah daya kekuatan seorang bocah yang baru berusia sekitar 5 tahunan pasti akan kalah dengan orang dewasa apalagi jumlahnya lebih dari satu.


“Hai, bocah beraninya kau melawan kami. Kalau kamu tidak ingin tersakiti nurut sama om ya!” ucap salah satu preman yang menangkapnya.


“Cih, dasar pecundang. Beraninya sama anak kecil dan keroyokan!” ucap Setya yang berusaha melepaskan dirinya dari salah satu orang yang menangkapnya.


“Hai bocah, nyali mu cukup besar juga ya? Kami tidak ingin bermain-main dengan kamu karena kami dikejar waktu!” ucap salah satu dari mereka dan langsung memasukkannya dalam mobil.


“Kerja yang bagus, kita tidak usah mencari-cari mangsa kita, tapi sudah muncul duluan. Bener-bener berkah untuk kita dan sebentar lagi kita bayaran!” kata bos mereka dan langsung memerintahkan mereka untuk segera pergi dari situ.


Flashback off


Sementara itu tegar yang mengamati CCTV tersebut langsung memerintahkan Dimas untuk melacak keberadaan Setya. “Dimas tolong kamu cari tahu siapa mereka. Usahakan dalam waktu 24 jam putraku sudah ketemu! Kerahkan semua anak buah mu untuk mencarinya dan hajar sampai habis orang yang mencelakainya!” perintah tegas Tegar.


“Baik bos. Semua anak buah kita sudah meluncur dan bergerak menyebar ke seluruh pelosok kota, namun hingga kini belu, menemukan informasi apa apa,” jawab Dimas.


“Bagaimana pa? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Yasa yang muncul tiba-tiba dihadapan mereka.


“Kita lapor polisi saja bagaimana?” ucap Mita juga sudah berada di hadapan mereka.


“Lapor polisi? Ok segera laporkan nanti kitab isa berkerjasama untuk menemukan putraku. Hai…, Mita bukankah kamu aku suruh menjaga Dilla? Kenapa kamu ikut kesini?” tanya Tegar kuatir akan Kesehatan Dilla.

__ADS_1


“Jangan kuatir pak, bu Dilla sudah membaik dan kini dia ditemani oleh Rara dan merencanakan sesuatu untuk menemukan Setya,” ucap Mita sopan.


“Bagus kalau begitu kita harus menyusun strategi untuk menghadapi mereka, kelihatannya mereka itu orang bayaran. Coba Dim, kamu hubungi kantor polisi sekarang juga biar segera ada tindakan,” perintah Tegar.


“Pak apa sebaiknya kita tidak menunggu para penculik menghubungi kita, baru kita bertindak! Takutnya akan membahayakan nyawa Setya,” usul Dimas kepada Tegar hingga membuat Tegar berfikir sejenak.


“Ok. Baik juga usul kamu. Aku yakin dalam waktu dekat penculik akan segera menghubungi Dilla,” ucap Tegar sambil duduk di kursi kerja Dilla. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dilla dengan setengah berlari menghampiri mereka yang berada di ruang kerjanya.


“Kak, ada orang tidak dikenal telpon aku. Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan Setya putra kita!” ucap Dilla tiba-tiba diikuti oleh Rara dibelakangnya.


“Ok, kau terima saja dan apa maunya kita ikuti dulu permainannya!” ucap Tegar yang jantungnya berdegup dengan kencang karena mendengar istilah putra kita.


“Baik kak, Akan aku angkat ponselnya! Yasa ambil penyadap ponsel yang biasa kau gunakan dengan Setya ya?” ucap Dilla sedikit panik.


“Tidak apa-apa nak. Semua perlu proses, yang terpenting kita bisa tahu lokasi Setya disekap!”” ucap Tegar sambil mengusap-usap kepala Yasa. Kemudian Yasa dengan terampil menghubungkan laptop dengan ponsel mamanya kemudian dengan terampil mengoperasikan laptopnya untuk memperoleh rekaman dan lokasi keberadaan Setya.


“Kak, ponselnya mati. Apa yang bis akita lakukan?” ucap Dilla semakin panik karena gagal selangkah menemukan informasi tentang keberadaan putranya.


“Tenanglah, aku yakin mereka akan menghubungimu lagi?” ucap Tegar menenangkan Dilla. Dan betul saja tidak berapa lama mereka menghubungi mereka kembali. Ponsel kembali berdering dan Dilla langsung mengangkatnya.


“Selamat malam, apa betul ini ibu Dilla?” tanya suara orang di seberang sana dengan dibuat samar-samar agar tidak kelihatan suara aslinya.


“Iya saya sendiri! Adakah sesuatu yang bisa saya bantu?” tanya Dilla gugup dan gemetar karena Dila tidak ingin nanti keteledorannya dalam menjawab bisa mempengaruhi keselamatan putranya.


“Bagus, anda kenal dengan suara ini?” tanya penculik kepada Dilla dan tak lama kemudian terdengar suara Setya minta tolong mamanya namun tidak menangis.

__ADS_1


“Ma tolong Setya ma? Aku janji tidak akan mengulangi lagi perbuatanku yang main pergi dari rumah!” ucap Setya yang ketakutan.


“Dengarkan? Bukankah itu putramu? Aku minta siapkan uang 500 milyard sekarang juga. Untuk tempat dan lokasinya nanti akan aku share,” ucap penculik dengan suara masih disamarkan.


“500 Milyard? Mana ada uang sebesar itu? Aku tidak ada uang sebanyak itu?” jawab Dilla hingga membuat penculik marah.


“Bukankah papa dari anak kamu ini orang terkaya di kota ini? Kalau dalam waktu 2 jam uang tidak tersedia aku akan menghilangkan nyawa putramu!” ancam penculik dengan suara yang lantang.


“Ok, akan aku siapkan. Ingat jangan sentuh putraku!” ucap Dilla memohon namun tidak ada jawaban dari penculik dan ponsel di matikan.


“Hikk…, hikk…, ponselnya mati. Bagaimana ini kak? Bagaimana kita memperoleh uang sebanyak itu?” tanya Dilla bingung dan menangis hingga akhirnya Tegar merengkuhnya dalam pelukannya.


“Jangan kau pikirkan soal itu, aku yang akan menyediakannya. Kau tenanglah pasti putra kita kan selamat!” ucap Tegar sambil mengusap rambut Dilla dengan penuh kasih sayang.


“Dim, kau siapkan uang sebayak yang diminta oleh penculik! Dan pastikan kita bisa mengatasinya hingga menyelamatkan putraku. Dan kau Mita ikutlah Dimas, bantulah semua kegiatannya,” perintah Tegar tegas.


“Baik pak,” jawab Dimas dan Mita bersamaan dan mereka berdua langsung pamit pergi meninggalkan mereka menuju perusahaan Tegar dan mengambil beberapa uang kas yang ada di perusahaan dan meminta kepada kakek Ardi.


“Ma, papa tampan. Aku yakin Setya bisa lepas dari situasi ini! Dia itu anak cerdas dan pintar pasti dia juga akan mencari cara untuk membebaskan dirinya. Percayalah! Kau dengar tadi di telpon meskipun dia ketakutan tapi bicaranya cukup tenang dan tidak takut sama sekali dengan situasinya saat ini!” ucap Yasa menenangkan kedua orang tuanya.


“Iya bu? Masih ingatkan dulu dia pernah terkunci di kantor namun dengan tenangnya dia bisa bertahan hingga pagi hari!” ucap Rara membenarkan ucapan Yasa. Dilla akhirnya merasa sedikit terhibur mendengar penjelasan Yasa dan Rara.


Terimakasih para pembaca yang setia, silahkan tinggalkan jejak anda dengan like, komentar, hadiah dan votenya. Dan jangan lupa simak karyaku yang lain dengan alur cerita unik kok : Terjerat Cinta Satpol PP Arogant."


__ADS_1


__ADS_2