Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Bulan Madu


__ADS_3

Setelah menikah,  Tegar mengajak Dilla beserta anak kembarnya untuk pindah di rumah yang sudah lama ia siapkan. Tegar menunjukkan kamar si kembar yang berada di lantai  atas, dimana balkonnya menghadap ke arah pemandangan yang berada di sekitar pegunungan.


Abiyasa dan Abisetya  menyukai rumah baru mereka,  terutama Yasa sangat gembira karena berada di lingkungan yang sejuk.


 Sedangkan  Tegar dan Dilla menempati kamar yang ada di bawah dengan desain yang sangat luas sesuai dengan selera Dilla. Tegar yang duduk di sofa yang berada di teras kamar menghadap keluar ke arah kolam renang nampak sedang menikmati  secangkir kopi buatan Dilla. 


Dilla yang manja membaringkan tubuhnya di pangkuan Tegar. “Sayang,  ayo kita mandi. Sebentar lagi kita akan berangkat ke Bali,”  ucap Tegar sambil membangunkan Dilla.


“Tidak, Aku tidak mau. Aku malas mandi apalagi perginya  kali ini kita harus meninggalkan si kembar,” ucap Dilla yang masih berada di pangkuan  Tegar. 


“ Sayang,  kita ke Bali itu bulan madu, dan mereka berdua juga setuju. Mereka menginginkan kita segera punya adik kecil lagi. Kamu tidak perlu khawatir, mereka akan dijaga oleh Mita dan Dimas. Seperti biasa aku meminta mereka untuk tinggal bersama si kembar,” ucap Tegar dengan santai.


“Kamu sih,  mereka itu sebenarnya tidak bisa lepas dari aku.  Aku mohon ajaklah mereka berdua.  Kalau kita hanya pergi berdua, aku pasti merasa tidak tenang dan terbebani karena ingat mereka terus.” ucap Dilla yang cemberut hingga membuat Tegar gemas berusaha mencubit pipi Dilla yang kemerah-merahan.


“Kak, pokoknya aku mau mereka berdua ikut kita ke Bali.  Dan lebih baik Dimas dan Mita juga ikut sekalian!” ucap Dilla dengan masih memasang muka cemberut.


“Ya, sudah kalau begitu  kita tidak jadi pergi. Kita di rumah saja tapi dengan syarat kamu harus siap melayani aku Setiap saat, sesuai dengan keinginan aku. Bagaimana?”Ancam Tegar kepada Dilla hingga  Dilla mengernyitkan keningnya.


“Ok, kita pergi berdua saja!”Akhirnya Dilla menyerah  sesuai  dengan permintaan Tegar mereka memutuskan berangkat berdua.


“Oke,  terima kasih sayang,”  Tegar langsung menggendong Dilla menuju kamar mandi. Tegar pelan-pelan menurunkan Dilla ke dalam bath up. Kemudian Tegar menghidupkan keran dan shower yang berada di kamar mandi. 


Setelah air ke dalam bath up penuh, pelan-pelan Tegar juga masuk ke dalam bath up dan menindih tubuh Dilla.  Tubuh Dilla yang kecil dan mungil tidak bisa bergerak karena di bawah kungkungan Tegar. Tegar terkekeh melihat Dilla berusaha keluar dari  kungkungan tubuhnya.


Tegar semakin bernafsu tak kala melihat Dilla yang basah kuyup dengan pakaian yang cukup nerawang hingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya yang seksi. Tegar dengan pelan-pelan berusaha membuka baju yang menempel di tubuh Dilla.

__ADS_1


 Dilla yang merasa geli hingga melihatkan tubuhnya justru semakin menarik Tegar untuk berbuat lebih jauh.  Tegar dengan pelan dan pasti memainkan sesuatu yang ada di balik baju Dilla.  Tegar nampak menikmatinya seolah-olah baru mendapatkan sebuah  permainan dengan sensasi yang luar biasa.


Dilla menggeliat dan mendesah karena nikmat dan sensasi yang luar biasa yang telah diberikan oleh Tegar. Dilla pun  nampak menikmati permainan itu  itu hingga akhirnya menuntun Tegar untuk masuk ke lorong yang lebih nikmat dan indah.


Karena mereka berdua dimabuk rindu dan kasih sayang yang  sudah tidak bisa dibendung lagi akhirnya melakukan aktivitasnya berulang-ulang hingga berlanjut ke ranjang.


Tegar begitu semangat menghempaskan keinginannya untuk melebur menjadi satu dengan Dilla  hingga akhirnya mendorong Tegar menggendong Dilla ranjang.


Tegar kembali melancarkan aksinya untuk   melebur menjadi satu dengan Dilla di atas ranjang dengan berbagai gaya. Aktivitas mereka berhenti tak kala ada bunyi telepon dari ponsel Tegar.


Tegar langsung beranjak mengambil ponselnya di atas meja dekat tidurnya. Namun Dilla yang yang masih dibawah  hasratnya yang memuncak bergeser mendekati Tegar dan memainkan sesuatu disana.


 Hingga Tegar tidak bisa konsentrasi dalam menerima  teleponnya,  hal itu membuat jengkel lawan bicaranya yang ada di seberang.


“Tidak…, Aku ini lagi sendirian. Nyonya sedang berada di dapur menyiapkan keperluan untuk berangkat nanti,” ucapnya  penuh kebohongan.


“Kau itu memang pandai bersandiwara. Sudahlah aku nggak mau tahu, yang terpenting nanti aku dapat oleh-olehnya dari Bali!” ucap Dimas yang terkekeh menahan geli akibat ulah Tegar.


Dimas yang kepalang basah langsung  menggoda Tegar. “ Bos, gimana rasanya kalau menyentuh barang yang halal?”


“Kamu itu ya?! Punya mulut tidak pernah sekolah ya? Sudah sana kamu siap-siap dan segera meluncur ke sini. Jangan lupa kamu jemput Mita,” ucap Tegar tanpa menghiraukan lagi godaan Dimas. Tegar pun langsung menyudahi teleponnya dengan Dimas.  Kemudian Tegar langsung memeluk Dilla kembali  yang kebetulan sudah berada di  dekatnya. Tegar kembali membawa Dilla di atas puncak kenikmatan.


 Tegar yang kecapean Langsung tertidur pulas Di samping Dilla. Dilla mengendap-endap turun dari ranjangnya sambil merasakan sakitnya yang cukup luar biasa diantara kedua kakinya.


“Ah…, sakit,” ucap Dilla ya masih duduk di tepi ranjang.  Tegar yang terjaga tidurnya langsung  mengkawatirkan kondisi tubuh Dilla.  Tegar kemudian bangkit dari tidurnya dan membawa tubuh Dilla ke kamar mandi untuk dimandikan.

__ADS_1


 Bahkan setelah selesai mandi Tegar langsung membawa Dilla menuju ke kamar dan menggantinya dengan baju yang bagus untuk bersiap pergi ke Bali.


Setelah semuanya siap Tegar bersama Dilla  ke keluar dari kamar menu ruang tengah dan menanti kedatangan Dimas.


 Sementara itu si kembar duduk di sofa sambil menikmati hidangan dan melihat televisi. Kembar seolah tahu kalau kedua orang tuanya perlu waktu untuk berdua saja. 


Yasa langsung mendekati mamanya dan mengatakan sesuatu dengan berbisik kepada mamanya.


“ Mama,  aku mohon setelah pulang dari bulan madu aku segera memiliki adik kecil lagi.”


“Sayang,  mama  memiliki   kalian berdua saja sudah merasa sangat senang. Dan Mama belum mau untuk menambah Putra lagi,” ucapnya sambil melirik Tegar yang melotot karena tidak sependapat dengan Dilla.


“ Yasa sayang, Kamu diam saja.  Nanti pasti papa akan membuatkan kamu adik kembar perempuan yang cantik-cantik? Jadi kamu di rumah saja sama Setya ditemani oleh Tante Mita dan Om Dimas.


Dilla yang Mendengar pembicaraan Tegar langsung menyikut lengan Tegar karena baginya itu tidak harus dibicarakan dengan anak kecil seumuranYasa dan Setya.


“Halo…, semuanya?”sapa Dimas yang tiba-tiba nongol di hadapan mereka.


“Halo juga, om?Terimakasih karena om dan tante mau menemani kita di rumah ini. Aku senang  karena Om Dimas sangat  membantu kita untuk membuat suatu permainan,”  Ucap Setya dihadapan mereka.


“Dimas, untuk villa kita yang berada di Bali sudah disiapkan apa belum?” ucap Tegar mengecek segala sesuatunya. 


“Sudah, bos. Pokoknya beres. Sekarang pak Bos bisa pergi dengan senang hati! bahkan penjaga villa dan istrinya sudah siap membantu segala sesuatu yang diperlukan.” jelas Dimas sambil membantu membawa koper Tegar menuju ke luar rumah.


Setelah semuanya beres Dimas bersama Mita dan si kembar mengantar mereka berdua pergi ke bandara.

__ADS_1


__ADS_2