Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Permintaan Maaf


__ADS_3

Si kembar yang berkeinginan menemui mamanya di rumah sakit langsung meminta Dimas Untuk mengantarnya menuju rumah sakit di mana mamanya mendapat perawatan.  Tidak berapa lama kemudian mereka berdua sampai di rumah sakit. Si kembar langsung berlari menuju ruangan yang tadi sudah ditunjukkan oleh om Dimas.


  Si kembar menerobos ke ruangan perawatan mamanya untuk menemui mamanya. “Hik…, Hik…, semua salah aku. Harusnya Aku cukup berangkat sendiri naik  taxi bersama mbok Atun tanpa harus melibatkan mama.  Mama maafkan Aku?”  ucap Abiyasa sambil duduk di dekat mamanya.


“Nak…, biarkan mama istirahat dulu.  Sini sama papa saja!” Tegar  menarik tangan putranya dan memapahnya untuk duduk di sofa.


“Papa, ini semua salah aku, lalu bagaimana dengan adik bayi yang berada dalam perut mama?” Abiyasa menangis di pelukan papanya. 


“Adik bayi di perut mama tidak apa-apa,  kamu sama Setya pulang ke rumah saja. Mama dan calon adik bayi biar papa  yang menunggu,” ucap papa Tegar berusaha  menenangkan kedua putranya. Setelah kedua putranya tenang Tegar meminta Dimas untuk membawa mereka pulang. Tegar juga meminta Dimas dan Mita menemani mereka berdua. 


Dimas kemudian membawa mereka pulang ke rumah, sementara itu Dilla nampak tenang tidak bergerak sehingga Tegar merasa sangat khawatir hingga beberapa kali menengok Dilla yang nampak tertidur pulas.


Tegar sekali-kali mengusap pipi  Dilla dan mengecupnya hingga akhirnya Dilla terbangun. 


“Sayang, bagaimana keadaan bayi kita? “Tanya Dilla cemas sambil meraba-raba kandungannya.


“Alhamdulillah,  bayi  kita masih bisa terselamatkan.  Tapi kamu harus istirahat total selama sepekan di rumah sakit ini,” ucap Tegar sambil mengusap-usap kepala Dilla dengan penuh kasih sayang.


 Sementara itu Tante Lusi yang sudah berada di kantor polisi untuk sementara ditahan sampai proses penyelidikan berakhir.  Tante Lusi menghubungi Brenda dan memintanya untuk menyewa pengacara terkenal agar bisa membebaskan dirinya.


 Brenda yang menerima telepon dari mamanya nampak bingung dan cemas sehingga tidak lepas dari perhatian Rahadi.


“Ada apa sayang? Kenapa kamu nampak bersedih dan cemas?” tanya Rahardi kepada Brenda. 


“Kak…,  Mama ada di kantor polisi karena terlibat kasus dengan  Kak Dilla dan Kak Tegar.  Mama berusaha mencelakai Kak Dilla hingga membuat Kak Tegar murka dan melaporkan kasusnya ke polisi,” ucap Brenda lirih. 

__ADS_1


“Terus bagaimana?  Kalau kita sewa pengacara yang sangat mahal jika  berurusan dengan Tegar pasti sangat sulit untuk memenangkan kasusnya.  Apalagi jelas di sini mama Lusi yang bersalah,” ucap Rahardi memberikan pendapatnya.


“Terus aku harus bagaimana Kak?  itu Kakak juga tahu kalau  semua kemauan mama Lusi harus dituruti,  jika tidak Mama pasti akan mencelakai ku!”  ucap  Brenda menghela nafasnya karena bingung untuk melangkah.


“Nggak usah bingung,  bujuk lah Mama kamu untuk meminta maaf kepada Dilla.  Jika perlu untuk sementara kamu yang mewakili.  Aku akan mengantar kamu ke rumahnya?” Rahardi mengarahkan Brenda agar tampak tidak tersakiti.


“Baik kak, tapi aku takut apalagi berhadapan dengan Kak Tegar.  Kak Tegar pasti murka karena mama telah menyentuh Kak Dila dan hampir mencelakai anak yang ada di kandungan Kak Dila. Aku yakin permintaan maaf aku akan sia-sia,” ucap Brenda yang nampak bingung.


“Yakinlah kalau permintaan maaf ini akan berhasil, tapi tunggulah besok pagi biar mama Lusi mendapatkan pembelajaran dan merasakan sulitnya hidup di penjara,” nasehat Rahardi kepada Brenda calon istrinya.


“Baiklah kak! kita tunggu saja!” ucap Brenda yang duduknya merapatkan diri dengan Rahardi. Tidak berapa lama kemudian Brenda menyandarkan kepalanya di bahu Rahardi. 


Brenda sangat menikmati kebersamaannya dengan Rahardi, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Brenda melirik ponselnya dan mengetahui kalau yang menelpon mamanya maka tidak diangkatnya.


Sementara itu mamanya yang berada di kantor polisi nampak ketakutan karena malam ini dia pasti menginap di penjara. “Bener-bener anak yang tidak tahu diuntung, awas ya?” gumamnya lirih.


“Pak aku tidak mau, karena tempat aku bukan di situ!” ucap tante Lusi menangis sesenggukan. Setelah masuk di dalam penjara tante Lusi masih menangis hingga akhirnya membuat tahanan yang lain terganggu.


Salah satu tahanan yang terkenal sangar langsung menghampirinya dan menjambak rambutnya hingga kepalanya dibenturkan tembok. 


“Bisa diam tidak? Ingat disini semuanya sama dan tidak ada istilah nyonya konglomerat!”teriak salah satu tahanan yang sangat membenci orang yang sok kaya padahal sudah bangkrut.


Karena situasi sangat ribut akhirnya terdengar pihak kepolisian, hingga mama Lusi dipindahkan di ruang tahanan yang lain. 


Tidak terasa hari menjelang Pagi, tante Lusi yang sudah tidak kuat dengan kehidupan penjara langsung menghubungi Brenda untuk menjemputnya

__ADS_1


Namun Brenda tidak menjawabnya, Brenda  masih sibuk dengan baju kerja dan make up-nya. Tidak  Berapa lama kemudian,  Rahardi datang  menjemputnya. Rahardi menggandeng Brenda menuju mobil untuk meluncur ke perusahaan Tegar.


“Kak, kenapa kita kesini?” tanya Brenda kepada Rahardi yang sibuk mencari haluan untuk memarkirkan kendaraannya.


“Aku mengantarkan kamu kesini untuk memintakan  maaf untuk mama kamu  kepada Tegar,” ucap Rahardi kepada Brenda. Namun Brenda tidak berani menghadapi Tegar hingga Rahardi turun tangan membawanya masuk.


Rahardi minta izin masuk, kemudian mengutarakan maksudnya kepada Tegar. Tegar yang tahu maksud dari tujuan Rahardi dan Brenda berusaha menolaknya namun Rahardi tetap memaksanya.


“Kak, aku kesini mewakili mama, aku mohon kabulkan permintaan aku. Aku tidak ingin kehilangan mama” ucap Brenda 


“Biarkan mama kamu meringkuk dalam penjara. kesalahan mama kamu cukup fatal hampir membuat calon bayiku celaka," bentak Tegar hingga Brenda ketakutan.


“Kak tolonglah kak, aku mohon cabutlah tuntutan itu!” ucap Brenda kembali ke tempat memohon kepada Tegar. Karena tidak ada respon dari Tegar, Rahardi langsung ikut campur tangan hingga akhirnya Tegar menyetujuinya untuk mencabut kasusnya karena mengingat pertemanannya dengan Rahardi sejak kecil.


Dan selain itu Tegar menyetujuinya karena Dilla sudah membaik, dan Dilla juga sudah berpesan kepadanya untuk membebaskan mama Lusi. Selain itu demi kebaikan Tegar juga menyodorkan beberapa perjanjian agar Tante Lusi tidak mengganggu keluarganya. 


Setelah memperoleh persetujuan dari Tegar mereka berdua berpamitan untuk pulang. Rahardi langsung meluncur bersama Brenda menjemput mamanya di kantor polisi.


“Plakkk…, dasar anak tidak tahu diri. Kamu senang ya kalau mama meringkuk di dalam penjara,” ucap mama Lusi hingga memukul  Brenda.


“Mama, apa yang mama lakukan?” Bukankah hari ini mama sudah bebas?” tanya Brenda  sambil memegangi pipinya yang ditampar Dilla. 


"Bebas tapi mama harus meringkuk di penjara semalaman dan orang-orangnya disana menyeramkan. Aku mereka pukuli di dalam," ucap mama Lusi.


“Sudahlah yang terpenting semuanya baik-baik saja dan ayo segera pulang,” ucap Rahardi kepada mereka berdua agar tidak berlanjut ribut di kantor polisi.

__ADS_1


Rahardi merupakan calon suami ideal bagi wanita manapun, namun untuk mendapatkan restu dari mama Lusi sangatlah sulit. Rahardi hingga kini belum bisa meluluhkan hati mama Lusi.


Di sepanjang jalan mereka bertiga nampak diam satu sama lainnya seolah-olah larut dalam pikirannya masing-masing.


__ADS_2