Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Tepati Janji


__ADS_3

Hari ini si kembar Yasa dan Setya menyelesaikan sekolahnya dengan sangat baik. Mereka berdua meminta tante Rara untuk mengantarkan mereka berdua ke perusahaan Tegar sambil menyuruhnya untuk memanggil pengacara kantor untuk datang ke perusahaan PT TEGAr Abadi.Rara nampak berpikir sejenak untuk bertanya kepada mereka berdua kenapa harus menghadirkan pengacara kantor namun tidak mendapat jawaban yang serius dari mereka berdua.


Rara dengan segera menghubungi pengacara perusahaan untuk segera menyusul ke perusahaan PT Tegar Abadi. Sementara itu kedua bocah kembar tersebut sudah berada di perusahaan Tegar mereka berdua dengan gayanya yang cool berjalan menghampiri sang resepsionis.


“Permisi mbak bisa bertemu dengan bapak Tegar?” tanya Setya dengan kedua tangannya disedakepkan di depan sambil memandang tajam sang resepsionis.


“Astaga, ini bocah gaya dan tampangnya mirip dengan pak Tegar. Hanya beda generasi saja. Jangan-jangan anka pak Tegar. Bukankah pak Tegar belum menikah? Ah mana mungkin pak Tegar sudah mempunyai anak?” gumam sang resepsionis sambil menatap bengong kedua bocah tersebut.


“Mbak…, mbak kamu dengar gak apa yang ditanyakan oleh adik saya? Ayo segera jawab kalau tidak nanti aku pecat!” ancam Yasa yang tambah arogant.


“Astaga in lebih galak dan bener-bener mirip banget,” gumamnya dan langsung menimpali perkataan Yasa. “Iya, sebentar aku telpon kan,” ucap resepsionis gugup dan langsung menyambungkan telpon ke pak Tegar. Tidak lama kemudian mereka mendengar kalau pak Tegar menyuruhnya masuk ruangan Ceo.


Resepsionis langsung menggantar mereka ke ruangan pak Tegar. Setya yang merasa dekat dengan Tegar langsung berlari menghampirinya dan memeluknya. Tegar merasa tersanjung dengan sikap Setya hingga Setya diangkatnya ke atas dan diputarnya beberapa putaran hingga Setya merasa senang dan tertawa terbahak-bahak. Yasa nampak cemberut melihat kedekatan mereka karena dirinya tidak diperhatikan. Tegar yang mengetahui perubahan dari Yasa langsung menurunkan Setya dan berganti mengangkat Yasa dan memperlakukan sama persis dengan Setya.


“Wah, ternyata anak om tampan yang satunya ingin diperlakukan sama juga ya? Sayang, maafkan om tampan?” ucap Tegar yang berusaha menghibur Yasa.


“Baik om tampan aku maafkan, asalkan om tampan hari ini mentraktir aku dengan makanan seafood kesukaan aku,” ucap Yasa memanfaatkan situasi karena dirinya memang lapar.


“Baik anak tampan, ayo kita ke restoran,” ucap Tegar bermaksud mengalihkan perjanjian tadi malam yang harus ditandatanganinya hari ini.


“Maaf om tampan, aku mintanya delivery saja. Kita pesta disini sekaligus perayaan kita sebagai bentuk Kerjasama dengan memberikan 50% saham perusahaan om tampan untuk kita,” ucap Yasa pada tegar hingga membuat Rara Terkejut. Akhirnya Rara turun tangan dan membujuk kedua bocah into untuk tidak main-main dengan om Tegar.


“Sayang, mana boleh begitu? Kalian jangan mempermainkan orang dewasa, ingat nak saham 50% itu separuhnya, apalagi kalian juga meminta andil untuk duduk memegang salah satu jabatan disini. Kalau mama kamu tahu pasti mama akan marah besar,” ucap tate Rara mengingatkan mereka.


“Maka dari itu, tante diam saja dan jangan lapor mama,” ucap Setya menimpali perkataan Rara. Rara menghela nafasnya hingga akhirnya Tegar turun tangan menengahi mereka.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Ra? Itu memang kesepakatan kita dari awal. Aku juga menyetujuinya, bagiku kehilangan harta tidak masalah apalagi untuk mereka. Entahlah aku begitu menyanyanginya,” ucap Tegar yang kembali duduk di kursinya.


“Tapi pak? Itu tidak baik untuk mereka. Mereka berdua hanya anak-anak pak. Janganlah anda menuruti semua kemauan mereka,” ucap Rara pada Tegar.


“Tidak apa-apa, dia anak-anak dan aku pria dewasa yang siap menjadi papanya dan membimbingnya menjadi putra-putra yang sukses yang tentunya nanti bisa membanggakan kedua orang tuanya,” ucap Tegar sekali lagi hingga membuat Rara terdiam.


“Sudahlah jangan diributkan, itu pengacara dari perusahaan kalian sudah datang. Ayo segera tandatangani dokumen,” ucap Dimas yang gemas dengan sikap mereka.


“Bener om, kelamaan. Tante Rara dan pengacara yang terhormat jangan bilang mama ya? Aku tidak ingin masalahku dengan om tampan diketahui oleh mama,” ucap Yasa cemas.


“Kak, gitu saja cemas. Masalah mama aku nanti yang menangani, yang terpenting setiap hari kita bisa dekat dengan om tampan,” ucap Setya yang lucu. Yasa mengacungkan jempolnya.


“Ok, semua dokumen beres. Karena saya ada kepentingan akan pulang terlebih dahulu,” ucap pengacara kantornya Dilla.


“Terimakasih pak. Anak-anak biar disini saja dulu bersama tante Rara,” ucap Tegar karena memang ingin menyenangkan kedua putra kembarnya di kantornya sekaligus memperkenalkan mereka kepada semua karyawan perusahaan.


“Baiklah. Nanti anak-anak biar saya yang mengantarnya pulang,” ucap Tegar dengan senang hati karena kedua putranya berada di dekatnya.


“Om tampan, mana makanannya? Aku sudah lapar,” ucap Yasa bergelayut manja di dalam pangkuan Tegar.


“Sebentar nak, pasti nanti sakan datang,” ucap Tegar sambil mengelus-elus rambut Yasa dengan penuh kasih sayang.


“Permisi pak pesanan sudah datang. Dimakan disini apa di lantai atas?” tanya Dimas kepada bosnya.


“Disini saja, aku juga ingin makan bersama mereka,” Tegar langsung menggendong Yasa untuk duduk di sofa.

__ADS_1


“Asyik…kita makan besar. Dik ini punyaku. Kamu tidak boleh minta ya?” ucap Yasa sambil mengambil makanan favoritnya.


“Kak, aku juga minta.” Setya menarik paksa makanan yang sudah ada di tangan Yasa hingga akhirnya tumpah di lantai hingga belepotan kemana-mana.


Di saat mereka ribut, tiba-tiba kakek Ardi datang masuk ke ruangan Tegar. “Astaga Tega…aaar, ini kantor apa kapal pecah?” tanyanya tiba-tiba.


“Ayah, perkenalkan…?” belum sempat Tegar memperkenalkan kedua bocah itu, mereka berdua langsung berlari menghampiri sang kakek. Sementara itu kakek Ardi bengong melihat kedua bocah kembar itu yang sangat mirip dengan Tegar.


“Kakek perkenalkan, aku Yasa dan ini adik aku Setya. Kami berdua anak om tampan sekaligus rekan bisnis om tampan,” ucap Yasa percaya diri.


“Benarkah? Kalau begitu panggil aku kakek dong? Sini duduk bersama kakek tampan!” ucap kakek Ardi dengan penuh kasih sayang.


“Ok, kakek tampan. Aku sangat senang ternyata kakek juga baik dan lembut, tidak seperti om tampan yang pendendam,” celoteh Setya yang juga bergelayut manja di pelukan sang kakek.


“Kalian ngapain? Kenapa berantakan?” tanya kakek Ardi kepada kedua bocah tersebut.


“Makan kek, tapi sayang makanannya tumpah. Padahal aku lapar sekali,” ucap Yasa mengadu kepada kakek Ardi.


“Tidak masalah, aya kakek traktir kalian di restoran depan kantor. Dan kamu Tegar, aku butuh penjelasan kamu,” ucap kakek Ardi sambil meninggalkan TEgar dan Dimas yang bengong.


“Dim, bukankah ayah Ardi biasanya sulit beradaptasi dengan anak-anak?” tanya Tegar yang masih heran dengan perubahan ayahnya.


“Itulah bos, pertanda kalau mereka ada ikatan darah. Aku rasa ayah Ardi juga merasakan kalau mereka mirip dengan kamu. dan tidak dipungkiri kedua bocah itu sma-sama tengilnya dengan kamu bos,” ucap Dimas sekenanya hingga akhirnya sebuah tinju mendarat ke bahunya.


"Setidaknya hari ini aku seng bisa tepati janji untuk kedua bocah kembar itu. Aku akan buat Meraka bahagia Dim." Tiba-tiba Tegar bersikap baik.

__ADS_1


“Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2