
Sesaat setelah dilarikan ke rumah sakit kembali, dokter memeriksa keadaan Dilla. Tegar yang cemas mondar-mandir di koridor rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian dokter keluar.
“Bagaimana dok, apa yang terjadi dengan istri saya?” tanya Tegar kepada dokter kandungan yang ada di rumah sakit.
“ Ini tidak masalah. Hasil pemeriksaan baik-baik saja. Tidak ada hal yang menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan,” jawab dokter kandungan yang memeriksa Dilla.
“Maaf dokter tapi saya takut terjadi sesuatu dengan istri saya dan calon bayinya,” ucap Tegar penuh rasa kuatir. Namun dokter memberi penjelasan kalau semua hal yang dikuatirkan itu tidak akan terjadi dan yang terpenting menjaga kondisi agar tidak terlalu capek. Dokter pun memberi obat penguat kandungan.
Setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan, Dilla diperbolehkan untuk pulang karena memang di dalam kandungannya tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan.
Tegar meminta bantuan kepada perawat untuk mengambil kursi roda. Ketika perawat ingin membantu Tegar mendorong Dilla, Tegar melarangnya. Tegar hanya menginginkan dirinya saja yang mendorong istrinya.
Disaat mendorong Dilla hendak pulang mereka bertemu dengan dokter Irfan. Dokter Irfan yang sudah sembuh dari sakitnya mulai beraktifitas kembali di rumah sakit.
Dokter Irfan nampak senang karena bertemu dengan 2 orang yang sangat penting dalam hidupnya. Dokter Irfan mengatakan kalau dirinya, sehabis pulang dari rumah sakit akan menjenguk Dilla dan Tegar di rumahnya.
Tegar yang sudah tidak lagi ada rasa cemburu terhadap Irfan langsung mempersilahkan Irfan untuk segera datang ke rumahnya. Tegar dengan Irfan sudah merasa damai tidak ada lagi rasa cemburu seperti sebelum dia menikah dengan Dilla.
Tegar sebenarnya ingin mengambil obat di apotek, namun karena banyak yang antri di di apotek maka Tegar meminta tolong kepada Irfan untuk membawanya ke rumah nanti sore.
Irfan sudah dianggap sebagai keluarga sendiri tidak mampu menolak apa yang menjadi permintaan Tegar. Setelah menyerahkan resep kepada Irfan, Tegar membawa Dilla untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Namun setelah sampai di rumah, Dilla menginginkan Tegar untuk mencari makanan berupa sate kambing. Tegar nampak tertegun sesaat karena biasanya Dilla tidak menyukai sate Kambing.
“Sayang, apa benar kamu minta sate kambing? Bukankah kamu biasanya tidak menyukai sate kambing?” tanya Tegar yang heran dengan sikap Dilla.
“Pokoknya aku minta sate kambing sekarang juga, Kak Tegar harus bisa membelikan aku sate kambing. Dan aku juga minta kak Tegar membelikan aku apel merah,” ucap Dilla yang merajuk pada suaminya.
Namun disaat Tegar ingin membeli sate kambing dan buah apel merah, Dilla memanggil Tegar agar tidak pergi keluar. Tegar yang bingung akhirnya kembali mendekat istrinya dan menanyakan apakah dirinya tidak jadi minta sate kambing dan buah apel.
Namun jawaban Dila sungguh mengejutkan, Dila masih menginginkan sate kambing dan buah apel akan tetapi yang membeli harus Dimas.
Tegar yang mendengar permintaan istrinya sangatlah murka kepada Dilla. Dirinya sebagai suami ingin membahagiakan Dilla dengan memenuhi semua permintaannya.
“Sayang, suami kamu itu aku bukan Dimas! Kenapa kamu ingin dibelikan oleh Dimas?” tanya Tegar dengan nada yang agak tinggi karena kecewa dengan permintaan Dilla. Dilla yang merasa sensitif mengira kalau Tegar marah terhadap dirinya hingga Dilla tidak bisa membendung air matanya.
Tegar merasa bingung dengan keadaan istrinya sehingga membuat dirinya merasa bersalah karena bicara dengan nada agak tinggi. Tegar mendekati istrinya kembali dan merayunya. “Sayang, maafkan Aku!Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya menginginkan untuk membahagiakan kamu dan anak kita,” Ucap Tegar yang sudah berada dihadapan Dilla dan memeluknya.
“Iya aku tahu, aku meminta Dimas yang membelikannya karena aku berharap kakak tetap berada di sampingku,” ucap Dilla yang masih menangis dalam pelukan Tegar. Tegar dalam hatinya masih menganggap permintaan Dilla tidak masuk akal. Namun karena Dilla hamil putranya maka Tegar pun menuruti permintaan Dilla.
Di saat hamil Dilla akhir-akhir ini kebiasaannya tidak seperti biasanya. Dilla yang biasanya mandiri justru nampak manja dan cengeng. Tegar menghela nafasnya panjang-panjang akhirnya Tegar menyerah juga dengan permintaan Dilla yang tidak masuk akal yang ngidam tapi merepotkan asisten suaminya.
Tegar akhirnya menelpon Dimas dan menyuruhnya mencarikan sate dan buah apel seperti yang diminta istrinya.
__ADS_1
“Dimas, aku mohon kamu belikan aku sate kambing dan buah apel untuk istriku yang lagi ngidam?” ucap Tegar tak kala ponselnya diangkat oleh Dimas.
“Tapi bos…, aku sekarang berada di rumah calon mertua. Aku tidak bisa pergi begitu saja!” ucap Dimas yang berusaha menolak permintaan bosnya. Namun Tegar yang punya power langsung mengatakan sesuatu kepada Dimas.
“Baiklah biar yang menyuruh kamu calon mertuamu!”ucap Tegar yang langsung mematikan ponselnya. Namun tidak lama kemudian ponsel calon mertua Dimas yaitu papanya Mita berbunyi. Namun Dimas tidak punya pikiran kalau yang menelpon calon mertuanya adalah Tegar. Baginya tidak kepikiran kalau calon mertuanya merupakan relasi dari perusahaan Tegar.
“Nak Dimas, tolong kamu pergi untuk beli sate kambing dan buah apel merah kemudian kirim ke rumah pak Tegar. Dan jangan pernah menolak apapun yang diminta pak Tegar,” ucap mertuanya memberi ceramah kepada Dimas.
“Baik pa, aku akan berangkat sekarang. Dan mohon izin aku mau mengajak Mita untuk ikut serta!” ucap Dimas sopan sehingga papa Mita mengizinkannya.
“Baiklah, tapi nanti tolong antaran Mita pulang sebelum jam 21.00 wib,” tegas papanya Mita kepada Dimas.
Setelah pamitan dengan mama dan papanya Mita, Dimas langsung meluncur pergi bersama Mita untuk mencari apa yang diminta oleh Tegar. Dimas tidak lama kemudian sudah berada di jalanan untuk mencari sate kambing dan buah apel merah.
Beberapa menit Dimas sudah berputar mengelilingi sebagian kota Solo tapi belum menemukan apa yang diinginkan oleh istri bosnya.
“Kak, kita belikan satenya di jalan Dirgantara saja! Disana satenya mantap di jamin bu Dilla pasti menyukainya meskipun sebenarnya dia tidak pernah makan sate,” ucap Mita yang berusaha memberi petunjuk arah jalan yang mereka tuju kepada Dimas.
Setelah sampai di tempat yang dituju mereka mendapatkan sate dan buah apel sekaligus. Dimas membawa makanan tersebut ke rumah pak Tegar.
Dilla yang melihat Dimas membawa beberapa pesanannya langsung berjalan cepat menuju ruang tamu. Dilla membawa makanan tersebut ke meja makan dan membukanya. Dilla dengan rakus memakannya.
__ADS_1
Tegar nampak .menggelengkan kepalanya menyaksikan ulah istrinya yang tidak seperti biasanya yang suka aneh-aneh.
“Sayang yang pelan makannya,” ucap Tegar yang langsung mengelap sisa makan yang masih belepotan di pipi Dilla. Tegar nampak cuek ketika Dimas memperhatikan dirinya yang tidak sengaja melihat perbuatannya.