Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Parcel


__ADS_3

Dilla sudah mulai membaik dan beranjak dari ranjang hendak duduk di sofa. Mita langsung menghampirinya. “Dil, janganlah kau paksakan, kamu tunggu agak membaik saja dulu. Kamu ingin sesuatu? Nanti biar aku bantu!” ucap Mita sahabatnya yang sekarang jadi asisten sekaligus orang kepercayaannya.


“Tidak apa-apa, aku bisa sendiri,” kata Dilla yang bersikeras tanpa ingin merepotkan orang lain.


“Baiklah,” Mita membantu Dilla duduk di sofa. Setelah duduk di sofa mata Dilla menatap sesuatu di atas meja dan Mita yang mengetahuinya hendak membuangnya.


“Mit, apa yang kamu lakukan? Bukankah bunganya cantik dan indah sekali?” tanya Dilla pada Mita yang tidak mengerti kenapa Mita hendak membuang bunga itu.


“Maaf Dil, aku tidak ingin membuka luka lama kamu. Tahukah kamu bunga dan parsel ini dari seseorang yang telah membuat kamu terluka,” jawab Mita sambil menghempaskan dirinya duduk di sofa. Dilla mengernyitkan keningnya kemudian bertanya kembali kepada Mita.


“Maksud kamu Tegar Permana? Kenapa bisa begitu? Padahal aku ingin menyembunyikan kan keberadaan ku terlebih dahulu. Aku datang ke kota ini memang membawa misi untuknya tapi belum saatnya dia mengetahui keberadaan ku,” Dilla tidak mengerti kenapa rencananya gagal.


“Itulah kuasa tuhan Dil, mungkin tuhan merencanakan sesuatu yang lebih indah untuk kamu dan putramu! Ternyata mall yang kita kunjungi kemarin miliknya dan dia hadir kesana untuk melihat tragedi liif yang membuat kita terjebak di dalamnya,” jelas Mita yang selalu menghibur Dilla disaat yang terpuruk.


“Apalagi untuk saat ini aku tidak menginginkan putraku mengetahui kalau sesungguhnya Tegar Permana ayah kandungnya,” Dilla menghela nafasnya serasa sakit mengingat kejadian tempo dulu dimana pria yang dia cintai telah merengut kehormatannya.


“Sudahlah Dil kamu jangan pikirkan apapun. Aku yakin Allah tidak tidur dan tinggal diam. Aku juga melihat pak Tegar sangat mencemaskan mu dan sebenarnya dia sangat mencintaimu. Entahlah apa yang terjadi dengannya saat itu. Janganlah kau menghakiminya terlebih dahulu tanpa kau cari tahu sumber masalahnya.” Ucap Mita kepada sahabatnya hingga membuat Dilla mengernyitkan keningnya.


“Hai…, kau membelanya? Bukankah kau temanku?” Dilla semakin kesal dengan Mita.


“Asalamualaikum?” tiba-tiba si kembar bersama Rara datang ke ruang perawatan Dilla.

__ADS_1


“Assalamualaikum mama cantik?” Yasa dan Setya masuk menemui mamanya dan mencium kedua pipi


“Waalaikumsalam. Wah kedua putra bunda sudah nampak gagah dan cakep? Gimana nak hasil presentasi di acara pelelangan tender kemarin?” tanya Dilla kepada kedua putranya.


“Alhamdulilah semua lancar ma. Presentasi kak Yasa telah membuat om Tegar Permana menyetujui proposal kita dan besok ada acar penanda tanganan kontrak kerja,” ucap Setya bangga dengan keahlian saudara kembarnya.


“Baguslah. Aku akan menjatuhkan mu pelan-pela


“Ma, om Tegar orangnya baik dan tanggungjawab lo ma. Kemarin saja karena mama terjebak liff di mall nya sebagai bentuk tanggungjawabnya dia kesini dan hendak membayar semua biaya perawatan mama tapi ditolak oleh kasir rumah sakit kita ma,” Yasa menyambung pembicaraan saudara kembarnya.


Dilla menelan salivanya, bagaimana mungkin kedua putranya yang hendak dia gunakan sebagai alat balas dendamnya justru mengagumi Tegar Permana yang tanpa mereka sadari adalah ayah kandungnya.


“Nak, janganlah menilai seseorang dari luarnya saja. Kalian baru mengenalnya sekali lo nak? Kenapa bisa begitu mengaguminya?” tanya Dilla kepada kedua putra kembarnya.


Dilla semakin gusar karena tidak mengerti kedua putranya mengagumi ayah kandungnya sendiri yang tanpa mereka tahu dan sadari. Mita yang dekat dengan Dilla mengelus-elus bahu Dilla sebagi bentuk simpatinya terhadap Dilla.


“Ma, aku ingin om Tegar jadi ayah kita dan mendampingi mama dan menua bersama,” sambung Yasa menyakinkan sang mama.


“Jangan main-main nak. Mana bisa seperti itu. Sudahlah kalian berdua sini duduk sama mama. Mama kangen banget sama kalian.” Dilla menepuk kursinya agar kedua putranya mendekat. Yasa dan Setya mendekati mamanya. Setya nampak ngalem merebahkan dirinya duduk di pangkuan mamanya.


Tidak lama kemudian dokter Irfan datang untuk memeriksa mama Dilla. “Sayang, mama biar papa periksa dulu. Kamu pindah sana sama tante Rara.” Irfan memeriksa Dilla dengan hati-hati.

__ADS_1


“Alhamdulilah nanti sore kamu sudah bisa pulang. Tidak ada yang perlu di kawatirkan. Dan kamu Yasa mama kamu jangan boleh bekerja dulu. Jadi untuk sementara kalau ada rapat kamu yang harus menghendel perusahaan dan ditemani tante Rara ya?” ucap Irfan melirik Rara dan Yasa secara bergantian.


Rara yang mendapat lirikan dari dokter Irfan wajahnya langsung memerah karena malu jika ditatap seperti itu oleh dokter Irfan. Rara sudah lama menyukai dokter Irfan namun entah mengapa dokter Irfan cenderung cuek.


“Siap papa om.” Begitulah Yasa selalu memanggil Irfan dengan papa om. Irfan selama ini memang begitu dekat dengan mereka berdua. Irfan ikut andil dalam mendidik mereka berdua termasuk memberinya pelajaran tentang ilmu beladiri.


“Papa om, besok pagi kita olahraga ke stadion ya? Aku sudah lama tidak kesana,” ucap Setya tiba-tiba.


“Siap. Boy kids. Besok kita berlari lima putaran, bagaimana? Kuat tidak?” tanya balik Irfan kepada kedua bocah kembar tersebut.


“Siap. Papa om. Besok tante Rara dan tante Mita ikut ya?” tanya Setya yang memang berusaha mendekatkan papa omnya ke salah satu tantenya.


Rara dan Mita mereka berpandangan merasa tidak enak satu dengan yang lainnya. Mita yang tahu kalau Rara naksir berat dengan Irfan langsung memberi sinyal untuk mereka berdua.


“Setya, untuk besok tante Mita tidak bisa karena ada acara bertemu dengan klien bersama mama Dilla jadi kalian berdua ditemani oleh tante Rara saja ya?” Mita memandang Dilla untuk meminta persetujuannya.


“Iya nak. Kalian perginya sama Tante Rara dan papa om saja. Tante Mita menemani mama. O ya sekarang waktunya les music kalian pergi sana dulu sama tante Rara. Nanti keburu terlambat!” ucap mama Dilla mengalihkan pembicaraan.


“Baik ma. Kita pergi dulu. Dan papa om jangan lupa besok jemput ke rumah ya?” Setya langsung menarik tante Rara pergi dari kamar perawatan Dilla diikuti oleh Yasa.


Irfan langsung pamitan untuk melanjutkan memeriksa pasien yang lain. Mita tetap tinggal menemani Dilla karena memang setiap harinya Mita merupakan asisten pribadi dan kepercayaan Dilla. Semua urusan kantor kalau Dilla tidak bisa menghendel, maka Mita yang terjun langsung membantu menyelesaikan urusan kantor selain kedua anak kembarnya. Mita juga andal menangani bisnis apapun karena Mita juga seorang wanita yang cerdas dan Tangguh kalau menjalankan bisnis. Sepak terjang Mita sudah diuji oleh Dilla.

__ADS_1


“Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2