Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Terjebak


__ADS_3

Tegar yang baru datang memarahi teknisi mall, hingga Tegar mendatangkan lagi teknisi handal yang di perusahaan tapi tidak juga menyelesaikan masalah.


“Permisi minggir semuanya. Mall macam apa ini sudah sejam lebih mama aku terjebak dalam liff tapi belum bisa menyelesaikan,” teriak Setya si bocah kembar yang baru saja mereka temui.


“Hai anak kecil diamlah. Ini kami juga berusaha memperbaikinya,” teriak alah satu teknisi karena kesal dengan sikap seorang anak kecil.


“Dengar om, kalau om masih mempekerjakan teknisi seperti ini aku jamin perusahaan om tidak akan berkembang,” teriak Setya semakin lantang hingga membuat mereka semakin emosi hingga tiba-tiba salah satu teknisi mereka melempar peralatannya kea rah Setya namun dengan cekatan si bocah menghindarinya.


“Lihat om, pegawai anda tidak cakap atitutnya. Apakah pegawai seperti ini layak dipekerjakan?” tanya Setya dengan berani kepada Tegar. Tegar yang terpukau dengan sikap Setya tidak memberi jawaban sama sekali, hingga akhirnya Dimas yang baru datang hendak menelpon rekanan bisnis mereka yang memiliki tenaga ahli di bidang reparasi liff.


“Maaf, om tidak perlu memanggil teknisi lainnya kelamaan nanti mamaku keburu kehabisan oksigen,” ucap Setya langsung mendekati mesin liff di depannya sementara teknisi yang lain entah mengapa seperti maksud dan tujuan Setya langsung menyerahkan peralatannya kepada Setya.


Setya dengan cekatan mengambil peralatan kemudian mengotak-atik mesin tersebut dan tidak lama kemudian liff kembali berjalan. Kemudian Setya langsung menuju pintu liff diikuti oleh Yasa. Tegar dan Dimas seperti kena hipnotis anak kembar tersebut juga mengikutinya.


Tidak lama kemudian pintu liff terbuka dan nampak kedua wanita muda berada di dalamnya yang salah satu diantara mereka nampak lemas karena kehabisan oksigen.


Yasa langsung mengangkat tangannya hingga 2 petugas rumah sakit menghampiri mereka dan membawa salah satu wanita tersebut di atas ranjang dorong rumah sakit. Setya dan Yasa mengikuti disampingnya. Dan yang tidak kalah menarik disitu ada dokter Irfan yang panik terus memasang oksigen untuk sang wanita.


Sementara itu Tegar nampak lemas lunglai hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang. Dimas yang mengetahuinya langsung memapahnya masuk ke ruang manajer mall.


“Pak, apa yang terjadi dengan anda?” tanya Dimas cemas yang tidak berani spekulasi dengan pikirannya sendiri.


“Dimas ayo kita ikuti mereka. Aku tidak ingin kehilangan jejaknya lagi,” ucap Tegar yang langsung berdiri tegas dan semangat berlari ke luar ruangan menuju parkiran.


“Maksudnya bu Dilla pak?” ucap Dimas yang langsung mengikutinya dari belakang namun tidak ada jawaban dari Tegar. Bahkan hingga akhirnya tiba di parkiran Tegar tidak menjawab juag. Tegar yang tidak sabar langsung meminta kunci mobil dari Dimas. Tegar dengan ketrampilan mengemudinya langsung mengikuti ambulan menuju rumah sakit.

__ADS_1


Tidak lama kemudian rombongan sampai ke rumah sakit. Rumah sakit yang mereka tuju adalah rumah sakit yang terhitung masih baru namun pelayanannya serba bagus sekelas dengan rumah sakit internasional bahkan rumah sakit keluarga Tegar pun tidak sebanding dengan rumah sakit tersebut.


“Maaf mbak bisa kasih tahu pasien yang barusan datang tadi di rawat di mana ya?” tanya Dimas di bagian resepsionis.


“O…, Bu Dila. Di ruang Melati no 1 pak. Dari sini lurus sampai mentok baru belok kiri!” ucap petugas resepsionis rumah sakit.


Tegar kembali berjalan menyusuri lorong rumah sakit diikuti oleh Dimas. “Dim, aku merasa cemas dan takut kehilangan lagi jejaknya,” ucap Tegar yang buru-buru menuju ruangan dimana Dilla di rawat.


“Tenang, pak semuanya pasti ada maksud dari pertemuan ini. Mudah-mudahan hal baik memihak anda pak,” ucap Dimas menyakinkan bosnya.


Tidak lama kemudian mereka berdua sampai di depan kamar Dilla di rawat namun mereka tidak bisa masuk ke dalam ruangan karena masih ditangani oleh dokter.


Setya bersama Yasa berada di luar ditemani asistennya. “Nak, apakah mama kalian baik-baik saja?” tanya Tegar setelah berada di dekat si kembar.


“Mama masih ditangani oleh petugas medis rumah sakit. Tapi aku rasa mama tidak masalah, mama pingsan karena kehabisan oksigen. Aku berharap tidak membawa masalah untuk Kesehatan mama,” ucap Yasa seperti seorang laki-laki dewasa.


Tegar yang mengerti kalau kedua anak kembar tersebut menaruh curiga terhadapnya langsung memperbaiki kata-katanya. “Masud aku aku mencemaskan nya karena dia terjebak di liff mall aku,” ucap Tegar agak canggung mengucapkannya.


“Baiklah, silahkan duduk om. Ini kita juga menunggu hasilnya,” ucap Yasa tegas hingga membuat Tegar semakin mengagumi kedua bocah tersebut.


Tidak lama kemudian dokter Irfan ke luar dari ruang perawatan mama Dilla. Tegar langsung menemuinya, namun Tegar bingung mau memulai pembicaraan. Tegar teringat bagaimana dulu dia menyuruh Dimas memecat Irfan dari rumah sakitnya.


“Maaf, dokter Irfan. Bisakah kita berbicara berdua saja?” tanya Tegar yang memberanikan dirinya memulai pembicaraan.


“Baiklah. Mari ke ruangan saya,” jawab dokter Irfan dan langsung berjalan diikuti oleh Tegar.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya sampai di ruangan dokter Irfan. “Silahkan duduk pak. Adakah sesuatu yang ingin kamu sampaikan?” tanya dokter Irfan.


“Maaf, bagaimana keadaan bu Dilla?” tanya Tegar pada Irfan yang sangat jelas Irfan nampak membencinya.


“Maaf, apa hak bapak menanyakan keadaan bu Dilla? Dia orang yang kuat dan aku rasa dia akan bertahan dengan baik,” ucap Irfan professional karena dia tidak ingin mencampur adukan masalahnya yang terdahulu dengan keadaan sekarang.


“Baik, terimakasih infonya. Bolehkah aku menemuinya?” Tegar meminta izin kepada dokter Irfan.


“Maaf untuk hari ini, bu Dilla tidak bisa dibesuk karena kondisinya belum stabil.” Ucap dokter Irfan tegas hingga membuat Tegar harus menuruti ucapan dokter Irfan.


“Baiklah, kalau begitu saya izin keluar dulu,” ucap Tegar langsung ke luar ruangan dan kembali di depan perawatan Dilla.


Setelah kembali dari dokter ruangan dokter Irfan, Tegar langsung menemui Dimas dan membisikan sesuatu ke telinga Dimas.


“Dim tolong pesankan parcel dan bunga untuk bu Dilla dan nanti segera kirim ke sini!” ucap Tegar kemudian ngeloyor pergi meninggalkan rumah sakit.


Dimas yang tidak mengerti langsung mengikutinya. “Maaf pak? Apa sebaiknya kita masuk dulu menemuinya dan meminta maaf sekalian atas kejadian tadi siang?” ucap Dimas memburu Tegar agar bisa berjalan sejajar denganya.


“Hari ini tidak bisa menemuinya. Kata dokter kondisinya belum stabil. Dim, sekalian kamu bayar semua biaya perawatannya di sini ya?” perintah Tegar lirih.


“Baik pak.” Dimas langsung menuju ke kasir namun oleh pihak kasir di tolaknya.


“Maaf pak, kami tidak bisa menerimanya. Karena biaya perawatan bu Dilla semuanya gratis,” jawab petugas kasir.


“Gratis? Kenapa bisa begitu? Karena sesungguhnya kecelakaannya terjadi di mall kami. Jadi kita berkenan untuk membayarnya sebagai bentuk tanggungjawab kita terhadap bu Dilla," ucap Dimas geram.

__ADS_1


"Bu Dilla tidak butuh itu pak karena ini rumah sakit Bu Dilla sendiri," jawab sang resepsionis hingga membuat Tegar terkejut mendengarnya.


“Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2