Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Rezeki


__ADS_3

Sejak kejadian di rumah makan tersebut memang si kembar banyak dicari oleh pengusaha-pengusaha muda yang ingin menggandeng mereka untuk menjadi endorse produk mereka. 


Semula memang Dilla dan Tegar tidak mengizinkan mereka untuk menerima endorse produk tersebut. Namun seperti biasanya kedua bocah kembar tersebut akan ngambek jika tidak dituruti keinginannya.


 Dilla dan Tegar akhirnya memberi izin mereka untuk mengikuti endorse tersebut akan tetapi di bawah pengawasan Mita dan Rara. Dan benar saja begitu diijinkan langsung semua produk memakai mereka sebagai endorse. Rezeki si kembar terus mengalir bagaikan air yang tidak pernah putus.


Dalam waktu yang relatif singkat kekayaan kedua anaknya sudah melebihi kapasitas yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi perusahaan game ternama juga menggandeng Abisetya untuk mempromosikan permainan terbarunya. 


Disaat berbincang di taman belakang tiba-tiba Abiyasa memulai pembicaraan dengan kedua orang tuanya. Abiyasa ingin membelikan hadiah untuk adiknya jika nanti lahir. Dilla sangat terkejut dengan pemikiran putra sulungnya.


“Nak…, kamu tidak usah memikirkan adik kamu yang masih dalam kandungan mama! Sudahlah kamu tabung saja uang kamu untuk masa depan kamu!”ucap mama Dilla yang terharu melihat kebaikan kedua putranya.


“Tidak apa…, ma! Uang aku sudah lebih dari cukup. Aku sama Abisetya juga memiliki investasi berupa properti sehingga tidak akan pernah habis jika dikelola dengan baik,” ucap Abiyasa dengan penuh percaya diri.


“Anak dan kakak yang baik mudah-mudahan rezeki kalian semakin bertambah lancar. Tapi jangan lupa tetap sekolah ya nak!”ucap Dilla yang mengusap rambut Abiyasa dengan lembut.


“Betul…, ingat yang dikatakan oleh mamamu itu! Papa dan mama akan berusha untuk membantu kamu sekuat tenaga. Sebetulnya papa tidak menginginkan kalian bekerja di usia yang sangat dini. Papa hanya menginginkan kalian sekolah yang benar dan kelak melanjutkan usaha papa dan mama!” ucap Tegar diplomatis hingga membuat kedua putranya saling menatap satu sama lainnya.


“Baik pa! Aku akan mengingatnya! Bagi kami papa dan mama merupakan orang tua terbaik untuk kita!” ucap Abisetya yang duduk di dekat papanya.

__ADS_1


Di saat mereka asyik ngobrol tiba-tiba mama Dilla merasakan kesakitan yang luar biasa pada perutnya.


“Sayang…, perutku sakit sekali!” ucap Dilla tiba-tiba sambil memegangi perutnya.


“Yasa cepat kau panggil mang Akri untuk menyiapkan mobil. Kita bawa mama kamu ke rumah sakit. Kelihatannya adik kamu akan lahir,” teriak Tegar panik hingga Yasa secepat kilat berlari ke kamar mang Akri yang terletak di samping rumahnya.


Belum sempat Yasa berlari ke kamar mang Akri, berpapasan dengan mang Akri yang berada di dapur sedang menunggu mbok Atun yang sedang masak.


“Mang Akri, tolong siapkan mobil untuk ke rumah sakit. Mama ingin melahirkan, dan Bu Atun Tolong ambilkan baju yang disiapkan kemarin yang berada di kamarnya mama. Kata mama beberapa hari yang lalu mama sudah menyiapkannya,”perintah Abiyasa tegas hingga membuat mang Akri dan mbok Atun berlari menyiapkan sesuai dengan perintah majikannya.


Seisi rumah dibuat gempar dengan berita bu Dilla yang hendak melahirkan termasuk satpam yang ada di depan dengan sigap membuka pintu gerbang rumah mereka.


“Mbok Atun kamu duduk di depan temani mang Akri. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang!”perintah Tegar dengan suaranya yang lantang hingga mbok Atun yang masih memakai daster langsung duduk di depan disamping mang Akri. Abiyasa dan Abisetya hendak ikut tapi Tegar melarangnya, mereka disuruh menyusul dengan om Dimas dan tante Mita.


Tidak Berapa lama kemudian mereka sudah  muncul membelah jalanan beraspal menuju rumah sakit.  Mang Akri mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan yang yang sedang karena jalanan macet yang kebetulan ada demonstrasi beberapa mahasiswa di bundaran kota.


“Kak…, perut aku sakit banget!Ini bagaimana?” ucap Dilla yang merintih kesakitan menahan sakit. Tegar yang tidak tega melihat istrinya langsung turun dari mobil kemudian meminta mikrofon salah satu orator di atas mobil.


“Aku tahu kalian generasi muda yang berjuang ingin memperjuangkan keadilan di dunia ini? Tapi apa kalian cukup adil jika menghalangi perjuangan seorang ibu yang ingin melahirkan generasi pejuang penerus bangsa? Lihatlah di sana ada seorang ibu yang berusaha untuk melahirkan putranya? Adakah naluri kalian untuk memberinya jalan?” tanya Tegar yang membuat semua orator tersentuh dan minggir di tepi jalan untuk memberinya jalan agar lewat melanjutkan jalannya menuju rumah sakit. 

__ADS_1


“Maafkan kami pak! Kami akan membantu bapak agar ibu melahirkan dengan selamat. Ayo semuanya minggir teriak orator yang memegang mikrofon yang telah diperolehnya kembali dari Tegar. Tegar tersenyum puas dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Tegar dengan setia menuntun istrinya untuk terus mengambil nafas dan menghela nafasnya hingga sampai rumah sakit.


Sesampai di rumah sakit beberapa perawat langsung menghampiri mobil mereka dan membawakan ranjang pasien untuk membawa Dilla menuju ruang persalinan. Tegar mengikuti perawat yang membawa istrinya di ruang persalinan.


Tegar dengan gelisah mondar-mandir berada di depan ruang persalinan. Tidak berapa lama kemudian Mita dan Dimas beserta anak kembarnya datang. 


“Bos…, janganlah tegang. Berdo’a saja semoga bayi beserta mamanya terlahir sehat dan selamat,” ucap Dimas yang menguatkan Tegar dengan menepuk bahunya.


Tidak berapa lama kemudian dokter yang menolong persalinan bu Dilla keluar ruangannya dan memberi kabar kalau bu Dilla harus menjalani operasi karena bayinya terlilit usus. Tegar langsung menandatangani persetujuan untuk melakukan tindakan operasi caesar.


Kurang lebih satu jam mereka menunggu di depan ruang operasi hingga akhirnya bayi perempuan lahir. Tegar nampak senang mendengar berita tersebut. Tegar langsung memberi adzan untuk bayinya.


Si kembar Abiyasa dan Abisetya berebut hendak memberikan nama kepada adiknya. Namun semua usulannya tidak dipakai oleh papanya, karena papanya memiliki nama sendiri untuk putrinya yaitu Almaira Putri Permana. 


Si kembar nampak kecewa dengan keputusan papanya, namun setelah diberi pengertian oleh papanya akhirnya mereka berdua menerima keputusan yang diberikan oleh papanya.


Setelah cukup di ruang operasi, akhirnya mereka berdua dipindahkan di ruang perawatan. Tidak lama kemudian Brenda beserta suaminya datang menjenguk mereka di susul dengan Rara dan Irfan juga menjenguk mereka.


Mereka memberi selamat pada Dilla karena melahirkan putri yang begitu cantik. Brenda beserta rara berkeinginan untuk memiliki bayi perempuan seperti Dilla. Baru saja Brenda mencurahkan keinginannya tiba-tiba dirinya merasa pusing dan mual hingga Brenda berlari di kamar mandi diikuti oleh suaminya.

__ADS_1


Dilla tersenyum penuh arti melihat adiknya. Dalam hati Dilla mendo’akan semoga adiknya segera memiliki momongan seperti dirinya.


__ADS_2